
Semuanya segera
mempersiapkan diri menuju pos penjaga perbatasan. Tidak terkecuali dengan
perkawakilan raja. Mereka akan menjadi saksi serta batasan agar Putra mahkota
Sea tidak berani macam macam.
Perjalanan menuju pos dilakukan
semalaman penuh, kini para rombongan sudah berada di gerbang pos.
“ panggil pemimpin kalian
kemari” teriak pengawal Aric. Seorang penjaga akhirnya berjalan masuk kedalam
ruangan pemimpin.
“ tuan diluar ada yang
ingin bertemu, mereka segerombolan orang dengan membawa senjata lengkap”
pemimpin menatap bawahannya lama, dia memikirkan siapa kiranya yang berani
datang kemari.
“ suruh mereka masuk”
bukan pemimpin melainkan pengawal putra makota Sea mendahului dalam memberikan
izin. Pemimpin itu tidak bergeming, akhirnya penjaga keluar untuk menyampaikan
pesan.
“ kau tau siapa mereka?”
pemimpin itu seakan menyuarakan kekesalannya.
“ tidak” jawab acuh pengawal
Sea. Kemudian lelaki masuk ke ruangan berbilik, dia tidak boleh terlihat namun
tetap harus mengawasi akhirnya dia hanya bisa menyembunyikan dirinya.
Tok tok , di ambang pintu
sudah ada penjaga.
“ mereka menunggu di
depan” kening pemimpin itu mengerut tajam, entah siapa mereka, hanya sekelompok
orang yang cari mati pikir sang pemimpin. Dengan agak kesal, akhirnya lelaki
itu beranjak dari duduknya, berjalan malas keluar ruangan.
“ siapa kalian dan mau
apa kemari?” tanya pemimpin tanpa basa-basi.
“ saya pengawal pribadi
pangeran Aric, kami kemari ingin membawa pangeran” ucap lelaki itu lantang.
Pemimpin itu menilai dari
atas sampai bawah, dari kanan ke kiri. Keberadaan pangeran Aric yang ditahan
kenapa bisa bocor, siapa yang memberitahukan mereka mengenai hal ini.
“ kenapa pangeran Aric
bisa disini? Jangan mengada-ngada” pemimpin itu tidak serta merta menelan
perkataan mereka, dia perlu memastikan terlebih dahulu.
“ jangan membohongi kamu,
segera bebaskan pangeran dan kami baru akan pergi” tidak kalah sengit pengawal
Aric juga tidak mudah di tipu.
Pemimpi itu tersenyum
singkat dengan kepintaran lelaki yang ada dihadapannya. Namun sayang masalah
pembebasan ini tidak semudah itu, jelas tugas ini tidak berada dalam
kendalinya.
“ kau tidak tau apa-apa,
segera pergi sebelum nyawa kalian melayang” pemimpin itu berfikir bahwa mereka
hanya sekelompok pecundang, tuannya adalah seorang putra mahkota,dia berhak sombong
dan meremehkan yang lainnya. Tanpa merasa takut pemimpin itu malah berlenggok
masuk kedalam ruangannya.
“ baik, tidak masalah
kami akan pergi, namun jangan menyesal jika raja mengetauinya. Mereka ini
adalah perwakilan raja” kalimat itu langsung membuat langkah sang pemimpin
berhenti. Bagaimana tidak mereka membawa nama raja disini, pemimpin itu
“ jangan membual” dia
sudah cukup emosi dan tidak mau membawa masalah lagi.
“ baca sendiri” laporan
itu terpajang di depannya, pengawal Aric memegang sebuah dekrit raja yang jelas
mengirim Aric ke perbatasan dan siapa saja yang berniat menghalangi atau
mengancam keselamatan pangeran akan segera menerima hukuman. Tak lupa dengan
stempel resmi milik raja.
Pemimpin itu membola, dia
tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia mengamati dengan seksama,
wajah-wajah siapa saja yang dia hadapi. Lelaki itu yakin bahwa ini bukanlah
bualan semata. Laporan ini jelas resmi dan tidak bisa di ganggu gugat. Didalam pengawal Sea juga tertegun
dengan keadaan yang terjadi. Ini masalah sulit, sedangkan putra mahkota tidak
berada disini. Satu keputusan saja akan mempengaruhi segalanya.
“ bagaimana? Masih tidak
mau melepaskan pangeran?” kembali lagi pemimpin itu merasa tersudut. Dia tidak
memiliki pilihan. Daripada berurusan dengan raja, dia lebih memilih terkena
amukan kemarahan putra mahkota.
Akhirnya dengan terpaksa
pemimpin itu memberikan kode kepada penjaga untuk menuruti keinginan para gerombolan orang ini. Pengawal
Aric menangkap ketidakberdayaan lawannya, dia sangat puas dengan keberhasilan
dari laporan itu, entah raja mengetahui kabar penangkapan ini atau memang sudah
memprediksikan, dia hanya bisa berterimaksih.
Tak lama pangeran Aric
akhirnya datang dengan di jaga oleh dua orang, dia tampak kebingungan akan
dibawa kemana, namun setelah melihat pengawal serta beberapa bawahan lainnya,
dia akhirnya tau bahwa dia sudah bebas.
“ yang mulia” pengawal
itu segera mendekati tuannya mereka cukup khawatir jika terjadi sesuatu dengan
tuannya.
“ anda tidak apa-apa?”
kembali lagi bertanya untuk memastikan keadaan.
“ tenanglah aku tidak
apa-apa” mereka tampak sedikit lega.
Memang dari penampilannya
pangeran Aric tidak mengalami luka apapaun di tubuhya. Semuanya tampak puas
dengan pembebesan ini.
“ seperti yang kalian
lihat, kami tidak bermaksud menahan pangeran, hanya saja situasi perbatasan
sangatlah berbahaya, kami tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada pengeran
jadi hanya bisa melindungi dengan cara seperti ini” kilah pemimpin.
Bagaimanapun keterlibatan dia dengan putra mahkota tidak boleh di ekpos. Jangan
sampai ada yang tau, setidaknya tidak secara terang-terangan.
Jika sampai tau, bukan
hanya hukuman raja, putra mahkota pasti langsung menghabisinya sebelum dia
sampai di ibukota. Pemimpin itu harus menjaga sikap dan lidahnya.
Tentu alasan seperti itu
sangat tidak bisa dicerna, berhubung karena tujuan mereka sudah terwujud dan
memang tidak mau mengulur waktu, akhirnya Aric beserta anak buahnya segera
meninggalkan pos penjaga. Mereka harus segera pergi menuju perbatasan.
“ aku mengerti sekali
maksud hatimu, tunggu selesai ini semuanya tentu akan aku bayar” ucap Aric
penuh arti.