
" mana aku bukakan talinya" ucap Sean memiliki niat tersembunyi. Bukannya tali, Sean malah ingin membuka yang lain.
" jangan mendekat kau brengsek!" Ai semakin gemetar saat Sean mendekatinya selangkah demi selangkah. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Dia sudah tidak memiliki harapan selain datangnya seseorang untuk menolongnya.
" Ansley, kenapa kau susah sekali aku dapatkan?" tanya Sean, lelaki itu duduk berjongkok sangat dekat dengan wajahnya. dia memang kedua pipi Ai dengan keras.
" menjauh dariku!" teriak Ai, tidak ada lagi yang bisa wanita itu lakukan selain berteriak. dia memalingkan wajahnya dengan keras , agar Sean melepaskan pegangannya.
" malam ini kita akan bersenang-senang Duchess Wellington" bisik Sean kemudian dengan cepat menggendong Ai dan lemparkannya ke tengah ranjang.
" mau apa kau? pergi. Jangan sentuh aku" Ai memberontak dia berusaha membuat tubuhnya meninggalkan ranjang.
" kau tau, aku tidak pernah merasa se semangat ini. Kau sangat berbeda, mungkin aku tidak akan langsung membunuh mu. setidaknya sampai aku bosan" ucap Sean sambil membuka pakaiannya satu persatu.
Ai semakin ketakutan, dia terus menggeser tubuhnya sampai menyentuk kepala ranjang.
" jangan takut, aku yakin denganku akan lebih memuaskan" ucap Sean tidak tahu malu. Dia mendekati Ai sambil membawa sebuah pisau, yang akan dia pakai untuk menyobek baju wanita itu.
" pergi, tolong! tolong!" teriak Ai kencang, Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini.
Sean seakan kesetanan, teriakan Ai seperti sorak semangat yang membuat adrenalinnya meningkat.
" hahahaah" Sean tertawa senang, dia merangkak mendekati Ai.
srek, suara sobekan kain. Sean membuat tubuh bagian atas Ai terekspos.
" brengsek kau, aku akan membunuhmu Sean" desis Ai dia menatap lelaki itu dengan garang.
" Ah, kau semakin cantik saja" komentar Sean saat melihat wajah marah Ai.
" menjauh dariku.Tolong!" Myria tidak bisa melakukan apa-apa.Tangannya masih terikat kencang.
Suara teriakan Ai membuat Dalbert kini tau, jika Ai benar-benar ada di sini. Lelaki itu semakin ingin sampai di bangunan utama. Entah apa yang terjadi dengan Ai, suara teriakan itu seakan menyayat hati Dalbert. Dia sangat menyesal meninggalkan Ai waktu itu.
Sean semakin bersemangat menciumi leher dan bahu Ai. Dia begitu menikmati momen gila ini. sampai tidak menyadari ada seseorang yang mendekat sambil mengangkat tinggi sebuah benda.
bug. Milly memegang sebuah patung kayu dan memukulkannya tepat di kepala bagian belakang Sean dengan keras. Seketika Sean ambruk di atas tubuh Ai.
" nyonya" ucap Milly membantu menyingkirkan tubuh Sean.
" Milly, " Ucap Ai sambil menangis bersyukur. Sungguh menjijikan sekali jika sampai Sean berhasil melakukan rencananya.
" bagaimana bisa kau masuk?" tanya Ai saat Milly melepaskan tali pengikat.
" ceritanya panjang nyonya, Mari kita pergi dari sini dulu" Milly membantu Ai menuruni ranjang. Dia dengan sigap menuntun sang majikan melewati jalan rahasia itu.
" tunggu" ucap Ai, dia membuka lemari pakaian.
" Aku akan mengganti baju" Ai memilih sebuah celana dan sebuah gaun sederhana yang memiliki satu lapis.
" kita akan kemana?" tanya Ai yang sudah selesai.
" mungkin kita sembunyi dulu nyonya" jawab Milly bingung.
" ya sepertinya memang itu pilihannya, kita tidak mungkin bisa keluar kediaman malam ini" imbuh Ai.
" jadi kita sembunyi dimana nyonya,?" tanya Milly tidak tau tempat mana yang aman.
" kita ke gudang minuman saja" jawab Ai, pikirnya tempat yang gelap dan tersembunyi akan sangat cocok untuk bersembunyi.
