
Makan malam berlangsung sepi, seperti biasa. Kini semakin membosankan, Axton tidak sering mengajaknya berbicang. Apalagi entah kenapa Ai merasa ada sesuatu yang sedang Axton sembunyikan darinya. Beberapa hari suaminya itu selalu sibuk di ruang kerjanya, meski mereka sudah satu kamar. Nyatanya hanya hari pertama saja Axton mengantara tidurnya, malam setelahnya entah pukul berapa suaminya itu masuk ke kamar. Membuat Ai tidak percaya diri jika dirinya bisa mengambil hati suaminya.
Ai makan dengan lambat, Axton sudah naik terlebih dahulu. Sekarang Milly mendekati nyonyanya.
“ nyoya tidak suka menunya?” tanya Mily. Ai menepuk kursi sampingnya, menyuruh Mily menemaninya sebentar.
“ tidak, menunya enak. Cuman aku bosan saja, tak boleh mengikuti pertemuan seperti sebelumnya” lirih Ai menopang dagunya.
“ mungkin tuan masih khawatir kejadian kemarin terulang lagi nyonya” Mily sedikit memberikan pendapatnya. Mily bahkan mengetahui cerita lengkapnya dari Brian.
“ he’em aku tau, untung saja Axton bisa menemukanku” ucap Ai, sambil mengambil suapan makanan.
“ iya nyonya, pengawal Brian awalnya tidak yakin, namun tuan seperti mendapat ikatan batin langsung menuju ke kediaman Kleiner. Mungkin itu namanya ikatan suami istri” ucap mily sambil tersenyum menggoda nyonyanya. Berbeda sekali dengan Ai yang kini mengerutkan keningnya. Ucapan Mily memberikan cerita yang berbeda dari ingatannya.
“ Kleiner?, ada hubungan apa dengan mereka?” Ai menatap tajam Mily, meminta penjelasan lebih lanjut. Mily merasa telah mengatakan hal yang salah hanya menelan ludah kasar. Apa dia harus menceritakanya atau tidak, Mily dilanda dilema.
“ katakan Mily” Ai memaksa pelayannya untuk berbicara.
“ setahu saya, menurut cerita dari pengawal Brian. Waktu itu Brian tidak bisa menemukan keberadaan nyonya, ketika tuan tersadar entah bagaimana tuan yakin jika nyonya ada di kediaman Kleiner. Dan ternyata benar, nyonya berada di kamar Lord Hardwin. Tuan sangat marah, mungkin karena itu tuan melarang nyonya keluar” Mily menceritakan garis besarnya kepada Ai. Ai tidak menyangka ternyata kebenarannya seperti itu, Ai mengira Axton yang menyelamatkannya di kerajaan. Pasalnya ketika terbangun sudah ada axton di sampingnya. Dia juga sudah berada di kediaman, tidak tahu menahu jika ada cerita di baliknya.
“ aku baru tau” guman Ai, dia kembali bertanya-tanya kenapa Axton tidak mengatakan apapun ataupun bertanya kepadanya.
Setelah berbincang singkat dengan Mily, Ai naik ke kamar. Seperti biasa kamar itu kosong. Axton pasti di ruang kerjanya.
“ apa aku perlu bertanya padanya?” ucap Ai dalam hati. Setelah mendengar semuanya, masalah ini tentunya tidak sesederhana yang dia fikirkan. Setelah menimbang cukup lama, akhirnya Ai masuk ke kamar. Dia akan menggunakan saran dari Masy. Membuat suasana nyaman untuk mendapat penjelasan dari suaminya.
Ai bersiap dengan pakaian tidur berbahan satin berwarna emas. Mematikan beberapa lampu kamar. Menunggu di atas ranjang, tak lupa sebotol anggur untuk membantunya sedikit rileks.
Malam semakin larut, setelah membereskan berkas-berkas kerjanya Axton terdiam menatap cendela. Bantuan yang dia minta kemungkinan besok akan sampai. Axton berharap kali ini dia tidak akan kehilangan lagi.
Membuka pintu kamar, suasana sudah lebih remang-remang, dilihatnya istrinya itu sudah tertidur dengan posisi duduk. Axton tersenyum sejenak, istrinya kelelahan menunggu dirinya. Perlahan membenarkan posisi istrinya.
“ emm,, kau sudah selesai?” tanya Ai yang terbangun dan berada dalam depakan sang suami.
“ tidurlah kembali” Axton mengambil selimut untuk menutupi tubuh Ai yang terbuka. Jubah tidur yang di kenakan istrinya tidak di tali jadi terbuka bagian depan, belum lagi karena ulanhnya membuat gaun itu terangkat naik memperlihatkan paha mulus nan putih.
