The New Duchess

The New Duchess
Bab 46 : Kyliee Blackton



Tok tok


“ permisi” ucap Ai.


Setelah beberapa lama terdengar sautan dari dalam.


“ iya, ada apa?” seorang pelayan membuka pintu dan keluar.


“ kami ingin menemui Sir Blackton, apakah bisa?” pelayan itu terlihat termenung memikirkan sesuatu.


“ em, sebentar” ucap pelayan itu setelah diam sejenak.


Ai dan Masy saling pandang melihat keanehan itu, pelayan itu sama sekali tidak  mempersilahkan masuk atau duduk. Pelayan kediaman Blackton tidak sedisiplin di kediamannya. Pelayan di kediaman Duke bahkan tidak boleh terlambat ataupun membuat kesalahan kecil. Sungguh Axton benar-benar keras dan tegas.


Sudah terlalu lama kedua wanita itu menunggu, namun sosok pelayan yang menyambut mereka tidak kunjung datang.


“ apa dia sedang mengusir kita secara halus?” Masy mulai kesal menunggu.


“ tenanglah Masy, mungkin sebentar lagi dia akan datang” Ai terus berfikir positif.


Tak lama pintu itu terbuka, ada sosok lelaki seumuran Axton keluar dari kediaman.


“ maafkan aku, kalian pasti sudah menunggu lama. Mari masuk” lelaki ini tampak sangat ramah dan terbuka. Belum lagi dengan wajahnya yang lumayan tampan membuat Masy melupakan kekesalannya.


“ah iya” Ai dan Masy melangkah masuk. Ruang tamu tampak rapi meski sedikit berdebu. Terlihat sekali jika pelayan disini tidak benar-benar mengerjakan tugasnya.


“ jadi ada apa kalian kemari? Oh perkenalkan aku Dereck Blackton” lelaki itu duduk di single sofa sedang Ai dan Masy berada di depannya, duduk di sofa panjang.


“ em sebelumnya kami minta maaf sudah mengganggu waktu anda. Saya Ainsley istri Duke Axton. Kami kemari ingin menanyakan terkait kematian nyonya Kyliee” Ai berbicara selembut mungkin, Ai memang sadar jika masalah ini pasti begitu privasi dan pastinya  menguak kembali kesedihan mereka.


Dereck hanya tersenyum ringan, raut wajahnya tidak banyak berubah. Membuat orang lain tidak mengetahui gemuruh kemarahan yang terpecik di dalam dirinya.


“ jadi kau Duchess Wellington yang baru itu?” Dereck yang sebenanya sudah mengetahui kini berlagak baru mengetahuinya.


“ ya begitulah” jawab Ai sedikit tersinggung dengan pertanyaan Dereck.


“  hmm, mengenai kematian adikku ya?  ada angin apa membuat Duchess berminat menguak kembali kasus mengerikan itu?” tanya Dereck, dia tidak berniat langsung menjawab pertanyaan Ai.


“ saya yakin ada sesuatu yang sedang di tutupi dari kasus ini” Ai menjawabnya mantap. Ai tau maksud Dereck hanya ingin menguji niatnya, jadi dia hanya bisa mengatakan semua keresahan hatinya.


“ kau terlihat begitu yakin sekali, apa mungkin kau takut hal ini akan menimpamu suatu hari nanti?” Dereck seakan tidak menghormati Ai. terlihat dari bagaimana Dereck yang tidak menjaga perkataannya.


“ Lord Dereck,  anda terlalu berlebihan. Tujuan saya hanya ingin mengetahui apa mungkin kedua istri Axton mengalami kematian yang sama” Ai mencoba berterus terang.


“ kalaupun iya, memangnya apa yang akan kau lakukan?”


“ sepertinya anda memendam begitu banyak emosi disini” Masy memotong pembicaraan. Sedari tadi mengamati tingkah Dereck, dan memang lelaki itu  sedang memedan amarahnya. Kedua tangannya mengepal menggegam erat satu sama lainnya.


Dereck menatap Masy, dia melupakan wanita ini.


“ ah sepertinya kau belum memperkenalkan diri” Dereck menarik dirinya menjadi bersandar, tak ingin amarahnya diketahui oleh tamunya.


“ aku Masy teman Duchess” Masy berfikir untuk tidak perlu mengatakan identitasnya.


“ jadi bagaimana Lord Dereck, apa aku bisa menemui Sir Blackton mengenai ini?” Ai melihat Masy yang enggan menjawab, langsung saja mengalihkan perhatian.


“ emm, ayahku sedang tidak ada di tempat, apa kau ingin menemi ibuku?” Dereck beranjak. Ai mengangguk pelan, dia ikut senang ternyata Dereck cukup bersahabat.


“ ikutlah denganku” Ai dan Masy kemudian berdiri.


“ kau tetaplah disini, aku tak ingin orang lain ikut campur”  Dereck melarang Masy ikut. Hal ini tentu memunculkan sedikit kecurigaan Ai dan Masy. Namun mereka tidak memiliki banyak pilihan. Akhirnya Ai mengangguk pelan kepada Masy, mengisaratkan untuk tenang.


Ai berjalan mengikuti Dereck masuk ke dalam. Kediaman ini terasa seperti kekurangan penerangan. Bahkan beberapa gorden jendela sengaja tidak dibuka. Ruangan tampak sepi tak ada pelayan yang berseliweran.


Ai meremas gaunnya kini ruang tamu sudah jauh dari pandangannya. Dereck tak kunjung berhenti. Ai menoleh ke kanan dan kiri. Mencoba mengamati setiap ruangan yang terlewati.


“ kau tak masuk?” Ai bertanya.


