
“ aku akan membawamu saat
ini juga menghadap raja” ucap Hardwin tegas. Hardwin mulai memahami situasi
yang akan mereka hadapi, tidak heran jika ada orang yang menyuruhnya untuk
mengamankan Grace. Saat ini Grace adalah kuncinya.
“ aku akan bersiap
sebentar lagi” Grace dengan di bantu pelayannya segera mempersiapkan diri.
Wanita itu tidak ragu sedikitpun. Dia yakin bahwa inilah satu-satunya cara agar
bisa menyelamatkan semua orang.
Setelah bersiap Hardwin
beserta rombongan Grace segera meninggalkan kediaman. Memang tidak mudah untuk
mereka bisa menemui raja, tapi kali ini amat sangat kecil kemungkinan
berhasilnya jika harus menunggu Duke Wellington kembali.
Hardwin dan Grace menaiki
kereta yang berbeda, dikarenakan mereka akan memasuki kerajaan. Ada beberapa
etika yang harus mereka jalankan agar tidak mempersulit maksud kedatangan
mereka.
Hari sudah mulai sore,
kedua kereta itu mendekati gerbang istana depan. Disana sudah ada beberapa
penjaga yang khusus ditugaskan dalam menerima tamu kerajaan.
“ tuan muda Kleiner, ada
urusan apa datang kemari?” penjaga itu sedikit familiar dengan Hardwin. Satu-satunya
tuan muda Kleiner seorang pengsiunan tentara.
“ saya ingin menghadap
raja” ucap Hardwin lugas, penjaga itu seakan kaget tidak banyak orang yang
memiliki keberanian untuk menemui raja tanpa pengawalan khusus.
“ kau menerima undangan?”
Hardwin terdiam, dia tidak bisa berbohong. Jika ketahuan resikonya bisa jauh
lebih fatal. Kedua penjaga itu seakan menangkap raut cemas Hardwin menjadikan
mereka saling berpandangan lama.
“ saya memiliki hal
penting yang harus saya sampaikan pada raja” Hardwin mencoba bernegosiasi.
“ silahkan kembali besok
atau kau bisa mengatakannya kepada kami, nanti kami akan menyampaikannya kepada
raja” penjaga itu tetap harus melaksanakan prosedur.
Hardwin menimbang, dia
jelas tidak mempercayai kedua penjaga istana ini. Entah bagaimana situasi
dikerajaan bisa saja salah satu dari mereka adalah anak buah Sea.
“ ini hal mendesak,
tolong izinkan saya masuk” Hardwin terus berupaya agar dirinya bsia menemuia
raja hari ini juga.
“ maafkan kami tuan,
silahkan anda kembali lagi besok. Kami harus menyampaikan pesan kedatanganmu
kepada raja terlebih dahulu” Hardwin tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka jelas
tidak mungkin menerobos masuk. Lelaki itu akhirnya menghembuskan nafas kasar
dan harus merelakan untuk kembali lagi besok.
Dibelakang Grace melihat
batapa perizinan terasa susah di tembus. Sepertinya mereka tidak bisa serta
merta langsung masuk dan menemui raja. Melihat kereta kuda Hardwin bergerak
meninggalkan istana, kereta miliknyapun ikut menjauh. Grace sudah menebak
mereka pasti gagal menemui raja.
Setelah agak jauh dari
istana kereta kuda Hardwin berhenti, membuat kereta dibelakangnyapun ikut
berhenti. Lelaki itu keluar dan mengetuk pintu kereta Grace.
“ kau pindahlah ke
keretaku,” ucap Hardwin singkat. Lelaki itu kemudian membantu Grace menuruni
tanggan dan masuk ke dalam kereta. Dia mengerti jika Grace dalam kondisi hamil jadi
dia dengan hati-hati memperlakukan wanita itu.
“ kau lebih baik ikut
denganmu tinggal di Barack, tempat itu lebih aman” Hardwin memulai pembicaraan.
Grace awalnya tidak mau tapi melihat ekpresi serius lelaki dihadapannya membuat
Grace akhirnya menilai situasi dan memang benar Barack Hardwin lebih aman saat
ini.
“ baiklah jika kau
memaksa” Grace tak ambil pusing.
“ apa kau mengetahui apa
sebanarnya rencana putra mahkota?” Hardwin merasa bingung saja mengapa Sea
begitu membenci kediaman Wellington.
“ bagaimana bisa aku tau,
lelaki itu hanya mengancam waktu itu” Grace tidak menutupi apapun. Entah kenapa
jika berhdapan dengan Hardwin wanita ini seakan tidak bisa berbohong, dia
menunjukkan semua bentuk emosinya tanpa merasa tertekan sedikitpun.
