
Mendengar penjelasan
masuk akal dari Ai, seketika Hardwin kembali tenang. Lelaki itu meski sudah
lama berkecipung dalam dunia militer namun secara lapangan dirinya masih sangat
kurang pengalaman. Beberapa kali dia hanya menjadi pemimpin pasukan siaga dan
terakhir menjadi ketua Barack milik Duke.
“ kau ada benarnya, kita
tunggu saja” ucap Hardwin sambil mengambil tempat di samping Ai. mereka berdua
duduk berdampingan. Ruangan itu seperti ruangan pada umunya, ada meja dan kursi
namun tidak ada jendela dan berada di pojok bangunan. Semua seperti sudah
tertata dengan rapi dan sudah di atur bahwa ini merupakan ruangan “ Sandra”.
“ kita bisa beristirahat
setelah beberapa hari dalam perjalanan” ucap Hardwin kemudian, dan dengan cepat
segera di angguki oleh Ai. wanita itu berpindah ke kursi yang lebih lebar dan
mulai merebahkan diri.
Sedangkan Hardwin dalam
mode berjaga, mereka akan bergantian untuk beristirahat nanti, toh mereka juga
tidak tau sampai kapan mereka akan tertahan disini.
Hari terus berganti, baik
Ai maupun Hardwin sudah tidak bisa membedakan apakah siang atau malam. Mereka
di dalam hanya berbaring dan selebihnya memakan makanan yang petugas berikan
lewat lubang kecil di bagian bawah pintu.
Situasi ini semakin
membuat Hardwin mulai cemas, lelaki itu memiliki tugas penting dari raja. Dia
tidak mau gagal atau dia akan kehilangan nyawa.
“ kenapa kau terlihat
begitu gusar?” Ai bertanya sambil makan.
“ kau lupa, pasukanku
menuju kemari. Dan kita masih tertahan seperti ini, bisa gawat” ucap Hardwin
penuh kecemasan. Ai melupakan hal ini, dia terlalu santai sehingga lupa jika
pasukan milik Hardwin juga menyusul mereka.
“ maaf, aku melupakannya.
Kia juga tidka bisa melakukan apapun” Ai sendiri juga bingung harus melakukan
apa. Mereka tidak diberikan kesempatan untuk menjelaskan alasan kedatangan
mereka.
“ nah itu, aku takut
mereka akan melakukan hal buruk pada pasukanku” Hardwin terbayang berbagai
macam hal buruk yang mungkin akan pasukannya alami.
“ kita berdoa saja,
mungkin sebentar lagi mereka akan mengeluarkan kita” Ai hanya bisa menenangkan
Hardwin dengan kata-kata. Suasana kembali tenang, mau tidak mau mereka juga
tidak bisa melakukan sesuatu, hanya bisa menunggu.
Sekarang adalah hari ke 3
dari masa tahanan mereka, sesuai dengan prediksi, pasukan Hardwin sebentar lagi
akan sampai di gerbang kota Tordor. Kali ini mereka melalui jalur yang berbeda.
Pengawasan keamanan akan jauh lebih rumit dan panjang.
Pasukan dalam kota yang
mengetahui bahwan ada pasukan kecil yang menuju ke gerbang segera mempersiapkan
pengamanan. Mereka akan mengecek semua pasukan itu dengan ketat.
“ siapa kalian?” ucap
pasukan dalam. Mereka bahkan masih berjarak beberapa kilometer dari gerbang
kota, dan sudah melalui protokol pengamanan.
“ kami pasukan milik tuan
Hardwin, kami kemari sesuai dengan perintah atasan” ucap salah satu rombongan
mereka.
“ lalu dimana ketua
kalian?” pasukan dalam kembali bertanya. Pasukan tanpa komando sangatlah
langka. Pasukan dalam belum pernah menemui hal seperti ini sebelumnya. Membuat rasa
kecurigaan mereka semakin besar.
“ tuan Hardwin sudah
memasuki kota terlebih dahulu” ucap perwakilan rombongan itu.
Pasukan dalam saling
berpandangan, mereka belum menerima informasi atau perintah apapun dari
komandan. Mereka tidak bisa memberikan keputusan. Akhirnya semua protokol
pengamanan terus di lalui sambil salah seorang pasukan dalam melaporkan ke
komandan kota.
Proses pengamanan
berjalan hampir satu hari penuh, tidak ada satupun orang yang melewati pos ini
dengan mudah.
Pasukan dalam yang
memberikan informasi terkait situasi di luar gerbang, langsung mengabarkan
pasukan komandan. Dan dengan segera mencurigai bahwa orang yang mereka tahan
pasti saling berkaitan.
Ceklek pintu ruangan
tahanan di buka, disana ada 3 orang yang sudah berdiri di ambang pintu. Satu diantaranya
memiliki aura yang kuat, kemungkinan dia memiliki tanggung jawab lebih di
pasukan.
“ kalian keluarlah” ucap
nya dengan tegas. Ai dan Hardwin saling perpandangan sebelum akhirnya mereka
mengikuti perintah pasukan penjaga.
Mereka di bimbing menuju
sebuah ruangan yang berada di lantai 2 sebuah bangunan. Ini bangunan yang
berbeda dari tempat mereka di tahan sebelumnya.
“ masuklah” ruangan yang
sedang mereka lihat tampak lebih mewah dan tidak seperti ruangan tahanan ,
membuat Ai dan Hardwin tidak memiiki kecurigaan jika mereka akan di tahan
kembali.
Dua orang tetap diluar
dan satu orang lagi ikut masuk membimbing mereka.
“ apa diantara kalian
bernama Hardwin?” ucap seorang yang memiliki aura kuat.
“ saya, apakah pasukan
saya sudah sampai di gerbang kota?” Hardwin langsung saja bertanya. Dia yakin
jika tebakannya tidak meleset. Melihat raut wajah lawan bicaranya yang sedikit
kaget membuat Hardwin semakin percaya.
“ ada kepentingan apa
sampai kau membawa pasukan kemari?” Hardwin diberikan pertanyaan lagi.
Kali ini Hardwin tidak
menjawab namun dia mengeluarkan surat tugasnya, sambil menghembuskan nafas
kasar. Kenapa baru sekarang mereka bertanya padanya. Rasanya terlalu lama.
“ orang yang kau cari
tidak ada di sini, segera persiapkan diri untuk keluar dari kota” bahkan surat
tugas dari raja tidak membuat lawan bicaranya seakan menyanjung atau meminta
maaf pada dirinya. Seperti halnya surat biasa setelah selesai membacanya surat
itu langsung di lipat dan diberikan kembali pada Hardwin.