" boleh, tapi itu terletak di lantai bawah. Apa kita bisa sampai ke sana nyonya" tanya Milly sedikit khawatir. Ai kembali memikirkan cara lain.
" apa kita?.."
tap tap tap tap Suara kaki terdengar keras.
" yang mulia! yang mulia, kita sedang di serang, Saya melihat Tuan Kliener dan juga yang lainnya. bagaimana yang mulia?" pengawalnya melapor, Ai dan Milly ikut mendengarkan laporan itu.
tok tok tok Pengawal itu mengetuk pintu dengan keras. Namun tak ada sautan, bagaimana Sean menyahut jika dia dalam keadaan tidak sadarkan diri.
" nyonya, tuan kleiner ada disini, kita harus menemuinya" saut Milly.
" kita harus bisa turun sebelum mereka menyadari jika Sean pingsan" ucap Ai cepat, dia sedikit ketakutan. Pasalnya kejadian sebelumnya sangat menjijikan.
tok tok tok. Gedoran itu semakin kencang, Pengawal curiga karena junjungannya sama sekali tidak merespon.
" yang mulia," panggil pengawal itu sekali lagi dengan suara yang keras.
" kita dobrak saja" ucap pengawal itu tidak bisa menunggu lagi.
" saat mereka masuk kita langsung turun, mengerti?"perintah Ai.
" baik nyonya" jawab Milly serius.
" yang mulia saya dobrak" ucap Pengawal itu meminta izin agar terhindar dari kemarahan Sean.
brak brak brak. pintu kamar itu terbuka.
" yang mulia?" semua pengawal masuk ke dalam kamar. Saatnya Milly dan Ai berjalan keluar dan menuruni tangga dengan kelan.
" yang mulia, apa yang terjadi?" suara pengawal itu masih terdengar meski semakin lemah. pengawal itu menemukan Sean tergeletak diatas ranjang dengan kepala mengeluarkan darah.
" milli cepat!" bisik Ai, saat Milly kesusahan menuruni tangga.
" tuan, mereka Kabur!" teriak salah satu pengaja memergoki Ai dan Milly.
pengawal itu meninggalkan Sean untuk melihat keadaan.
" kejar mereka, jangan sampai lolos" ucap pengawal itu, dia akan mengurus Sean. membuatnya agar bisa siuman.
tap tap tap suara langkah kaki penjaga terdengar meengejar mereka.
" Milly ayoo" Ai dan Milly semakin kesulitan, penjaga yang berada di lantai 2 kini ikut mengejar mereka.
" nyonya kita lebih baik berpencar" teriak Milly.
" baiklah aku akan lewat taman samping, kau pergilah dari arah belakang" ucap Ai dengan masih berlarian.
" baiklah" melewati tangga terkahir lalu mereka berpencar. penjaga langsung bingung membagi diri.
" kalian kesana, sisanya ikut aku" saut penjaga membentuk 2 kelompok.
Ai terus berlari, dia mengindari kejaran penjaga yang semakin dekat. Setelah berhasil melewati pintu samping, Ai berlari ke taman. Disana dia melihat ada perkelahian kecil antara penjaga Sean dengan tuan Kleiner yang tadi di sebutkan pengawal.
" Duchess!" teriak Tuan Kleiner. Ai segera mengambil pedang dan ikut bertarung.
ting prang ting suara pedang yang sedang beradu. Meski tidak pandai berkelahi dengan pedang, Ai mencoba sebisanya.
" Duchess anda tidak apa-apa?" tanya tuan Kleiner saat penjaga sedang mengambil jarak. Mereka ada 3 orang sedang di kepung sekita 10 orang penjaga. Ai, tuan Kleiner dan yang lain mulai mengatur nafas.
" tak apa" jawab Ai tersengal sengal setelah berkelahi.
" menyerah lah kalian" ucap penjaga sambil mengacungkan pedangnya.
" untuk apa menyerah kita tidak melakukan apapun" jawab Tuna Kleiner tidak terima.
" kalian sudah di kepung" balas penjaga tidak mau kalah.
" lebih baik kita bertarung" saut tuan kleiner lagi.
" yaaa" perkelahian kembali di mulai.