“ aku memiliki keperluan lain” jawab Dereck biasa.


Ai berjalan masuk. Disana terdapat sebuah ranjang. Gorden kamar hanya terbuka sedikit. Kamar ini terasa begitu dingin dan gelap.


“ disini tak ada siapa-siapa” Ai membalikan badannya, melihat Dereck.


“ memang tak ada siapapun” ucap Dereck sebelum akhirnya menutup dan mengunci pintu itu.


Ai membola melihat aksi Dereck, segera berlari menuju pintu.


Brak brak.


“ dereck, buka pintunya! Apa maksudnya dengan ini!,” Ai mengebrak pintu tiada henti namun tak kunjung terbuka.


Di luar Dereck tersenyum puas, sudah bertahun-tahun mencoba melupakan kematian itu. Kini secara tiba-tiba Duchess baru menemuinya. Tentu saja Dereck tidak akan membuang kesempatan untuk membalas dendam atas kematian adiknya. Kamar yang masuki Ai bukanlah kamar ibunya tetapi kamar sang adik yang sudah bertahun-tahun tidak di tempati, hanya dibersihkan sesekali dalam sebulan saja.


“ tinggal satu orang” lirih Dereck. Kemudian pergi meninggalkan kamar yang kini begitu berisik dengan suara gebrakan pintu.


Masy masih tenang duduk di ruang tamu. Ini masih normal jika dihitung waktu kepergian sahabatnya. Pelayan juga baru keluar membawakan teh dan cemilan. Tidak ada siapapun yang bisa mengajaknya berbincang.


“ Duchess menyuruhmu kembali, perbincangan ini tidak akan berlangsung cepat, harus membujuk ibuku beberapa hari, dan ini bukan perkara yang mudah” ucap Dereck. Masy hanya terdiam. Antara mempercayai atau tidak.


“ kau yakin?” Masy bertanya.


“ itu perintah temanmu, aku juga tak keberatan jika kau memilih kamar untuk beristirahat sambil menunggunya” Dereck menujukkan raut ramahnya. Agar Masy tidak curiga.


“ em baiklah, aku akan kembali dulu” Masy berdiri dan melangkah meninggalkan kediaman. Di rumah tak ada siapapun jelas saja Masy tidak mungkin ikut menginap dan meninggalkan bisnis keluarga. Akhirnya hanya bisa kembali. Dari dalam, Dereck mengamati kepergian Masy. Wanita itu pasti akan kembali lagi. Dereck harus menyiapkan sesuatu untuk wanita itu nanti.


Lain dengan Ai, beberapa hari ini Axton cukup sibuk. Menemui banyak orang dan melakukan beberapa kali pertemuan. Setelah kepergian sang istri Axton yang memang tidak sedang bertugas langsung saja melaksanakan recananya. Axton terpaksa menyuruh Ai kembali ke desa. Agar istrinya itu aman dan tidak perlu memikirkan perbuatan yanga dia lakukan.


“ masih tidak bisa?” Axton sedang di ruang kerjanya. Disana ada Brian yang berdiri menghadapnya.


“ tidak bisa tuan, penjagaan begitu ketat. Sepertinya dugaan kita benar”


“ kita belum bisa memastikan, jangan mengambil kesimpulan dulu” Axton memeriksa beberapa berkas.


“ apa pengadilan juga tidak bisa menangani ini?” tanya Brian.


“ tentu saja tidak, mereka tidak akan berani menghadapi Sea”  Axton menerawang cendela ruangan.


“ apa Grace sudah mau makan sesuatu?” tanya Axton.


“ Mily tiap hari membujuknya, untung saja hari ini mau makan sedikit” Axton mengangguk tipis.


“ kau boleh pergi” Brian pamit keluar. Axton masih betah membaca berkas, sejak Grace tinggal di kediamannya Axton lebih sering keluar atau menyibukkan diri seperti ini. Axton terkadang juga merasa kasihan dengan apa yang dialami mantan asistennya itu. Namun sebentar kemudian Axton merasa jika Grace mendapatkan hal ini juga karena rencana jahatnya sendiri, dan hal itu pantas.


Hari ini sudah hari ke 2 sejak Masy meninggalkan kediaman Blackton, dan hari yanga sama untuk Ai yang tak kunjung kembali. Rasa-rasanya pasti ada hal buruk yang dialami sahabatnya ini. Maka dari itu Masy berniat kembali lagi ke kediaman Blackton.


Masy sudah ada di depan pintu kediaman, ketika ingin mengentuk Masy sedikit ragu.


“ sebaiknya aku mencarinya secara diam-diam” lirih Masy, perlahan membuka knop pintu. Ruang tamu begitu sepi dan itu memudahkan Masy semakin masuk ke dalam.


Tap tap suara langkah kaki mendekat. Masy segera bersembunyi di belakang sofa.


“ jaga wanita jangan sampai terjadi masalah, dan jangan lupa berikan dia makanan” ucap seorang lelaki yang kemudian keluar. Setelah mengantar tuannya pelayan itu masuk kembali. Mendengar percakapan tadi membuat Masy semakin curiga.


Masy terus berjalan masuk, rumah ini benar-benar banyak sekali lorong dan remang.  Masy harus berhati-hati dalam memilih arah.


Tap tap kembali ada suara langkah kaki mendekat. Masy segara bersembunyi. Saat langkah terdengar menjauh Masy mengintip, ternyata seorang pelayan membawa nampan.


“ pelayan itu pasti akan mengirim makanan, lebih baik aku mengikutinya” Masy keluar dari persembunyiannya, dan mengendap mengikuti pelayan tersebut.