The New Duchess

The New Duchess
Bab 116 : Puncak



Tepat besok harinya tuan


Kleiner pergi ke pondok, sesuai dengan keinginan Axton pengobatan tetap di


laksanakan sesuai dengan jadwal awal. Meski mereka sama-sama tau bahwa efek yang


ditumbulkan akan jauh lebih keras dari apa yang mereka prekdisikan.


Saat ini seperti biasa Ai


dan Axton sudah berada di teras, mereka sedang menunggu pelayan dan tuan


Kleiner meramu obat di dapur.


“ perlu berapa kali lagi


baru kau akan sembuh?” tanya Ai, wanita itu merasa jika tubuh Axton hanya


sekejab saja terlihat sehat, lalu beberapa sesaat kemudian akan menjadi lemah


kembali. Rasanya mereka seperti berjalan ditempat saja, tidak ada perubahan


yang signifikan.


“ jika kali ini berhasil


terlewati mungkin butuh satu kali lagi meminum obat” jawab Axton datar. Dia


sebenarnya juga tidak tau bagaimana nanti akhirnya.


“ tapi kenapa kau masih


saja merasakan sakit meski sudah sering meminum obat?” lanjut Ai.


“ memang seperti inilah


efeknya, pengobatan terkena racun jauh berbeda dengan pengobatan penyakit”


Axton mencoba menerangkan dengan seksama.


“ tuan, ini” percakapan


mereka terhenti. Aidyn baru selesai dan langsung menaruh obat itu diatas meja.


Kedua lelaki itu saling


berpandangan, ramuan yang ada di depan mereka bisa jadi obat atau malah menjadi


ramuan bunuh diri. Mereka sama-sama saling menyelami isi pikiran.


“ Ai, jika ternyata obat


yang aku minum sama sekali tidak menolongku, apa yang akan kau lakukan?” tanya


Axton, lelaki itu ingin memastikan sesuatu.


Ai yang ditanya seperti


itu langsung terdiam. Dia merasa aneh dengan pandangan Axton yang tak terbaca.


“ apa maksudmu? Bukankah


ini obatnya?” tanya Ai sambil setengah tersenyum kebingungan. Dia menatap Axton


dan tuan Kleiner bergantian. Wajah keduanya tampak serius menatap  kearahanya.


Tidak ada sautan dari


Axton maupun tuan Kleiner.


“ kalian sedang menyembunyikan


sesuatu dariku?” Ai merasa ada kejanggalan, dimulai dari pertanyaan Axton yang


aneh lalu ekppresi kedua lelaki itu yang menunjukkan ada hal serius.


“ tidak,” bantah Axton,


lelaki itu kemudian mengambil mangkuk ramuan.


Namun gerakan tangan itu


terhenti tiba-tiba. Lengan Axton di tahan Ai, membuat ramuan itu tergantung


dalam cengkaram. Ai menatap Axton, mencari tau dari kedua manic suaminya, apa


mungkin ada pentunjuk. Axton terdiam, dia menoleh dan pandangan mereka bertemu.


Perlahan disingkirkannya tangan Ai, dan akhirnya Axton meneguk habis ramuan


obatnya.


“ tenang saja, aku hanya


bertanya” Axton mencoba menghibur istrinya. Lelaki itu tidak mau Ai merasakan


kehawatiran seperti yang dia rasakan. Biarlah semua terjadi sesuai dengan


persangkaan sang istri.


“ kali ini akan seperti


apa reaksianya?” tanya Ai kepada tuan Kleiner yang sedari tadi menyaksikan


tindakan ragu-ragunya.


“ akan jauh lebih keras,


untuk itu mulai hari ini saya akan berada di pondok” jawab tuan Kleiner. Lelaki


itu tidak berani meninggalkan Duke yang entah bagaimana nanti kondisinya. Dia


sudah menyiapkan beberapa hal untuk berjaga-jaga.


“ ya lebih baik memang


begitu” Ai ikut menyutujui pilihan dari tuan Kleiner.


