
Pelayan pondok sedang
berjalan menuju sebuah pohon dimana tuannya sedang menikmati suasana pagi.
Tentunya dia dengan jelas melihat sepasang suami istri yang sedang bermesraan
disana. Dan itu membuat pelayan itu terpaksa mengurungkan niatnya untuk
mendekat, dia berdiri membelakangi sang majikan berharap niatnya bisa di
tangkap oleh tuannya.
“ kita kedatangan tamu”
ucap Axton ketika sudut matanya menangkap sosok pelayan yang berdiri tak jauh
dari mereka. Ai yang masih ingin berduaan hanya menghembuskan nafas kasar.
Dengan pelan membantu
suaminya berdiri, mereka kemudian berjalan menuju pondok.
“ pangeran Aric dan yang
lainnya sudah menunggu”ucap pelayan begitu tuannya sudah berada dekat dengan
posisinya.
“ pangeran Aric disini?”
Ai kaget dengan kabar yang dia dengar, membuatnya langsung mengingat Hardwin
yang selama ini mencari keberadaan pangeran itu. Axton mengangguk singkat sebagai jawabannya.
“ aku tau” jawab Axton,
kemudian melanjutkan langkahnya. Beberapa meter dari pondok AI bisa melihat beberapa
orang yang sudah duduk di teras. Seketika membuat dia seakan enggan mendekat,
dia melihat orang-orang yang selama ini menyembunyikan kabar suaminya darinya.
Merasa jika istrinya
tidak mau masuk, Axton mengelus tangan Ai yang menempel di lengannya.
“ jangan marah, aku yang
meminta mereka untuk tidak mengatakannya padamu” Axton bisa menebak jika
istrinya ini sedang merajuk sambil melihat paman Al. jelas saja dengan mudah
Axton mengetahui alasannya.
“ tetap saja, “Ai tidak
terima dengan alasan yang Axton berikan.
“ baiklah, aku akan masuk
sendiri” Axton melepaskan pegangan tangan Ai, namun belum juga selangkah
berjalan Ai segera menggandeng lelaki itu. Dia tidak boleh kekanak-kanakan. Semuanya
pasti memikirkan kebaikan untuk dirinya.
“ Duke” mereka serentak
langsung memberikan sanjungan, kecuali pengeran. Disana sudah ada paman Al,
tuan Kleiner,dan Dalbert. Mereka orang-orang yang selalu mematuhi perintah
Axton tanpa ragu. Meskipun melihat dengan jelas bagaimana keputusasaan yang Ai
rasakan, mereka tetap tidak goyah.
“ pengeran” kini giliran
Axton yang memberikan sanjungan kepada Aric.
“ kapan anda sampai?”
Axton perlahan duduk di lingkaran meja itu. Tentu dengan Ai yang berada
disisinya.
“ semalam, Duke” jawab
Aric. Dia tersenyum singkat karena mengingat bahwa semalam harus kembali
lantaran Duchess menginap di pondok.
“ Ai bisa kau bawakan aku
ramuan obat?” Axton meminta Ai, tentu itu hanya sebuah alasan agar Ai tidak
ikut dalam pembicaraan.
“ ah ya tentu” Ai ingat
betul bahwa suaminya belum meminum obat. Wanita itu akhirnya beranjak menuju kearah
dapur pondok.
Sepeninggalnya mereka ber
lima kembali membahas topic yang selama ini mereka tunggu.
“ jadi bagaimana hasilnya,
pangeran?” tanya Dalbert, dia memang sudah sedari lama menunggu kepulangan
pangeran Aric.
“ ini tidak mudah, aku
sudah mencari tahu memang racun yang merusak tubuh Duke adalah racun getah
biru. Tidak banyak yang mengetahui racun jenis ini. Hanya saja racun ini akan
bekerja pada seseorang yang memiliki riwayat terkena racun lainnya. Sayangnya Duke
sudah berulang kali terkena racun sehingga racun getah ini langsung bekerja
cepat” jelas pengeran Aric, dia memang pergi untuk bertemu dengan seorang ahli
racun, berbekal darah milik Duke sang ahli racun itu dapat mengetahui jenis
racun yang Duke alami.
“ lalu bagaimana
mengobatinya?” Allard langsung menyahut.
“ aku sudah membawakan
bunga Yark, sebagai obatnya. Karena ahli racun mengalami kecelakaan saat
setidaknya bisa menetralkan darah, untuk kemungkinan berhasil 50 % saja”
pangeran Aric berubah sendu. Selama mendampingi Axton dirinya banyak sekali
menerima masukan, baginya sosok Duke adalahh lelaki yang begitu bersahaja. Dia tidak
mau orang se cakap Duke harus tiada dengan cara seperti ini.
