The New Duchess

The New Duchess
Bab 26 : kobaran Api



Ai masuk ke dalam kediaman, dengan langkah tenang menaiki tangga untuk menuju lantai 3, tempat kerja Axton. Dia harus bersikap polos dan tidak tau apa-apa meskipun sebenarnya Ai juga tidak melakukan kesalahan apapun.


Tok tok Ai mengetuk pintu. Ceklek, Grace dengan wajah sedikit angkuh membukaan pintu untu Duchess.


Ai langsung masuk saja tanpa merasa bersalah.


“ Axton, kenapa kau memanggilku?” tanya Ai langsung duduk di sofa tak jauh dari meja kerja. Dimana ada Axton yang duduk di kursi kerja.


Axton sedikit menahan emosinya, berhadapan dengan Ai yang seperti ini, sebenarnya bukan kemauan Axton. Tapi rasa cemburu yang melandanya tidak bisa membuatnya berfikir dengan jernih.


“ apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku? Selama aku pergi apa ada kejadian tertentu?” Axton mencoba untuk berbasa-basi terlebih dahulu. Seakan memberi Ai kesempatan untuk membela diri.


“ kejadian? Em, ah iya. Kemarin Hardwin mengajakku berbisnis, tapi karena kau tidak disini jadi aku belum memberikan jawaban. Bagaimana apa aku boleh berbisnis?" Ai tidak tau jika sebelumnya Axton sudah terpancing emosi karena ulah Grace tentang lelaki ini, kini menyebut nama lelaki yang sama makin membuat Axton terbakar.


“ ti dak !” jawab Axton penuh penekanan.


“ baiklah “ jawab Ai singkat ketika mendengar nada kemarahan pada jawaban Axton. Bahkan suaminya itu menatapnya seakan ingin memakannya. Begitu tajam dan mengintimidasi.


“ apa yang bisa kau jelaskan dengan ini?” Axton berjalan mendekati Ai dan menaruh buku keuangan itu di meja.


‘tebakanku benar’ batin Ai yang sudah memiliki firasat tentang ini. Ai tidak menyangka jika Grace akan secepat ini melancarkan aksinya.  


“ apa ini?” Ai mengambil buku yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Dengan hati-hati membuka lembar perlembar.


“ ini buku keuangan kediaman?” Ai bertanya pada  Axton. Tapi Axton yang sudah masuk dalam jebakan Grace sudah tidak bisa melihat kejannggalan dari katidaktahuan Ai mengenai buku ini.


“ iya, jelaskan padaku kenapa bisa ada banyak sekali potongan gaji dan kebutuhan sehari-hari ?kemana semua uang lebihannya? ” Axton langsung bertanya inti dari masalah keuangan. Grace yang berdiri menghadap Ai terlihat senang sekali. Bagaimana Axton mencurigai istrinya dan Ai yang seakan mati kutu tidak bisa mengatakan apapun.


Ai memang sudah tau jika ini adalah rencana busuk Grace, tapi mendengar kalimat ini secara langsung dari mulut suamianya dengan nada penuh kecurigaan membuat luka di hati Ai. Begitu menyakitkan jika diragukan oleh suami sendiri. Ai terdiam memandang raut kemarahan Axton. Axton yang tidak bisa melampiaskan rasa cemburunya kini beralih memarahi Grace untuk persoalan uang yang dirasa tidak terlalu genting. Pelampiasan karena sudah berani menghabiskan waktu dengan lelaki lain.


“ apa yang perlu aku jelaskan, bukankah semua yang Grace katakan kau lebih mempercayainya?” Ai tidak mau dipandang sebelah mata, dia harus  membela harga dirinya.


“ jika kau mengatakannya lebih dulu aku juga akan mempercayainya” balas Axton tak kalah pedas.


“ jadi ini persoalan siapa yang lebih dulu?” Ai tidak bisa terima dengan jawaban Axton yang dirasa tidak masuk akal.


“ cih, lucu sekali. Kalau begitu antara kau dan Hardwin siapa yang lebih pantas?” lanjut Ai yang mencoba memberitahu jika pernikahan ini bukanlah keinginannya, terjebak dalam lelaki yang tidak mencintainya dan pernah menyelingkuinya. Ai muak jika harus dirinya saja yang mempertahankan rumah tangga ini. Dicurigai dan di rendahkan seperti ini sangat menghina harga dirinya.


“ jangan pernah menyebut nama lelaki lain saat sedang bersamamku” desis kemarahan Axton. Axton begitu tidak terima jika dirinya di bandingkan lelaku ingusan seperti Hardwin. Dia seorang Duke mana bisa orang lain mengalahkannya.


