The New Duchess

The New Duchess
Bab 129 : Rencana Mandiri



Malam hari  di meja makan keluarga Bohmen terasa begitu


ramai. Ai yang tidak berhenti bercerita dengan Dalbert yang selalu menyahuti.


Suasana yang sudah lama tidak terjadi disana. Baik Al dan Amber terlihat begitu


senang.


“ paman, besok Ai


berencana mau mengunjungi Masy. Bisakan paman meminjamkan kereta kuda padaku?”


Ai sangat berhati-hati mengatakannya. dia harus bisa membuat pamannya mau


mengabulkan permintaanya. Dia tidak mau tinggal disini lebih lama, setidaknya


saat di ibukota dirinya bisa membantu suaminya.


“ Masy? Anak Halbert?”


paman Al mulai mengingat siapa yang Ai maksud.


“ iya paman, Ai akan


tinggal di pondok perbatasan seperti waktu itu” Ai terus merayu pamannya.


“ kamu kan masih menjadi


buronan ibukota, lebih baik disini saja” paman Al mulai menujukkan penolakan


terhadap ide Ai.


“ justru jika Ai disini


malah akan semakin mudah ditemukan. Disana lebih aman dan tersembunyi” Ai terus


memberikan alasan-alasan yang dia yakin lebih masuk akal.


Paman Al terdiam sambil


memikirkan baik buruknya.  Memang apa


yang ponakannya katakan adalah benar. Namun letaknya malah semakin dekat dengan


ibukota. Lelaki itu khawatir jika Ai tertangkap disana.


“ jika tidak, biarkan


Dalbert menemaniku. Setelah beberapa hari Ai akan kembali kemari” Ai mencoba


memberikan janji-janji palsu. Dia harus bisa keluar dari sini mau bagaimanapun


caranya.


Paman Al masih terdiam,


dia menatap istrinya sejenak. Wanita itu tidak mempermasalahkan. Sedangkan


Dalbert memilih diam saja. Dia sudah mengira jika Ai pasti akan berusaha pergi


dari sini.


“ ayolah paman, ya. “ Ai


terus merengek agar permintaanya diizinkan.


“ baiklah, kau harus


janji untuk kembali dalam waktu dekat. Dan Dalbert akan menemanimu” ucap Allard


final. Mendengar ucapan pamannya, Ai langsung tersenyum senang, dia akan


memanfaatkan hal ini dengan baik.


“ terimakasih paman, Ai


berjanji” jawab Ai cepat. Wanita itu tersenyum dengan lebar.


Selepas makan malam Ai


segera mempersiapkan diri untuk pergi besok harinya. Dia hanya membawa


barang-barang biasa. Dan tentu saja sebuah pistol beserta pelurunya serta


beeberapa jenis senjata dengan ukuran yang lebih kecil.


Pagi menjelang sesuai


dengan kesepakatan mereka, Ai dan Dalbert langsung berangkat menggunakan kereta


menuju perbatasan ibukota. Hal ini dilakukan agar kehadiran Ai tersembunyi.


Bagaimanapun jika menggunakan kereta kuda mereka hanya perlu menyiapkan


identitas untuk di bawa kusir. tidak semua orang bisa dengan mudah melihat


bagian dalam dari kereta.


“ kalian jaga diri


disana, jangan lupa segera kembali” ucap paman Al melepas kepergian anak dan


keponakannya.


“ ya paman, kalian juga


jaga diri” Ai membalas dengan melambaikan tangan.


Kereta kuda mulai berjalan


keluar dari kediaman. Didalam Ai dan Dalbert masih membuka jendela sambil


menatap paman Al dan bibi Amber yang masih berdiri di teras kediaman.


“ kau berencana masuk ibu


kota kan?” tanya Dalbert begitu mereka sudah menjauhi kediaman dan jendela


sudah tertutup rapat.


“ memangnya kenapa? Ingin


mencegahku?” bukannya menyembunyikan rencananya, Ai malah seolah menantang


balik sang kakak.


“ kenapa kau ingin


kesana?”Dalbert malah balik bertanya. Bukannya tidak menyetujui, lelaki itu


ingin mengetahui sebenarnya apa yang di fikirkan adiknya itu.


“ aku hanya ingin


memastikan jika Axton benar-benar akan baik-baik saja” jawab Ai asal. Dia


sendiri juga tidak mengerti dengan kehawatirannya. Selama ini firasatnya lebih


banyak benar. Jadi dia hanya mengikuti kata hati saja.


kota sekarang?” Dalbert bertanya dengan serius, jangan-jangan adiknya asal nekat


tanpa ada rencana apapun.


