The New Duchess

The New Duchess
Bab 86 : Istana



“ aku akan membawamu saat


ini juga menghadap raja” ucap Hardwin tegas. Hardwin mulai memahami situasi


yang akan mereka hadapi, tidak heran jika ada orang yang menyuruhnya untuk


mengamankan Grace. Saat ini Grace adalah kuncinya.


“ aku akan bersiap


sebentar lagi” Grace dengan di bantu pelayannya segera mempersiapkan diri.


Wanita itu tidak ragu sedikitpun. Dia yakin bahwa inilah satu-satunya cara agar


bisa menyelamatkan semua orang.


Setelah bersiap Hardwin


beserta rombongan Grace segera meninggalkan kediaman. Memang tidak mudah untuk


mereka bisa menemui raja, tapi kali ini amat sangat kecil kemungkinan


berhasilnya jika harus menunggu Duke Wellington kembali.


Hardwin dan Grace menaiki


kereta yang berbeda, dikarenakan mereka akan memasuki kerajaan. Ada beberapa


etika yang harus mereka jalankan agar tidak mempersulit maksud kedatangan


mereka.


Hari sudah mulai sore,


kedua kereta itu mendekati gerbang istana depan. Disana sudah ada beberapa


penjaga yang khusus ditugaskan dalam menerima tamu kerajaan.


“ tuan muda Kleiner, ada


urusan apa datang kemari?” penjaga itu sedikit familiar dengan Hardwin. Satu-satunya


tuan muda Kleiner seorang pengsiunan tentara.


“ saya ingin menghadap


raja” ucap Hardwin lugas, penjaga itu seakan kaget tidak banyak orang yang


memiliki keberanian untuk menemui raja tanpa pengawalan khusus.


“ kau menerima undangan?”


Hardwin terdiam, dia tidak bisa berbohong. Jika ketahuan resikonya bisa jauh


lebih fatal. Kedua penjaga itu seakan menangkap raut cemas Hardwin menjadikan


mereka saling berpandangan lama.


“ saya memiliki hal


penting yang harus saya sampaikan pada raja” Hardwin mencoba bernegosiasi.


“ silahkan kembali besok


atau kau bisa mengatakannya kepada kami, nanti kami akan menyampaikannya kepada


raja” penjaga itu tetap harus melaksanakan prosedur.


Hardwin menimbang, dia


jelas tidak mempercayai kedua penjaga istana ini. Entah bagaimana situasi


dikerajaan bisa saja salah satu dari mereka adalah anak buah Sea.


“ ini hal mendesak,


tolong izinkan saya masuk” Hardwin terus berupaya agar dirinya bsia menemuia


raja hari ini juga.


“ maafkan kami tuan,


silahkan anda kembali lagi besok. Kami harus menyampaikan pesan kedatanganmu


kepada raja terlebih dahulu” Hardwin tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka jelas


tidak mungkin menerobos masuk. Lelaki itu akhirnya menghembuskan nafas kasar


dan harus merelakan untuk kembali lagi besok.


Dibelakang Grace melihat


batapa perizinan terasa susah di tembus. Sepertinya mereka tidak bisa serta


merta langsung masuk dan menemui raja. Melihat kereta kuda Hardwin bergerak


meninggalkan istana, kereta miliknyapun ikut menjauh. Grace sudah menebak


mereka pasti gagal menemui raja.


Setelah agak jauh dari


istana kereta kuda Hardwin berhenti, membuat kereta dibelakangnyapun ikut


berhenti. Lelaki itu keluar dan mengetuk pintu kereta Grace.


“ kau pindahlah ke


keretaku,” ucap Hardwin singkat. Lelaki itu kemudian membantu Grace menuruni


tanggan dan masuk ke dalam kereta. Dia  mengerti jika Grace dalam kondisi hamil jadi


dia dengan hati-hati memperlakukan wanita itu.


“ kau lebih baik ikut


denganmu tinggal di Barack, tempat itu lebih aman” Hardwin memulai pembicaraan.


Grace awalnya tidak mau tapi melihat ekpresi serius lelaki dihadapannya membuat


Grace akhirnya menilai situasi dan memang benar Barack Hardwin lebih aman saat


ini.


“ baiklah jika kau


memaksa” Grace tak ambil pusing.


“ apa kau mengetahui apa


sebanarnya rencana putra mahkota?” Hardwin merasa bingung saja mengapa Sea


begitu membenci kediaman Wellington.


“ bagaimana bisa aku tau,


lelaki itu hanya mengancam waktu itu” Grace tidak menutupi apapun. Entah kenapa


jika berhdapan dengan Hardwin wanita ini seakan tidak bisa berbohong, dia


menunjukkan semua bentuk emosinya tanpa merasa tertekan sedikitpun.


