The New Duchess

The New Duchess
Bab 62 : Kunjungan



 “ paman Al sudah beberapa hari berada di


Barack” jawaban itu menghentikan langkah Ai untuk berjalan masuk kedalam


kediaman. Awalnya tujuannya adalah ruang kerja sang paman, namun kini tidak


lagi.


“ aku harus bertemu


dengan paman” Ai balik badan bergegas pergi lagi.


“ Ai tunggu..” sautan itu


mulai samar di telingan Ainsley, begitupun dengan kesadaran Ai yang mulai


menghilang. Wanita itu memiliki tekad yang kuat namun tidak dengan tubuhnya.


Setelah melakukan perjalan yang begitu jauh dengan riwayat kejadian sebelumnya


tentu saja tidak menujang keinginannya.


“ AAiii… astaga, pelayan!


” belum cukup rasa terkejut Amber kini melihat Ai ambruk semakin membuatya


cemas. Pelayan segera berlari kearah teriakan. Dan langsung membopong tubuh Ai.


Hari menjelang senja kelopak


yang awalnya tertutup, sedikit demi sedikit mulai bergerak. Sang pemilik


sepertinya tidak sabar untuk segera membuka.


“ emm,,,” kepalanya


terasa berat. Padangannya masik kabur. Tak ada seorangpun yang berada dikamar.


Membuat wanita itu beranjak turun tanpa ada yang mencegah.


“ ah kepalaku” gerakannya


terhenti. Kedua kakinya bahkan sudah menggantung di tepi ranjang.


“ Ainsley, “ Amber yang


baru saja membuka pintu kamar tampak panic saat melihat Ai berusaha turun.


“ tunggu disini, bibi


akan panggil paman Al” Amber membantu Ai kembali terbaring. Mendengar perkataan


bibinya, Ai menjadi sedikit tenang. Memang itulah yang wanita itu inginkan


sejak awal sampai.


Setelah memastikan posisi


Ai sudah aman, Amber berjalan keluar. Untung saja suaminya sore ini kembali,


jadi Amber tidak perlu mengutus seseorang untuk mencari keberadaannya.


“ Ai” ucap Allard begitu


masuk ke kamar Ai. mendengar suara pamannya Ai sedikit bangkit, namun dengan


Cepat Allard menahannya.


“ ada apa denganmu nak?”


Allard begitu iba dengan kondisi yang dia lihat.


“ paman tolong bantu Ai.


Axton paman, bantu dia. Ai tidak mau Axton kenapa-napa, “ padahal ada sejuta


kalimat yang ingin Ai utarakan. Semua hal yang dia tau, ingin wanita itu


sampaikan kepada pamannya, namun entah kenapa malah kalimat tidak beraturan


yang keluar.


Allard paham dengan


keinginan Ai, lelaki hanya bisa mencoba menenangkan keponakannya. Dia mengelus


lengan serta punggung Ai pelan.


“ sutt.. semua akan


baik-baik saja. Kau harus percaya Duke akan bisa mengatasi semuanya” kini


keduanya saling berpelukan.


“ Ai takut paman, apa


paman tau bagaimana caranya menyelamatkan Axton?” Ai menarik diri, dia menatap


manik pamannya.


Allard terdiam, lelaki


itu tidak bisa menjawab pertanyaan Ai. bibirnya terkatup dengan rapat.


“ paman katakan sesuatu.


Kenapa Axton membuat surat cerai untukku? Kenapa dia menyembunyikan semuanya


dari Ai?” wanita itu begitu rapuh, sangat lemah dan tidak berdaya. Hanya di


pelukan sang paman Ai tidak bisa berpura-pura kuat.


Allard merasakan


kekalutan Ai, hanya terdiam mendengar semua beban hati yang keponakaannya


tanggung. Dia juga merasa kasihan namun apalah daya, pertarungan ini tiada yang


mengetahui akhirnya.


Malam ini pangeran Aric


bermaksud mengunjungi raja. Lelaki itu sudah memiliki rasa penasaran yang kuat,


sudah tidak bisa menunggu. Apalagi dia tau bahwa kakaknya mencoba mencelakai


keluarga Duke. Meski entah apa alasannya, Aric mempunyai firasat jika Duke


bukanlah lelaki jahat yang pantas dimusuhi.


“ maaf pangeran, saat ini


raja sedang tidak bisa menerima tamu” pengawal yang berada di pintu kediaman


secara halus menolak kehadirannya.


“ apa ayahanda sedang ada


tamu lain?” Aric menyelidik.


Raut pengawal itu tetap


datar, tebakannya salah.


“ ayah..!” teriak Aric.


“ sampai kapan ayah akan


diam?” lanjut Aric menyudutkannya raja agar mau bertemu dengannya.


“ yang mulia raja sedang


tidak bisa di gang..”


terbuka sedikit, pertanda raja memberikan izin.