“ aku masih menyebut namanya, tidak seperti kau. Membawa wanita masuk dalam rumah tangga ini” jelas Ai menyindir hubungan Axton dengan Grace. Axton tau maksud dari perkataan Ai, sudut mata istrinya itu mengarah pada Grace.


“ dan Hardwin teman masa kecilku, apa yang kau takutkan” balas Ai tak mau kalah.


“ kenapa masalah ini semakin melebar. Cukup jelaskan padaku untuk apa kau gunakan uang-uang itu?” Axton tidak memiliki pembelaan lagi , jadi mengembalikan pada akar masalah yang seharusnya.


“ apa Grace tidak memberitahumu?” tantang Ai. Dia masih bisa berfikir jernih untuk tetap dalam alur rencananya.


“ jadi benar, kau membeli perhiasan?” Axton memincingkan matanya tak percaya dengan informasi dari Grace.


“ jangan bicara sembarangan, apa buktinya kau bicara seperti itu?”  tantang Ai. Sontak saja kini tatapan Axton beralih pada Grace yang sejak tadi diam menyaksikan perdebatan suami istri.


“ m,mungkin ada dikamar nyonya, tuan” Grace bersikap sok ketakutan. Wajahnya begitu kasihan.


“ baiklah suruh seseorang mencarinya” Axton memberikan tugas pada Grace. Ai hanya duduk santai di dalam ruangan. Sedang Axton  masih berdiri di depan Ai.


“ enak saja main cari. Aku katakan padamu, aku tidak tahu menahu soal uang itu. Selama kau pergi, wanita ini yang mengurus semuanya, berlagak sok jadi nyonya kediaman” jelas Ai penuh emosi. Dia berlagak polos dan tidak bersalah. Grace menghentikan langkahnya mendengar Ai menyeret dirinya.


“ tidak tuan, saya mana berani seperti itu” Grace berbalik badan menghadap Axton, mengiba menarik simpati Axton.


“ kalau memang kau tidak bersalah, maka kau tidak perlu kerberatan Duchess” ucap Axton seakan membela Grace, padahal dia ingin istrinya benar-benar bersih tak bersalah. Terhindar dari kecurigaan penyalagunaan kedudukan.


“ baiklah, tapi sebelum itu katakan padaku Lady Grace Biana Bart, Asisten serta kepala kediaman Duke Wellington yang terhormat. Apa hukuman dari seorang pembohong dan pencuri di kediaman ini? Tanya Ai lantang. Dia sudah tidak mau berbasa-basi lagi.


“ pengusiran tidak hormat” ucap Grace tanpa keraguan. Dia begitu percaya diri jika rencananya sudah berhasil. Namun Axton yang mendengar jawaban Grace hatinya sedikit tidak terima, dia tidak mau Ai meninggalkan dirinya. Wanita yang belakangan ini selalu hadir dalam fikirannya.


“ baiklah. Kalau memang aku terbukti bersalah, aku siap menerima hukuman itu” tantang Ai yang semakin membuat Axton tidak karuan. Dia yang sudah termakan ucapan Grace begitu takut jika Ai benar-benar bersalah dan keluar dari kediaman.


“ hentikan! Tidak ada pengusiran. Bagaimana pandangan orang lain tentang kediaman Duke jika masalah ini keluar “ respon Axton benar-benar membuat kedua wanita ini tidak terima. Ai berfikir Axton sedang membela Grace dan begitupun sebaliknya. Grace tidak ingin rencananya untuk memisahkan Axton dan Ai berakhir gagal.


“ tidak, masalah ini harus di tangani sesuai dengan hukum kediaman” ucap Ai tanpa rasa takut.


“ iya tuan, saya setuju” Grace juga tak kalah beraninya.


Axton akhirnya pasrah, tidak ingin menjilat ludahnya sendiri jadi Axton tetap menyuruh Grace untuk melakukan penggeledahan di kamar istrinya.


Beberapa saat kemudian Grace yang dibantu seorang pekerja masuk dengan membawa 3 kotak perhiasan. Ai bersandiwara untuk terkejut melihat barang-barang mewah itu. Axton semakin dibuat tidak percaya dengan penglihatanya. Meskipun Grace sudah memanipulasinya tapi hati kecil Axton selalu tidak mempercayai jika istrinya ini telah menyalagunakan uang kediaman.


Grace membuka ketiga kotak itu, kali ini Ai benar-benar terkejut dengan isinya. Perhiasan itu benar-benar indah dan mewah.