Waktu terus bergulir,


hari ini Axton lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar. Bahkan makan


siang juga Ai yang menyuapi diatas ranjang. Sejak meminum obat tadi pagi tubuh


Axton langsung lemah, suhu tubuhnya mulai menghangat.


Ai jadi kepikiran dengan


pertanyaan Axton tadi pagi, apa mungkin ada sesuatu yang sedang mereka


sembunyikan darinya. Tidak mau terus menerka-nerka, selesai makan siang dan


Axton terlihat tertidur, Ai segera pergi menemui tuan Kleiner.


“ saya ingin menyakan


sesuatu, apa anda sibuk?” tuan Kleiner sedang memilah beberapa tumbuhan di


belakang pondok.


“ tidak Duchees,silahkan


anda ingin bertanya mengenai apa?” tuan Kleiner langsung menyambut keinginan


Ai.


“ saya tidak bermaksud


meragukan anda, tapi kenapa tubuh Axton malah semakin lemah setelah meminum


obat itu?” ucap Ai hati-hati.


“ memang seperti itulah


reaksi dari obatnya Duchess” jawab tuan Kleiner, dan itu jawaban yang sama


setiap kali Ai menanyakan hal semacam ini.


“ tidak, sepertinya anda


sedang menyembunyikan sesuatu. Saya sudah tau bahwa di obat itu ada campuran


darah Hardwin, apa mungkin karena itu?” tuan Kleiner langsung membisu. Dia


tidak mengira jika Duchess mengetahui hal ini. Bagaimana bisa. Namun untuk tau


alasanya juga sudah tidak penting, Axton sudah mengambil keputusan.


“ katakan, tidak mungkin


Axton terus lemah seperti ini, pasti ada sesuatu” Ai terus mendesak, dia harus


mendapatkan jawaban.


“ saya tidak tau harus


darimana mengatakannya. yang jelas obat yang Duke minum ternyata memiliki efek


yang sangat kuat didalam tubuhnya. Pagi tadi ramuan yang baru saja diminum itu


bisa menjadi obat juga bisa menjadi racun lagi. Jika Duke bisa melewati fase


ini, semuanya akan baik-baik saja” akhirnya tuan Kleiner mengatakan sedikit


dari kebenaran yang ada.


“ bagaimana bisa menjadi


racun lagi? Kau membuat racikan yang salah?” Ai seakan tidak percaya dengan


“ tidak, semuanya Duke


sendiri yang meminta melanjutkan” tidak ada alasan lagi, hanya itu yang bisa


menenangkan Duchess. Dia tidak akan menuntutnya dengan pertanyaan-pertanyaan


yang juga semakin membuatnya merasa bersalah.


“ selalu saja, Axton


selalu memutuskan semuanya sendiri” Ai kesal, dia segera meninggalkan tuan


Kleiner atau lebih tepatnya dia menjauh dari pondok. wanita itu pergi sejenak


untuk menenangkan dirinya.


Hari sudah mulai


mendekati senja, Ai memutuskan kembali. Dia akan mengikuti semua yang Axton


putuskan. Wanita itu sudah merasa tenang dan lebih baik.


Sampai di pondok Ai


segera masuk ke kamar, dia akan membersihkan tubuh suaminya. Setelah semua


perlengkapannya siap, Ai mendekat di arah ranjang. Dia akan membangunkan


suaminya.


“ astaga!” ucap Ai begitu


menyentuh kulit Axton, Ai dikagetkan dengan suhu tubuh Axton yang terasa begitu


panas.


Wanita itu segera


mengambil kain dan mengopres kening Axton menggunakan air hangat yang dia bawa


tadi.  Selanjutnya dia pergi untuk


memanggil tuan Kleiner.


“ tubuh Axton panas


sekali” terang Ai begitu mereka sudah masuk kedalam kamar.


Tuan Kleiner memeriksa,


dan memang benar. Suhunya begitu tinggi, bahkan bibir Axton terlihat begitu


pucat dan kering.


“ apa yang harus kita


lakukan?” Ai dilanda kepanikan.