“apa mungkin isu yang
beredar itu benar, Sea sedang berniat membunuh Duke dan Duchess?” lanjut Grace
kemudian. Tak ada alasan yang bisa menjelaskan kenapa pasangan ini bisa menghilang
“ tidak, aku yakin
pelarian Ai memanglah keinginan dia sendiri. Mungkin saat ini dia sedang
bersembunyi entah dimana” ucap Hardwin. Jika itu ulah puta mahkota kemungkinan
akan terjadi batu tembak antara pasukan miliknya dan pasukan kerajaan waktu
itu.
“ Duchess beruntung
memiliki banyak orang yang menyanyanginya” ucap Grace saat dirinya melihat
bahwa Hardwin begitu perhatian dan peduli pada Duchess. Selama waktu dulu dia
melaksankan rencana jahat pada Duchess, entah kenapa wanita itu selalu bisa
terhindar. Banyak sekali orang yang menolongnya. sedang dirinya tidak memiliki
siapapun selain dirinya sendiri. Hingga membuatnya terkena imbas dengan
mengandung anak Sea.
Hardwin yang mendengar
ucapan yang berkesan sedih itu membuatnya memaling wajah menatap Grace. Wanita
itu menikmati pemandangan dari jendela. Lelaki itu sedikit iba dengan nasib
yang dialami Grace. Membuatnya terdiam tidak menyahuti ucapan Grace.
“ bangun, hey” pipi Mily
terasa sedikit sakit akibat tepukan tangan seseorang sedikit keras.
Kesadarannya seakan sedang ditarik paksa untuk keluar. Mata itu sedikit
terbuka.
“ emm” Mil merasakan
tubuhnya nyeri di beberapa bagian. Dia masih belum menyadari dimana sebenarnya
dia berada.
“ cepat bangun” suara
keras itu kembali lagi. Mily menggerakkan tubuhnya menganti posisinya menjadi
duduk. Wanita itu belum tersadar betul.
“ aku dimana?” tanya Mily
kepada seorang laki-laki berseragam yang sedari tadi mencekram dagunya dan
menepuk pipinya dengan sedikit keras.
“ segera bersiap dan
ganti bajumu” laki-laki tadi meleparkan sebuah gaun sederhana di depan
wajahnya. Kemudian dia pergi dari ruangan. Mily menatap sekeliling, dirinya
berada di sebuah kamar yang layak bukan di sel tahanan pengap dimana dia
terakhir kali berada. Kamar ini cukup hangat dan terawat. Dirinya ternyata
berada di ranjang, pantas saja tubuhnya seakan menolak untuk tersadar dari
lelapnya.
Tak ingin mendapatkan amukan ataupun siksaan
kembali, Mily segera berganti baju. Memang pakiannya sudah sangat kotor dan
berbau, berhari-hari tidak mandi dan harus tinggal di sel kotor yang lembab
membuatnya tidak menolak perintah lelaki itu. Mily tidak ambil pusing dengan
apa yang terjadi setelahnya, dirinya sudah sedikit lega tidak berada di sel
penyiksaan seperti kemarin.
“ keluarlah” teriak
seseorang yang berada di ambang pintu. Lelaki yang sama yang sudah
membangunkannya dengan kasar.
“ b,baik” Mily sedikit
gugup. Wanita itu mulai mengatur nafasnya agar tidak panik.
Baru saja meninggalkan
kamar, Mily terlihat kagum dengan ornament bangunan yang saat ini dia lihat.
Begitu mewah dan mengkilap. Belum pernah sekalipun dalam seumur hidupnya dia
berkunjung ke tempat mewah seprti ini.
“ cepatlah” desak lelaki
berseragam saat mengetahui Mily berjalan lambat karena sibuk memperhatikan sekeliling.
“ iyya” Mily menyusul
lelaki itu dengan berjalan sedikit cepat.
Sampailah mereka didepan
sebuah pintu besar dengan ganggang emas, di depannya ada 2 penjaga bersenjata
lengkap. Mily berdegup kencang, dia berfikir bahwa dia sedang berhadapan dengan
seseorang bangsawan kaya raya.
Lelaki berseragam itu
berbincag singkat dengan penjaga pintu, keduanya mengangguk dan membuka pintu
besar itu. Dibalik pintu ternyata masih ada lorong menuju ke sebuah pintu lagi.
Kali ini didepannya tidak ada penjaga.
Mily kembali berjalan
mengikuti lelaki berseragam itu. Lorong ini memiliki karpet yang tebal dan
lembut. Membuat wanita ini ingin tinggal lebih lama disini.
Ceklek, pintu itu di buka
oleh lelaki itu.
“ masuklah, ini adalah
ruangan raja” begitu terkejut dengan ucapan Lelaki itu membuat kakinya kaku
tidak bisa bergerak. Mily tidak menyangka saat ini dia berada di istana raja.
Nafasnya memburu tidak beraturan.