
Tepat besok harinya tuan
Kleiner pergi ke pondok, sesuai dengan keinginan Axton pengobatan tetap di
laksanakan sesuai dengan jadwal awal. Meski mereka sama-sama tau bahwa efek yang
ditumbulkan akan jauh lebih keras dari apa yang mereka prekdisikan.
Saat ini seperti biasa Ai
dan Axton sudah berada di teras, mereka sedang menunggu pelayan dan tuan
Kleiner meramu obat di dapur.
“ perlu berapa kali lagi
baru kau akan sembuh?” tanya Ai, wanita itu merasa jika tubuh Axton hanya
sekejab saja terlihat sehat, lalu beberapa sesaat kemudian akan menjadi lemah
kembali. Rasanya mereka seperti berjalan ditempat saja, tidak ada perubahan
yang signifikan.
“ jika kali ini berhasil
terlewati mungkin butuh satu kali lagi meminum obat” jawab Axton datar. Dia
sebenarnya juga tidak tau bagaimana nanti akhirnya.
“ tapi kenapa kau masih
saja merasakan sakit meski sudah sering meminum obat?” lanjut Ai.
“ memang seperti inilah
efeknya, pengobatan terkena racun jauh berbeda dengan pengobatan penyakit”
Axton mencoba menerangkan dengan seksama.
“ tuan, ini” percakapan
mereka terhenti. Aidyn baru selesai dan langsung menaruh obat itu diatas meja.
Kedua lelaki itu saling
berpandangan, ramuan yang ada di depan mereka bisa jadi obat atau malah menjadi
ramuan bunuh diri. Mereka sama-sama saling menyelami isi pikiran.
“ Ai, jika ternyata obat
yang aku minum sama sekali tidak menolongku, apa yang akan kau lakukan?” tanya
Axton, lelaki itu ingin memastikan sesuatu.
Ai yang ditanya seperti
itu langsung terdiam. Dia merasa aneh dengan pandangan Axton yang tak terbaca.
“ apa maksudmu? Bukankah
ini obatnya?” tanya Ai sambil setengah tersenyum kebingungan. Dia menatap Axton
dan tuan Kleiner bergantian. Wajah keduanya tampak serius menatap kearahanya.
Tidak ada sautan dari
Axton maupun tuan Kleiner.
“ kalian sedang menyembunyikan
sesuatu dariku?” Ai merasa ada kejanggalan, dimulai dari pertanyaan Axton yang
aneh lalu ekppresi kedua lelaki itu yang menunjukkan ada hal serius.
“ tidak,” bantah Axton,
lelaki itu kemudian mengambil mangkuk ramuan.
Namun gerakan tangan itu
terhenti tiba-tiba. Lengan Axton di tahan Ai, membuat ramuan itu tergantung
dalam cengkaram. Ai menatap Axton, mencari tau dari kedua manic suaminya, apa
mungkin ada pentunjuk. Axton terdiam, dia menoleh dan pandangan mereka bertemu.
Perlahan disingkirkannya tangan Ai, dan akhirnya Axton meneguk habis ramuan
obatnya.
“ tenang saja, aku hanya
bertanya” Axton mencoba menghibur istrinya. Lelaki itu tidak mau Ai merasakan
kehawatiran seperti yang dia rasakan. Biarlah semua terjadi sesuai dengan
persangkaan sang istri.
“ kali ini akan seperti
apa reaksianya?” tanya Ai kepada tuan Kleiner yang sedari tadi menyaksikan
tindakan ragu-ragunya.
“ akan jauh lebih keras,
untuk itu mulai hari ini saya akan berada di pondok” jawab tuan Kleiner. Lelaki
itu tidak berani meninggalkan Duke yang entah bagaimana nanti kondisinya. Dia
sudah menyiapkan beberapa hal untuk berjaga-jaga.
“ ya lebih baik memang
begitu” Ai ikut menyutujui pilihan dari tuan Kleiner.
