The New Duchess

The New Duchess
Bab 130 : Pecah Bayangan



Beberapakali sandiwara


mereka hampir ketahuan, anak buah Sea semakin ketat memberikan persyaratan


melewati kota. Jika bukan karena kelihaian pengawal pangeran, kemungkinan


keberadaan Aric sudah diketahui sejak awal.


Persyaratan masuk dan


keluar kota juga semakin di persulit. Mereka tidak puas dengan hanya memberikan


tanda pengenal, mereka ingin melihat secara langsung setiap tamu yang datang.


Termasuk anggota kerajaan.


“ apa kalian tidak tau


arti surat dan tanda ini?” Hardwin dan pengawal pengeran sedang adu argument


dengan pihak keamanan kota. Mereka bersikukuh untuk menunjukkan kehadiran


pengeran Aric secara gamblang.


“ bukan begitu jika pengeran


Aric memang benar berada di kereta, kalian bisa membukanya sejenak” elak


petugas keamanan yang masih tidak mau meloloskan rombongan pasukan Hardwin.


“ kalian berani


menghalangi rombongan kerajaan?” Hardwin mulai menakut nakuti petugas.


“ kalian menganggap diri


kalian lebih tinggi daripada kedudukan pangeran?” imbuh pengawal pangeran yang


semakin membuat panas keadaan.


Petugas itu terlihat


saling memandang, keberanian mereka mulai goyah. Keberadaan surat dan lencana


kerajaan memang seharusnya sudah  cukup


menujukkan kehadiran anggota kerajaan. Jika mereka semakin mendessak bukan


tidak mungkin mereka malah mendapatkan masalah. Hanya saja permintaan dari atas


mengharuskan mereka  untuk benar-benar


memastikan kehadiran anggota kerajaan dengan jelas. Para petugas itu semakin


dilemma.


“ kita bisa saja meminta


pangeran untuk keluar dan turun dari kereta, tapi apa kalian bisa menanggung


kemarahan pangeran?” Hardwin tidak berhenti untuk menakut-nakuti. Lelaki itu


akan menggunakan keragu-raguan petugas untuk mendesak mereka.


“pangeran ingin segera


sampai istana untuk bertemu dengan raja, jika kalian terus menghalangi takutnya


kalian malah diberikan hukuman. Tempramen pengeran sedang buruk sekarang”


pengawal juga ikut menimpali. Mereka saling bersautan tidak memberikan


kesempatan bagi petugas untuk membuat alasan apapun.


Kalimat demi kalimat yang


mereka dengar semakin membuat situasi semakin buruk. Para petugas semakin takut


karena apa yang mereka dengar memanglah sesuai dengan kenyataan.


“ baiklah kalian bisa


lewat” akhirnya petugas tidak berani mengambil resiko. Mendengar kata hukuman


mereka langsung gemetar ketakutan. Apalagi dengan tempramen yang buruk


bisa-bisa hidup mereka menjadi singkat karena masalah sepele ini.


“ kenapa tidak dari tadi”


geruru pengawal pribadi Aric. Mereka segera memberikan aba-aba agar rombongan


bersiap untuk pergi dari kota.


Meski merasa puas atas


keberhasilan rencana mereka, namun Hardwin dan pengawal tetap menampilkan


ekpresi kesal. Seolah-olah mereka sudah menunggu terlalu lama. Rombongan


berjalan semakin cepat meninggalkan kota. Didalam kereta tuan Kleiner akhirnya


bisa bernafas lega. Para anak muda ternyata bisa melakukan tugas mereka dengan


baik. Setidaknya ada yang bisa dibanggakan dari generasi muda.


Untuk perjalanan


selajutnya mereka tidak terlalu terburu-buru. Karena memang semakin dekat


ibukota penjagaan akan semakin ketat. Kini tinggal 2 kota lagi sebelum sampai


di gerbang ibu kota. Mereka terus menunggu kabar terbaru dari pasukan Duke.


“ kita beristirahat


terlebih dahulu” ucap Hardwin saat mereka sampai di tepi sebuah sungai.


Tuan Kleiner keluar dari


kereta. mereka perlu mendirikan tenda karena waktu sudah memasuki sore hari.


dan yang lebih penting mereka perlu menyusun rencana lain agar sandiwara mereka


bisa tertutupi.


Bisa jadi petugas


keamanan selanjutnya benar-benar menginginkan untuk bisa melihat secara langsung


kehadiran pengeran Aric disana. Harus ada rencana candangan jika mereka


mengalami hal terburuk.


