
Hari mulai berganti sore,
sebuah kereta kuda berhenti di pinggir jalan sejak beberapa saat lalu. mereka sedang menunggu kedatangan seseorang
melewati jalan tersebut.
“ apa anda yakin dia akan
lewat jalan ini?” tanya seorang wanita muda kepada wanita paruh baya.
“ iya Duchess, mereka
pasti mempergunakan jalan ini. Ini adalah jalur yang biasa di lalui pasukan
manapun” jawab nyonya Halbert.
Didalam kereta itu hanya
ada mereka, Masy tidak di izinkan ikut meski dengan sedikit paksaan. Pasalnya
wanita itu mau memberikan sedikit ancaman kepada Hardwin agar tidak mengulang
kesalahan, namun dengan tegas ditolak oleh ibunya. Siapapun tidak boleh tau
keterlibatannya atas rencana kaburnya Duchess. Alhasil Masy mengalah dan
menuruti perintah sang ibu.
Ai sudah membawa sedikit
pelengkapan, tentu saja dia menyamar dengan menggunakan pakaian lelaki
bangsawan dengan topi yang menutupi rambutnya. Tak lupa sebuah kuda yang sudah
di siapkan kediaman Halbert untuk dijadikan tunggangan Duchess.
Tempat mereka berada di
luar ibukota, maka tidak sulit untuk mereka mengejar pasukan Hardwin yang jelas
belum melewati tempat persembunyian Ai.
Samar-samar suara kaki
kuda terdengar, dan inilah saatnya. Ketika yang mereka tunggu akhirnya datang.
Pasukan Hardwin terlihat semakin mendekati kereta mereka. nyonya Halbert segera
turun dan mendekati jalan. Dia sendiri yang akan memberitakan keikutsertaan
Duchess dalam perjalanan mereka.
“ nyonya Halbert” Hardwin
segera menarik tali kekang untuk menghentikan kudanya. Lelaki itu kemudian
turun saat nyonya Halbert memberikan kode ingin bicara dengannya.
“ aku memiliki seseorang
yang ingin bertemu denganmu” ucap nyonya Halbert
Hardwin mengerutkan
keningnya, siapa seseorang yang di maksudkan nyonya Halbert, baru saja ingin
bertanya wanita itu sudah berjalan di depannya, seolah menyuruhnya agar
mengikutinya untuk bertemu dengan seseorang itu.
Begitu sampai di kereta,
Ai yang sudah menunggu di samping kuda, segera membalikkan tubuhnya. Semua
terasa cepat bagi Hardwin, dia tidak menyangka dengan apa yang dia lihat.
Wanita yang beberapa hari memenuhi pikirannya kini berada di depannya dengan
penampilan yang sangat berbeda.
Hardwin segera berjalan
cepat untuk lebih dekat dengan Ai. lelaki itu ternyata khawatir bila ada orang
lain yang melihat kehadiran Ai.
“ kau kemana saja?”
Hardwin langsung saja bertanya.
“ tidak penting aku pergi
kemana, aku dengar kau menuju perbatasan. Aku akan ikut denganmu” Ai tanpa
basa-basi segera mengatakan apa niatnya menemui Hardwin.
“ kau ke perbatasan?,
tidak. Aku tidak mau” Hardwin jelas saja langsung menolak. Dia sudah dari awal
tidak mau jika wanita ini terluka di sana.
“ lalu kau ingin aku
tertangkap dan ditahan?” Ai mencoba memprovokasi Hardwin. Dia akan terus
memaksa dan mendesaknya dengan berbagai cara.
“ tidak, tidak, tidak.
Kau tetap dalam persembunyianmu. Disana kau akan jauh lebih aman” Hardwin
terlihat begitu emosinal. Dirinya tidak mau membawa wanita itu semakin dekat
dengan bahaya. Tidak.
“ baiklah, aku akan tetap
ke perbatasan, dengan atau tidak bersamamu” Ai sungguh keras kepala. Namun dari
perkataanya sedikit membuat takut Hardwin.
Baru satu langkah Ai
meninggalkan Hardwin, lelaki itu seakan kepanasan. Bagaimana tidak, Ai sudah
bertekad ke perbatasan sendirian dan tentu akan beresiko.
“ baiklah!!” Hardwin
berteriak marah. Lelaki itu akhirnya menyetujui keingian Ai dengan terpaksa. Ai
yang mendengarnya menarik sudut bibirnya. Dia puas dengan pencapainya.