Di sisi lain Axton terus memacu kudanya membelah kegelapan malam.
" cah cah" ucap Axton.
Sedangkan di istana, pengawal Aric akhirnya menceritakan kejadian itu kepada pangeran dengan membawa pengawal pribadi Sean yang di lumpuhkan oleh Axton sebelumnya.
" apa yang dia katakan benar?" tanya Aric kepada pengawal pribadi Sean. namun lelaki itu diam saja, dia dilema antara harus menutupi atau mengatakan yang sebenarnya.
" katakan!" Sentak pangeran Aric.
" iya, benar" jawaban itu akhirnya keluar.
Aric terdiam sejenak, Kakanya benar-benar sudah tidak waras, kini dia semakin yakin apa yang Duke katakan adalah benar. Lelaki itu bukanlah kakaknya, dia adalah monster kejam dan menjijikkan.
" segera kirim pasukan ke kediaman Wellington" perintah Aric.
" baik pangeran" pengawal itu pergi menyampaikan perintah pangeran.
" Dalbert kau disini?" tanya Ai yang sedang dilindungi Dalbert.
" aku mencarimu kemana-mana" jawab Dalbert.
" berhenti!" suara menggelegar, Sean sudah sadar. Dia membawa serta Milly yang menjadi sanderanya.
" atau dia akan aku bunuh" lanjut Sean.
Para penjaga bersiap siaga di sampingnya. Posisi Ai dan kawanannya sudah terkepung. jumlah penjaga juga bertambah banyak.
" nyonya" rintih Milly menangis deras saat kepalanya di tempeli moncong penjaga api.
" Duchess kenapa kau meninggalkan ku?" tanya Sean memelas.
" kita sudah hampir bersatu di ranjang Itu" lanjutnya tampang menjijikkan.
" diam kau Brengsek!" teriak Dalbert tidak terima Ai di permalukan.
" berani sekali kau" desis Sean sakit hati.
" turunkan senjata kalian!" teriak Sean, dan mendorong senjatanya dengan keras di pelipis Milly.
"nyonya." ucap Milly ketakutan.
Dalbert dan Tuan Kleiener saling berpandangan. Mereka tidak mau menyerah tapi keselamatan Milly di pertaruhkan. Ai melihat pistol itu dengan wajah kaget, dia seperti tidak asing melihat senjata itu.
" cepat!" teriak Sean lagi.
Ai dan kawanannya tidak memiliki pilihan lain.
" turunkan" ucap Ai lemah, dia kasihan melihat Milly yang ketakutan. Dalbert dan kawanannya melepaskan genggam pada pedang mereka.
" ikat mereka" ucap pengawal Sean. para menjaga langsung maju dan mengumpulkan ke 9 orang itu termasuk Milly yang kini di lemparkannya agar ikut di ikat.
" kalian akan menyesal sudah melawanku" desis Sean. Dia masuk ke kediaman dengan cepat.
" nyonya, maafkan aku" ucap Milly menyesal, dia tidak berniat membuat mereka tersandera seperti ini.
" sudahlah, " jawab Dalbert kesal. mereka di seret dan di tempatkan di taman utama kediaman. Tuan Kleiner, Dalbert, Ai dan kawannya di kumpulkan dan di suruh duduk bergerombol dengan di jaga lebih dari 10 penjaga. Peluang mereka untuk kabur semakin tipis.
Didalam Sean sedang diobati secara seadanya oleh pengawal nya.
" Yang mulia, sepertinya ini luka sobek sangat dalam. Apa perlu kita memanggil dokter?" tanya pengawal yang melihat dalamnya luka pukulan di kepala Sean.
" tidak usah, kau kasih saja obat ini" jawab Sean yang sedikit mengerti masalah pengobatan.
" baiklah yang mulia" pengawal itu langsung melaksanakan perintah.
Tap tap tap
tiba tiba suara penjaga tergopoh gopoh masuk.
" yang mulia di depan, di depan ada Duke sedang menuju ke mari" ucap penjaga itu tersengal sengal karena khawatir bercampur kelelahan berlari.
" apa? aaak" Sean langsung berdiri dan memegang kepalanya.
