The New Duchess

The New Duchess
Bab 29 : Selesai



jangan lupa Vote dan like yaa


selamat membaca


Dengan penuh amarah Grace memegangi pipinya yang tertampar langsung pergi, keluar dari ruang kerja Axton. Diluar dia bertemu dengan para pelayan yang mencuri dengar. Mereka yang sedikit membungkuk kini langsung berdiri dan menegakkan tubuhnya. Melihat yang keluar adalah Grace mereka serempak memberikan hinaan serta menunjuukan rasa puas dengan tersenyum lebar. Tak lupa lambaian tangan untuk mengantar kepergian sang nona asisten.


Hentakan kaki Grace semakin kencang ketika para pelayan ikut merendahkanya. Grace membuka keras pintu kamarnya, membanting agar menutup. Tak lupa melempar beberapa barang sebagai pelampiasan marah.


“ sial, sialaaan kau Ainsley. Aaakkk. Tunggu saja, aku tidak akan menyerah. Tunggu saja,  cepat atau lambat kau pasti akan aku singkirkan “ guman Grace, bahkan rahangnya mengeras karena menahan emosinya.


Di ruang kerja, madam Joly sudah undur diri, lelaki pekerja itu meski tidak di berhentikan, tapi selama beberapa bulan gajinya tidak akan diberikan. Meskipun Ai sudah meminta keringanan agar pekerja ini tidak usah di hukum, tapi Axton tidak mau mendengarkan. Bagi Axton kesalahan tetap kesalahan dia tidak pilah pilih, apalagi pekerja tadi sudah berani berbohong untuk menfitnah istrinya.


Setelah semua orang pergi, sekarang di ruangan itu hanya menyisakan Axton dan Ai. Baru saja Ai melangkah pergi, Axton memegang tangan istrinya.


“ maafkan aku” Axton menyesal telah menrcurigai Ai tadi. Ai berhenti dan terdiam. Menarik tangannya, Ai masih belum bisa menghilangkan rasa sedih dan marahnya. Perkataan Axton waktu marah tadi benar-benar menyakiti hati. Ai sudah berusaha untuk melupakannya, bagaimanapun Ai memang sudah mengetahui jika semua ini rencana Grace. Seharusnya dia bisa menjaga hatinya agar tidak sakit. Namun tidak, rasanya semua ucapan Axton tadi benar-benar dari hati.


“ aku ingin sendiri” jawab Ai yang semakin mengiris hati Axton. Perasaan sedih merayapi hati Axton, dia sudah bertindak kelewatan dengan tidak mempercayai istrinya.


Axton hanya bisa diam menyaksikan kepergian Ai dari ruangan itu. Meski hatinya meronta ingin menahan kepergian istrinya namun lidahnya kelu, tenggorokannya tercekat rasa bersalah. Hanya mata sayunya yang bisa mengekpresikan rasa sedih di hati Axton.


Ai melangkah gontai menuju kamarnya, beberapa pelayan mencoba menuntun Ai tapi dengan lembut Ai menolaknya. Mengetahui rencananya berjalan lancar Ai merasa senang, tapi di satu sisi dia juga sedih, entahlah Ai masih belum bisa menentukan sikap.


Segera saja masuk ke kamar mandi, Milly masih dalam perjalanan mengantar madam Joly, jadi tidak ada siapapun dikamar.


‘ kenapa kau malah sedih, sewajarnya saja jika Axton marah, ini hanya jebakan Grace. Kau tidak perlu marah Ai’ batin Ai mencoba menghibur dirinya.


Waktu sudah sangat sore, Axton masih betah berdiam diri didalam ruang kerjanya. Kata-kata pedasnya pada Ai masih teringat dengan jelas dalam benaknya. Hatinya benar-benar tidak enak, Axton bahkan memaki dirinya sendiri karena tindakannya yang keras pada Ai tadi.


‘ aku harus membujuknya’ Axton berdiri dari kursi. Dia memantapkan hatinya untuk meminta maaf sekali lagi pada istrinya.


Dengan pelan Axton membuka knop pintu kamar Ai, dia bisa melihat jika istrinya tertidur di atas ranjang. Axton berjalan masuk, langkahnya begitu ringan tak ingin membuat istrinya itu terbangun. Yang tidak diketahui Axton bahwa Ai hanya berpura-pura tertidur. Ai sudah tau jika ada seseorang yang masuk ke kamarnya. Ranjangnya bergoyang, ada yang duduk di ranjangnya. Sesaat kemudian Ai merasa ucapan halus di rambutnya. Ya, axton mengelus pelan rambut istrinya.


“ maafkan aku yang meragukanmu, maafkan aku yang sudah mencurigaimu, maafkan aku karena membentakmu. Maafkan aku Ai. Maafkan suamimu ini” Ai dengan jelas mendengarkan semua penyesalan Axton.


Usapan Axton mulai berpindah ke pipi putih Ai, melihat wajah cantik istrinya membuat Axton semakin merasa bersalah. Ai sedikit mengerutkan keningnya, ketika elusan itu menghilang. Ai tidak tau apa yang dilakukan Axton.  Padahal suaminya itu sedang memandangi dirinya. Sekarang Axton menyadari jika Ai hanya berpura-pura tidur. Istrinya tidak mau melihatnya, itu yang kini Axton fikirkan. Akhirnya Axton memlih untuk bangkit, dan berjalan menjauhi ranjang. Ai merasakan ranjangnya bergoyang pertanda Axton pergi, membuat Ai segera membuka matanya dan berubah duduk.


“ aku memaafkanmu” ucap Ai yang menghentikan langkah kaki suaminya. Mendengar suara lembut milik Ai, membuat Axton langsung berbalik. Menatap istrinya yang sudah duduk melihat dirinya. Dengan pelan Axton kembali mendekati ranjang itu. Dia duduk di depan istrinya, mengambil satu tangan milik Ai.


“ maafkan aku,” ulang Axton sekali lagi. Ai yang sedari tadi menahan rasa sedihnya kini sudah tidak bisa lagi. Lelehan hangat menyertai anggukan kelapanya. Jawaban bahwa dirinya memaafkan suaminya.


Axton tersenyum senang, direngkuhnya tubuh mungil Ai dalam dekapannya. Hatinya benar-benar lega sekarang. Istrinya sudah benar-benar memaafkan dirinya.


“ jangan membentakku lagi” lirih Ai dalam pelukan Axton.


“ iya, aku janji tidak akan membentakmu lagi” jawab Axton sambil mengelus pelan kepala istrinya. Kedua sejoli itu kini melepas rindunya, mengobati hati mereka yang terluka. Masing-masing sudah benar-benar melepaskan simpul di hati. Semuanya sudah tergantikan dengan rasa bahagia. 


Tok tok


“ nyonya” Mily yang baru sampai tanpa mengetahui situasi langsung saja masuk ke kamar. Sontak saja hal ini membuat Axton dan Ai langsung melepaskan pelukan. Mereka seperti pasangan remaja yang kepergok orang tua. Canggung dan kikuk.


Menyadari kesalahannya Milly dengan senyum dibuat-buat langsung berjalan mundur dan menutup pintu.


“ habislah aku” guman Mily saat pintu sudah tertutup.