
“ dia tidak takut padaku,
kemungkinan dia adalah anak buah kakak” Aric berguman sendiri. Saat ini
pengawalnya belum kembali dari ibu kota. Aric sebisa mungkin harus memberikan
kabar agar pengawal pribadinya jangan sampai ikut tertahan. Untuk
mengelurkannya dia harus berkomunikasi dengan orang luar.
“ tuan, saat ini pangeran
sedang di tahan di kota” dia baru saja mendapatkan informasi dari mata-mata
perbatasan. Untung saja informasi itu
cepat datang, jika tidak bisa di pastikan sore ini saat memasuki kota diapun
akan menjadi tahanan.
“ bagaimana dengan
keadaanya?” pengawal itu begitu megkhawatirkan keadaanya pangeran.
“ pangeran di pisahkan
dari pasukan, dia di tahan di camp militer dengan penjagaan ketat” pengawal
hanya bisa menghembuskan nafas kasar, keadaan semakin sulit. Bagaimana caranya
dia bisa menyelamatkan pangeran.
“ kita kumpulkan
orang-orang kita yang tersisa. Baru kita bahas bagaimana kelanjutannya” ya
seperti ini dulu. Pengawal itu akan memeriksa semua informasi agar dia bisa
dengan aman menyelamatkan pangeran. Mata-mata itu mengangguk dan pergi dari
padangan. Pengawal itu sekarang mengetahui sebesar apa hal yang di rencanakan
putra mahkota, bahkan kepada adiknya sendiri lelaki itu tidak memberikan
keringanan.
Malam mulai datang, putra
makota menghampiri camp dimana Aric di tahan, tanpa ada beban lekai itu
langsung masuk kedalam.
“ pangeran Aric, “ Sea
menyapa adiknya yang tengah duduk di ranjang kayu.
“ kakak” Aric bersikap
biasa, seolah dirinya tidak mengetahui apapun. Lelaki dihadapannya tidak ia
biarkan mengetahui semua rencananya.
“ untung kakak kemari,
mereka menahanku tanpa sebab, bisakan kau membantuku?” Sea menatap adiknya lama, dia memikirkan sebenarnya apa
yang sedang di rencanakan oleh adiknya. Bersandiwara seperti ini apakah semua
hanya isu belaka.
“ kau membawa pasukan
seperti ini, akan kau pakai kemana?” Sea ikut duduk di sampan adiknya. Situasi
menjadi tidak menentu, Sea ikut bersandiwara. Keduanya saling
menyembunyikan jati diri.
hanya kita berdua saja, aku sudah mendengar jika Duke akan memimpin perang di
perbatasan, jadi ingin membantunya. Setidaknya jika menang namaku juga ikut melambung” Aric menutupinya
dengan sangat baik membuat kening Sea berkerut saat mendengarnya.
“ medan perang bukan
tempat kita mencari popularitas Aric, sebaiknya kau tarik pasukan dan kembali
ke ibukota” Sea tidak akan terjebak. Mau bagaimanaun alasannya, pasukan ini
tidak boleh mendekati perbatasan sebelum perang pecah.
“ tapi kak, sudah sedekat
ini, bagaimana mungkin aku kembali” Aric terus bersikukuh. Dirinya harus
memastikan untuk bisa sampai di perbatasan.
“ lupakan niatmu dan
segera kembali” Sea beranjak dari ranjang kayu. Wajahnya berubah masam. Bukan
karena apa, sudah jelas jika sampai pasukan ini sampai di perbatasan segalanya
akan menjadi kacau.
“ bagaimana dengan kakak
sendiri, kenapa kaka bisa berada disini?” Aric mulai memancing, agar bukan
dirinya saja yang terlihat buruk.
“ kau tidak perlu
mengkhawatirkan aku” Sea sudah final dengan keputusannya tidak akan membiarkan
adiknya merusak rencananya.
“ tidak kakak, jika kaka
tidak menolongku itu artinya kakak tidak mau membantu kerajaan” langkah Sea
hampir saja mendekati pintu keluar, tiba-tiba terhenti. Dia menyeringai penuh
arti.
“ siapa kau berani
menggertakku? Kau hanya kucing kecil bagiku” Sea bahkan hanya perlu menolehkan
sedikit kepalanya, dia tidak tau jika saat ini adiknya sedang menatanya tajam
sedang kedua tangannya mengepal.
Sea sudah memperlihatkan
diri aslinya di depan Aric, lelaki itu mengerti kenapa selama ini ayahnya diam
saja. Kakanya sangat berbeda, dia sudah seperti predator berdarah dingin. Tidak
takut apapun. Aric memandang Sea sampai lelaki itu keluar dan tidak terlihat
lagi.
Dia tidak boleh menyerah,
dia pasti menemukan cara bagaimana keluar dari situasi seperti ini.
“ sial sial sial” Aric
merutuki dirinya. Dia sangat kesal, tidak mudah berhadapan dengan sang kakak.