The New Duchess

The New Duchess
Bab 96 : Tordor



Tanpa pikir panjang Ai


segera mengambil peta tersebut, dilihatnya dengan teliti.


“ berapa lama perjalanan


dari sini ke kota itu?” Ai sangat terpancing, dia sungguh ingin segera kesana.


Tuan ketua menatap Ai


kemudian berganti ke Hardwin, lelaki itu merasa aneh dengan antusias wanita


yang menyamar sebagai lelaki ini. Ia takut memberikan informasi kepada


seseorang yang salah.


“ jangan khawatir, jawab


saja pertanyaanya” Hardwin terus meyakinkan tuan ketua. Tapi tidak dengan mengatakan


identitas Ai yang asli.


“ sekitar 2-3 hari, jika


kalian memang ingin kesana mungkin bisa dengan jalur logistic kami. Keamanan


disana begitu ketat, dengan jalur kami kemungkinan persyaratan birokrasi bisa


sedikit diminimalisir” tuan ketua menjelaskan secara mendetail, dia merasa


memang dua orang dihadapannya tidak memiliki niat buruk. Hardwin mengangguk


singkat kemudian menatap kearah Ai lama. Wanita terlihat berbinar, semua jalan


terasa begitu mudah sekarang.


“ lalu pasukan kami


bagaimana?” Hardwin tetap berjaga-jaga, dia tidak boleh melupakan niat


pentingnya menuju perbatasan.


“ kalian bisa datang


terlebih dahulu, pasukan kalian tetap harus melewati pos keamanan, jika kalian


bisa masuk lebih dahulu pengaturan pasukan bisa lebih mudah di lakukan” semua


penjelasan di tangkap dengan baik oleh Hardwin dan juga Ai.


“ kapan jadwal


pengantaran logoistik berangkat?” Ai bertanya.


“ kalian beruntung,


jadwal terdekat adalah sore ini” sudut bibir wanita itu tertarik, dia senang karena


tidak perlu menunggu waktu yang lama dia bisa berangkat ke kota Tordor.


Setelah pembicaraan


selesai Ai dan Hardwin kembali ke pasukannya. Mereka berdua perlu menyusun


strategi saat ketidak hadiran mereka di sisi pasukan. Belum lagi beberapa


persediaan makanan menipis dan perlu mengisi sebelum perjalanan di mulai.


Hardwin memanggil orang


kepercayaanya di dalam tenda pusat. Sedangkan yang lain sedang beristirahat.


Didalam tenda tersebut sudah ada Ai, Hardwin dan orang kepercayaan Hardwin.


“ kita sudah berunding


dengan komandan pasukan kota, tugas kita selanjutnya adala menuju kota Tordor,


kota paling dekat dengan perbatasan. Kami akan berangkat sore ini dan kalian


bisa mempersiapkan diri untuk berangkat besok “ jelas Hardwin yang duduk di


depan anak buahnya yang sedang berdiri.


“ siap tuan,” jawab si


anak buah.


Semua rencana sudah dia


sampaikan detailnya, tidak ada kendala serius. Untuk sementara Hardwin


menuliskan surat untuk mereka bawa buat jaga-jaga jika mereka terkena syarat


admistrasi kota.


Waktu masih siang, Ai dan


Hardwin sedang bersantai sambil menunggu waktu pengiriman logistic tiba.


“ apa kau yakin Duke


berada disana?” Hardwin memulai pembicaraan. Setelah makan siang mereka duduk


bersantai di bawah sebuah pohon rindang di tepi Camp militer.


“ setidaknya aku yakin


ini akan semakin membimbing kita bertemu dengan Axton, kemungkinan pangeran


Aric juga berada di sana” Ai memberikan penilaianya , dia sudah bertekad dan


memikirkan semuanya dengan matang. Jika Axton benar –benar tidak disana, dia


sendiri akan menyebrang ke wilyah musuh untuk menjemput suaminya.