“ tapi kau harus tetap
dalam pengawasanku” lanjut Hardwin kemudian kembali ke kudanya. Begitupun dengan
Ai, wanita itu menuju kudanya juga.
tidak mengetahui siapa orang yang tiba-tiba saja bergabung di barisan depan. Mereka
menduga itu adalah lelaki bangsawan kenalan komandan.
Sedang lainnya yang
mengetahui, mereka tidak ambil pusing. Duchess memang sudah menjadi tanggung
jawab mereka. mereka berasal dari Barack milik Duke dan tentu saja tugas mereka
adalah menjaga keselamatan keluarga Wellington.
Perjalanan terasa lebih
berbeda bagi Hardwin. Lelaki itu sedikit gusar dan senang. Dia bisa bertemu
lagi dengan Ai dan kini berada di sampingnya. Namun tujuan perjalanan inilah
yang menjadi beban bagi lelaki itu. Dia tidak percaya bahwa dirinya sendiri
yang mengatar Ai ke perbatasan.
Hari berganti hari,
perjalanan putra mahkota Sea ke ibukota
tinggal sedikit lagi. Setelah mendengar perbatasan jatuh lelaki itu langsung
menuju ke kerajaan. Dia sedang merencakana sesuatu yang besar, dan kini
langkahnya semakin dekat dengan tujuannya itu.
“ kita bisa beristirahat
disini dulu” ucap Sea saat memasuki kota terdekat dari ibukota. Waktu sudah
masuk malam dan dia ingin beristirahat dengan nyaman di kota.
Akhirnya di salah satu
kedai mewah, putra mahkota berhenti untuk makan malam, sedangkan bawahannya
mencari penginapan mewah. Lelaki harus tetap menyembunyikan dirinya agar orang
lain tidak mengetahui perjalananya. Hanya orang-orangnya saja yang mengetahui
hal ini, hanya saja di kota ini hanya sedikit orang yang menjadi anak buahnya. Jadi
sebisa mungkin menyembunyikan identitas.
Siapa yang menyangka,
malam ini pasukan Hardwin juga sampai di
kota yang sama dengan putra mahkota. Lelaki itu tidak mau memaksa perjalanan
karena ada anggota baru wanita yang baru bergabung. Alhasil mereka mencari
tanah lapang perbatasan kota untuk beristirahat, sedang dirinya masuk ke kota
untuk mencari makanan layak makan untuk sekelas Duchess. Sekaligus membeli
tambahan beberapa perbekalan.
“ kau mau kemana? “ Ai
bertanya saat Hardwin memisahkan diri dari pasukan.
“ aku akan masuk ke kota”
jawab Hardwin singkat.
“ aku ikut” Ai tidak
nyaman bila harus berdiam diri tanpa siapapun yang dia kenal di pasukan ini. Dan
Hardwin menangkap rasa tidak nyaman itu akhirnya mengangguk. Setidaknya dia
bisa lebih dekat dengan Ai. sudah lama sekali mereka tidak keluar bersama
seperti saat dulu sebelum Ai menikah.
Tanpa berfikir panjang
mereka segera meninggalkan pasukan dan berkuda memasuki kota. Sampai pandangan
mereka menemukan sebuah kedai yang satu-satunya masih buka. Akhirnya lelaki itu
berhenti.
“ kita makan dulu” ucap
Hardwin. Lelaki itu memang tidak mengatakan niatnya pada Ai dari awal, akhirnya
mereka turun dan memasuki kedai.
Makan malam terasa
lancar, sampai seorang lelaki mendekati meja mereka.
“ tuan muda Kleiner,
tidak meyangka bisa bertemu dengan anda disini” lelaki itu membuat jantung
Hardwin terasa berdegup kencang. Hardwin berhadapan dengan seseorang yang
selama ini menjadi biang masalah dirinya.
“ putra mahkota Sea,
sedang apa yang mulia disini?”gantian Hardwin yang bertanya.
Ai diam membeku, untung
saja posisinya sedikit membelakangi Sea. Belum lagi topinya yang masih bertengger
dikepala membuat wajahnya sedikit tertutupi.
“ ya, memeriksa kehidupan Rakyat” jawab Sea sombong. Jelas dia
tidak mungkin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
“ ini, siapa?” pandangan
Sea beralih pada sosok lelaki yang masih duduk padahal di depannya ada putra
mahkota Bavaria. Jelas ini tidak mencerminkan etika yang baik.
“ ah ini kenalan saya”
jawab Hardwin singkat, Ai yang tau bahwa dirinya menjadi bahan pembicaraan akhirnya berbiri
dengan masih menunduk.
“ ah, maaf dia sedikit
mengalami kemalangan. Lelaki ini bisu “ lanjut Hardwin