The New Duchess

The New Duchess
Bab 95 : Nialu



Begitu sampai di pasukan


Ai langsung menenangkan dirinya. Wanita itu terlihat emosional. Mengetahui bahwa


dia bertetmu dengan Sea saja sudah membuat wanita itu bergetar apalagi dengan


mudahnya Sea mengecoh dirinya. Untung saja Hardwin berhasil menyadarkannya, jika


tidak semuanya akan berakhir. Dirinya dan Axton hanya akan menjadi bahan berita


Koran-koran pasaran.


“ kau sudah tidak apa?”


Hardwin memasuki tenda khusus sambil membawa botol minuman. Lelaki itu berusaha


menenangkan Ai, mungkin saja wanita itu membutuhkan minum untuk meredakan


emosinya.


“ sudah lebih baik” Ai


mengambil botol itu dan langsung meminumnya.


Mereka berdua duduk di


sebuah alas, situasi tiba-tiba menjadi senyap tidak ada pembicaraan.


“ maaf” Ai menyadari


kesalahannya yang dengan mudahnya masuk kedalam jebakan Sea, dia hampir saja


menyelakai nyawa mereka sendiri.


“ tak perlu, aku mengerti


perasaanmu” Hardwin juga berfikirr jika dia berada di kondisi yang sama mungkin


dia juga akan tertarik dengan perkataan Sea. Waktu Ai menghilang saja dia


bahkan mendatangi Grace yang mana wanita itu adalah dalang dari laporan kasus


untuk Ai. terkadang saat kita begitu mengakhawatirkan seseorang yang kita cintai,


sedikit saja kemungkinan pasti kita akan mempercayainya.


“ menurutmu apa mungkin


Axton memang berada di tangan Sea?” Ai masih saja kepikiran dengan ucapan Sea,


dia mulai goyah dengan pilihannya meninggalkan Sea tadi.


“ ada atau tidaknya, kita


akan melakukan cara lain. Tidak dengan mengorbankanmu. Duke pasti memiliki


pendapat yang sama” Hardwin tidak mau melihat Ai berlarut –larut dalam


kesedihan.


“ setidaknya kita


pastikan dulu bahwa Duke tidak berada di tangan musuh” Hardwin terus saja


mengatakan pendapatnya. Tujuan mereka tidak boleh goyah. Kalaupun Axton dibawa


ke ibukota jelas akan semakin mengancam rencana Sea. Hal ini jelas tidak


mungkin.


“ yah kau benar” Ai


tersenyum tulus pada Hardwin membuat lelaki itu terkesima seakan tertarik ke


masa lalu. saat mereka berdua sering bersama.


Dan Ai melihat padangan


aneh itu kembali lagi. Pandangan yang sama saat Hardwin mengutarakan perasaanya


di kediaman. Langsung saja Ai memutus kontak mata dan berdiri keluar dari


tenda. Lelaki itu hanya terdiam sambil bola matanya terus mengikuti pergerakan


Ai sampai sosok itu menghilang dari pandangan. Hatinya menyesali sikapnya


sendiri.


Waktu terus bergulir


perjalanan mereka semakin dekat dengan tujuan. Dari hari kehari berita terkait


perbatasan tidak terdengar ada pergerakan. Perang dinyatakan berhenti setelah


beberapa saat diberlakukan genjatan senjata. Para pasukan yang bersiap dikota


tetap tidak ditarik mundur, masih terlalu dini jika mereka berfikir perang


telah usai.


Ada sekitar 3 kota yang


masih bersiaga perang, kota tersebut terletak dekat dengan area perbatasan yang


jatuh. Dikhawatirkan akan menjadi target perang selanjutnya. Disana mereka


memberlakukan banyak peraturan agar bisa membuat situasi yang kondusif.


Beberapa dari masyarakat yang mengungsi di ibukota atau kota lainnya agaknya


mulai berfikir untuk kembali. Barisan musuh memang belum sepenuhnya pergi,


namun aktifitas di perbatasan sangat minim. Hal ini bisa di pastikan karena


masing-masing kubu mengalami kerugian yang lumayan banyak.


Setidaknya karena


perintah Axton untuk menarik pasukan, Bavaria tidak banyak mengalami korban jiwa


dalam pasukan. Kebanyakan dari mereka sangat bersyukur karena perintah itu,


namun tidak sedikit yang merasa kehilangan dan menyayangkan Duke Wellington yang


harus berkorban sedemikian parahnya.


Duke wellington lebih


mementingkan keselamatan mereka ketimbang dirinya sendiri. Meski kabar


kehilangan dan ketidakpastian Duke sudah terdengar di seluruh Bavaria, namun


pihak kerajaan belum secara resmi mengeluarkan surat kematian atau pengumuman


appapun terkait dengan jasa Duke. Sebelum mereka memastikan dengan jelas kabar


itu, raja akan menunggu sampai batas waktu yang tidak ditentukan.


