The New Duchess

The New Duchess
Bab 93 : Menuju



Hari mulai berganti sore,


sebuah kereta kuda berhenti di pinggir jalan sejak beberapa saat lalu.  mereka sedang menunggu kedatangan seseorang


melewati jalan tersebut.


“ apa anda yakin dia akan


lewat jalan ini?” tanya seorang wanita muda kepada wanita paruh baya.


“ iya Duchess, mereka


pasti mempergunakan jalan ini. Ini adalah jalur yang biasa di lalui pasukan


manapun” jawab nyonya Halbert.


Didalam kereta itu hanya


ada mereka, Masy tidak di izinkan ikut meski dengan sedikit paksaan. Pasalnya


wanita itu mau memberikan sedikit ancaman kepada Hardwin agar tidak mengulang


kesalahan, namun dengan tegas ditolak oleh ibunya. Siapapun tidak boleh tau


keterlibatannya atas rencana kaburnya Duchess. Alhasil Masy mengalah dan


menuruti perintah sang ibu.


Ai sudah membawa sedikit


pelengkapan, tentu saja dia menyamar dengan menggunakan pakaian lelaki


bangsawan dengan topi yang menutupi rambutnya. Tak lupa sebuah kuda yang sudah


di siapkan kediaman Halbert untuk dijadikan tunggangan Duchess.


Tempat mereka berada di


luar ibukota, maka tidak sulit untuk mereka mengejar pasukan Hardwin yang jelas


belum melewati tempat persembunyian Ai.


Samar-samar suara kaki


kuda terdengar, dan inilah saatnya. Ketika yang mereka tunggu akhirnya datang.


Pasukan Hardwin terlihat semakin mendekati kereta mereka. nyonya Halbert segera


turun dan mendekati jalan. Dia sendiri yang akan memberitakan keikutsertaan


Duchess dalam perjalanan mereka.


“ nyonya Halbert” Hardwin


segera menarik tali kekang untuk menghentikan kudanya. Lelaki itu kemudian


turun saat nyonya Halbert memberikan kode ingin bicara dengannya.


“ aku memiliki seseorang


yang ingin bertemu denganmu” ucap nyonya Halbert


Hardwin mengerutkan


keningnya, siapa seseorang yang di maksudkan nyonya Halbert, baru saja ingin


bertanya wanita itu sudah berjalan di depannya, seolah menyuruhnya agar


mengikutinya untuk bertemu dengan seseorang itu.


Begitu sampai di kereta,


Ai yang sudah menunggu di samping kuda, segera membalikkan tubuhnya. Semua


terasa cepat bagi Hardwin, dia tidak menyangka dengan apa yang dia lihat.


Wanita yang beberapa hari memenuhi pikirannya kini berada di depannya dengan


penampilan yang sangat berbeda.


Hardwin segera berjalan


cepat untuk lebih dekat dengan Ai. lelaki itu ternyata khawatir bila ada orang


lain yang melihat kehadiran Ai.


“ kau kemana saja?”


Hardwin langsung saja bertanya.


“ tidak penting aku pergi


kemana, aku dengar kau menuju perbatasan. Aku akan ikut denganmu” Ai tanpa


basa-basi segera mengatakan apa niatnya menemui Hardwin.


“ kau ke perbatasan?,


tidak. Aku tidak mau” Hardwin jelas saja langsung menolak. Dia sudah dari awal


tidak mau jika wanita ini terluka di sana.


“ lalu kau ingin aku


tertangkap dan ditahan?” Ai mencoba memprovokasi Hardwin. Dia akan terus


memaksa dan mendesaknya dengan berbagai cara.


“ tidak, tidak, tidak.


Kau tetap dalam persembunyianmu. Disana kau akan jauh lebih aman” Hardwin


terlihat begitu emosinal. Dirinya tidak mau membawa wanita itu semakin dekat


dengan bahaya. Tidak.


“ baiklah, aku akan tetap


ke perbatasan, dengan atau tidak bersamamu” Ai sungguh keras kepala. Namun dari


perkataanya sedikit membuat takut Hardwin.


Baru satu langkah Ai


meninggalkan Hardwin, lelaki itu seakan kepanasan. Bagaimana tidak, Ai sudah


bertekad ke perbatasan sendirian dan tentu akan beresiko.


“ baiklah!!” Hardwin


berteriak marah. Lelaki itu akhirnya menyetujui keingian Ai dengan terpaksa. Ai


yang mendengarnya menarik sudut bibirnya. Dia puas dengan pencapainya.


