The New Duchess

The New Duchess
Bab 107 : Bunga Yark



Pelayan pondok sedang


berjalan menuju sebuah pohon dimana tuannya sedang menikmati suasana pagi.


Tentunya dia dengan jelas melihat sepasang suami istri yang sedang bermesraan


disana. Dan itu membuat pelayan itu terpaksa mengurungkan niatnya untuk


mendekat, dia berdiri membelakangi sang majikan berharap niatnya bisa di


tangkap oleh tuannya.


“ kita kedatangan tamu”


ucap Axton ketika sudut matanya menangkap sosok pelayan yang berdiri tak jauh


dari mereka. Ai yang masih ingin berduaan hanya menghembuskan nafas kasar.


Dengan pelan membantu


suaminya berdiri, mereka kemudian berjalan menuju pondok.


“ pangeran Aric dan yang


lainnya sudah menunggu”ucap pelayan begitu tuannya sudah berada dekat dengan


posisinya.


“ pangeran Aric disini?”


Ai kaget dengan kabar yang dia dengar, membuatnya langsung mengingat Hardwin


yang selama ini mencari keberadaan pangeran itu.  Axton mengangguk singkat sebagai jawabannya.


“ aku tau” jawab Axton,


kemudian melanjutkan langkahnya. Beberapa meter dari pondok AI bisa melihat beberapa


orang yang sudah duduk di teras. Seketika membuat dia seakan enggan mendekat,


dia melihat orang-orang yang selama ini menyembunyikan kabar suaminya darinya.


Merasa jika istrinya


tidak mau masuk, Axton mengelus tangan Ai yang menempel di lengannya.


“ jangan marah, aku yang


meminta mereka untuk tidak mengatakannya padamu” Axton bisa menebak jika


istrinya ini sedang merajuk sambil melihat paman Al. jelas saja dengan mudah


Axton mengetahui alasannya.


“ tetap saja, “Ai tidak


terima dengan alasan yang Axton berikan.


“ baiklah, aku akan masuk


sendiri” Axton melepaskan pegangan tangan Ai, namun belum juga selangkah


berjalan Ai segera menggandeng lelaki itu. Dia tidak boleh kekanak-kanakan. Semuanya


pasti memikirkan kebaikan untuk dirinya.


“ Duke” mereka serentak


langsung memberikan sanjungan, kecuali pengeran. Disana sudah ada paman Al,


tuan Kleiner,dan Dalbert. Mereka orang-orang yang selalu mematuhi perintah


Axton tanpa ragu. Meskipun melihat dengan jelas bagaimana keputusasaan yang Ai


rasakan, mereka tetap tidak goyah.


“ pengeran” kini giliran


Axton yang memberikan sanjungan kepada Aric.


“ kapan anda sampai?”


Axton perlahan duduk di lingkaran meja itu. Tentu dengan Ai yang berada


disisinya.


“ semalam, Duke” jawab


Aric. Dia tersenyum singkat karena mengingat bahwa semalam harus kembali


lantaran Duchess menginap di pondok.


“ Ai bisa kau bawakan aku


ramuan obat?” Axton meminta Ai, tentu itu hanya sebuah alasan agar Ai tidak


ikut dalam pembicaraan.


“ ah ya tentu” Ai ingat


betul bahwa suaminya belum meminum obat. Wanita itu akhirnya beranjak menuju kearah


dapur pondok.


Sepeninggalnya mereka ber


lima kembali membahas topic yang selama ini mereka tunggu.


“ jadi bagaimana hasilnya,


pangeran?” tanya Dalbert, dia memang sudah sedari lama menunggu kepulangan


pangeran Aric.


“ ini tidak mudah, aku


sudah mencari tahu memang racun yang merusak tubuh Duke adalah racun getah


biru. Tidak banyak yang mengetahui racun jenis ini. Hanya saja racun ini akan


bekerja pada seseorang yang memiliki riwayat terkena racun lainnya. Sayangnya Duke


sudah berulang kali terkena racun sehingga racun getah ini langsung bekerja


cepat” jelas pengeran Aric, dia memang pergi untuk bertemu dengan seorang ahli


racun, berbekal darah milik Duke sang ahli racun itu dapat mengetahui jenis


racun yang Duke alami.


“ lalu bagaimana


mengobatinya?” Allard langsung menyahut.


