
Ai mulai membersihkan diri baru setelahnya dia
membaringkan tubuhnya diatas ranjang yang empuk. Sudah lama sekali dia tidak
merasaka empuknya ranjang dan berbagai fasilitas mewah. Wanita itu langsung
tertidur tanpa menunggu waktu lama. Perjalanan kali ini begitu terasa berat di
tubuhnya. Kondisinya mudah lelah dan mengatuk. Bahkan Ai harus menggunakan
kereta begitu sampai di kota. Biasanya dia kuat saja jika menunggang kuda,
namun tidak kali ini. Ada sesuatu yang salah dengan tubuhnya.
Waktu menjelang sore, Ai
di bangunkan oleh sentuhan dan goyangan pelan di bahunya. Dia baru sampai saat
menjelang pagi dan tertidur sampai sore hari. tubuhnya terasa begitu lelah.
“Ai, bangunlah” ucap
Amber pelan, dia khawatir kepada keponakannya yang seharian ini hanya tidur dan
tidak makan.
“ eemm, ya bibi” jawab Ai
dengan mata yang masih tertutup.
“ bangunlah sebentar
untuk makan, bibi sudah menyiapkan semua menu kesukaanmu. Kenapa kau suka
sekali tidur?” Amber terus mencoba membangunkan Ai. Mendengar penuturan sang
bibi mengenai makanan Ai seketika merasakan lapar, wanita itu membuka matanya
dan tersenyum.
“ iya bibi, ayo makan” Ai
dengan di bantu bibinya segera menuruni ranjang dan berjalan ke arah ruang
makan.
Baru sampai ambang pintu
aroma masakan lezat langsung menyambut kedatangan Ai. wanita itu semakin
bersemangat untuk duduk di sana. Dan tanpa menunggu lagi langsung memulai acara
makan dengan lahab.
Amber yang melihatnya
dibuat senang, sudah sangat lama sekali dia melihat Ai yang begitu lahab makan
seperti dulu.
“ janga terburu-buru”
Amber ikut duduk disana untuk menemani Ai. dia juga mengambilkan beberapa menu
lainnya agar di santap oleh Ai.
“ enak sekali bibi”guman
Ai dengan mulut yang penuh dengan makanan.
“ makanlah semuanya”
jawab bibi sambil tersenyum senang.
Setelah menyelesaikan
acara makan besar, Ai dengan masih ditemani bibinya kini berjalan-jalan sore di
taman sekitaran kediaman. Kedua wanita itu terus bercegkrama menghilangkan rasa
rindu.
“ bibi dengar kau
terlibat kasus di ibu kota?” tanya Amber, mereka sedang duduk di bangku taman.
“ iya, tapi semuanya
sudah membaik. Bibi jangan khawatir” Ai mencoba berbohong. Dia tidak mau
bibinya terlalu memikirkannya.
“ ah ya, sedari tadi Ai
tidak melihat paman dan Dalbert, mereka kemana?” lanjut Ai berniat mengganti
topic pembicaraan.
“ mereka sibuk di ruang
pengobatan” jawan Amber santai. Ai yang mendengarnya malah kebingungan.
“ siapa yang sakit?”
tanya Ai cepat.
“ pengawal Duke sedang
dirawat disana” Amber tidak menutupi apapun.
“ Brian maksud bibi?” Ai
seolah tidak percaya, dia memang tidak pernah menanyakan kabar lelaki itu karena
dia berfikir jika Brian gugur di medan perang. Ai takut membuat suaminya
bersedih dengan menanyakan kabar pengawal pribadinya.
“ iya, kau ingin
melihatnya?” ajak Amber.
“ iya bibi” jawab Ai
antusias.
Kedua wanita itu berjalan
menyusuri lorong dan sampai di sebuah ruangan dengan aroma ramuan yang khas. Ai
langsung mempercepat langkahnya. dan benar saja paman dan Dalbert sedang
menyeka tubuh Brian yang dipenuhi oleh luka sayatan.
“ Brian, “ lelaki itu
terlihat tak berdaya dengan kelopak mata yang terlihat sayu. Wajahnya sangat
pucat tak bertenaga.
“ Duchess” jawab Brian
lemah.
“ bagaimana kondisinya
paman?” Ai mendekat dan bisa dengan jelas melihat beberapa diantara lukanya
sudah mulai mengering.
tinggal diruntinkan saja, tidak ada yang serius kau tenang saja” jawab paman Al
yang masih mengolesi luka-luka dengan
campuran herbal.
Ai menatap Brian dan
menyusuri semua lukanya, sungguh miris sekali. Wanita itu tidak bisa
membanyangkan bagaimana kondisi lelaki ini saat ditemukan. Pasti berlumuran darah dan tidak sadarkan diri.
