The New Duchess

The New Duchess
Bab 72: Bebas



Semuanya segera


mempersiapkan diri menuju pos penjaga perbatasan. Tidak terkecuali dengan


perkawakilan raja. Mereka akan menjadi saksi serta batasan agar Putra mahkota


Sea tidak berani macam macam.


Perjalanan menuju pos dilakukan


semalaman penuh, kini para rombongan sudah berada di gerbang pos.


“ panggil pemimpin kalian


kemari” teriak pengawal Aric. Seorang penjaga akhirnya berjalan masuk kedalam


ruangan pemimpin.


“ tuan diluar ada yang


ingin bertemu, mereka segerombolan orang dengan membawa senjata lengkap”


pemimpin menatap bawahannya lama, dia memikirkan siapa kiranya yang berani


datang kemari.


“ suruh mereka masuk”


bukan pemimpin melainkan pengawal putra makota Sea mendahului dalam memberikan


izin. Pemimpin itu tidak bergeming, akhirnya penjaga keluar untuk menyampaikan


pesan.


“ kau tau siapa mereka?”


pemimpin itu seakan menyuarakan kekesalannya.


“ tidak” jawab acuh pengawal


Sea. Kemudian lelaki masuk ke ruangan berbilik, dia tidak boleh terlihat namun


tetap harus mengawasi akhirnya dia hanya bisa menyembunyikan dirinya.


Tok tok , di ambang pintu


sudah ada penjaga.


“ mereka menunggu di


depan” kening pemimpin itu mengerut tajam, entah siapa mereka, hanya sekelompok


orang yang cari mati pikir sang pemimpin. Dengan agak kesal, akhirnya lelaki


itu beranjak dari duduknya, berjalan malas keluar ruangan.


“ siapa kalian dan mau


apa kemari?” tanya pemimpin tanpa basa-basi.


“ saya pengawal pribadi


pangeran Aric, kami kemari ingin membawa pangeran” ucap lelaki itu lantang.


Pemimpin itu menilai dari


atas sampai bawah, dari kanan ke kiri. Keberadaan pangeran Aric yang ditahan


kenapa bisa bocor, siapa yang memberitahukan mereka mengenai hal ini.


“ kenapa pangeran Aric


bisa disini? Jangan mengada-ngada” pemimpin itu tidak serta merta menelan


perkataan mereka, dia perlu memastikan terlebih dahulu.


“ jangan membohongi kamu,


segera bebaskan pangeran dan kami baru akan pergi” tidak kalah sengit pengawal


Aric juga tidak mudah di tipu.


Pemimpi itu tersenyum


singkat dengan kepintaran lelaki yang ada dihadapannya. Namun sayang masalah


pembebasan ini tidak semudah itu, jelas tugas ini tidak berada dalam


kendalinya.


“ kau tidak tau apa-apa,


segera pergi sebelum nyawa kalian melayang” pemimpin itu berfikir bahwa mereka


hanya sekelompok pecundang, tuannya adalah seorang putra mahkota,dia berhak sombong


dan meremehkan yang lainnya. Tanpa merasa takut pemimpin itu malah berlenggok


masuk kedalam ruangannya.


“ baik, tidak masalah


kami akan pergi, namun jangan menyesal jika raja mengetauinya. Mereka ini


adalah perwakilan raja” kalimat itu langsung membuat langkah sang pemimpin


berhenti. Bagaimana tidak mereka membawa nama raja disini, pemimpin itu


“ jangan membual” dia


sudah cukup emosi dan tidak mau membawa masalah lagi.


“ baca sendiri” laporan


itu terpajang di depannya, pengawal Aric memegang sebuah dekrit raja yang jelas


mengirim Aric ke perbatasan dan siapa saja yang berniat menghalangi atau


mengancam keselamatan pangeran akan segera menerima hukuman. Tak lupa dengan


stempel resmi milik raja.


Pemimpin itu membola, dia


tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia mengamati dengan seksama,


wajah-wajah siapa saja yang dia hadapi. Lelaki itu yakin bahwa ini bukanlah


bualan semata. Laporan ini jelas resmi  dan tidak bisa di ganggu gugat. Didalam pengawal Sea juga tertegun


dengan keadaan yang terjadi. Ini masalah sulit, sedangkan putra mahkota tidak


berada disini. Satu keputusan saja akan mempengaruhi segalanya.


“ bagaimana? Masih tidak


mau melepaskan pangeran?” kembali lagi pemimpin itu merasa tersudut. Dia tidak


memiliki pilihan. Daripada berurusan dengan raja, dia lebih memilih terkena


amukan kemarahan putra mahkota.


Akhirnya dengan terpaksa


pemimpin itu memberikan kode kepada  penjaga untuk menuruti keinginan para gerombolan orang ini. Pengawal


Aric menangkap ketidakberdayaan lawannya, dia sangat puas dengan keberhasilan


dari laporan itu, entah raja mengetahui kabar penangkapan ini atau memang sudah


memprediksikan, dia hanya bisa berterimaksih.


Tak lama pangeran Aric


akhirnya datang dengan di jaga oleh dua orang, dia tampak kebingungan akan


dibawa kemana, namun setelah melihat pengawal serta beberapa bawahan lainnya,


dia akhirnya tau bahwa dia sudah bebas.


“ yang mulia” pengawal


itu segera mendekati tuannya mereka cukup khawatir jika terjadi sesuatu dengan


tuannya.


“ anda tidak apa-apa?”


kembali lagi bertanya untuk memastikan keadaan.


“ tenanglah aku tidak


apa-apa” mereka tampak sedikit lega.


Memang dari penampilannya


pangeran Aric tidak mengalami luka apapaun di tubuhya. Semuanya tampak puas


dengan pembebesan ini.


“ seperti yang kalian


lihat, kami tidak bermaksud menahan pangeran, hanya saja situasi perbatasan


sangatlah berbahaya, kami tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada pengeran


jadi hanya bisa melindungi dengan cara seperti ini” kilah pemimpin.


Bagaimanapun keterlibatan dia dengan putra mahkota tidak boleh di ekpos. Jangan


sampai ada yang tau, setidaknya tidak secara terang-terangan.


Jika sampai tau, bukan


hanya hukuman raja, putra mahkota pasti langsung menghabisinya sebelum dia


sampai di ibukota. Pemimpin itu harus menjaga sikap dan lidahnya.


Tentu alasan seperti itu


sangat tidak bisa dicerna, berhubung karena tujuan mereka sudah terwujud dan


memang tidak mau mengulur waktu, akhirnya Aric beserta anak buahnya segera


meninggalkan pos penjaga. Mereka harus segera pergi menuju perbatasan.


“ aku mengerti sekali


maksud hatimu, tunggu selesai ini semuanya tentu akan aku bayar” ucap Aric


penuh arti.