The New Duchess

The New Duchess
Bab 151. Naif



" lalu kenapa pangeran membawanya kemari? bukankah seharusnya surat ini di bawa ke sekertaris kerajaan?" tanya Ai tanpa ekspresi.


Allard memilih diam, dia hanya membantu Ai jika ada masalah serius. Meski sebagai pamannya rasanya dia tidak bisa leluasa ikut campur pada permasalahan ini.


" sebenarnya memang sudah sampai ke sekertaris kerajaan, tapi aku tahan agar bisa membawanya kemari" Balas Aric jujur.


Ai mengambil nafas panjang, dia sudah mulai muak meladeni segala permasalahan kerajaan.


" kenapa?" tanya Ai datar.


" ini sedikit sensitif. aku tidak bisa membiarkan Ratu menerima cemoohan dari pengakuannya" jawab Aric lemah. Bagaimanapun Briana adalah ibu kandungnya, dia tidak mau wanita itu celaka. Meski dia tau jika ibunya sudah melakukan kesalahan besar, Aric tetap tidak tega jika melihat ibunya menerima hukuman.


" pangeran sudah membacanya?" tanya Ai lagi.


" sudah" Arif mengangguk singkat.


" jika pangeran berada di posisi para korban Ratu, apa yang mungkin pangeran lakukan?" Aric terdiam mendengar pertanyaan Ai. Dia belum sempat memikirkan adanya pertanyaan seperti ini. Dia hanya fokus dengan kekhawatirannya pada ibunya.


" jika saya membuka surat ini sekarang, saya bisa yakin akan mengambil alih surat ini dan akan saya kirimkan ke pihak peradilan. Ratu sudah membunuh 2 mendiang istri Duke bahkan calon anaknya. Melakukan tindakan kejahatan dengan membantu putra mahkota melakukan aksinya dalam membuat Duke celaka. Menurut anda, apa saya akan menahan diri jika tau isi surat itu?" ucap Ai dengan tegas dan lugas. Wanita itu hanya tidak mau menyakiti lebih banyak orang. dia sedang memberikan peringatan jika mungkin akan bertindak egois pada anggota kerajaan.


Allard menyentuh Pindak Ai agar wanita itu tidak melewati batas. Meski mereka sudah sering berinteraksi tetap saja Aric bukanlah orang biasa.


Pangeran Aric menyimak dengan seksama. dia mengerti dan paham dengan penjelasan Duchess. Dia tidak bisa memaksa wanita ini untuk ikut rencananya dalam menyembunyikan surat milik Ratu.


" aku terlalu naif jika berfikir kalian akan bisa memaafkan Ibu secepat ini" lirih Aric menyesal.


" pangeran tidak salah, sebagai anaknya pasti tidak mudah menghadapi hal ini. Pangeran harus tau ada beberapa situasi yang memaksa kita harus menyingkirkan hubungan dekat agar bisa lebih fokus pada tanggung jawab dan kepentingan banyak orang. Pangeran lah yang nanti akan menjadi pengambil keputusan, karena pangeran yang memiliki tanggung jawab itu" jelas Allard mencairkan suasana. Lelaki ini hanya ingin memberikan pengertian agar Aric bisa berfikir dewasa.


" terimakasih, mendengar penjelasan kalian berdua membuatku lebih berhati - hati dan selalu berfikir panjang" imbuh Aric merasa sedikit lega.


" saya harap pangeran bisa lebih bijaksana" saut Ai tulus. Aric mengangguk dengan tersenyum tipis.


" tentu. aku juga akan berusaha. sebelum pergi, apa aku boleh menengok Duke?" tanya Arif berhati-hati.


" boleh," jawab Ai.


ketiga orang itu berjalan menuju kamar perawatan Axton. Aric berjalan masuk lebih dulu dan mendekati ranjang. Axton masih terbaring tak sadar. Mata itu masih betah menutup dengan tenang.


Aric menatap wajah Axton dengan seksama, sosok inilah yang sejak awal selalu mengarahkan dan membantunya dalam menangani masalah kerajaan. jika di ingat kembali silsilah keluarganya, dia dan Axton sebenarnya adalah adik kaka seibu. Tak heran jika Axton selalu menjaganya meski tanpa dia tau. Axton sudah menjadi sosok yang patut di andalkan dalam segala situasi. Aric menjadi sedih melihatnya kini terbaring lemah.


" kakak.." lirih Aric memegang tangan Axton.


" cepatlah bangun, aku membutuhkan mu kak" lanjut Aric dengan lelehan hangat turun dari sudut matanya.