“ bagaimana kondisinya?”


Ai balik bertanya.


“ raja sedang sakit dan


semua urusan pemerintahan dipegang langsung oleh putra mahkota, bahkan gerbang


masuk ibukota saja di blockade”  Dalbert


memberikan info agar adiknya ini tidak gegabah. Jika memang memaksa masuk


setidaknya adiknya ini sudah tau benar bagaimana situasinya.


“ aku hanya


mengertahuinya sekilas, kau ingin membantuku masuk?” wanita itu menarik Dalbert


agar mau ikut dalam rencananya.


“ kenapa kau begitu ingin


masuk dalam bahaya?” Dalbert masih belum memahami alasan kenapa mereka harus


masuk ke ibukota padahal Duke sudah menyuruhnya tinggal.


Ai tidak mungkin


mengatakan jika sebenarnya dia ingin memastikan bahwa bukan suaminya yang akan


meninggal nanti. Wanita itu ingat betul bahwa dalam kehidupan lalu saat ulang


tahun pernikahan mereka dialah yang mati, dan dalam kehidupan sekarang beberapa


kejadian masih tetap ada, jika benar begitu saat ulang tahun pernikahan mereka


pasti akan ada yang meninggal. Entah siapapun itu. Dan ulang tahun


pernikahannya tinggal satu bulan lagi.


Perjalan ke ibukota sudah


menghabiskan waktu setengah bulan, Ai tidak akan tinggal diam sampai hari itu


bisa terlewati dengan suaminya yang baik-baik saja. Ai hanya ingin memastikan


hal itu, namun tidak mungkin dia menceritakan semuanya pada Dalbert.


“ Ai?” wanita itu hanyut


dalam lamunan, dia tetap diam sambil menatap kakaknya sendu.


“ aku tak bisa


mengatakannya” jawab Ai lemah. Kali ini saja bisakah kakaknya hanya mempercayai


firasatnya.


Mendengar jawaban Ai yang


terlihat sedih, Dalbert tidak bisa memaksa. Dia mencoba mengerti kesulitan dan


privasi adiknya. Akhirnya lelaki itu mengangguk singkat sebagai jawaban. Dia


tidak akan bertanya lebih jauh lagi, jelas ini adalah rahasia yang adiknya


sendiri tau. Dalbert akan memahami sebisanya.


Disisi lain pasukan


Kleiner dan Aidyn sudah semakin dekat dengan ibukota. Mereka sudah bersiap jika


mungkin ketidakhadiran pangeran disana akan membuat mereka berurusan dengan


pasukan kerajaan.


“ lebih baik kita


mengulur waktu sampai menerima kabar dari Duke” saran dari Hardwin. Lelaki


berfikir jika jalur yang Duke dan pangeran lewati akan membuat perjalanan


mereka sedikit lebih lama.


“ bagaimana jika saat


menerima kabar ternyata pasukan mereka sudah masuk ke dalam istana?” tuan


Kleiner juga memiliki pemikiran lain. Perjalanan kabar sampai bisa ke mereka


juga memerlukan waktu, apa mereka bisa mengimbangi dengan perjalanan mereka


nanti.


“ jika mereka sampai


lebih dahulu tidak juga menimbulkan masalah daripada rencana kita yang


terbongkar lebih dahulu, ayah” Hardwin berusaha berfikir secara menyeluruh.


Jika sampai penyamaran mereka terbongkar sebelum pasukan Duke masuk kedalam,


keamanan istana  akan semakin di


perketat. Peluang masuk semakin tipis.


“ iya juga, baiklah, kita


akan menunggu kabar selanjutnya” final, Aidyn mengikuti kesimpulan anaknya. Dia


akan menunggu mata-mata mereka menerima kabar terbaru. Mereka akan memperlambat


perjalanan sembari memeriksa keadaan didalam ibukota.


Pasukan tidak lagi


berjalan saat malam dan pagi hari. mereka menerapkan jadwal rakyat biasa.


Perjalanan hanya dilakukan saat pagi saja, sore sampai malam mereka akan


beristirahat. Hal ini semakin mempertipis rasa curiga masyarakat.


Jangan lupakan jika putra


mahkota Sea memiliki banyak sekali mata-mata yang tersebar di penjuru Bavaria,


Hardwin dan Kleiner sudah sempat diingatkan Duke agar tidak melakukan hal yang


mencurigakan. Mereka harus terlihat selayaknya rombongan kerajaan yang


mengantar pangeran. Tidak boleh ada aktivitas pasukan yang illegal maupun


berlebihan. Mereka tidak tau saat kapan dan dimana mereka diawasi mata-mata.