The New Duchess

The New Duchess
Bab 92 : Ide



Pagi hari sudah


menjelang, Hardwin beserta pasukannya sudah bersiap meninggalkan ibukota.


Lelaki itu berada di kantornya untuk melakukan pemeriksaan terkahir. Semua


perlengkapan administrasi sudah siap dan tentu perlengkapan senjata juga sudah


siap. Lelaki itu berniat berajak namun sudut matanya tertarik pada amplop surat


yang masih tersegel, surat dari ayahnya yang belum juga dia buka.


Merasa mungkin saja ada


kabar penting dari ayahnya, lelaki itu akhirnya mengambil surat tersebut dan


menaruhnya di dalam barang bawaanya. Dia masih belum tertarik dengan isinya.


Pasukannya sudah menaiki


kuda dan bersiap untuk pergi, Hardwin juga sudah memberikan pesan kepada


penjaga Barack agar mengirimkannya informasi terkait dengan perkembangan ibukota


serta keadaan penjaga yang diberikan tugas untuk mengamankan kediaman Duke


Wellington.


Semuanya sudah siap dan


dengan satu komando pasukan itu berangkat menyelesaikan tugas untuk membawa pangeran


Aric kembali dengan selamat ke kerajaan. Beberapa dari pasukan itu memanglah


anak buah pangeran Aric yang tempo hari diberikan kepada Hardwin untuk menjaga


Duchess. Karena situasi yang berubah maka peran dan tugas mereka berganti


menjadi melindungi keselamatan pangeran Aric.


Di lain sisi, Ai baru


saja membuka matanya. Wanita itu sudah terbangun dari tidur semi pingsannya


semalam. Bukannya keluar dari kamar, wanita itu malah kembali berbaring dan


menatap jendela kamar dengan pandangan kosong. Dia sedang tidak ingin


beraktifitas pagi ini.


Pintu kamar terbuka, Masy


masuk dengan membawakan semakuk bubur. Dia sangat khawatir dengan kesehatan


Duchess, semalam dengan tiba-tiba pingsan begitu saja. Membuat penghuni rumah


kalang kabut, karena tidak mungkin mereka mengundang sejumlah dokter karena


status Duchess. Kalaupun bisa pasti akan membutuhkan banyak waktu.


Alhasil mereka hanya bisa


memberikan resep sirup yang sederhana setidaknya bisa membuat stamina tubuh


menjadi kuat. Hingga pagi ini Duchess baru siuman dan harus diberikan asupan


makanan untuk menyokong tubuhnya.


“ Ai, makan dulu ya?”


Masy sudah berada di pinggir ranjang,dia mengamati temannya yang terdiam


menatap jendela kamar.


“ aku tau kau pasti sedih


mendengar kabar semalam, jika kau memang peduli dengan Duke kau juga harus


perdulikan tubuhmu. Dengan begitu kita bisa mencari solusinya bersama” Masy


terus merayu agar Ai mau makan. Mendengar penjelasan tulus dari Masy, Ai mulai


tergerak. Dia akan mencari solusinya, diam dan meratap seperti ini lebih akan


membuang-buang waktu.


Ai berganti posisi


menjadi terduduk dengan tubuh bersandar di kepala ranjang. Dia tersenyum tipis


atas perhatian yang Masy berikan.


“ kau benar Masy, kita


harus mencari solusinya bersama-sama” Ai terlihat mulai membaik.


Masy dengan perlahan


menyuapi Duchess, sesekali mereka berbincang singkat sampai tidak terasa bubur


itupun telah habis.


“ aku akan kembali” Masy


akan keluar dan akan membawakan cemilan lainnya.


Ai yang sedari tadi diam


dikamar, setelah sarapan bubur akhirnya berniat untuk mencari udara segar. Sekalian


berbincang dengan orang tua Masy. Semalam dirinya sangatlah lemah, kali ini dia


akan lebih serius membahas jalan keluar dari semua masalah ini.


“ pagi Duchess, bagaimana


kabar anda?” Nyonya Halbert terlihat duduk di teras rumah, membuat Ai segera


menyusul dan segera disambut dengan sapaan hangat.


“ sudah lebih baik,


berkat Masy tentu saja” Ai duduk di kursi sebelahnya.


“ ya dia anak yang begitu


perhatian,” Nyonya Halbert menimpali.


“ anda mendidiknya dengan


baik” Ai tidak sedang berbasi-basi. Pendidikan keluarga Halbert memang begitu


ketat dan tak biasa. Mereka tidak seperti bangsawan lain yang hanya mengajar


nama baik saja, mereka begitu rukun dan kental rasa kekeluargaanya.


“ terimakasih atas sanjungan


anda” Nyonya Halbert ikut senang mendengar penilaian baik dari Duchess.


“ kalian disini rupanya”


seseorang yang mereka bicarakan tiba-tiba saja sudah muncul dan bergabung di


meja  teras rumah.


