
Hanya satu gaun yang Ai beli untuk bibinya, Amber mengerti perubahan sikap keponakannya yang cenderung buruk. Sehingga terpaksa tidak berani menolak. Lelaki yang Ai temui tentu saja Amber kenal. Teman satu barack Ai saat di desa dulu. Amber tidak tau pasti yang mereka bicarakan, yang jelas Ai begitu terpengaruh. Sekembalinya di kediaman Ai berpas-pasan dengan Axton saat di lantai bawah.
“ bagaimana perjalanan kalian?” tanya Axton yang juga baru sampai di kediaman.
Ai terdiam tidak menyahut, langsung pergi ke lantai 3. Hal ini membuat Axton sedikit curiga apa yanga terjadi pada istrinya.
“ ada masalah?” tanya Axton kepada Amber.
“ saya juga tidak tau, setelah bertemu dengan teman satu baracknya dulu, Ai jadi banyak diam” jawab Amber. Axton sangat tau siapa yang di maksud Amber. Dengan cepat segera menyusul istrinya, Axton yakin pasti lelaki itu sudah berbicara yang tidak-tidak pada Ai.
Ceklek , Axton mengerutkan keningnya ketika mendapati kamarnya kosong.
‘ kemana dia?’ batin Axton.
Berpindah pada kamar lama Ai, pintu terkunci. Ai pasti berada di dalam. Axton beralih melewati pintu penghubung. Yakin kali ini Ai benar-benar marah, hingga tak mau bertemu dengannya.
“ Ai “ panggil Axton mendapati istrinya duduk termenung di atas ranjang. Sontak Ai langsung menoleh ke belakang.
“ Axton? Bagaimana bisa?” tanya Ai seketika, kemudian memalingkan wajahnya. Tak ingin berbicara dengan suaminya dulu.
“ kenapa kau mengurung diri? “ Axton mendekati istrinya.
“ jangan mendekat” ucap Ai tegas. Dia sudah bertekad ingin mendapatkan penjelasan dulu dari Axton.
“ ku dengar kau baru bertemu dengan Kleiner?” penolakan dari Ai seakan memercikan api kemarahan dalam diri Axton.
Ai tetap diam, jika suaminya mengetahui pertemuan itu, pastinya dia tau apa yang mungkin dikatakan Hardwin padanya.
“ apa yang dia katakan?” lanjut Axton yang hanya mendapatkan kebisuan dari Ai.
“ jangan menguji kesabaranku Ainsley” Axton mulai geram, dia langsung mencengkram bahu Ai kuat sambil menariknya berdiri.
“ lepas” Ai sedikit kesakitan dengan tindakan Axton yang kasar.
“ apa yang lelaki itu katakan?” Axton mulai melemah saat tersadar dari amarah.
“ kenapa? Kenapa harus dari orang lain aku mengetahui kejadian malam itu? Kenapa tidak dari kau, apa susahnya mengatakan semuanya?” Ai sudah habis kesabaran, jika tidak sekarang Axton pasti akan lebih sering menyembunyikan sesuatu darinya.
“ tentang pangeran brengseek itu? Apa dia juga mengatakan padamu jika dialah penyelamatmu begitu?” Axton benar-benar terbakar api cemburu jika Ai sedang membicarakan Hardwin.
“ aku sedang berbicara tentang kita, kenapa sulit sekali bagimu mengatakannya padaku. Aku merasa kau sedang menyembunyikan semua hal dariku, sebenarnya kau menganggap aku apa? Pemuas nafsumu saja?” Ai sudah tidak bisa mengontrol kemarahannya. Axton selalu saja menyalahkan orang lain.
“ apa yang kau ucapkan, tentu saja kau adalah istriku, aku melakukan ini agar kau tidak cemas dan takut. Semua yang kulakukan hanya demi menjagamu Ainsley” Axton mulai menarik simpati Ai, dia mengatakan alasan yang sebenarnya. Namun sepertinya Ai tidak langsung mempercayai alasan itu.
“ menjagaku dari apa? “ tantang Ai. Axton menghembuskan nafas kasar, menyugar rambutnya kebelakang. Entah bagaimana membuat istrinya ini mengerti, tapi sekarang bukan saatnya mengatakan yang sebenarnya pada Ai.
“ Ai aku mohon kita tidak perlu membahas masa lalu, baiklah aku minta maaf. Aku hanya tidak ingin aku mendamba lelaki lain. Aku begitu cemburu dengan kedekatan kau dan Kleiner itu” Axton merayu istrinya, mengalihkan pembicaraan pada perasaan. Tidak mau membuat Ai semakin curiga.
