The New Duchess

The New Duchess
Bab. 147 : Bukan Akhir 2



Beberapa hari setelah kejadian.


Kediaman Wellington, memasang bendera putih. Semua orang yang melihatnya seakan tak percaya. Bagaimana bisa begitu cepat hal ini terjadi.


Kabar kematian itu beredar dengan sangat cepat. Ainsley yang masih dalam waktu penyembuhan tetap berusaha menaiki kereta kuda menuju ke Pemakaman, di sampingnya sudah ada Dalbert serta Tuan Kleiner.


" apa Duchess bisa bertahan di pemakaman, saya mohon jangan memaksakan diri anda" ucap Tuan Kleiner cemas. Bahkan Dalbert sudah berkali-kali meminta agar Ai tetap berada di rumah. Namun dengan yakin Ai menolaknya. Wanita itu tidak mau melewatkan hal ini.


" aku sudah lebih baik" jawab Ai lemah. Tidak bisa di pungkiri wanita itu masih sedih mengingat calon anaknya yang baru saja pergi. Dia kehilangan harta yang paling berharga dalam hidupnya.


" jika ada masalah, langsung saja katakan" ucap Dalbert langsung.


" emm" Ai mengangguk pelan.


Wanita itu menatap kaca jendela dengan wajah sendu. Inilah yang terjadi pada akhirnya. Jika sebelumnya, mungkin hari ini adalah hari pemakamannya, sayang kali ini berbeda. Seseorang yang begitu dekat dengannya yang menggantikannya.


Setelah lama perjalan, rombongan jenazah sampai di pemakaman. Ai bisa melihat peti putih tak jauh dari sana. Air matanya langsung berlinang. Meski dulu dia sangat kejam, namun kini seakan semua rasa bencinya menghilang.


" bagaimana kabarmu?" tanya Hardwin yang juga baru turun dari kereta.


" baik" jawab Ai singkat. Matanya menatap sosok bayi yang berada dalam dekapan pelayan keluarga Kleiner.


" kau membawanya?" tanya Ai.


" dia harus menghadiri pemakaman ibunya" jawab Hardwin pelan dan melirik bayi mungil itu.


" ya kau benar," jawab Ai.


" aku boleh menggendongnya?" tanya Ai kemudian.


" tentu" Hardwin menyuruh pelayannya maju dan Ai segera menggendongnya.


" cantik sekali dia"


" em Luna, Ibunya memberi nama Luna" timpal Hardwin.


Tak beberapa lama, rombongan segera berjalan menuju ke tempat peristirahatan terakhir seorang Grace. Semua menatap dalam diam, Grace di makamkan di area milik keluarganya. ayah dan ibu kandungnya sudah lebih dulu meninggal. Selama ini Grace menjadi orang kediaman Wellington, jadi pantas saja kediaman Wellington memasang bendera putih saat kematiannya.


proses pemakaman berlangsung khidmat, bahkan si kecil Luna juga tidak rewel, seakan merasa ibunya sudah tenang disana. kini Satu persatu pergi, hanya tingga Ai seorang.


" Grace. aku tak tau harus bagaimana mengatakannya. kau menyelamatkan Duke, suamiku. namun meninggalkan anakmu. Entah apa yang kau fikirkan. Semua kesalahanmu dimasa lalu ataupun sekarang aku maafkan. kau tenanglah disana" ucap Ai sebagai ucapan selamat tinggal. Ai tidak menyangka jika di kehidupan ini Grace lah yang meninggal. selamat tinggal.


" Duchess, kau tidak apa?" tanya tuan Kleiner lihat Ai memegangi perutnya.


" tak apa" jawab Ai tenang. Dia kembali masuk menuju kamarnya. bukan lagi menuju lantai 3, saat ini kamarnya berada di lantai 1. tempat di mana Axton masih terbaring tak sadar.


Ai masuk ke kamar, berjalan mendekati ranjang. Axton nya masih menutup mata. Ai mencium kening suaminya.


" kapan kau mau bangun?" ucap Ai pelan dengan pandangan sendu. Rumah menjadi sepi, hanya beberapa pelayan saja mengurus rumah. Ai sengaja memintanya agar tidak banyak yang tau keadaan asli kediaman Wellington.


Berbeda dengan kediaman Wellington, saat ini penjara istana selalu saja ramai dengan teruskan Sean. lelaki itu baru selesai penanganan luka tembak di kakinya. Sean tak percaya dia dimasukkan kedalam sel yang kotor.


" kalian aku aku hukum! berani sekali menempatkan putra mahkota di penjara. hey.. keluar aku!!" Sean tiada lelahnya terus berteriak. Tak ada satu penjaga pun yang berani mendekat, mereka tidak mau mendengar sumpah serapah lelaki sakit jiwa itu.


Suasana istana masih belum stabil, prajurit kerajaan dengan ketat memeriksa siapa saja yang terlibat dalam pemberontak yang Sean lalukan.


" aku tidak tau, aku tidak bersalah" ucap salah satu prajurit yang kebanyakan berpola sama.


untung saja, pengawal pribadi Sean mau membantu demi mendapatkan keringanan hukuman. Lelaki itu bersedia karena Pangeran Aric menjelaskan alasan kenapa junjungannya menjadi penjahat kerajaan.


" dia termasuk anggota" ucap pengawal Sean datar.


" bawa dia" ucap kepala prajurit.


Mereka akan memastikan kerajaan bersih dari penghianat. Semuanya pasti tidak mau kejadian yang sama akan terulang lagi.


Disisi lain , di istana Raja sudah ada ratu, pengeran Aric serta putri Caroline. Mereka menatap Raja Bavaria yang sudah lemas di atas ranjang.


" ayah.. hiks hiks" putri Caroline tiada hentinya menangis. Sedangkan Ratu menatap diam dengan pandangan kosong.


" ibu pasti tau, alasan di balik ini semua" ucap Pangeran Aric datar.


" aku ingin ibu jujur dan mengakui kesalahan selama ini. sudah banyak nyawa yang hilang demi rahasia yang ibu simpan" lanjut Aric menatap ibunya dalam.


" ibu ingin bertemu Axton" ucap Ratu dengan kalimat lemah.


" Duke sampai saat ini belum juga sadar, ibu tidak bisa berbincang dengannya" jawab Aric dengan nada kesal.


" ibu ingin bertemu dengan Axton" kalimat yang sama. Ratu sudah kehilangan semangat nya.