“Anda bisa membuka


beberapa penutup tubuh Duke, agar suhu panasnya bisa keluar. Saya akan


menyiapkan sesuatu” terang tuan Kleiner. Ai segera melaksanakan sesuai dengan


keterangan tuan Kleiner.


Ai membuka selimut, lalu


kain penutup kaki, kemudian baju atasan Axton. kini lelaki itu hanya


bertelanjang dada terbaring di ranjang. Keringat yang keluar juga begitu


banyak. Ai lalu mengelap semua keringat itu sedikit demi sedikit.


Sampai beberapa waktu Ai


masih melakukan hal yang sama, mengompres dan membersihkan keringat. Bahkan dia


sudah mengganti air hangat sebanyak 3 kali. Namun suhu tubuh Axton tetap tidak


mau turun.


“ bagaimana?” tuan


Kleiner masuk ke dalam kamar.


“ tetap tidak ada


perubahan” jawab Ai ketakutan, dia sudah melakukan semuanya namun tetap saja


tidak ada perubahan. Tuan Kleiner mengecek nadi Duke, dan membuatnya semakin


khawatir.


“ saya akan kembali ”


jawab tuan Kleiner dan langsung meninggalkan kamar. Ai dibuat bingung, wanita


itu tetap terus mengompres dan menyeka keringat Axton.


Berselang lama, tuan


Kleiner datang sambil membawa sebuah wadah besar. Sebesar tempat untuk


berendam.


“ kita akan memindahkan


Duke kesini” pelayan dan tuan Kleiner langsung menggendong Axton dan meletakkan


Axton di tengan wadah dengan posisi duduk meringkuk. Tubuh Axton sangatlah


lemah, namun untung saja kesadarannya masih ada walau sangat sedikit.


“ bawa kemari” ucap tuan


Kliner kepada pelayan. Sedang dirinya mengatur posisi Axton.


“ ini” tak lama pelayan


itu kembali dengan membawa seember ramuan hangat.


“ anda bisa membasuhkan


air ini kepada Duke. Mulai dari kepala. Pastikan semua anggota badan Duke


terkena basuhannya” ucap tuan Kleiner kepada Ai sambil menyerakan sebuah gayung


kecil.


Ai tidak banyak berkata,


dia menuruti semua perkataan tuan Kleiner tanpa bertanya. Tuan Kleiner kemudian


meninggalkan kamar, dia harus meracik lagi ramuan pemandian di dapur.


Ai mengambil air itu dan


membasuhkanya pelan, Axton terdengar menggeram. Ai mencoba menghiraukannya. Dia


yakin ini akan membuat Axton lebih baik. Habis satu ember, pelayan kemudian


mengambil lagi, terus seperti itu sampai air di dalam wadah membuat tubuh Axton


terendam setengah.


Geraman Axton sedikit


demi sedikit mulai mengecil, bahkan pernafasannya juga mulai lancar. Suhu


tubuhnya mulai kembali normal. Tak terasa waktu sudah mendekati fajar, semuanya


hanya fokus pada keadaan Axton. mereka tidak tidur semalaman.


“ bagaimana keadaanya?”


tanya Ai kepada tuan Kleiner yang saat ini sedang memeriksa nadi Axton.


“ Duke sudah mulai stabil”


ada raut kelegaan pada wajah tuan Kleiner. Tentu saja ini sedikit menenangkan


Ai.


“ kita perlu melakukannya


sekali lagi” tambah tuan Kleiner. Air di dalam wadah mulai mendingin, Ai dengan


di bantu pelayan mengeluarkan semua airnya, kemudian mengganti dengan yang


lebih hangat dengan cara seperti sebelumnya. Basuhan demi basuhan akhirnya


wadah itu terisi kembali.


“ bagaimana?” pertanyaan


yang sama ketika tuan Kleiner memeriksa..


“ lebih baik, kita tunggu


sampai air mulai dingin, baru bisa dipindahkan ke rajang” dapat di pastikan


jika Axton semakin membaik.Ai bernafas lega, dia akan terus menemani dan


mengurus Axton sampai suaminya benar-benar sembuh.