“ saya sarankan biar tuan


Kleiner harus memisahkan diri dari pasukan. Anda lebih baik memantau


perjalanan. Karena jika sampai terbongkar andalah yang bisa meminta bantuan”


Mereka tengah berada di tenda


khusus, bertiga menyusun rencana dengan resiko terburuknya mereka tertangkap


pihak keamanan.


“ sepertinya ucapannya


ada baiknya, kemungkinan lolos semakin menipis. Jadi lebih baik ayah memantau


pergerakan kami” Hardwin menyetujui saran yang pengawal ajukan.


“ bagaimana jika keadaan


semakin memburuk, kalian tidak bisa meloloskan diri. Aku tidak bisa tinggal


diam” tuan Kleiner tidak bisa  melepaskan


mereka begitu saja. Dia tidak mau hal buruk terjadi pada pasukannya terlebih


anaknya.


“ ayah, percaya pada


kami. Jikalau kami tertangkap mereka pasti akan mengirim kami ke istana.


Ayahlah yang harus mencari bantuan untuk menyelamatkan kami” Hardwin terus


merayu sambil memberikan alasan-alasan klasik. Ayahnya pasti tidak mau


mengorbankannya, namun bagaimana lagi situasianya tidak mendukung, mereka harus


berani mengambil resiko.


Aidyn masih terdiam, dia


sebenarnya mengakui jika pendapat pengawal memanglah benar dengan membuat


pasukan bayangan lagi untuk memantau dan menyelamatkan jika situasi semakin


buruk.


Sebagai ayah dirinya


tentu mengkhawatirkan nasib anaknya jika kenyataan yang terjadi tidak sesuai


dengan rencana. Bagaimana jika ternyata mereka akan di hukum di tempat.


Anak muda ini tidak tau


jika putra mahkota memiliki niat membunuh anggota kerajaan yang mengancam


posisinya dan posisi pangeran inilah yang lebih Sea fokuskan.


“ ayah,percaya pada kami”


Hardwin meminta pengertian ayahnya. Dia sudah berubah, sekarang dia mati-matian


akan membela Bavaria, dia akan melindungi anggota kerajaan. Dan yang lebih


penting dia sangat percaya dengan Duke Wellington.


“ pastikan kalian


benar-benar akan selamat” ucap Aidyn, dia mau tidak mau harus mengikuti rencana.


Dia harus obyektif dan melakukan semuanya demi kepentingan bersama. Benar kata


anaknya, dia harus percaya pada Hardwin. Lelaki itu sudah dewasa dan memang


saatnya dia memikul tanggung jawabnya sendiri.


Ketiga lelaki akhirnya


bersiap membagi 2 pasukan mereka. semua rencana akan berubah dan  salah satu dari mereka harus aman. Meski


dengan berat hati menyetujuinya, namun Aidyn yakin semuanya akan baik-baik


saja.


“ayah akan membawa 5


orang saja selebihnya bisa ikut ke dalam rombongan kalian” Aidyn bertindak


sebagai pemimpin pasukan.


Pagi menjelang dan mereka


meneruskan perjalanan. Kini tengah berkumpul  dan mulai membagi tugas.


“ baiklah,” jawab


pengawal. Dia yakin setingkat tuan Kleiner pasti bisa dengan mudah melewati


pertarungan manapun. Keadaanya tidak perlu di khawatirkan.


“ mulai sekarang kita


akan berpura-pura menjadi warga biasa, dan akan memulai perjalanan setelah


rombongan pertama berangkat” ucap tuan Kleiner pada rombongannya.


Mereka akan berpisah


mulai dari sekarang, dan akan terus mengirim kabar lewat burung merpati.


“ pasukan siap berangkat”


ucap Hardwin dan rombongan mereka berjalan menuju kota selanjutnya. Aidyn


menatap kepergian mereka dengan perasaan cemas. Lelaki itu hanya berharap pada


takdir.


Setelah memastikan


rombongan pertama sudah jauh, barulah rombongan kecilnya berangkat. Perjalanan


mereka hanya menggunakan beberapa kuda saja, mereka menyamar akan menuju


ibukota setelah melakukan tindakan medis di perbatasan. Tuan Kleiner tetap


menggunakan identitasnya, hal ini juga lebih menguntungkan dan aman.


“ kita masuk ke desa sebentar,


pastikan kalian menemukan seseorang dalam keadaan sakit. Tidak perlu banyak,


satu sampai dua orang saja sudah cukup” pesan Aidyn kepada para anak buahnya.


Aidyn tidak langsung


serta merta menuju kota dengan tangan kosong, lelaki itu masuk ke desa terdekat


dan mencari seseorang yang sakit. Dengan begitu penyamaran mereka akan lebih


menyakinkan.