
Begitu sampai di pasukan
Ai langsung menenangkan dirinya. Wanita itu terlihat emosional. Mengetahui bahwa
dia bertetmu dengan Sea saja sudah membuat wanita itu bergetar apalagi dengan
mudahnya Sea mengecoh dirinya. Untung saja Hardwin berhasil menyadarkannya, jika
tidak semuanya akan berakhir. Dirinya dan Axton hanya akan menjadi bahan berita
Koran-koran pasaran.
“ kau sudah tidak apa?”
Hardwin memasuki tenda khusus sambil membawa botol minuman. Lelaki itu berusaha
menenangkan Ai, mungkin saja wanita itu membutuhkan minum untuk meredakan
emosinya.
“ sudah lebih baik” Ai
mengambil botol itu dan langsung meminumnya.
Mereka berdua duduk di
sebuah alas, situasi tiba-tiba menjadi senyap tidak ada pembicaraan.
“ maaf” Ai menyadari
kesalahannya yang dengan mudahnya masuk kedalam jebakan Sea, dia hampir saja
menyelakai nyawa mereka sendiri.
“ tak perlu, aku mengerti
perasaanmu” Hardwin juga berfikirr jika dia berada di kondisi yang sama mungkin
dia juga akan tertarik dengan perkataan Sea. Waktu Ai menghilang saja dia
bahkan mendatangi Grace yang mana wanita itu adalah dalang dari laporan kasus
untuk Ai. terkadang saat kita begitu mengakhawatirkan seseorang yang kita cintai,
sedikit saja kemungkinan pasti kita akan mempercayainya.
“ menurutmu apa mungkin
Axton memang berada di tangan Sea?” Ai masih saja kepikiran dengan ucapan Sea,
dia mulai goyah dengan pilihannya meninggalkan Sea tadi.
“ ada atau tidaknya, kita
akan melakukan cara lain. Tidak dengan mengorbankanmu. Duke pasti memiliki
pendapat yang sama” Hardwin tidak mau melihat Ai berlarut –larut dalam
kesedihan.
“ setidaknya kita
pastikan dulu bahwa Duke tidak berada di tangan musuh” Hardwin terus saja
mengatakan pendapatnya. Tujuan mereka tidak boleh goyah. Kalaupun Axton dibawa
ke ibukota jelas akan semakin mengancam rencana Sea. Hal ini jelas tidak
mungkin.
“ yah kau benar” Ai
tersenyum tulus pada Hardwin membuat lelaki itu terkesima seakan tertarik ke
masa lalu. saat mereka berdua sering bersama.
Dan Ai melihat padangan
aneh itu kembali lagi. Pandangan yang sama saat Hardwin mengutarakan perasaanya
di kediaman. Langsung saja Ai memutus kontak mata dan berdiri keluar dari
tenda. Lelaki itu hanya terdiam sambil bola matanya terus mengikuti pergerakan
Ai sampai sosok itu menghilang dari pandangan. Hatinya menyesali sikapnya
sendiri.
Waktu terus bergulir
perjalanan mereka semakin dekat dengan tujuan. Dari hari kehari berita terkait
perbatasan tidak terdengar ada pergerakan. Perang dinyatakan berhenti setelah
beberapa saat diberlakukan genjatan senjata. Para pasukan yang bersiap dikota
tetap tidak ditarik mundur, masih terlalu dini jika mereka berfikir perang
telah usai.
Ada sekitar 3 kota yang
masih bersiaga perang, kota tersebut terletak dekat dengan area perbatasan yang
jatuh. Dikhawatirkan akan menjadi target perang selanjutnya. Disana mereka
memberlakukan banyak peraturan agar bisa membuat situasi yang kondusif.
Beberapa dari masyarakat yang mengungsi di ibukota atau kota lainnya agaknya
mulai berfikir untuk kembali. Barisan musuh memang belum sepenuhnya pergi,
namun aktifitas di perbatasan sangat minim. Hal ini bisa di pastikan karena
masing-masing kubu mengalami kerugian yang lumayan banyak.
Setidaknya karena
perintah Axton untuk menarik pasukan, Bavaria tidak banyak mengalami korban jiwa
dalam pasukan. Kebanyakan dari mereka sangat bersyukur karena perintah itu,
namun tidak sedikit yang merasa kehilangan dan menyayangkan Duke Wellington yang
harus berkorban sedemikian parahnya.