“ kau pergilah jika tidak
tega melihatnya” saut Dalbert saat melihat ekpresi ketakutan Ai.
“ tak apa” jawab Ai
yakin.
Wanita itu terus menunggu
disana, memperhatikan bagaimana paman dan kakaknya memberikan obat pada
luka-luka Brian. Sedangkan bibinya memilih keluar karena tidak tega melihat
keadaaan Brian.
“ bagaimana kalian
menemukannya? Apa yang terjadi padanya sampai bisa memiliki luka-luka itu?”
tanya Ai saat proses pengobatan sudah selesai.
“ Brian menjadi sandera,
awalnya bersama dengan Duke. Namun dia menyelamatkan Duke dan membiarkan
dirinya sendiri yang terperangkap” jelas Dalbert. Dia sudah mencuci tangannya
dan kini duduk di samping Ai.
“ kasihan sekali, untung
saja dia masih bisa selamat” jawab Ai sambil terus memandangi Brian dengan raut
sedih.
“ ya, dia benar-benar
kuat bisa bertahan sejauh ini” saut Dalbert.
“ oh ya, bagaimana kabar
Hardwin?” lanjut Dalbert, lelaki itu ingin tau bagaimana nasib lelaki itu
setelah semua rahasianya dia ceritakan pada Axton.
“ kabar dia baik, memangnya
kenapa?” Ai masih belum menyadari maksud sesungguhnya dari pertanyaan kakanya.
“ Duke tidak melakukan
sesuatu padanya?” Dalbert masih terus memancing kesadaran Ai.
“ Duke? “ kening Ai
berkerut, membuat batas alisnya bertemu. Dia merasa aneh dengan pertanyaan
kakaknya, seakan memiliki maksud tersembunyi.
“ jadi kau, yang
menceritakan semuanya pada Axton?” Ai langsung bertanya saat menyadari
kejanggalan dari pertanyaan Dalbert. Lelaki itu hanya tertawa santai, dia
memang berniat menunjukkan pada Ai bahwa dialah yang menceritakan semuanya.
“ Duke tidak marah pada
lelaki brengsek itu?” tanya Dalbert dengan nada sinis. Jika bukan karena
larangan Duke, dia dan ayahnya sudah siap akan memukuli Hardwin sampai puas.
Mereka benar-benar tidak terima dengan pelakuan lelaki itu pada Ai.
“ dasar kau, tidak marah
lagi. Axton memukuli Hardwin sampai babak belur tau” Ai berteriak gemas sambil
memukul bahu kakaknya. Akibat pengaduannya Hardwin menjadi sasaran tinju Axton.
“ baguslah, lelaki itu
memang pantas mendapatkannya. Kalau saja saat mengantarmu dia berani memasuki kediaman,
sudah aku pastikan dia akan babak belur untuk yang kedua kalinya” jawab Dalbert
bersemanagat. Dia pasti akan memberikan pelajaran pada lelaki itu.
“ tapi sekarang dia sudah
berubah, Axton membuat lelaki itu sadar” Ai mengatakan dengan datar. Entah apa
yang dimiliki oleh suaminya, semua orang rasanya begitu penurut dan tidak mau
membantah apapun yang lelaki itu katakan. Sama halnya dengan dirinya, dia juga
sulit sekali mengelak atau membantah perkataan suaminya.
“ tetap saja, aku akan
memberinya pelajaran jika bertemu nanti” Dalbert tidak akan melepaskan Hardwin
dengan mudah. Meski dia sudah berubah tapi perbuatannya masih sangat jelas
dalam ingatan.
“ kau perhatian sekali
denganku” Ai sedikit menggoda kakaknya.
“ karena kau seorang
Duchess, jika bukan mana mau aku menunjukkan muka” jawab Dalbert acuh, lelaki
itu tertawa senang kemudian pergi meninggalkan Ai yang terdiam mencerna ucapan kakaknya barusan.
“ dasar penjilat” ucap Ai
keras. Meski sebenarnya Ai tau jika itu hanyalah gurauan semata. Kakaknya
memang sangat menyanyanginya sejak kecil. Ai tersenyum senang kemudian pergi
mengikuti kakakanya.
Sedangkan didalam ruangan
paman Al yang mendengar merasa lega, ternyata Duke sudah memberikan pelajaran
yang bagus pada Hardwin. Meski dia tidak ikut memukul rasanya Allard puas
mendengar Hardwin babak belur karena Duke. Dia tau betul bagaimana kerasnya
pukulan lelaki itu. Hardwin pasti mengingatnya dengan baik.