“ aku sudah membawakan


bunga Yark, sebagai obatnya. Karena ahli racun mengalami kecelakaan saat


setidaknya bisa menetralkan darah, untuk kemungkinan berhasil 50 % saja”


pangeran Aric berubah sendu. Selama mendampingi Axton dirinya banyak sekali


menerima masukan, baginya sosok Duke adalahh lelaki yang begitu bersahaja. Dia tidak


mau orang se cakap Duke harus tiada dengan cara seperti ini.


Mendengar semua penjelasan


pengeran Aric, Axton tetap terdiam. Dirinya memang sudah menebak jenis racun


yang masuk dalam tubuhnya. Selama ini dia diam karena takut yang lain akan


semakin cemas.


Kini pengeran Aric  sudah membawakan benda untuknya tentu


Axtonpun sudah tau. Bunga itu hanya mekar di daerah musuh, begitupun asal


racunnya. Untung saja pangeran berhasil menemukannya, hanya saja selang waktu


saat racun ini masuk ke dalam tubuhnya sudah sangat lama. Axton ragu jika racun


getah ini bisa diatasi dengan mudah. Axton menatap tuan Kleiner dengan seksama,


mereka berdua memiliki pemikiran yang sama, bahwa ada satu kemungkinan lagi yang


bisa membantun untuk mengatasi racun ini. Kemungkinan yang selama ini mereka


tunggu untuk bersedia melakukannya.


“ kita bisa mencobanya”


jawab Duke pada akhirnya.


“ ini obatnya” Ai kembali


sambil membawakan sebuah nampan berisi mangkuk ramuan. Wanita ini dengan senyum


mengembang memberikan kepada Axton, dan dengan cepat Axton segera


menghabiskannya.


“ Aidyn, bantu aku masuk.


Sepertinya Ai perlu berbicara dengan pamannya” ucap Axton yang membuat Ai


langsung kesal. Bagaimana bisa dengan mudahnya suaminya menyuruhnya berbicara


dengan paman Al disaat ia sedang merajuk pada orang itu.


“ saya pamit pengeran”


tuan Kleiner segera memapah Axton masuk ke dalam kamar. Para lelaki tau bahwa


saat Duchess ada di dekat mereka, mereka tidak boleh berbicara mengenai racun


di tubuhnya.


Suasana menjadi sedikit


canggung, baik Ai ataupun Allard sama-sama sibuk dengan perasaanya.


“ saya pamit juga”


pangeran Aric ikut berdiri dan meninggalkan meja. Kini tinggal 3 orang, Ai,


Allard dan Dalbert.


“ ehemm” Dalbert tentu


mengerti kecanggungan itu. Dia memulai pembicaraan dengan deheman sambil


menyenggol lengan ayahnya. Allard melirik anaknya dengan tatapan kesal. Anaknya


begitu berani ternyata.


“ aku akan kembali


setelah menaruh mangkuk ini” ucap Ai akhirnya, bukannya ingin menghindar. Ai


memang sejak tadi tidak ada di teras, namun wanita itu sudah menguping semua


pembicaraan para lelaki tadi. Dan kini wanita itu berniat menguping pembicaraan


Axton dengan tuan Kleiner, Ai sudah memiliki firasat bahwa suaminya ini pasti


memiliki maksud dengan menyuruh tuan Kleiner membawanya masuk.


Allard dan Dalbert belum


menanggapi ucapan Ai, namun Ai sudah langsung meninggalkan meja. Kedua lelaki


itu hanya bisa menunggu disana.


Ai berjalan menuju kamar


Axton, wanita itu menyembunyikan dirinya di bawah jendela kamar. Dengan begitu


dia bisa mendengar dengan jelas percakapan didalam kamar.


“ tentu, saya juga sudah


mengiriminya surat. Namun anak itu entah sudah membacanya atau belum. Apa saya


perlu membawanya kemari?” ucap tuan Kleiner.


“ kita juga tidak tau


pasti apa mungkin darah Hardwin bisa mengatasi racun ini, kau bilang padaku


jika dia menolak pada awalnya, aku yakin meski kau membawanya kemari dia juga


tidak mau memberikannya” suara Axton.


“ kita bisa mencobanya, dia


datang bersama Duchess  mungkin saja


Hardwin belum membacanya. Karena jika iya, dia tidak mungkin mau ke perbatasan”


jawab tuan Kleiner.


Kening Ai mengerut, jadi


selama ini Hardwin sudah mengetahui bagaimana kondisi Axton. bagaimana bisa dia


tidak mengatakan apapun padanya. Belum juga selesai mendengar akhir pembicaraan


itu Ai segera menjauh. Hatinya dipenuhi amarah. Dia akan menemui Hardwin dan


menayakan semuanya pada lelaki itu.