“apa mungkin isu yang


beredar itu benar, Sea sedang berniat membunuh Duke dan Duchess?” lanjut Grace


kemudian. Tak ada alasan yang bisa menjelaskan kenapa pasangan ini bisa menghilang


“ tidak, aku yakin


pelarian Ai memanglah keinginan dia sendiri. Mungkin saat ini dia sedang


bersembunyi entah dimana” ucap Hardwin. Jika itu ulah puta mahkota kemungkinan


akan terjadi batu tembak antara pasukan miliknya dan pasukan kerajaan waktu


itu.


“ Duchess beruntung


memiliki banyak orang yang menyanyanginya” ucap Grace saat dirinya melihat


bahwa Hardwin begitu perhatian dan peduli pada Duchess. Selama waktu dulu dia


melaksankan rencana jahat pada Duchess, entah kenapa wanita itu selalu bisa


terhindar. Banyak sekali orang yang menolongnya. sedang dirinya tidak memiliki


siapapun selain dirinya sendiri. Hingga membuatnya terkena imbas dengan


mengandung anak Sea.


Hardwin yang mendengar


ucapan yang berkesan sedih itu membuatnya memaling wajah menatap Grace. Wanita


itu menikmati pemandangan dari jendela. Lelaki itu sedikit iba dengan nasib


yang dialami Grace. Membuatnya terdiam tidak menyahuti ucapan Grace.


“ bangun, hey” pipi Mily


terasa sedikit sakit akibat tepukan tangan seseorang sedikit keras.


Kesadarannya seakan sedang ditarik paksa untuk keluar. Mata itu sedikit


terbuka.


“ emm” Mil merasakan


tubuhnya nyeri di beberapa bagian. Dia masih belum menyadari dimana sebenarnya


dia berada.


“ cepat bangun” suara


keras itu kembali lagi. Mily menggerakkan tubuhnya menganti posisinya menjadi


duduk. Wanita itu belum tersadar betul.


“ aku dimana?” tanya Mily


kepada seorang laki-laki berseragam yang sedari tadi mencekram dagunya dan


menepuk pipinya dengan sedikit keras.


“ segera bersiap dan


ganti bajumu” laki-laki tadi meleparkan sebuah gaun sederhana di depan


wajahnya. Kemudian dia pergi dari ruangan. Mily menatap sekeliling, dirinya


berada di sebuah kamar yang layak bukan di sel tahanan pengap dimana dia


terakhir kali berada. Kamar ini cukup hangat dan terawat. Dirinya ternyata


berada di ranjang, pantas saja tubuhnya seakan menolak untuk tersadar dari


lelapnya.


 Tak ingin mendapatkan amukan ataupun siksaan


kembali, Mily segera berganti baju. Memang pakiannya sudah sangat kotor dan


berbau, berhari-hari tidak mandi dan harus tinggal di sel kotor yang lembab


membuatnya tidak menolak perintah lelaki itu. Mily tidak ambil pusing dengan


apa yang terjadi setelahnya, dirinya sudah sedikit lega tidak berada di sel


penyiksaan seperti kemarin.


“ keluarlah” teriak


seseorang yang berada di ambang pintu. Lelaki yang sama yang sudah


membangunkannya dengan kasar.


“ b,baik” Mily sedikit


gugup. Wanita itu mulai mengatur nafasnya agar tidak panik.


Baru saja meninggalkan


kamar, Mily terlihat kagum dengan ornament bangunan yang saat ini dia lihat.


Begitu mewah dan mengkilap. Belum pernah sekalipun dalam seumur hidupnya dia


berkunjung ke tempat mewah seprti ini.


“ cepatlah” desak lelaki


berseragam saat mengetahui Mily berjalan lambat karena sibuk memperhatikan sekeliling.


“ iyya” Mily menyusul


lelaki itu dengan berjalan sedikit cepat.


Sampailah mereka didepan


sebuah pintu besar dengan ganggang emas, di depannya ada 2 penjaga bersenjata


lengkap. Mily berdegup kencang, dia berfikir bahwa dia sedang berhadapan dengan


seseorang bangsawan kaya raya.


Lelaki berseragam itu


berbincag singkat dengan penjaga pintu, keduanya mengangguk dan membuka pintu


besar itu. Dibalik pintu ternyata masih ada lorong menuju ke sebuah pintu lagi.


Kali ini didepannya tidak ada penjaga.


Mily kembali berjalan


mengikuti lelaki berseragam itu. Lorong ini memiliki karpet yang tebal dan


lembut. Membuat wanita ini ingin tinggal lebih lama disini.


Ceklek, pintu itu di buka


oleh lelaki itu.


“ masuklah, ini adalah


ruangan raja” begitu terkejut dengan ucapan Lelaki itu membuat kakinya kaku


tidak bisa bergerak. Mily tidak menyangka saat ini dia berada di istana raja.


Nafasnya memburu tidak beraturan.