Waktu terus bergulir,
hari ini Axton lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar. Bahkan makan
siang juga Ai yang menyuapi diatas ranjang. Sejak meminum obat tadi pagi tubuh
Axton langsung lemah, suhu tubuhnya mulai menghangat.
Ai jadi kepikiran dengan
pertanyaan Axton tadi pagi, apa mungkin ada sesuatu yang sedang mereka
sembunyikan darinya. Tidak mau terus menerka-nerka, selesai makan siang dan
Axton terlihat tertidur, Ai segera pergi menemui tuan Kleiner.
“ saya ingin menyakan
sesuatu, apa anda sibuk?” tuan Kleiner sedang memilah beberapa tumbuhan di
belakang pondok.
“ tidak Duchees,silahkan
anda ingin bertanya mengenai apa?” tuan Kleiner langsung menyambut keinginan
Ai.
“ saya tidak bermaksud
meragukan anda, tapi kenapa tubuh Axton malah semakin lemah setelah meminum
obat itu?” ucap Ai hati-hati.
“ memang seperti itulah
reaksi dari obatnya Duchess” jawab tuan Kleiner, dan itu jawaban yang sama
setiap kali Ai menanyakan hal semacam ini.
“ tidak, sepertinya anda
sedang menyembunyikan sesuatu. Saya sudah tau bahwa di obat itu ada campuran
darah Hardwin, apa mungkin karena itu?” tuan Kleiner langsung membisu. Dia
tidak mengira jika Duchess mengetahui hal ini. Bagaimana bisa. Namun untuk tau
alasanya juga sudah tidak penting, Axton sudah mengambil keputusan.
“ katakan, tidak mungkin
Axton terus lemah seperti ini, pasti ada sesuatu” Ai terus mendesak, dia harus
mendapatkan jawaban.
“ saya tidak tau harus
darimana mengatakannya. yang jelas obat yang Duke minum ternyata memiliki efek
yang sangat kuat didalam tubuhnya. Pagi tadi ramuan yang baru saja diminum itu
bisa menjadi obat juga bisa menjadi racun lagi. Jika Duke bisa melewati fase
ini, semuanya akan baik-baik saja” akhirnya tuan Kleiner mengatakan sedikit
dari kebenaran yang ada.
“ bagaimana bisa menjadi
racun lagi? Kau membuat racikan yang salah?” Ai seakan tidak percaya dengan
“ tidak, semuanya Duke
sendiri yang meminta melanjutkan” tidak ada alasan lagi, hanya itu yang bisa
menenangkan Duchess. Dia tidak akan menuntutnya dengan pertanyaan-pertanyaan
yang juga semakin membuatnya merasa bersalah.
“ selalu saja, Axton
selalu memutuskan semuanya sendiri” Ai kesal, dia segera meninggalkan tuan
Kleiner atau lebih tepatnya dia menjauh dari pondok. wanita itu pergi sejenak
untuk menenangkan dirinya.
Hari sudah mulai
mendekati senja, Ai memutuskan kembali. Dia akan mengikuti semua yang Axton
putuskan. Wanita itu sudah merasa tenang dan lebih baik.
Sampai di pondok Ai
segera masuk ke kamar, dia akan membersihkan tubuh suaminya. Setelah semua
perlengkapannya siap, Ai mendekat di arah ranjang. Dia akan membangunkan
suaminya.
“ astaga!” ucap Ai begitu
menyentuh kulit Axton, Ai dikagetkan dengan suhu tubuh Axton yang terasa begitu
panas.
Wanita itu segera
mengambil kain dan mengopres kening Axton menggunakan air hangat yang dia bawa
tadi. Selanjutnya dia pergi untuk
memanggil tuan Kleiner.
“ tubuh Axton panas
sekali” terang Ai begitu mereka sudah masuk kedalam kamar.
Tuan Kleiner memeriksa,
dan memang benar. Suhunya begitu tinggi, bahkan bibir Axton terlihat begitu
pucat dan kering.
“ apa yang harus kita
lakukan?” Ai dilanda kepanikan.