“ melihat keyakinanmu,


aku merasa lega. Ainsley yang dulu sudah kembali” Hardwin tersenyum singkat,


itu sudah seperti mayat hidup yang tidak memiliki harapan.


“ semuanya karena Axton” kalimat


itu seakan meremas kuat hati Hardwin. Dadanya terasa sesak sedang tubuhnya


seolah sayu.  Ai hanya memikirkan Duke,


semua yang dia lakukan adalah demi suaminya. Dan itu sukses mematahkan hatinya


kesekian kalinya. Kenyataan pahit ini belum bisa menyadarkan Hardwin untuk


merelakan rasa cinta kepada Ai. lelaki itu masih belum juga sadar bahwa rasa


cintanya seolah berubah menjadi obsesi.


Sore telah tiba,


rombongan logistic sudah meninggalkan kota Nialu. Ai dan Hardwin bercampur


dengan pasukan kota. Mereka mengenakan seragam yang sama sehingga tidak


menujukkan bahwa mereka memiliki kepentingan yang berbeda dengan yang lainnya.


Berhari-hari mereka


memulai jalan yang cukup berliku, beberapa kali berhenti untuk mengambil bahan


serta beristirahat. Pasukan kota tidak mempermasalahkan kehadiran mereka,


bahkan beberapa kali Hardwin memberikan sedikit taktik dalam menjaga perbekalan


makanan.


Sampai beberapa hari


kemudian mereka sampai di gerbang kota Tordor. Meskipun tuan ketua sudah


memberikan wacana bahwa proses birokrasi dan keamanan rombongan logistic akan


jauh lebih sedikit, namun yang Ai dan Hardwin alami bahwa pemeriksaan kota


Tordor ini terbilang ketat dan panjang.


Meski sudah beberapa kali


rombongan mengantarkan makanan, mereka tetap wajib melapor serta menulis


identitas. Belum lagi dengan pengecekkan bahan bawaan serta senjata. Semuanya begitu


tertata rapi. Keamanan kota sungguh ketat. Nuansa perbatasan sungguh terasa


mencekam.


Berbeda dengan kota


Nilau, di kota Tordor hanya sedikit warga kota yang terlihat. Hampir penghuni


kota adalah para pasukan tentara penjaga. Belum lagi pada gerbang kota yang


mengadap perbatasan, regu panah sudah tersedia dengan pengaturan jaga yang


tertib.


Baik Ai dan Hardwin


dibuat takjub dengan sedikit gemetar melihat para pasukan dengan wajah serius. Tidak


ada waktu untuk bersantai seperti saat di kota Nialu. Pasukan disini seakan


sibuk dengan jadwal yang padat.


Setelah dirasa cukup


membantu pasukan logistic, Ai dan Hardwin segera memisahkan diri untuk mencari


komandan pasukan. Mereka sudah mengatakan pada pasukan dalam kota dan  saat ini mereka sedang berjalan mengkuti


pasukan dalam.


Sampai mereka berada di


sebuah ruangan yang tertutup. Mereka di persilahkan untuk masuk. Namun setelah


masuk bukannya di sambut, pintu ruangan itu secara tiba-tiba di tutup dan di


kunci dari luar.


“ hey. Buka” Hardwin berteriak,


mereka merasa di tipu. Bagaimana bisa mereka menguncinya.


Dok dok dok pintu ruangan


di kedor dengan kuat oleh Hardwin.


“ hentikan, aku sudah


merasa aneh jika keinginan kita langsung di setujui oleh mereka” Ai sudah


memikirkan apa alasan mereka bisa  diperlakukan seperti ini, dan Ai menemukan satu kemungkinan.


“ maksudmu?”


“ mereka sedang


menunjukkan proses keamanan, apa kau tidak bisa menilai seberapa ketatnya


pengamanan mereka, kita sedang di tes” Ai akhirnya duduk dengan tenang. Pasukan


dalam pasti sedang mencari informasi terkait Ai dan Hardwin kepada pasukan logistic


yang baru saja sampai. Entah berapa lama mereka akan di percaya dan di biarkan


menemui komandan pasukan.