
Pagi hari sudah
menjelang, Hardwin beserta pasukannya sudah bersiap meninggalkan ibukota.
Lelaki itu berada di kantornya untuk melakukan pemeriksaan terkahir. Semua
perlengkapan administrasi sudah siap dan tentu perlengkapan senjata juga sudah
siap. Lelaki itu berniat berajak namun sudut matanya tertarik pada amplop surat
yang masih tersegel, surat dari ayahnya yang belum juga dia buka.
Merasa mungkin saja ada
kabar penting dari ayahnya, lelaki itu akhirnya mengambil surat tersebut dan
menaruhnya di dalam barang bawaanya. Dia masih belum tertarik dengan isinya.
Pasukannya sudah menaiki
kuda dan bersiap untuk pergi, Hardwin juga sudah memberikan pesan kepada
penjaga Barack agar mengirimkannya informasi terkait dengan perkembangan ibukota
serta keadaan penjaga yang diberikan tugas untuk mengamankan kediaman Duke
Wellington.
Semuanya sudah siap dan
dengan satu komando pasukan itu berangkat menyelesaikan tugas untuk membawa pangeran
Aric kembali dengan selamat ke kerajaan. Beberapa dari pasukan itu memanglah
anak buah pangeran Aric yang tempo hari diberikan kepada Hardwin untuk menjaga
Duchess. Karena situasi yang berubah maka peran dan tugas mereka berganti
menjadi melindungi keselamatan pangeran Aric.
Di lain sisi, Ai baru
saja membuka matanya. Wanita itu sudah terbangun dari tidur semi pingsannya
semalam. Bukannya keluar dari kamar, wanita itu malah kembali berbaring dan
menatap jendela kamar dengan pandangan kosong. Dia sedang tidak ingin
beraktifitas pagi ini.
Pintu kamar terbuka, Masy
masuk dengan membawakan semakuk bubur. Dia sangat khawatir dengan kesehatan
Duchess, semalam dengan tiba-tiba pingsan begitu saja. Membuat penghuni rumah
kalang kabut, karena tidak mungkin mereka mengundang sejumlah dokter karena
status Duchess. Kalaupun bisa pasti akan membutuhkan banyak waktu.
Alhasil mereka hanya bisa
memberikan resep sirup yang sederhana setidaknya bisa membuat stamina tubuh
menjadi kuat. Hingga pagi ini Duchess baru siuman dan harus diberikan asupan
makanan untuk menyokong tubuhnya.
“ Ai, makan dulu ya?”
Masy sudah berada di pinggir ranjang,dia mengamati temannya yang terdiam
menatap jendela kamar.
“ aku tau kau pasti sedih
mendengar kabar semalam, jika kau memang peduli dengan Duke kau juga harus
perdulikan tubuhmu. Dengan begitu kita bisa mencari solusinya bersama” Masy
terus merayu agar Ai mau makan. Mendengar penjelasan tulus dari Masy, Ai mulai
tergerak. Dia akan mencari solusinya, diam dan meratap seperti ini lebih akan
membuang-buang waktu.
Ai berganti posisi
menjadi terduduk dengan tubuh bersandar di kepala ranjang. Dia tersenyum tipis
atas perhatian yang Masy berikan.
“ kau benar Masy, kita
harus mencari solusinya bersama-sama” Ai terlihat mulai membaik.
Masy dengan perlahan
menyuapi Duchess, sesekali mereka berbincang singkat sampai tidak terasa bubur
itupun telah habis.
“ aku akan kembali” Masy
akan keluar dan akan membawakan cemilan lainnya.
Ai yang sedari tadi diam
dikamar, setelah sarapan bubur akhirnya berniat untuk mencari udara segar. Sekalian
berbincang dengan orang tua Masy. Semalam dirinya sangatlah lemah, kali ini dia
akan lebih serius membahas jalan keluar dari semua masalah ini.
“ pagi Duchess, bagaimana
kabar anda?” Nyonya Halbert terlihat duduk di teras rumah, membuat Ai segera
menyusul dan segera disambut dengan sapaan hangat.
“ sudah lebih baik,
berkat Masy tentu saja” Ai duduk di kursi sebelahnya.
“ ya dia anak yang begitu
perhatian,” Nyonya Halbert menimpali.
“ anda mendidiknya dengan
baik” Ai tidak sedang berbasi-basi. Pendidikan keluarga Halbert memang begitu
ketat dan tak biasa. Mereka tidak seperti bangsawan lain yang hanya mengajar
nama baik saja, mereka begitu rukun dan kental rasa kekeluargaanya.
“ terimakasih atas sanjungan
anda” Nyonya Halbert ikut senang mendengar penilaian baik dari Duchess.
“ kalian disini rupanya”
seseorang yang mereka bicarakan tiba-tiba saja sudah muncul dan bergabung di
meja teras rumah.