Seperti dugaan Axton, istrinya terdiam mendengar pengakuannya. Dia cukup senang melihat Ai sudah tidak seemosional tadi. Namun salah, Ai cukup mengenal suaminya. Mendengar pengakuan Axton malah semakin membuat Ai curiga. Lelakinya bukan tipikal lelaki yang sentimentil dan melankolis. Terbukti jika memang ada yang di sembunyikan Axton di masa lalunya.
“ percayalah, aku benar-benar cemburu jadi tidak mau mengatakan semuanya” Axton memegang kedua tangan istrinya, membawanya kedalam dadanya. Ai masih dalam kebisuan, jika begini Ai tidak bisa mendapatkan apapun. Lebih baik mencarinya secara diam-diam. Axton benar-benar tak ingin berbagi kisah, jangan salahkan Ai jika memilih jalan lain.
Axton memeluk lembut sang istri membawa kepala Ai di dadanya. Axton sedikit tenang karena Ai membalas pelukannya. Sepertinya amarah Ai sudah mereda. Pasangan itu terlihat baikan.
Hari sudah malam, semenjak pertengkaran tadi siang, Ai masih tidak banyak bicara. Paman dan bibinya menjadi sedikit khawatir dengan rencana mereka. Situasinya berubah dari yang mereka prekdisikan.
Ai duduk di balkon kamar sendirian. Tentu saja Axton sedang di ruang kerjanya bersama Allard. Mereka masih mematangkan rencana, kemungkinan kali ini Ai akan menolak, jadi sebaiknya mungkin bisa memulai sandiwara.
“ kita tidak bisa memaksanya, semenjak bertemu lelaki itu Ai sedikit curiga” ucap Axton yang sedang duduk melingkar di sofa.
“ Ainsley memang tipe wanita yang mudah penasaran. Apa lebih baik kita jelaskan saja padanya?” tanya Allard yang mulai mengkhawatirkan emosi keponakannya.
“ jangan, belum saatnya. Dia terlalu impulsif, malah akan membuatnya dalam bahaya” cegah Axton, dia benar-benar tak ingin istrinya terluka. Biar saja semuanya dia yang kerjakan.
“ namun bagaimana jika Ai menolak besok?”
“ aku akan membujuknya, dan mencari alasan yang tepat. Jangan sampai gagal, Ai harus meninggalkan kota” ucap Axton mantap. Sebenarnya Axton cukup gentar ketika Ai mempertanyakan keterkaitannya dengan meninggalkanya dua istrinya terdahulu, untung saja dia bisa memperbaiki suasana. Jika tidak, kemungkinan masalah ini akan semakin rumit.
“ itu memang jalan terbaiknya Duke “ Allard ikut menimpali. Ai sudah seperti anaknya sendiri, dia benar-benar mengupayakan keselamatan keponakannya ini. Jangan sampai penyesalan keduanya kembali Allard rasakan.
Perbincangan itupun selesai, Axton masuk ke kamar. Mendapati ranjangnya kosong, maniknya menari ke segala tempat.
“ angin malam tidak baik untuk kesehatan” ucap Axton sambil memberikan jaket rajut pada Ai. Ketika mendapati istrinya ada di balkon Axton mencari sesuatu yang hangat untuk diberikan kepada Ai. Ai tersenyum membalas perlakuan lembut suaminya.
“ sudah selesai?” tanya Ai basa-basi.
“ he’em” jawab Axton singkat. Axton menarik tangan Ai untuk memintanya masuk.
“ sudah larut” ucap Axton saat melihat keenganan dalam manik istrinya. Mau tak mau akhirnya Ai menuti permintaan sang suami. Menaiki ranjang dan menarik selimut. Axton memeluknya dari belakang, begitu romantis.
“ besok aku mulai bertugas, kali ini akan membutuhkan waktu yang lama” ucap Axton pelan.
“ kenapa tiba-tiba?” tanya Ai penasaran.
“ tidak tiba-tiba memang seperti ini rutinitasku. jadi daripada kau kesepian besok ikutlah Baron kembali. Hitung-hitung liburan ke desa” bujuk Axton. Memang di kediaman tidak ada seorangpun yang bisa menemani Ai, jadi Axton memintanya kembali agar tidak bosan. Dan tentunya melancarkan rencananya. Ai membalikkan badannya, menatap wajah sang suami.
“ kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu padaku?” Ai masih begitu curiga.
“ tidak, sepulang nanti aku akan menyusulmu kesana, jadi kita bisa liburan bersama” jawab Axton tenang, tak lupa kecupan singkat di kening sang istri agar membuatnya tenang.