The New Duchess

The New Duchess
Bab 66 B: Tertahan



“ dia tidak takut padaku,


kemungkinan dia adalah anak buah kakak” Aric berguman sendiri. Saat ini


pengawalnya belum kembali dari ibu kota. Aric sebisa mungkin harus memberikan


kabar agar pengawal pribadinya jangan sampai ikut tertahan. Untuk


mengelurkannya dia harus berkomunikasi dengan orang luar.


“ tuan, saat ini pangeran


sedang di tahan di kota” dia baru saja mendapatkan informasi dari mata-mata


perbatasan. Untung saja  informasi itu


cepat datang, jika tidak bisa di pastikan sore ini saat memasuki kota diapun


akan menjadi tahanan.


“ bagaimana dengan


keadaanya?” pengawal itu begitu megkhawatirkan keadaanya pangeran.


“ pangeran di pisahkan


dari pasukan, dia di tahan di camp militer dengan penjagaan ketat” pengawal


hanya bisa menghembuskan nafas kasar, keadaan semakin sulit. Bagaimana caranya


dia bisa menyelamatkan pangeran.


“ kita kumpulkan


orang-orang kita yang tersisa. Baru kita bahas bagaimana kelanjutannya” ya


seperti ini dulu. Pengawal itu akan memeriksa semua informasi agar dia bisa


dengan aman menyelamatkan pangeran. Mata-mata itu mengangguk dan pergi dari


padangan. Pengawal itu sekarang mengetahui sebesar apa hal yang di rencanakan


putra mahkota, bahkan kepada adiknya sendiri lelaki itu tidak memberikan


keringanan.


Malam mulai datang, putra


makota menghampiri camp dimana Aric di tahan, tanpa ada beban lekai itu


langsung masuk kedalam.


“ pangeran Aric, “ Sea


menyapa adiknya yang tengah duduk di ranjang kayu.


“ kakak” Aric bersikap


biasa, seolah dirinya tidak mengetahui apapun. Lelaki dihadapannya tidak ia


biarkan mengetahui semua rencananya.


“ untung kakak kemari,


mereka menahanku tanpa sebab, bisakan  kau membantuku?” Sea menatap adiknya lama, dia memikirkan sebenarnya apa


yang sedang di rencanakan oleh adiknya. Bersandiwara seperti ini apakah semua


hanya isu belaka.


“ kau membawa pasukan


seperti ini, akan kau pakai kemana?” Sea ikut duduk di sampan adiknya. Situasi


menjadi tidak menentu, Sea ikut bersandiwara. Keduanya saling


menyembunyikan  jati diri.


hanya kita berdua saja, aku sudah mendengar jika Duke akan memimpin perang di


perbatasan, jadi ingin membantunya. Setidaknya jika menang  namaku juga ikut melambung” Aric menutupinya


dengan sangat baik membuat kening Sea berkerut saat mendengarnya.


“ medan perang bukan


tempat kita mencari popularitas Aric, sebaiknya kau tarik pasukan dan kembali


ke ibukota” Sea tidak akan terjebak. Mau bagaimanaun alasannya, pasukan ini


tidak boleh mendekati perbatasan sebelum perang pecah.


“ tapi kak, sudah sedekat


ini, bagaimana mungkin aku kembali” Aric terus bersikukuh. Dirinya harus


memastikan untuk bisa sampai di perbatasan.


“ lupakan niatmu dan


segera kembali” Sea beranjak dari ranjang kayu. Wajahnya berubah masam. Bukan


karena apa, sudah jelas jika sampai pasukan ini sampai di perbatasan segalanya


akan menjadi kacau.


“ bagaimana dengan kakak


sendiri, kenapa kaka bisa berada disini?” Aric mulai memancing, agar bukan


dirinya saja yang terlihat buruk.


“ kau tidak perlu


mengkhawatirkan aku” Sea sudah final dengan keputusannya tidak akan membiarkan


adiknya merusak rencananya.


“ tidak kakak, jika kaka


tidak menolongku itu artinya kakak tidak mau membantu kerajaan” langkah Sea


hampir saja mendekati pintu keluar, tiba-tiba terhenti. Dia menyeringai penuh


arti.


“ siapa kau berani


menggertakku? Kau hanya kucing kecil bagiku” Sea bahkan hanya perlu menolehkan


sedikit kepalanya, dia tidak tau jika saat ini adiknya sedang menatanya tajam


sedang kedua tangannya mengepal.


Sea sudah memperlihatkan


diri aslinya di depan Aric, lelaki itu mengerti kenapa selama ini ayahnya diam


saja. Kakanya sangat berbeda, dia sudah seperti predator berdarah dingin. Tidak


takut apapun. Aric memandang Sea sampai lelaki itu keluar dan tidak terlihat


lagi.


Dia tidak boleh menyerah,


dia pasti menemukan cara bagaimana keluar dari situasi seperti ini.


“ sial sial sial” Aric


merutuki dirinya. Dia sangat kesal, tidak mudah berhadapan dengan sang kakak.