The New Duchess

The New Duchess
Bab 128: Brian



 Ai mulai membersihkan diri baru setelahnya dia


membaringkan tubuhnya diatas ranjang yang empuk. Sudah lama sekali dia tidak


merasaka empuknya ranjang dan berbagai fasilitas mewah. Wanita itu langsung


tertidur tanpa menunggu waktu lama. Perjalanan kali ini begitu terasa berat di


tubuhnya. Kondisinya mudah lelah dan mengatuk. Bahkan Ai harus menggunakan


kereta begitu sampai di kota. Biasanya dia kuat saja jika menunggang kuda,


namun tidak kali ini. Ada sesuatu yang salah dengan tubuhnya.


Waktu menjelang sore, Ai


di bangunkan oleh sentuhan dan goyangan pelan di bahunya. Dia baru sampai saat


menjelang pagi dan tertidur sampai sore hari. tubuhnya terasa begitu lelah.


“Ai, bangunlah” ucap


Amber pelan, dia khawatir kepada keponakannya yang seharian ini hanya tidur dan


tidak makan.


“ eemm, ya bibi” jawab Ai


dengan mata yang masih tertutup.


“ bangunlah sebentar


untuk makan, bibi sudah menyiapkan semua menu kesukaanmu. Kenapa kau suka


sekali tidur?” Amber terus mencoba membangunkan Ai. Mendengar penuturan sang


bibi mengenai makanan Ai seketika merasakan lapar, wanita itu membuka matanya


dan tersenyum.


“ iya bibi, ayo makan” Ai


dengan di bantu bibinya segera menuruni ranjang dan berjalan ke arah ruang


makan.


Baru sampai ambang pintu


aroma masakan lezat langsung menyambut kedatangan Ai. wanita itu semakin


bersemangat untuk duduk di sana. Dan tanpa menunggu lagi langsung memulai acara


makan dengan lahab.


Amber yang melihatnya


dibuat senang, sudah sangat lama sekali dia melihat Ai yang begitu lahab makan


seperti dulu.


“ janga terburu-buru”


Amber ikut duduk disana untuk menemani Ai. dia juga mengambilkan beberapa menu


lainnya agar di santap oleh Ai.


“ enak sekali bibi”guman


Ai dengan mulut yang penuh dengan makanan.


“ makanlah semuanya”


jawab bibi sambil tersenyum senang.


Setelah menyelesaikan


acara makan besar, Ai dengan masih ditemani bibinya kini berjalan-jalan sore di


taman sekitaran kediaman. Kedua wanita itu terus bercegkrama menghilangkan rasa


rindu.


“ bibi dengar kau


terlibat kasus di ibu kota?” tanya Amber, mereka sedang duduk di bangku taman.


“ iya, tapi semuanya


sudah membaik. Bibi jangan khawatir” Ai mencoba berbohong. Dia tidak mau


bibinya terlalu memikirkannya.


“ ah ya, sedari tadi Ai


tidak melihat paman dan Dalbert, mereka kemana?” lanjut Ai berniat mengganti


topic pembicaraan.


“ mereka sibuk di ruang


pengobatan” jawan Amber santai. Ai yang mendengarnya malah kebingungan.


“ siapa yang sakit?”


tanya Ai cepat.


“ pengawal Duke sedang


dirawat disana” Amber tidak menutupi apapun.


“ Brian maksud bibi?” Ai


seolah tidak percaya, dia memang tidak pernah menanyakan kabar lelaki itu karena


dia berfikir jika Brian gugur di medan perang. Ai takut membuat suaminya


bersedih dengan menanyakan kabar pengawal pribadinya.


“ iya, kau ingin


melihatnya?” ajak Amber.


“ iya bibi” jawab Ai


antusias.


Kedua wanita itu berjalan


menyusuri lorong dan sampai di sebuah ruangan dengan aroma ramuan yang khas. Ai


langsung mempercepat langkahnya. dan benar saja paman dan Dalbert sedang


menyeka tubuh Brian yang dipenuhi oleh luka sayatan.


“ Brian, “ lelaki itu


terlihat tak berdaya dengan kelopak mata yang terlihat sayu. Wajahnya sangat


pucat tak bertenaga.


“ Duchess” jawab Brian


lemah.


“ bagaimana kondisinya


paman?” Ai mendekat dan bisa dengan jelas melihat beberapa diantara lukanya


sudah mulai mengering.


tinggal diruntinkan saja, tidak ada yang serius kau tenang saja” jawab paman Al


yang masih mengolesi luka-luka  dengan


campuran herbal.


