
“ paman Al sudah beberapa hari berada di
Barack” jawaban itu menghentikan langkah Ai untuk berjalan masuk kedalam
kediaman. Awalnya tujuannya adalah ruang kerja sang paman, namun kini tidak
lagi.
“ aku harus bertemu
dengan paman” Ai balik badan bergegas pergi lagi.
“ Ai tunggu..” sautan itu
mulai samar di telingan Ainsley, begitupun dengan kesadaran Ai yang mulai
menghilang. Wanita itu memiliki tekad yang kuat namun tidak dengan tubuhnya.
Setelah melakukan perjalan yang begitu jauh dengan riwayat kejadian sebelumnya
tentu saja tidak menujang keinginannya.
“ AAiii… astaga, pelayan!
” belum cukup rasa terkejut Amber kini melihat Ai ambruk semakin membuatya
cemas. Pelayan segera berlari kearah teriakan. Dan langsung membopong tubuh Ai.
Hari menjelang senja kelopak
yang awalnya tertutup, sedikit demi sedikit mulai bergerak. Sang pemilik
sepertinya tidak sabar untuk segera membuka.
“ emm,,,” kepalanya
terasa berat. Padangannya masik kabur. Tak ada seorangpun yang berada dikamar.
Membuat wanita itu beranjak turun tanpa ada yang mencegah.
“ ah kepalaku” gerakannya
terhenti. Kedua kakinya bahkan sudah menggantung di tepi ranjang.
“ Ainsley, “ Amber yang
baru saja membuka pintu kamar tampak panic saat melihat Ai berusaha turun.
“ tunggu disini, bibi
akan panggil paman Al” Amber membantu Ai kembali terbaring. Mendengar perkataan
bibinya, Ai menjadi sedikit tenang. Memang itulah yang wanita itu inginkan
sejak awal sampai.
Setelah memastikan posisi
Ai sudah aman, Amber berjalan keluar. Untung saja suaminya sore ini kembali,
jadi Amber tidak perlu mengutus seseorang untuk mencari keberadaannya.
“ Ai” ucap Allard begitu
masuk ke kamar Ai. mendengar suara pamannya Ai sedikit bangkit, namun dengan
Cepat Allard menahannya.
“ ada apa denganmu nak?”
Allard begitu iba dengan kondisi yang dia lihat.
“ paman tolong bantu Ai.
Axton paman, bantu dia. Ai tidak mau Axton kenapa-napa, “ padahal ada sejuta
kalimat yang ingin Ai utarakan. Semua hal yang dia tau, ingin wanita itu
sampaikan kepada pamannya, namun entah kenapa malah kalimat tidak beraturan
yang keluar.
Allard paham dengan
keinginan Ai, lelaki hanya bisa mencoba menenangkan keponakannya. Dia mengelus
lengan serta punggung Ai pelan.
“ sutt.. semua akan
baik-baik saja. Kau harus percaya Duke akan bisa mengatasi semuanya” kini
keduanya saling berpelukan.
“ Ai takut paman, apa
paman tau bagaimana caranya menyelamatkan Axton?” Ai menarik diri, dia menatap
manik pamannya.
Allard terdiam, lelaki
itu tidak bisa menjawab pertanyaan Ai. bibirnya terkatup dengan rapat.
“ paman katakan sesuatu.
Kenapa Axton membuat surat cerai untukku? Kenapa dia menyembunyikan semuanya
dari Ai?” wanita itu begitu rapuh, sangat lemah dan tidak berdaya. Hanya di
pelukan sang paman Ai tidak bisa berpura-pura kuat.
Allard merasakan
kekalutan Ai, hanya terdiam mendengar semua beban hati yang keponakaannya
tanggung. Dia juga merasa kasihan namun apalah daya, pertarungan ini tiada yang
mengetahui akhirnya.
Malam ini pangeran Aric
bermaksud mengunjungi raja. Lelaki itu sudah memiliki rasa penasaran yang kuat,
sudah tidak bisa menunggu. Apalagi dia tau bahwa kakaknya mencoba mencelakai
keluarga Duke. Meski entah apa alasannya, Aric mempunyai firasat jika Duke
bukanlah lelaki jahat yang pantas dimusuhi.
“ maaf pangeran, saat ini
raja sedang tidak bisa menerima tamu” pengawal yang berada di pintu kediaman
secara halus menolak kehadirannya.
“ apa ayahanda sedang ada
tamu lain?” Aric menyelidik.
Raut pengawal itu tetap
datar, tebakannya salah.
“ ayah..!” teriak Aric.
“ sampai kapan ayah akan
diam?” lanjut Aric menyudutkannya raja agar mau bertemu dengannya.
“ yang mulia raja sedang
tidak bisa di gang..”
terbuka sedikit, pertanda raja memberikan izin.