“ aku akan mengecek beberapa hal lagi” kilah Axton, dirinya tidak kuat jika melihat istrinya yang dalam kondisi seperti ini. Axton berfikir Ai masih belum membuka hatinya. Membuatnya memilih untuk menghindar.
“ temani aku sebentar” Ai tidak akan melepaskan kesempatan ini. Sudah sedari tadi menunggu, kini waktunya mencari jawaban.
“ he’em” Axton menyanggupi. Akhirnya dia setengah berbaring, Ai memeluk perutnya, sedang dia bersandar di sandaran ranjang. Dan posisi ini semakin memperjelas tubuh indah milik istrinya. Apalagi Ai menyingkirkan selimut tebal, Axton berusaha mengatur nafasnya, atau lebih khusus mengatur nafsunya.
“ Axton, kejadian saat pesta ulang tahun itu begitu menakutkan, apa kau tidak menghukum Grace?” tanya Ai membuka pembicaraan, kini rasa ngatuknya hilang seketika.
“ dia sudah mendapatkannya” jawab Axton yang sudah mengetahui apa yang terjadi pada Grace di kerajaan, bahkan hukuman itu berlangsung sampai sekarang. Sea belum melepaskan Grace dari kamar itu.
“ bagaimana kau menemukanku? Apa kau mendengar panggilanku?” Ai sudah memancing, tinggal umpannya termakan atau tidak.
“ entahlah, aku hanya yakin” jawab Axton yang tidak ingin memperjelas kebenarannya. Ai harus mengeluarkan kemampuan ektra agar Axton mengaku.
“ sebenarnya Grace membawaku kemana? Sepertinya itu sebuah kamar?” Axton terdiam mendengar pertanyaan Ai. Dia juga tidak tau apa yang Grace lakukan pada istrinya itu.
“ sudah begitu larut, sebaiknya kau tutup matamu” Axton mengalihkan pembicaraan. Ai mendongak menatap suaminya. Kini Axton dengan jelas melihat belahan itu, posisi kepala Ai membuat yang terlahang menjadi terpampang. Beberapa saat mereka saling pandang, Ai meneliti wajah Axton. Malam ini suaminya terlihat lebih tampan, terbawa suasana Ai mengangkat tangannya. Menyentuh pipi Axton pelan.
“ aku tak bisa tidur” lirih Ai. Sapuan lembut Ai membuat pertahanan Axton runtuh. Malam ini keberanian Ai membuat Axton tidak dapat lagi menahan kebutuhannya.
“ kau yakin?” Ai mengangguk lemah, Axton semakin terbawa nafsunya. Salah satu tangannya memeluk pinggang Ai kuat, sedang yang lainnya memegang tangan istrinya yang berada di pipinya. Dengan cepat di balik tubuhnya. Kini Ai berada di bawah. Axton mengurung tubuh mungil itu dengan mudah.
Manik Ai membola, kejadian begitu cepat. Axton dengan mudah mengurung dirinya, tangannya yang awalnya berada di pipi axton, kini ditahan suaminya, tak bisa bergerak. Ai menatap manik suaminya yang terlihat lebih pekat dan ada kabut tipis menyelubungi kedua mata itu.
Ai semakin berani, satu tanganya yang bebas menyentuh dada Axton. Dada itu bergerak cepat seperti seseorang yang habis berlari. Nafas Axton semakin memburu, entah siapa yang mengajari Ai menggoda seperti ini. Kepala Axton seakan pening merasakan nafsunya semakin tak tertahankan.
Kini giliran Axton, tanpa menunggu lama di dekatkan wajahnya, di cicipnya daging lembut nan manis. Bibir Ai menjadi sasaran empuk Axton. Sudah lama Axton ingin mencoba bagaimana rasa bibir mungil istrinya. Seakan baru menemukan mata air, Axton menuntaskan segala dahaganya. Tak perduli jika pemilik bibir terbata-bata mengimbangi aksi paksa Axton.
Ai mencengkaram erat kerah baju Axton, nafasnya semakin menipis. Namun Axton tak kunjung berhenti menikmati bibirnya.
“ emm” seakan tersadar gumanan istrinya, Axton melepas bibir merah itu. Hanya sebentar, Axton memberikan waktu singkat untuk Ai mengambil nafas, karena setelahnya tidak ada ampun bagi Ai. Seperti singa yang terbangun, Ai harus rela menjadi santapan sang raja.