Ai menatap Brian dan


menyusuri semua lukanya, sungguh miris sekali. Wanita itu tidak bisa


membanyangkan bagaimana kondisi lelaki ini saat  ditemukan. Pasti berlumuran darah dan tidak sadarkan diri.


“ kau pergilah jika tidak


tega melihatnya” saut Dalbert saat melihat ekpresi ketakutan Ai.


“ tak apa” jawab Ai


yakin.


Wanita itu terus menunggu


disana, memperhatikan bagaimana paman dan kakaknya memberikan obat pada


luka-luka Brian. Sedangkan bibinya memilih keluar karena tidak tega melihat


keadaaan Brian.


“ bagaimana kalian


menemukannya? Apa yang terjadi padanya sampai bisa memiliki luka-luka itu?”


tanya Ai saat proses pengobatan sudah selesai.


“ Brian menjadi sandera,


awalnya bersama dengan Duke. Namun dia menyelamatkan Duke dan membiarkan


dirinya sendiri yang terperangkap” jelas Dalbert. Dia sudah mencuci tangannya


dan kini duduk di samping Ai.


“ kasihan sekali, untung


saja dia masih bisa selamat” jawab Ai sambil terus memandangi Brian dengan raut


sedih.


“ ya, dia benar-benar


kuat bisa bertahan sejauh ini” saut Dalbert.


“ oh ya, bagaimana kabar


Hardwin?” lanjut Dalbert, lelaki itu ingin tau bagaimana nasib lelaki itu


setelah semua rahasianya dia ceritakan pada Axton.


“ kabar dia baik, memangnya


kenapa?” Ai masih belum menyadari maksud sesungguhnya dari pertanyaan kakanya.


“ Duke tidak melakukan


sesuatu padanya?” Dalbert masih terus memancing kesadaran Ai.


“ Duke? “ kening Ai


berkerut, membuat batas alisnya bertemu. Dia merasa aneh dengan pertanyaan


kakaknya, seakan memiliki maksud tersembunyi.


“ jadi kau, yang


menceritakan semuanya pada Axton?” Ai langsung bertanya saat menyadari


kejanggalan dari pertanyaan Dalbert. Lelaki itu hanya tertawa santai, dia


memang berniat menunjukkan pada Ai bahwa dialah yang menceritakan semuanya.


“ Duke tidak marah pada


lelaki brengsek itu?” tanya Dalbert dengan nada sinis. Jika bukan karena


larangan Duke, dia dan ayahnya sudah siap akan memukuli Hardwin sampai puas.


Mereka benar-benar tidak terima dengan pelakuan lelaki itu pada Ai.


“ dasar kau, tidak marah


lagi. Axton memukuli Hardwin sampai babak belur tau” Ai berteriak gemas sambil


memukul bahu kakaknya. Akibat pengaduannya Hardwin menjadi sasaran tinju Axton.


“ baguslah, lelaki itu


memang pantas mendapatkannya. Kalau saja saat mengantarmu dia berani memasuki kediaman,


sudah aku pastikan dia akan babak belur untuk yang kedua kalinya” jawab Dalbert


bersemanagat. Dia pasti akan memberikan pelajaran pada lelaki itu.


“ tapi sekarang dia sudah


berubah, Axton membuat lelaki itu sadar” Ai mengatakan dengan datar. Entah apa


yang dimiliki oleh suaminya, semua orang rasanya begitu penurut dan tidak mau


membantah apapun yang lelaki itu katakan. Sama halnya dengan dirinya, dia juga


sulit sekali mengelak atau membantah perkataan suaminya.


“ tetap saja, aku akan


memberinya pelajaran jika bertemu nanti” Dalbert tidak akan melepaskan Hardwin


dengan mudah. Meski dia sudah berubah tapi perbuatannya masih sangat jelas


dalam ingatan.


“ kau perhatian sekali


denganku” Ai sedikit menggoda kakaknya.


“ karena kau seorang


Duchess, jika bukan mana mau aku menunjukkan muka” jawab Dalbert acuh, lelaki


itu tertawa senang kemudian pergi  meninggalkan Ai yang terdiam mencerna ucapan kakaknya barusan.


“ dasar penjilat” ucap Ai


keras. Meski sebenarnya Ai tau jika itu hanyalah gurauan semata. Kakaknya


memang sangat menyanyanginya sejak kecil. Ai tersenyum senang kemudian pergi


mengikuti kakakanya.


Sedangkan didalam ruangan


paman Al yang mendengar merasa lega, ternyata Duke sudah memberikan pelajaran


yang bagus pada Hardwin. Meski dia tidak ikut memukul rasanya Allard puas


mendengar Hardwin babak belur karena Duke. Dia tau betul bagaimana kerasnya


pukulan lelaki itu. Hardwin pasti mengingatnya dengan baik.