Aric segera masuk tanpa
menunggu dipersilahkan. Didalam ruangan kamar begitu gelap. Raja terduduk di
sofa tak jauh darisana.
“ ayah” Aric mendekat
dengan pelan lalu duduk di samping ayahnya.
Kedua pandangan lelaki
itu bertemu, maniknya sama-sama dalam. Keduanya seakan saling menebak isi
fikiran lawan bicaranya. Tidak ada yang mengetahui yang tersimpan dalam hati
masing-masing.
Lain halnya dengan putra
mahkota Sea, lelaki itu sedang melakukan kunjungan pribadi. Rombongannya sedang
berjalan di jalan setapak sebuah desa. Hatinya sedang bergembira saat menerima
informasi dari anak buahnya tentang siapa yang sedang tinggal di desa tepencil ini.
“ kurasa kita perlu
memperbaiki jalan jelek ini” Sea yang sejak tadi tak nyaman dengan keadaan
jalan yang bergeronjal. Tak lama kemudian kereta berhenti di sebuah kediaman
yang terlihat terawat dan kokoh.
“ kau yakin ini
tempatnya?” Sea melihat-lihat kondisi sekitar dengan santai. Sedangkan di dalam
rumah beberapa pelayan sudah gemetaran saat mengetahui jika putra mahkota
Bavaria ada di depan kediaman.
“nona, sebaiknya anda di
dalam kamar” ucap salah satu pelayan. Mereka sudah diberitahu jika sebenarnya
kehamilan Grace harus dirahasiakan. Tak ada satu pelayanpun yang mengetahui
jika Sea lah ayah dari bayi yang dikandung nona mereka.
“ tidak, dia pasti sudah
tau keberadaanku” Grace berpura-pura berani. Dia terus memikirkan cara untuk
menyelamatkan dirinya. Tanpa sepengatahuan yang lainnya. Salah satu pelayan
sudah meninggalkan kediaman secara diam-diam. dia harus memberikan kabar ini
kepada kediaman Duke.
Tok tok .. semua pandang
mata tertuju pada pintu masuk. Jantung mereka semakin berdegup kencang.
Salah satu pelayan
mencoba menenangkan diri dan berjalan untuk membuka pintu. Namun belum juga
tangannya menggapai daun pintu, kayu itu sudah terbuka.
“ kenapa lama sekali?”
Sea dengan santainya langsung masuk kedalam. Situasi disana semakin tegang.
“ kalian tau jika disini
terlalu banyak nyamuk” Sea langsung menduduki kursi dan mengabaikan para
pelayan yang berdiri bergerombol di ujung ruangan karena ketakutan.
“ mana sopan santun
kalian?” pengawal putra mahkota berteriak karena tidak ada sanjungan dari dalam
kediaman.
“ yang mulia putra
mahkota” semua pelayan terduduk memberikan sanjungan. Diruang tengah Grace
sudah mempersiapkan diri. Dia duduk disebuah kursi yang bersender di dinding,
di tengahnya ada meja.
“ dimana nona Grace?” tak
memberikan balasan atau bahkan mempersilahkan pelayan untuk berdiri, Sea
langsung mengutarakan tujuannya.
Para pelayan saling
pandang, ternyata benar perkataan nonanya. Putra mahkota memang datang untuk
menemui Grace.
“ aku disini” Grace yang
sejak tadi mendengar pembicaraan kini berdiri di pintu penghubung ruang tamu
dengan ruang tengah.
“ ah,, wanitaku.
Kemarilah” kalimat itu terdengar sangat menjijikan bagi Grace. Dia masih ingat
jelas bagaimana Sea memperlakukannya di dalam kamar pribadinya. Grace tidak
bergerak mendekat, dia tidak mau terlihat lemah. Meski dulu mereka berdua
sempat saling berkerja sama, nyatanya sekarang mereka sudah menjadi musuh.
“ baiklah, aku yang akan
kesana” Sea tak ambil pusing dengan keenganan Grace dalam menyambutnya.
Grace menjauh masuk
kedalam ruang tengah, dan duduk kembali di tempatnya semula. Sea mengikuti saja
keinginan Grace. Dia tidak merasa terintimidasi sedikitpun.
“ aku bertanya-tanya
kemana kau pergi setelah malam itu. Padahal jika kau mau kita bisa bersama-sama
lebih lama” Sea begitu merendahan wanita di depannya. Kini keduanya duduk
saling berdampingan hanya dipisahkan oleh meja.
“ kenapa kau tinggal
tempat kumuh ini?” Sea terus saja berbasa-basi. Semua kalimatnya terdengar
begitu menyakitkan bagi Grace. Wanita yang sudah dilecehkan dan kini bertemu
lagi dengan si pelaku setelah dirinya berusaha menerima kenyataan.