“Anda bisa membuka
beberapa penutup tubuh Duke, agar suhu panasnya bisa keluar. Saya akan
menyiapkan sesuatu” terang tuan Kleiner. Ai segera melaksanakan sesuai dengan
keterangan tuan Kleiner.
Ai membuka selimut, lalu
kain penutup kaki, kemudian baju atasan Axton. kini lelaki itu hanya
bertelanjang dada terbaring di ranjang. Keringat yang keluar juga begitu
banyak. Ai lalu mengelap semua keringat itu sedikit demi sedikit.
Sampai beberapa waktu Ai
masih melakukan hal yang sama, mengompres dan membersihkan keringat. Bahkan dia
sudah mengganti air hangat sebanyak 3 kali. Namun suhu tubuh Axton tetap tidak
mau turun.
“ bagaimana?” tuan
Kleiner masuk ke dalam kamar.
“ tetap tidak ada
perubahan” jawab Ai ketakutan, dia sudah melakukan semuanya namun tetap saja
tidak ada perubahan. Tuan Kleiner mengecek nadi Duke, dan membuatnya semakin
khawatir.
“ saya akan kembali ”
jawab tuan Kleiner dan langsung meninggalkan kamar. Ai dibuat bingung, wanita
itu tetap terus mengompres dan menyeka keringat Axton.
Berselang lama, tuan
Kleiner datang sambil membawa sebuah wadah besar. Sebesar tempat untuk
berendam.
“ kita akan memindahkan
Duke kesini” pelayan dan tuan Kleiner langsung menggendong Axton dan meletakkan
Axton di tengan wadah dengan posisi duduk meringkuk. Tubuh Axton sangatlah
lemah, namun untung saja kesadarannya masih ada walau sangat sedikit.
“ bawa kemari” ucap tuan
Kliner kepada pelayan. Sedang dirinya mengatur posisi Axton.
“ ini” tak lama pelayan
itu kembali dengan membawa seember ramuan hangat.
“ anda bisa membasuhkan
air ini kepada Duke. Mulai dari kepala. Pastikan semua anggota badan Duke
terkena basuhannya” ucap tuan Kleiner kepada Ai sambil menyerakan sebuah gayung
kecil.
Ai tidak banyak berkata,
dia menuruti semua perkataan tuan Kleiner tanpa bertanya. Tuan Kleiner kemudian
meninggalkan kamar, dia harus meracik lagi ramuan pemandian di dapur.
Ai mengambil air itu dan
membasuhkanya pelan, Axton terdengar menggeram. Ai mencoba menghiraukannya. Dia
yakin ini akan membuat Axton lebih baik. Habis satu ember, pelayan kemudian
mengambil lagi, terus seperti itu sampai air di dalam wadah membuat tubuh Axton
terendam setengah.
Geraman Axton sedikit
demi sedikit mulai mengecil, bahkan pernafasannya juga mulai lancar. Suhu
tubuhnya mulai kembali normal. Tak terasa waktu sudah mendekati fajar, semuanya
hanya fokus pada keadaan Axton. mereka tidak tidur semalaman.
“ bagaimana keadaanya?”
tanya Ai kepada tuan Kleiner yang saat ini sedang memeriksa nadi Axton.
“ Duke sudah mulai stabil”
ada raut kelegaan pada wajah tuan Kleiner. Tentu saja ini sedikit menenangkan
Ai.
“ kita perlu melakukannya
sekali lagi” tambah tuan Kleiner. Air di dalam wadah mulai mendingin, Ai dengan
di bantu pelayan mengeluarkan semua airnya, kemudian mengganti dengan yang
lebih hangat dengan cara seperti sebelumnya. Basuhan demi basuhan akhirnya
wadah itu terisi kembali.
“ bagaimana?” pertanyaan
yang sama ketika tuan Kleiner memeriksa..
“ lebih baik, kita tunggu
sampai air mulai dingin, baru bisa dipindahkan ke rajang” dapat di pastikan
jika Axton semakin membaik.Ai bernafas lega, dia akan terus menemani dan
mengurus Axton sampai suaminya benar-benar sembuh.