“ tapi kau harus tetap


dalam pengawasanku” lanjut Hardwin kemudian kembali ke kudanya. Begitupun dengan


Ai, wanita itu menuju kudanya juga.


tidak mengetahui siapa orang yang tiba-tiba saja bergabung di barisan depan. Mereka


menduga itu adalah lelaki bangsawan kenalan komandan.


Sedang lainnya yang


mengetahui, mereka tidak ambil pusing. Duchess memang sudah menjadi tanggung


jawab mereka. mereka berasal dari Barack milik Duke dan tentu saja tugas mereka


adalah menjaga keselamatan keluarga Wellington.


Perjalanan terasa lebih


berbeda bagi Hardwin. Lelaki itu sedikit gusar dan senang. Dia bisa bertemu


lagi dengan Ai dan kini berada di sampingnya. Namun tujuan perjalanan inilah


yang menjadi beban bagi lelaki itu. Dia tidak percaya bahwa dirinya sendiri


yang mengatar Ai ke perbatasan.


Hari berganti hari,


perjalanan putra  mahkota Sea ke ibukota


tinggal sedikit lagi. Setelah mendengar perbatasan jatuh lelaki itu langsung


menuju ke kerajaan. Dia sedang merencakana sesuatu yang besar, dan kini


langkahnya semakin dekat dengan tujuannya itu.


“ kita bisa beristirahat


disini dulu” ucap Sea saat memasuki kota terdekat dari ibukota. Waktu sudah


masuk malam dan dia ingin beristirahat dengan nyaman di kota.


Akhirnya di salah satu


kedai mewah, putra mahkota berhenti untuk makan malam, sedangkan bawahannya


mencari penginapan mewah. Lelaki harus tetap menyembunyikan dirinya agar orang


lain tidak mengetahui perjalananya. Hanya orang-orangnya saja yang mengetahui


hal ini, hanya saja di kota ini hanya sedikit orang yang menjadi anak buahnya. Jadi


sebisa mungkin menyembunyikan identitas.


Siapa yang menyangka,


malam ini pasukan Hardwin juga sampai  di


kota yang sama dengan putra mahkota. Lelaki itu tidak mau memaksa perjalanan


karena ada anggota baru wanita yang baru bergabung. Alhasil mereka mencari


tanah lapang perbatasan kota untuk beristirahat, sedang dirinya masuk ke kota


untuk mencari makanan layak makan untuk sekelas Duchess. Sekaligus membeli


tambahan beberapa perbekalan.


“ kau mau kemana? “ Ai


bertanya saat Hardwin memisahkan diri dari pasukan.


“ aku akan masuk ke kota”


jawab Hardwin singkat.


“ aku ikut” Ai tidak


nyaman bila harus berdiam diri tanpa siapapun yang dia kenal di pasukan ini. Dan


Hardwin menangkap rasa tidak nyaman itu akhirnya mengangguk. Setidaknya dia


bisa lebih dekat dengan Ai. sudah lama sekali mereka tidak keluar bersama


seperti saat dulu sebelum Ai menikah.


Tanpa berfikir panjang


mereka segera meninggalkan pasukan dan berkuda memasuki kota. Sampai pandangan


mereka menemukan sebuah kedai yang satu-satunya masih buka. Akhirnya lelaki itu


berhenti.


“ kita makan dulu” ucap


Hardwin. Lelaki itu memang tidak mengatakan niatnya pada Ai dari awal, akhirnya


mereka turun dan memasuki kedai.


Makan malam terasa


lancar, sampai seorang lelaki mendekati meja mereka.


“ tuan muda Kleiner,


tidak meyangka bisa bertemu dengan anda disini” lelaki itu membuat jantung


Hardwin terasa berdegup kencang. Hardwin berhadapan dengan seseorang yang


selama ini menjadi biang masalah dirinya.


“ putra mahkota Sea,


sedang apa yang mulia disini?”gantian Hardwin yang bertanya.


Ai diam membeku, untung


saja posisinya sedikit membelakangi Sea. Belum lagi topinya yang masih bertengger


dikepala membuat wajahnya sedikit tertutupi.


“ ya, memeriksa  kehidupan Rakyat” jawab Sea sombong. Jelas dia


tidak mungkin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


“ ini, siapa?” pandangan


Sea beralih pada sosok lelaki yang masih duduk padahal di depannya ada putra


mahkota Bavaria. Jelas ini tidak mencerminkan etika yang baik.


“ ah ini kenalan saya”


jawab Hardwin singkat, Ai yang tau bahwa dirinya  menjadi bahan pembicaraan akhirnya berbiri


dengan masih menunduk.


“ ah, maaf dia sedikit


mengalami kemalangan. Lelaki ini bisu “ lanjut Hardwin