“ ya sekedar mencari


udara segar, ah ya dimana tuan Halbert?” jawaban Ai dan langsung memberikan


“ sepertinya ayah sudah


pergi,pagi buta tadi seseorang mencarinya” jawab Masy ringan. Wanita itu begitu


terbuka, namun sayangnya ada hal menarik perhatian Ai. raut wajah Nyonya


Halbert tampak lebih tegang.


“ ada masalah apa nyonya


Halbert?” ucapan Ai seketika membuat masy dan ibunya tampak kaget dan sedikit


salah tingkah.


“ em, seseorang baru saja


mengabarkan bahwa tuan Hardwin dengan membawa pasukannya sedang meninggalkan


ibukota” sontak saja Ai dan Masy yang baru saja mendengarnya langsung


mengerutkan keningnya. Keduanya hampir kehilangan kabar lelaki ini dan


tiba-tiba muncul dalam situasi yang seperti ini.


“ menuju kemana?” Masy


bertanya.


“ dia diberikan surat


tugas untuk mengawal kepulangan pangeran Aric kembali ke kerajaan” nyonya


Halbert tidak menutupi kebenarannya. Dia dan Duchess sudah tidak memiliki


rahasia, semuanya sudah jelas dan tidak perlu merahasiakannya lagi.


“ ah ya, aku sempat


mendengar kabar bahwa pangeran ikut pergi menjaga perbatasan. Mungkin kita bisa


memanfaatkan hal ini” Ai secara tiba-tiba memiliki ide yang sedikit beresiko.


“ memanfaatkan bagaimana?”


Masy penasaran.


“ aku akan pergi


bersamanya, “ Ai sudah tidak bisa berfikir lebih dalam, sudah sejak lama dia


sangat ingin pergi ke perbatasan. Mungkin ini bisa dijadikan alternative cara


agar dirinya bisa dengan selamat sampai di perbatasan.


“ kau mengada-ngada. Kau lupa


siapa yang membuatmu terjebak di kediaman” tanggapan pedas dari Masy.


“ Masy” Nyonya Halbert


menngingatkan sang anak agar tau posisi. Masy hanya tersenyum kecut karena


kelepasan menceramahi Duchess.


“ tentu saja tidak, aku


yakin Hardwin tidak akan mungkin membawaku ke peradilan” Ai terlihat begitu


yakin.


“ aku tidak setuju” Masy


terus bersikukuh menolak ide konyol Ai. wanita itu tidak mungkin membiarkan


temannya kembali mempercayai pengkhianat.


“ Masy dengarkan aku,


Hardwin melakukan semuanya  itu karena


dia tidak mau aku pergi ke perbatasan. Dan saat ini dia memiliki perintah raja


untuk menuju perbatasan, jika aku bergabung dengannya dia tidak mungkin


menyerahkan aku ke peradilan dan melihat aku di siksa. Satu-satunya hal  yang bisa dilakukan adalah dia pasti


mengamankan aku dan terpaksa membiarkan aku ikut bersamanya” Ai mengatakan


panjang lebar semua pemikirannya. Dia memiliki firasat yang kuat dengan


dugaanya yang pasti benar. Bukan maksud Ai memperalat perasaan cintanya


Hardwin, namun Ai sudah tidak memiliki cara lain agar bisa lancar sampai ke


perbatasan.


“ kau yakin?” Masy


terlihat mulai goyah. Dia memang tidak bisa melawan pendapat Ai yang terdengar logis.


“ sepertinya apa


yang  Duchess katakan memang ada


benarnya. Anak itu tidak akan membuat Duchess di tahan di kerajaan” saut nyonya


Halbert yang menilai secara menyeluruh.


“ jadi kapan tepatnya


Hardwin meninggalkan ibukota, sepertinya menyusulnya bukan hal yang sulit” Ai


terlihat begitu antusias. Dia tidak pernah segiat ini selama kabar perbatasan


jatuh terdengar.


“ kalau begitu aku akan


ikut” Masy ingin menemai temannya selama perjalanan, dia akan menjaga Ai agar


tidak dengan mudah di celakai oleh Hardwin.


“ tidak!” bukan Ai saja


namun nyonya Halbertpun mengucapkan kata yang sama dan secara bersamaan dengan


ucapan Ai. masy  menatap kedua wanita itu


bersamaan.


“ kau tetaplah di ibukota


dan cari tau bagaimana kondisi Mily dan Grace” Ai memberikan alasan


penolakannya.


“ ya, ibu tidak meretuimu


jika pergi ke perbatasan” Nyonya Halbert tampak sedikit marah, ucapannya penuh


dengan penekanan.


“ baiklah” jawab Masy


lesu. Dia sudah tidak memiliki peluang untuk menyanggah, dua orang menolak


mentah-mentah keinginannya. Dia hanya bisa pasrah.