
Beberapakali sandiwara
mereka hampir ketahuan, anak buah Sea semakin ketat memberikan persyaratan
melewati kota. Jika bukan karena kelihaian pengawal pangeran, kemungkinan
keberadaan Aric sudah diketahui sejak awal.
Persyaratan masuk dan
keluar kota juga semakin di persulit. Mereka tidak puas dengan hanya memberikan
tanda pengenal, mereka ingin melihat secara langsung setiap tamu yang datang.
Termasuk anggota kerajaan.
“ apa kalian tidak tau
arti surat dan tanda ini?” Hardwin dan pengawal pengeran sedang adu argument
dengan pihak keamanan kota. Mereka bersikukuh untuk menunjukkan kehadiran
pengeran Aric secara gamblang.
“ bukan begitu jika pengeran
Aric memang benar berada di kereta, kalian bisa membukanya sejenak” elak
petugas keamanan yang masih tidak mau meloloskan rombongan pasukan Hardwin.
“ kalian berani
menghalangi rombongan kerajaan?” Hardwin mulai menakut nakuti petugas.
“ kalian menganggap diri
kalian lebih tinggi daripada kedudukan pangeran?” imbuh pengawal pangeran yang
semakin membuat panas keadaan.
Petugas itu terlihat
saling memandang, keberanian mereka mulai goyah. Keberadaan surat dan lencana
kerajaan memang seharusnya sudah cukup
menujukkan kehadiran anggota kerajaan. Jika mereka semakin mendessak bukan
tidak mungkin mereka malah mendapatkan masalah. Hanya saja permintaan dari atas
mengharuskan mereka untuk benar-benar
memastikan kehadiran anggota kerajaan dengan jelas. Para petugas itu semakin
dilemma.
“ kita bisa saja meminta
pangeran untuk keluar dan turun dari kereta, tapi apa kalian bisa menanggung
kemarahan pangeran?” Hardwin tidak berhenti untuk menakut-nakuti. Lelaki itu
akan menggunakan keragu-raguan petugas untuk mendesak mereka.
“pangeran ingin segera
sampai istana untuk bertemu dengan raja, jika kalian terus menghalangi takutnya
kalian malah diberikan hukuman. Tempramen pengeran sedang buruk sekarang”
pengawal juga ikut menimpali. Mereka saling bersautan tidak memberikan
kesempatan bagi petugas untuk membuat alasan apapun.
Kalimat demi kalimat yang
mereka dengar semakin membuat situasi semakin buruk. Para petugas semakin takut
karena apa yang mereka dengar memanglah sesuai dengan kenyataan.
“ baiklah kalian bisa
lewat” akhirnya petugas tidak berani mengambil resiko. Mendengar kata hukuman
mereka langsung gemetar ketakutan. Apalagi dengan tempramen yang buruk
bisa-bisa hidup mereka menjadi singkat karena masalah sepele ini.
“ kenapa tidak dari tadi”
geruru pengawal pribadi Aric. Mereka segera memberikan aba-aba agar rombongan
bersiap untuk pergi dari kota.
Meski merasa puas atas
keberhasilan rencana mereka, namun Hardwin dan pengawal tetap menampilkan
ekpresi kesal. Seolah-olah mereka sudah menunggu terlalu lama. Rombongan
berjalan semakin cepat meninggalkan kota. Didalam kereta tuan Kleiner akhirnya
bisa bernafas lega. Para anak muda ternyata bisa melakukan tugas mereka dengan
baik. Setidaknya ada yang bisa dibanggakan dari generasi muda.
Untuk perjalanan
selajutnya mereka tidak terlalu terburu-buru. Karena memang semakin dekat
ibukota penjagaan akan semakin ketat. Kini tinggal 2 kota lagi sebelum sampai
di gerbang ibu kota. Mereka terus menunggu kabar terbaru dari pasukan Duke.
“ kita beristirahat
terlebih dahulu” ucap Hardwin saat mereka sampai di tepi sebuah sungai.
Tuan Kleiner keluar dari
kereta. mereka perlu mendirikan tenda karena waktu sudah memasuki sore hari.
dan yang lebih penting mereka perlu menyusun rencana lain agar sandiwara mereka
bisa tertutupi.
Bisa jadi petugas
keamanan selanjutnya benar-benar menginginkan untuk bisa melihat secara langsung
kehadiran pengeran Aric disana. Harus ada rencana candangan jika mereka
mengalami hal terburuk.
