The New Duchess

The New Duchess
Bab 97 : Tahanan Kota



Mendengar penjelasan


masuk akal dari Ai, seketika Hardwin kembali tenang. Lelaki itu meski sudah


lama berkecipung dalam dunia militer namun secara lapangan dirinya masih sangat


kurang pengalaman. Beberapa kali dia hanya menjadi pemimpin pasukan siaga dan


terakhir menjadi ketua Barack milik Duke.


“ kau ada benarnya, kita


tunggu saja” ucap Hardwin sambil mengambil tempat di samping Ai. mereka berdua


duduk berdampingan. Ruangan itu seperti ruangan pada umunya, ada meja dan kursi


namun tidak ada jendela dan berada di pojok bangunan. Semua seperti sudah


tertata dengan rapi dan sudah di atur bahwa ini merupakan ruangan “ Sandra”.


“ kita bisa beristirahat


setelah beberapa hari dalam perjalanan” ucap Hardwin kemudian, dan dengan cepat


segera di angguki oleh Ai. wanita itu berpindah ke kursi yang lebih lebar dan


mulai merebahkan diri.


Sedangkan Hardwin dalam


mode berjaga, mereka akan bergantian untuk beristirahat nanti, toh mereka juga


tidak tau sampai kapan mereka akan tertahan disini.


Hari terus berganti, baik


Ai maupun Hardwin sudah tidak bisa membedakan apakah siang atau malam. Mereka


di dalam hanya berbaring dan selebihnya memakan makanan yang petugas berikan


lewat lubang kecil di bagian bawah pintu.


Situasi ini semakin


membuat Hardwin mulai cemas, lelaki itu memiliki tugas penting dari raja. Dia


tidak mau gagal atau dia akan kehilangan nyawa.


“ kenapa kau terlihat


begitu gusar?” Ai bertanya sambil makan.


“ kau lupa, pasukanku


menuju kemari. Dan kita masih tertahan seperti ini, bisa gawat” ucap Hardwin


penuh kecemasan. Ai melupakan hal ini, dia terlalu santai sehingga lupa jika


pasukan milik Hardwin juga menyusul mereka.


“ maaf, aku melupakannya.


Kia juga tidka bisa melakukan apapun” Ai sendiri juga bingung harus melakukan


apa. Mereka tidak diberikan kesempatan untuk menjelaskan alasan kedatangan


mereka.


“ nah itu, aku takut


mereka akan melakukan hal buruk pada pasukanku” Hardwin terbayang berbagai


macam hal buruk yang mungkin akan pasukannya alami.


“ kita berdoa saja,


mungkin sebentar lagi mereka akan mengeluarkan kita” Ai hanya bisa menenangkan


Hardwin dengan kata-kata. Suasana kembali tenang, mau tidak mau mereka juga


tidak bisa melakukan sesuatu, hanya bisa menunggu.


Sekarang adalah hari ke 3


dari masa tahanan mereka, sesuai dengan prediksi, pasukan Hardwin sebentar lagi


akan sampai di gerbang kota Tordor. Kali ini mereka melalui jalur yang berbeda.


Pengawasan keamanan akan jauh lebih rumit dan panjang.


Pasukan dalam kota yang


mengetahui bahwan ada pasukan kecil yang menuju ke gerbang segera mempersiapkan


pengamanan. Mereka akan mengecek semua pasukan itu dengan ketat.


“ siapa kalian?” ucap


pasukan dalam. Mereka bahkan masih berjarak beberapa kilometer dari gerbang


kota, dan sudah melalui protokol pengamanan.


“ kami pasukan milik tuan


Hardwin, kami kemari sesuai dengan perintah atasan” ucap salah satu rombongan


mereka.


“ lalu dimana ketua


kalian?” pasukan dalam kembali bertanya. Pasukan tanpa komando sangatlah


langka. Pasukan dalam belum pernah menemui hal seperti ini sebelumnya. Membuat rasa


kecurigaan mereka semakin besar.


“ tuan Hardwin sudah


memasuki kota terlebih dahulu” ucap perwakilan rombongan itu.


Pasukan dalam saling


berpandangan, mereka belum menerima informasi atau perintah apapun dari


komandan. Mereka tidak bisa memberikan keputusan. Akhirnya semua protokol


pengamanan terus di lalui sambil salah seorang pasukan dalam melaporkan ke


komandan kota.


Proses pengamanan


berjalan hampir satu hari penuh, tidak ada satupun orang yang melewati pos ini


dengan mudah.


Pasukan dalam yang


memberikan informasi terkait situasi di luar gerbang, langsung mengabarkan


pasukan komandan. Dan dengan segera mencurigai bahwa orang yang mereka tahan


pasti saling berkaitan.


Ceklek pintu ruangan


tahanan di buka, disana ada 3 orang yang sudah berdiri di ambang pintu. Satu diantaranya


memiliki aura yang kuat, kemungkinan dia memiliki tanggung jawab lebih di


pasukan.


“ kalian keluarlah” ucap


nya dengan tegas. Ai dan Hardwin saling perpandangan sebelum akhirnya mereka


mengikuti perintah pasukan penjaga.


Mereka di bimbing menuju


sebuah ruangan yang berada di lantai 2 sebuah bangunan. Ini bangunan yang


berbeda dari tempat mereka di tahan sebelumnya.


“ masuklah” ruangan yang


sedang mereka lihat tampak lebih mewah dan tidak seperti ruangan tahanan ,


membuat Ai dan Hardwin tidak memiiki kecurigaan jika mereka akan di tahan


kembali.


Dua orang tetap diluar


dan satu orang lagi ikut masuk membimbing mereka.


“ apa diantara kalian


bernama Hardwin?” ucap seorang yang memiliki aura kuat.


“ saya, apakah pasukan


saya sudah sampai di gerbang kota?” Hardwin langsung saja bertanya. Dia yakin


jika tebakannya tidak meleset. Melihat raut wajah lawan bicaranya yang sedikit


kaget membuat  Hardwin semakin percaya.


“ ada kepentingan apa


sampai kau membawa pasukan kemari?” Hardwin diberikan pertanyaan lagi.


Kali ini Hardwin tidak


menjawab namun dia mengeluarkan surat tugasnya, sambil menghembuskan nafas


kasar. Kenapa baru sekarang mereka bertanya padanya. Rasanya terlalu lama.


“ orang yang kau cari


tidak ada di sini, segera persiapkan diri untuk keluar dari kota” bahkan surat


tugas dari raja tidak membuat lawan bicaranya seakan menyanjung atau meminta


maaf pada dirinya. Seperti halnya surat biasa setelah selesai membacanya surat


itu langsung di lipat dan diberikan kembali pada Hardwin.