
Malam hari di meja makan keluarga Bohmen terasa begitu
ramai. Ai yang tidak berhenti bercerita dengan Dalbert yang selalu menyahuti.
Suasana yang sudah lama tidak terjadi disana. Baik Al dan Amber terlihat begitu
senang.
“ paman, besok Ai
berencana mau mengunjungi Masy. Bisakan paman meminjamkan kereta kuda padaku?”
Ai sangat berhati-hati mengatakannya. dia harus bisa membuat pamannya mau
mengabulkan permintaanya. Dia tidak mau tinggal disini lebih lama, setidaknya
saat di ibukota dirinya bisa membantu suaminya.
“ Masy? Anak Halbert?”
paman Al mulai mengingat siapa yang Ai maksud.
“ iya paman, Ai akan
tinggal di pondok perbatasan seperti waktu itu” Ai terus merayu pamannya.
“ kamu kan masih menjadi
buronan ibukota, lebih baik disini saja” paman Al mulai menujukkan penolakan
terhadap ide Ai.
“ justru jika Ai disini
malah akan semakin mudah ditemukan. Disana lebih aman dan tersembunyi” Ai terus
memberikan alasan-alasan yang dia yakin lebih masuk akal.
Paman Al terdiam sambil
memikirkan baik buruknya. Memang apa
yang ponakannya katakan adalah benar. Namun letaknya malah semakin dekat dengan
ibukota. Lelaki itu khawatir jika Ai tertangkap disana.
“ jika tidak, biarkan
Dalbert menemaniku. Setelah beberapa hari Ai akan kembali kemari” Ai mencoba
memberikan janji-janji palsu. Dia harus bisa keluar dari sini mau bagaimanapun
caranya.
Paman Al masih terdiam,
dia menatap istrinya sejenak. Wanita itu tidak mempermasalahkan. Sedangkan
Dalbert memilih diam saja. Dia sudah mengira jika Ai pasti akan berusaha pergi
dari sini.
“ ayolah paman, ya. “ Ai
terus merengek agar permintaanya diizinkan.
“ baiklah, kau harus
janji untuk kembali dalam waktu dekat. Dan Dalbert akan menemanimu” ucap Allard
final. Mendengar ucapan pamannya, Ai langsung tersenyum senang, dia akan
memanfaatkan hal ini dengan baik.
“ terimakasih paman, Ai
berjanji” jawab Ai cepat. Wanita itu tersenyum dengan lebar.
Selepas makan malam Ai
segera mempersiapkan diri untuk pergi besok harinya. Dia hanya membawa
barang-barang biasa. Dan tentu saja sebuah pistol beserta pelurunya serta
beeberapa jenis senjata dengan ukuran yang lebih kecil.
Pagi menjelang sesuai
dengan kesepakatan mereka, Ai dan Dalbert langsung berangkat menggunakan kereta
menuju perbatasan ibukota. Hal ini dilakukan agar kehadiran Ai tersembunyi.
Bagaimanapun jika menggunakan kereta kuda mereka hanya perlu menyiapkan
identitas untuk di bawa kusir. tidak semua orang bisa dengan mudah melihat
bagian dalam dari kereta.
“ kalian jaga diri
disana, jangan lupa segera kembali” ucap paman Al melepas kepergian anak dan
keponakannya.
“ ya paman, kalian juga
jaga diri” Ai membalas dengan melambaikan tangan.
Kereta kuda mulai berjalan
keluar dari kediaman. Didalam Ai dan Dalbert masih membuka jendela sambil
menatap paman Al dan bibi Amber yang masih berdiri di teras kediaman.
“ kau berencana masuk ibu
kota kan?” tanya Dalbert begitu mereka sudah menjauhi kediaman dan jendela
sudah tertutup rapat.
“ memangnya kenapa? Ingin
mencegahku?” bukannya menyembunyikan rencananya, Ai malah seolah menantang
balik sang kakak.
“ kenapa kau ingin
kesana?”Dalbert malah balik bertanya. Bukannya tidak menyetujui, lelaki itu
ingin mengetahui sebenarnya apa yang di fikirkan adiknya itu.
“ aku hanya ingin
memastikan jika Axton benar-benar akan baik-baik saja” jawab Ai asal. Dia
sendiri juga tidak mengerti dengan kehawatirannya. Selama ini firasatnya lebih
banyak benar. Jadi dia hanya mengikuti kata hati saja.
kota sekarang?” Dalbert bertanya dengan serius, jangan-jangan adiknya asal nekat
tanpa ada rencana apapun.
“ bagaimana kondisinya?”