" kalian hadang dia, jangan biarkan masuk kecuali jika dia menyerahkan diri. Dan kau Ayo kita buat para sandera itu berguna" ucap Sean pada penjaga dan pengawal nya.
keadaan semakin genting, Sean keluar dengan terburu-buru.
Axton baru saja sampai di depan gerbang kediamannya sendiri. Penjaga kerajaan dengan cepat langsung melakukan penjagaan agar Axton tidak bisa masuk.
" menyingkir kalian!" teriak Axton marah.
" maaf Duke anda tidak di izinkan masuk" jawab penjaga itu.
" ini adalah rumahku, aku tidak memerlukan izin siapapun" balas Axton. Tanpa perlu panjang lebar Axton langsung menyerang. Dia dengan mudah membabat habis pada penjaga dengan pedangnya. lelaki itu semakin masuk, dan kini berada di pelataran rumahnya.
penjaga depan telah banyak yang gugur, kini penjaga lain langsung mengepung Axton.
" Dimana Sean?" tanya Axton.
" yang mulia ada di taman utama" jawab penjaga. Axton berjalan dengan masih di kepung penjaga sambil mengacungkan pedang mereka kearah Axton.
" selamat datang Duke" suara Sean langsung menyambut kedatangannya Axton.
" brengsek!" desis Axton.
" maju selangkah satu nyawa mati" ucap Sean.
Para sandera terduduk pasrah menghadap nya dengan di leher mereka sudah ada pedang tajam yang siap menebas.
Sedangkan Ai, berdiri didalam pelukan Sean menghadap Axton. Disebelah mereka para Sandera melihat sedih ke arah Axton. Sean memeluknya dari belakang dengan tangan Ai terikat. Tak lupa pistol menempel di leher Ai.
" lepaskan mereka dan hadapi aku secara jantan!" teriak Axton. posisinya sebenarnya juga tak jauh beda, Axton dikelilingi pedang penjaga.
" tentu tidak Axton, aku lebih senang seperti ini" jawab Sean tak suka.
" dasar keparat!" desis Axton. lalu berjalan mendekat.
" aakk" satu orang sandera tewas di tebas.
Axton berhenti sejenak.
" menyerah lah Axton, buang pedangmu" teriak Sean memberikan pilihan.
" tidak akan" guman Axton.
" baiklah, " lirih Sean sambil memberikan kode.
" aakkk" satu orang sandera kembali tewas.
" bedebah" balas Axton, saat Sean mengingkari ucapannya sendiri.
" lepaskan pedangmu" ucap Sean dingin. Dia menekan leher Ai menggunakan pistol nya.
Axton tidak bisa membiarkan istrinya celaka. Dia terpaksa melepaskan pedangnya dengan cepat.
" puas" teriak Axton
" Duke" suara sandera yang sedih dengan keputusan Axton.
" haahahhha" Sean tertawa puas.
" geledah dia" lanjutnya menyuruh penjaga memeriksa jika ada senjata lain yang sembunyikan Axton.
" tidak ada yang mulia" ucap penjaga setelah memeriksa.
" ikat dia "
Axton diam saja, dia mengikuti apa yang Sean mau. kedua tangannya di tarik ke belakang dan tali dengan sangat kencang.
" Duke" Tuan Kleiner sangat sedih melihatnya. Dia berusaha memberontak namun berakhir mendapatkan pukulan di kepalanya dengan pegangan pedang cukup keras.
" diam!" ucap menjaga tuan Kleiner.
" sudah yang mulia" penjaga selesai mengikat.
" bawa dia kemari" ucap Sean. Axton di dorong maju dan melangkah menuju Sean.
" akk" Ai di lemparkannya dengan keras ke tanah.
" Ai" teriak Axton dia ikut duduk dan mendekati istrinya.
" kau tak apa,?" tanya Axton sedih. Ai menggeleng dia menyembunyikan rasa sakit di perutnya.
" bertahanlah" balas Axton lagi. mereka saling memberikan kekuatan, sehingga tidak menyadari Sean sudah menggegam balok kayu.
brugh
" aakkk, Axton!" teriak Ai keras melihat Sean memukul punggung Axton dengan keras. Lelaki itu langsung terkapar kesakitan.
" kau selama ini sok jagoan, sok tau, sok baik. Dasar brengsek" ucap Sean
brugh Sean kembali memukul kaki dan lengan Axton.