“ saya sarankan biar tuan
Kleiner harus memisahkan diri dari pasukan. Anda lebih baik memantau
perjalanan. Karena jika sampai terbongkar andalah yang bisa meminta bantuan”
Mereka tengah berada di tenda
khusus, bertiga menyusun rencana dengan resiko terburuknya mereka tertangkap
pihak keamanan.
“ sepertinya ucapannya
ada baiknya, kemungkinan lolos semakin menipis. Jadi lebih baik ayah memantau
pergerakan kami” Hardwin menyetujui saran yang pengawal ajukan.
“ bagaimana jika keadaan
semakin memburuk, kalian tidak bisa meloloskan diri. Aku tidak bisa tinggal
diam” tuan Kleiner tidak bisa melepaskan
mereka begitu saja. Dia tidak mau hal buruk terjadi pada pasukannya terlebih
anaknya.
“ ayah, percaya pada
kami. Jikalau kami tertangkap mereka pasti akan mengirim kami ke istana.
Ayahlah yang harus mencari bantuan untuk menyelamatkan kami” Hardwin terus
merayu sambil memberikan alasan-alasan klasik. Ayahnya pasti tidak mau
mengorbankannya, namun bagaimana lagi situasianya tidak mendukung, mereka harus
berani mengambil resiko.
Aidyn masih terdiam, dia
sebenarnya mengakui jika pendapat pengawal memanglah benar dengan membuat
pasukan bayangan lagi untuk memantau dan menyelamatkan jika situasi semakin
buruk.
Sebagai ayah dirinya
tentu mengkhawatirkan nasib anaknya jika kenyataan yang terjadi tidak sesuai
dengan rencana. Bagaimana jika ternyata mereka akan di hukum di tempat.
Anak muda ini tidak tau
jika putra mahkota memiliki niat membunuh anggota kerajaan yang mengancam
posisinya dan posisi pangeran inilah yang lebih Sea fokuskan.
“ ayah,percaya pada kami”
Hardwin meminta pengertian ayahnya. Dia sudah berubah, sekarang dia mati-matian
akan membela Bavaria, dia akan melindungi anggota kerajaan. Dan yang lebih
penting dia sangat percaya dengan Duke Wellington.
“ pastikan kalian
benar-benar akan selamat” ucap Aidyn, dia mau tidak mau harus mengikuti rencana.
Dia harus obyektif dan melakukan semuanya demi kepentingan bersama. Benar kata
anaknya, dia harus percaya pada Hardwin. Lelaki itu sudah dewasa dan memang
saatnya dia memikul tanggung jawabnya sendiri.
Ketiga lelaki akhirnya
bersiap membagi 2 pasukan mereka. semua rencana akan berubah dan salah satu dari mereka harus aman. Meski
dengan berat hati menyetujuinya, namun Aidyn yakin semuanya akan baik-baik
saja.
“ayah akan membawa 5
orang saja selebihnya bisa ikut ke dalam rombongan kalian” Aidyn bertindak
sebagai pemimpin pasukan.
Pagi menjelang dan mereka
meneruskan perjalanan. Kini tengah berkumpul dan mulai membagi tugas.
“ baiklah,” jawab
pengawal. Dia yakin setingkat tuan Kleiner pasti bisa dengan mudah melewati
pertarungan manapun. Keadaanya tidak perlu di khawatirkan.
“ mulai sekarang kita
akan berpura-pura menjadi warga biasa, dan akan memulai perjalanan setelah
rombongan pertama berangkat” ucap tuan Kleiner pada rombongannya.
Mereka akan berpisah
mulai dari sekarang, dan akan terus mengirim kabar lewat burung merpati.
“ pasukan siap berangkat”
ucap Hardwin dan rombongan mereka berjalan menuju kota selanjutnya. Aidyn
menatap kepergian mereka dengan perasaan cemas. Lelaki itu hanya berharap pada
takdir.
Setelah memastikan
rombongan pertama sudah jauh, barulah rombongan kecilnya berangkat. Perjalanan
mereka hanya menggunakan beberapa kuda saja, mereka menyamar akan menuju
ibukota setelah melakukan tindakan medis di perbatasan. Tuan Kleiner tetap
menggunakan identitasnya, hal ini juga lebih menguntungkan dan aman.
“ kita masuk ke desa sebentar,
pastikan kalian menemukan seseorang dalam keadaan sakit. Tidak perlu banyak,
satu sampai dua orang saja sudah cukup” pesan Aidyn kepada para anak buahnya.
Aidyn tidak langsung
serta merta menuju kota dengan tangan kosong, lelaki itu masuk ke desa terdekat
dan mencari seseorang yang sakit. Dengan begitu penyamaran mereka akan lebih
menyakinkan.