Duke wellington lebih
mementingkan keselamatan mereka ketimbang dirinya sendiri. Meski kabar
kehilangan dan ketidakpastian Duke sudah terdengar di seluruh Bavaria, namun
pihak kerajaan belum secara resmi mengeluarkan surat kematian atau pengumuman
appapun terkait dengan jasa Duke. Sebelum mereka memastikan dengan jelas kabar
itu, raja akan menunggu sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
Pilihan itu sontak memunculkan
kerajaan seakan bersikap acuh dan tidak mengeluarkan perintah apapun untuk
membantu menemukan kabar Duke.
Putra mahkota sudah
berada di kerajaan, lelaki itu masih bersantai menunggu waktu yang tepat untuk
melangkah pada rencana selajutnya. Dia tidak mengetahui keberadaan Grace dan
Mily yang berada di istana.
Raja sendiri masih
bingung harus mulai darimana, alhasil baik Grace dan Mily yang sedari awal
sudah mencari cara untuk kabur akhirnya mendapatkan waktu yang pas. Mereka dengan
di bantu orang dalam kepercayaan tuan Halbert mulai menyusun rencana.
Kepegian Ai dan Hardwin
menuju perbatasan membuat Masy menjadi kekurangan kegiatan. Dia sesekali
bertanya perkembangan Grace dan Mily kepada orang taunya serta kabar darI kakak
sepupu Ai. wanita itu tidak memiliki agenda menyenangkan dan penting selain
mengunjungi jamuan dan beberapa kursus wanita lajang. Masy begitu kesepian.
Tak terasa rombongan
pasukan Hardwin dan Ai tiba di kota Nialu, kota nomor 2 sebelum akhirnya bisa
sampai di perbatasan. Disana Camp militer menghiasai pemandangan kota di balik
pintu gerbang kota. Meski begitu kehidupan masyarakat didalam berjalan seperti
biasa. Hanya sesekali pasukan memeriksa bagian dalam kota yang sedikit menakuti
warga.
“ tuan Hardwin, kami
sudah menerima surat kedatangan anda beberapa hari yang lalu” ucap ketua
pasukan. Dia dengan begitu terbuka menyambut kedatangan pasukan baru. Lelaki itu
tidak menyadari bahwa di barisan itu juga terdapat Duchess. Ai memang menyuruh
Hardwin agar menyembunyikan identitasnya kepada siapapun.
“ terimasih atas sambutan
anda, kami memiliki tugas khusus sehingga datang kemari” Hardwin tidak langsung
menjelaskan dengan gamblang niat kedatangannya.
“ ah ya, kita bisa
diskusikan itu di dalam” jawab tuan ketua.
Akhirnya pasukan milik
Hardwin memasuki kota, mereka sudah menyediakan Camp khusus untuk pasukan
tersebut. Sedangkan Hardwin dan Ai memasuki bangunan seperti pusat komando dan
rapat pasukan. Tuan ketua dengan santainya membawa mereka ke sebuah ruangan.
Setelah mereka duduk
melingkar akhirnya Hardwin memulai pembicaraan dengan memberikan sebuah surat,
tidak lain surat tugas dari raja.
“ apa mungkin kalian
mempunyai kabar dimana keberadaan pangeran?” Hardwin langsung bertanya setelah
melihat tuan ketua membaca isi suratnya.
Raut wajah tuan ketua
seakan bingung, lelaki itu tidak serta merta menjawab pertanyaan Hardwin. Dirinya
malah berdiri dan mengambil sebuah document.
“ kenapa tuan mencari
keberadaan pangeran di area dekat perbatasan seperti ini?” tuan ketua malah
memberikan pertanyaan.
Hardwin dan Ai saling
berpandangan, mereka menyadari jika keberangkann pangeran Aric ke perbatasan tidak
dilakukan secara terang terangan. Apa mungkin mereka bisa menceritakan semua
rahasia itu kepada tuan ketua ini.
Dengan angguan lemah
akhirnya baik Hardwin dan Ai memilih untuk mengatakan terkait dengan
keberangkatan pangeran Aric ke perbatasan untuk menyusul Duke Wellington.
“ dari semua kota hanya
kota ini yang tidak di jaga langsung oleh tentara milik Duke, kami semua
berasal dari ibukota. Kabar sebelum pecah perang kami tidak mengetahuinya
sama-sekali” jelas tuan ketua.
“ lalu dimanakah pasukan
milik Duke?” Ai bertanya, dia sudah tidak bisa menutup mulutnya. Tak peduli
jika akhirnya identitasnya sebagai wanita terbongkar. Dia sangat ingin menemui
pasukan itu.
Meski kaget dengan
kenyataan bahwa lelaki yang sedari diam itu adalah seorang wanita, tuan ketua
langsung mengatur ekpresinya.
“ di kota Tordor, kota
paling dekat dengan perbatasan” jawab tuan ketua sambil menunjukkan sebuah peta
dari dokumen yang dia ambil tadi.