“ ya sekedar mencari
udara segar, ah ya dimana tuan Halbert?” jawaban Ai dan langsung memberikan
“ sepertinya ayah sudah
pergi,pagi buta tadi seseorang mencarinya” jawab Masy ringan. Wanita itu begitu
terbuka, namun sayangnya ada hal menarik perhatian Ai. raut wajah Nyonya
Halbert tampak lebih tegang.
“ ada masalah apa nyonya
Halbert?” ucapan Ai seketika membuat masy dan ibunya tampak kaget dan sedikit
salah tingkah.
“ em, seseorang baru saja
mengabarkan bahwa tuan Hardwin dengan membawa pasukannya sedang meninggalkan
ibukota” sontak saja Ai dan Masy yang baru saja mendengarnya langsung
mengerutkan keningnya. Keduanya hampir kehilangan kabar lelaki ini dan
tiba-tiba muncul dalam situasi yang seperti ini.
“ menuju kemana?” Masy
bertanya.
“ dia diberikan surat
tugas untuk mengawal kepulangan pangeran Aric kembali ke kerajaan” nyonya
Halbert tidak menutupi kebenarannya. Dia dan Duchess sudah tidak memiliki
rahasia, semuanya sudah jelas dan tidak perlu merahasiakannya lagi.
“ ah ya, aku sempat
mendengar kabar bahwa pangeran ikut pergi menjaga perbatasan. Mungkin kita bisa
memanfaatkan hal ini” Ai secara tiba-tiba memiliki ide yang sedikit beresiko.
“ memanfaatkan bagaimana?”
Masy penasaran.
“ aku akan pergi
bersamanya, “ Ai sudah tidak bisa berfikir lebih dalam, sudah sejak lama dia
sangat ingin pergi ke perbatasan. Mungkin ini bisa dijadikan alternative cara
agar dirinya bisa dengan selamat sampai di perbatasan.
“ kau mengada-ngada. Kau lupa
siapa yang membuatmu terjebak di kediaman” tanggapan pedas dari Masy.
“ Masy” Nyonya Halbert
menngingatkan sang anak agar tau posisi. Masy hanya tersenyum kecut karena
kelepasan menceramahi Duchess.
“ tentu saja tidak, aku
yakin Hardwin tidak akan mungkin membawaku ke peradilan” Ai terlihat begitu
yakin.
“ aku tidak setuju” Masy
terus bersikukuh menolak ide konyol Ai. wanita itu tidak mungkin membiarkan
temannya kembali mempercayai pengkhianat.
“ Masy dengarkan aku,
Hardwin melakukan semuanya itu karena
dia tidak mau aku pergi ke perbatasan. Dan saat ini dia memiliki perintah raja
untuk menuju perbatasan, jika aku bergabung dengannya dia tidak mungkin
menyerahkan aku ke peradilan dan melihat aku di siksa. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah dia pasti
mengamankan aku dan terpaksa membiarkan aku ikut bersamanya” Ai mengatakan
panjang lebar semua pemikirannya. Dia memiliki firasat yang kuat dengan
dugaanya yang pasti benar. Bukan maksud Ai memperalat perasaan cintanya
Hardwin, namun Ai sudah tidak memiliki cara lain agar bisa lancar sampai ke
perbatasan.
“ kau yakin?” Masy
terlihat mulai goyah. Dia memang tidak bisa melawan pendapat Ai yang terdengar logis.
“ sepertinya apa
yang Duchess katakan memang ada
benarnya. Anak itu tidak akan membuat Duchess di tahan di kerajaan” saut nyonya
Halbert yang menilai secara menyeluruh.
“ jadi kapan tepatnya
Hardwin meninggalkan ibukota, sepertinya menyusulnya bukan hal yang sulit” Ai
terlihat begitu antusias. Dia tidak pernah segiat ini selama kabar perbatasan
jatuh terdengar.
“ kalau begitu aku akan
ikut” Masy ingin menemai temannya selama perjalanan, dia akan menjaga Ai agar
tidak dengan mudah di celakai oleh Hardwin.
“ tidak!” bukan Ai saja
namun nyonya Halbertpun mengucapkan kata yang sama dan secara bersamaan dengan
ucapan Ai. masy menatap kedua wanita itu
bersamaan.
“ kau tetaplah di ibukota
dan cari tau bagaimana kondisi Mily dan Grace” Ai memberikan alasan
penolakannya.
“ ya, ibu tidak meretuimu
jika pergi ke perbatasan” Nyonya Halbert tampak sedikit marah, ucapannya penuh
dengan penekanan.
“ baiklah” jawab Masy
lesu. Dia sudah tidak memiliki peluang untuk menyanggah, dua orang menolak
mentah-mentah keinginannya. Dia hanya bisa pasrah.