Mendengar semua penjelasan
pengeran Aric, Axton tetap terdiam. Dirinya memang sudah menebak jenis racun
yang masuk dalam tubuhnya. Selama ini dia diam karena takut yang lain akan
semakin cemas.
Kini pengeran Aric sudah membawakan benda untuknya tentu
Axtonpun sudah tau. Bunga itu hanya mekar di daerah musuh, begitupun asal
racunnya. Untung saja pangeran berhasil menemukannya, hanya saja selang waktu
saat racun ini masuk ke dalam tubuhnya sudah sangat lama. Axton ragu jika racun
getah ini bisa diatasi dengan mudah. Axton menatap tuan Kleiner dengan seksama,
mereka berdua memiliki pemikiran yang sama, bahwa ada satu kemungkinan lagi yang
bisa membantun untuk mengatasi racun ini. Kemungkinan yang selama ini mereka
tunggu untuk bersedia melakukannya.
“ kita bisa mencobanya”
jawab Duke pada akhirnya.
“ ini obatnya” Ai kembali
sambil membawakan sebuah nampan berisi mangkuk ramuan. Wanita ini dengan senyum
mengembang memberikan kepada Axton, dan dengan cepat Axton segera
menghabiskannya.
“ Aidyn, bantu aku masuk.
Sepertinya Ai perlu berbicara dengan pamannya” ucap Axton yang membuat Ai
langsung kesal. Bagaimana bisa dengan mudahnya suaminya menyuruhnya berbicara
dengan paman Al disaat ia sedang merajuk pada orang itu.
“ saya pamit pengeran”
tuan Kleiner segera memapah Axton masuk ke dalam kamar. Para lelaki tau bahwa
saat Duchess ada di dekat mereka, mereka tidak boleh berbicara mengenai racun
di tubuhnya.
Suasana menjadi sedikit
canggung, baik Ai ataupun Allard sama-sama sibuk dengan perasaanya.
“ saya pamit juga”
pangeran Aric ikut berdiri dan meninggalkan meja. Kini tinggal 3 orang, Ai,
Allard dan Dalbert.
“ ehemm” Dalbert tentu
mengerti kecanggungan itu. Dia memulai pembicaraan dengan deheman sambil
menyenggol lengan ayahnya. Allard melirik anaknya dengan tatapan kesal. Anaknya
begitu berani ternyata.
“ aku akan kembali
setelah menaruh mangkuk ini” ucap Ai akhirnya, bukannya ingin menghindar. Ai
memang sejak tadi tidak ada di teras, namun wanita itu sudah menguping semua
pembicaraan para lelaki tadi. Dan kini wanita itu berniat menguping pembicaraan
Axton dengan tuan Kleiner, Ai sudah memiliki firasat bahwa suaminya ini pasti
memiliki maksud dengan menyuruh tuan Kleiner membawanya masuk.
Allard dan Dalbert belum
menanggapi ucapan Ai, namun Ai sudah langsung meninggalkan meja. Kedua lelaki
itu hanya bisa menunggu disana.
Ai berjalan menuju kamar
Axton, wanita itu menyembunyikan dirinya di bawah jendela kamar. Dengan begitu
dia bisa mendengar dengan jelas percakapan didalam kamar.
“ tentu, saya juga sudah
mengiriminya surat. Namun anak itu entah sudah membacanya atau belum. Apa saya
perlu membawanya kemari?” ucap tuan Kleiner.
“ kita juga tidak tau
pasti apa mungkin darah Hardwin bisa mengatasi racun ini, kau bilang padaku
jika dia menolak pada awalnya, aku yakin meski kau membawanya kemari dia juga
tidak mau memberikannya” suara Axton.
“ kita bisa mencobanya, dia
datang bersama Duchess mungkin saja
Hardwin belum membacanya. Karena jika iya, dia tidak mungkin mau ke perbatasan”
jawab tuan Kleiner.
Kening Ai mengerut, jadi
selama ini Hardwin sudah mengetahui bagaimana kondisi Axton. bagaimana bisa dia
tidak mengatakan apapun padanya. Belum juga selesai mendengar akhir pembicaraan
itu Ai segera menjauh. Hatinya dipenuhi amarah. Dia akan menemui Hardwin dan
menayakan semuanya pada lelaki itu.