Aric segera masuk tanpa


menunggu dipersilahkan. Didalam ruangan kamar begitu gelap. Raja terduduk di


sofa tak jauh darisana.


“ ayah” Aric mendekat


dengan pelan lalu duduk di samping ayahnya.


Kedua pandangan lelaki


itu bertemu, maniknya sama-sama dalam. Keduanya seakan saling menebak isi


fikiran lawan bicaranya. Tidak ada yang mengetahui yang tersimpan dalam hati


masing-masing.


Lain halnya dengan putra


mahkota Sea, lelaki itu sedang melakukan kunjungan pribadi. Rombongannya sedang


berjalan di jalan setapak sebuah desa. Hatinya sedang bergembira saat menerima


informasi dari anak buahnya tentang siapa yang sedang tinggal di desa tepencil ini.


“ kurasa kita perlu


memperbaiki jalan jelek ini” Sea yang sejak tadi tak nyaman dengan keadaan


jalan yang bergeronjal. Tak lama kemudian kereta berhenti di sebuah kediaman


yang terlihat terawat dan kokoh.


“ kau yakin ini


tempatnya?” Sea melihat-lihat kondisi sekitar dengan santai. Sedangkan di dalam


rumah beberapa pelayan sudah gemetaran saat mengetahui jika putra mahkota


Bavaria ada di depan kediaman.


“nona, sebaiknya anda di


dalam kamar” ucap salah satu pelayan. Mereka sudah diberitahu jika sebenarnya


kehamilan Grace harus dirahasiakan. Tak ada satu pelayanpun yang mengetahui


jika Sea lah ayah dari bayi yang dikandung nona mereka.


“ tidak, dia pasti sudah


tau keberadaanku” Grace berpura-pura berani. Dia terus memikirkan cara untuk


menyelamatkan dirinya. Tanpa sepengatahuan yang lainnya. Salah satu pelayan


sudah meninggalkan kediaman secara diam-diam. dia harus memberikan kabar ini


kepada kediaman Duke.


Tok tok .. semua pandang


mata tertuju pada pintu masuk. Jantung mereka semakin berdegup kencang.


Salah satu pelayan


mencoba menenangkan diri dan berjalan untuk membuka pintu. Namun belum juga


tangannya menggapai daun pintu, kayu itu sudah terbuka.


“ kenapa lama sekali?”


Sea dengan santainya langsung masuk kedalam. Situasi disana semakin tegang.


“ kalian tau jika disini


terlalu banyak nyamuk” Sea langsung menduduki kursi dan mengabaikan para


pelayan yang berdiri bergerombol di ujung ruangan karena ketakutan.


“ mana sopan santun


kalian?” pengawal putra mahkota berteriak karena tidak ada sanjungan dari dalam


kediaman.


“ yang mulia putra


mahkota” semua pelayan terduduk memberikan sanjungan. Diruang tengah Grace


sudah mempersiapkan diri. Dia duduk disebuah kursi yang bersender di dinding,


di tengahnya ada meja.


“ dimana nona Grace?” tak


memberikan balasan atau bahkan mempersilahkan pelayan untuk berdiri, Sea


langsung mengutarakan tujuannya.


Para pelayan saling


pandang, ternyata benar perkataan nonanya. Putra mahkota memang datang untuk


menemui Grace.


“ aku disini” Grace yang


sejak tadi mendengar pembicaraan kini berdiri di pintu penghubung ruang tamu


dengan ruang tengah.


“ ah,, wanitaku.


Kemarilah” kalimat itu terdengar sangat menjijikan bagi Grace. Dia masih ingat


jelas bagaimana Sea memperlakukannya di dalam kamar pribadinya. Grace tidak


bergerak mendekat, dia tidak mau terlihat lemah. Meski dulu mereka berdua


sempat saling berkerja sama, nyatanya sekarang mereka sudah menjadi musuh.


“ baiklah, aku yang akan


kesana” Sea tak ambil pusing dengan keenganan Grace dalam menyambutnya.


Grace menjauh masuk


kedalam ruang tengah, dan duduk kembali di tempatnya semula. Sea mengikuti saja


keinginan Grace. Dia tidak merasa terintimidasi sedikitpun.


“ aku bertanya-tanya


kemana kau pergi setelah malam itu. Padahal jika kau mau kita bisa bersama-sama


lebih lama” Sea begitu merendahan wanita di depannya. Kini keduanya duduk


saling berdampingan hanya dipisahkan oleh meja.


“ kenapa kau tinggal


tempat kumuh ini?” Sea terus saja berbasa-basi. Semua kalimatnya terdengar


begitu menyakitkan bagi Grace. Wanita yang sudah dilecehkan dan kini bertemu


lagi dengan si pelaku setelah dirinya berusaha menerima kenyataan.