Pilihan itu sontak memunculkan


kerajaan seakan bersikap acuh dan tidak mengeluarkan perintah apapun untuk


membantu menemukan kabar Duke.


Putra mahkota sudah


berada di kerajaan, lelaki itu masih bersantai menunggu waktu yang tepat untuk


melangkah pada rencana selajutnya. Dia tidak mengetahui keberadaan Grace dan


Mily yang berada di istana.


Raja sendiri masih


bingung harus mulai darimana, alhasil baik Grace dan Mily yang sedari awal


sudah mencari cara untuk kabur akhirnya mendapatkan waktu yang pas. Mereka dengan


di bantu orang dalam kepercayaan tuan Halbert mulai menyusun rencana.


Kepegian Ai dan Hardwin


menuju perbatasan membuat Masy menjadi kekurangan kegiatan. Dia sesekali


bertanya perkembangan Grace dan Mily kepada orang taunya serta kabar darI kakak


sepupu Ai. wanita itu tidak memiliki agenda menyenangkan dan penting selain


mengunjungi jamuan dan beberapa kursus wanita lajang. Masy begitu kesepian.


Tak terasa rombongan


pasukan Hardwin dan Ai tiba di kota Nialu, kota nomor 2 sebelum akhirnya bisa


sampai di perbatasan. Disana Camp militer menghiasai pemandangan kota di balik


pintu gerbang kota. Meski begitu kehidupan masyarakat didalam berjalan seperti


biasa. Hanya sesekali pasukan memeriksa bagian dalam kota yang sedikit menakuti


warga.


“ tuan Hardwin, kami


sudah menerima surat kedatangan anda beberapa hari yang lalu” ucap ketua


pasukan. Dia dengan begitu terbuka menyambut kedatangan pasukan baru. Lelaki itu


tidak menyadari bahwa di barisan itu juga terdapat Duchess. Ai memang menyuruh


Hardwin agar menyembunyikan identitasnya kepada siapapun.


“ terimasih atas sambutan


anda, kami memiliki tugas khusus sehingga datang kemari” Hardwin tidak langsung


menjelaskan dengan gamblang niat kedatangannya.


“ ah ya, kita bisa


diskusikan itu di dalam” jawab tuan ketua.


Akhirnya pasukan milik


Hardwin memasuki kota, mereka sudah menyediakan Camp khusus untuk pasukan


tersebut. Sedangkan Hardwin dan Ai memasuki bangunan seperti pusat komando dan


rapat pasukan. Tuan ketua dengan santainya membawa mereka ke sebuah ruangan.


Setelah mereka duduk


melingkar akhirnya Hardwin memulai pembicaraan dengan memberikan sebuah surat,


tidak lain surat tugas dari raja.


“ apa mungkin kalian


mempunyai kabar dimana keberadaan pangeran?” Hardwin langsung bertanya setelah


melihat tuan ketua membaca isi suratnya.


Raut wajah tuan ketua


seakan bingung, lelaki itu tidak serta merta menjawab pertanyaan Hardwin. Dirinya


malah berdiri dan mengambil sebuah document.


“ kenapa tuan mencari


keberadaan pangeran di area dekat perbatasan seperti ini?” tuan ketua malah


memberikan pertanyaan.


Hardwin dan Ai saling


berpandangan, mereka menyadari jika keberangkann pangeran Aric ke perbatasan tidak


dilakukan secara terang terangan. Apa mungkin mereka bisa menceritakan semua


rahasia itu kepada tuan ketua ini.


Dengan angguan lemah


akhirnya baik Hardwin dan Ai memilih untuk mengatakan terkait dengan


keberangkatan pangeran Aric ke perbatasan untuk menyusul Duke Wellington.


“ dari semua kota hanya


kota ini yang tidak di jaga langsung oleh tentara milik Duke, kami semua


berasal dari ibukota. Kabar sebelum pecah perang kami tidak mengetahuinya


sama-sekali” jelas tuan ketua.


“ lalu dimanakah pasukan


milik Duke?” Ai bertanya, dia sudah tidak bisa menutup mulutnya. Tak peduli


jika akhirnya identitasnya sebagai wanita terbongkar. Dia sangat ingin menemui


pasukan itu.


Meski kaget dengan


kenyataan bahwa lelaki yang sedari diam itu adalah seorang wanita, tuan ketua


langsung mengatur ekpresinya.


“ di kota Tordor, kota


paling dekat dengan perbatasan” jawab tuan ketua sambil menunjukkan sebuah peta


dari dokumen yang dia ambil tadi.