Ai balik bertanya.
“ raja sedang sakit dan
semua urusan pemerintahan dipegang langsung oleh putra mahkota, bahkan gerbang
masuk ibukota saja di blockade” Dalbert
memberikan info agar adiknya ini tidak gegabah. Jika memang memaksa masuk
setidaknya adiknya ini sudah tau benar bagaimana situasinya.
“ aku hanya
mengertahuinya sekilas, kau ingin membantuku masuk?” wanita itu menarik Dalbert
agar mau ikut dalam rencananya.
“ kenapa kau begitu ingin
masuk dalam bahaya?” Dalbert masih belum memahami alasan kenapa mereka harus
masuk ke ibukota padahal Duke sudah menyuruhnya tinggal.
Ai tidak mungkin
mengatakan jika sebenarnya dia ingin memastikan bahwa bukan suaminya yang akan
meninggal nanti. Wanita itu ingat betul bahwa dalam kehidupan lalu saat ulang
tahun pernikahan mereka dialah yang mati, dan dalam kehidupan sekarang beberapa
kejadian masih tetap ada, jika benar begitu saat ulang tahun pernikahan mereka
pasti akan ada yang meninggal. Entah siapapun itu. Dan ulang tahun
pernikahannya tinggal satu bulan lagi.
Perjalan ke ibukota sudah
menghabiskan waktu setengah bulan, Ai tidak akan tinggal diam sampai hari itu
bisa terlewati dengan suaminya yang baik-baik saja. Ai hanya ingin memastikan
hal itu, namun tidak mungkin dia menceritakan semuanya pada Dalbert.
“ Ai?” wanita itu hanyut
dalam lamunan, dia tetap diam sambil menatap kakaknya sendu.
“ aku tak bisa
mengatakannya” jawab Ai lemah. Kali ini saja bisakah kakaknya hanya mempercayai
firasatnya.
Mendengar jawaban Ai yang
terlihat sedih, Dalbert tidak bisa memaksa. Dia mencoba mengerti kesulitan dan
privasi adiknya. Akhirnya lelaki itu mengangguk singkat sebagai jawaban. Dia
tidak akan bertanya lebih jauh lagi, jelas ini adalah rahasia yang adiknya
sendiri tau. Dalbert akan memahami sebisanya.
Disisi lain pasukan
Kleiner dan Aidyn sudah semakin dekat dengan ibukota. Mereka sudah bersiap jika
mungkin ketidakhadiran pangeran disana akan membuat mereka berurusan dengan
pasukan kerajaan.
“ lebih baik kita
mengulur waktu sampai menerima kabar dari Duke” saran dari Hardwin. Lelaki
berfikir jika jalur yang Duke dan pangeran lewati akan membuat perjalanan
mereka sedikit lebih lama.
“ bagaimana jika saat
menerima kabar ternyata pasukan mereka sudah masuk ke dalam istana?” tuan
Kleiner juga memiliki pemikiran lain. Perjalanan kabar sampai bisa ke mereka
juga memerlukan waktu, apa mereka bisa mengimbangi dengan perjalanan mereka
nanti.
“ jika mereka sampai
lebih dahulu tidak juga menimbulkan masalah daripada rencana kita yang
terbongkar lebih dahulu, ayah” Hardwin berusaha berfikir secara menyeluruh.
Jika sampai penyamaran mereka terbongkar sebelum pasukan Duke masuk kedalam,
keamanan istana akan semakin di
perketat. Peluang masuk semakin tipis.
“ iya juga, baiklah, kita
akan menunggu kabar selanjutnya” final, Aidyn mengikuti kesimpulan anaknya. Dia
akan menunggu mata-mata mereka menerima kabar terbaru. Mereka akan memperlambat
perjalanan sembari memeriksa keadaan didalam ibukota.
Pasukan tidak lagi
berjalan saat malam dan pagi hari. mereka menerapkan jadwal rakyat biasa.
Perjalanan hanya dilakukan saat pagi saja, sore sampai malam mereka akan
beristirahat. Hal ini semakin mempertipis rasa curiga masyarakat.
Jangan lupakan jika putra
mahkota Sea memiliki banyak sekali mata-mata yang tersebar di penjuru Bavaria,
Hardwin dan Kleiner sudah sempat diingatkan Duke agar tidak melakukan hal yang
mencurigakan. Mereka harus terlihat selayaknya rombongan kerajaan yang
mengantar pangeran. Tidak boleh ada aktivitas pasukan yang illegal maupun
berlebihan. Mereka tidak tau saat kapan dan dimana mereka diawasi mata-mata.