The New Duchess

The New Duchess
Bab 35 : Terjadi Lagi



Dengan segera Axton segera melangkah mendekat. Disana Ai masih nyenyak dalam ketidaksadaranya. Baru saja akan menggendong  istrinya, seorang lelaki keluar dari ruangan samping. Lelaki yang sejak awal kemunculanya begitu membuatnya cemburu. Kini perhatiannya teralih.  Kedua tangan Axton mengepal mendekati Hardwin. Sesuai dengan perkiraanya. Axton berhasil memberikan bogem mentah pada lelaki yang sudah lancang membaca istrinya.


“ jadi kau juga ikut campur?”  Axton berfikir jika Hardwin bersengkokol dengan Grace dalam rencana semalam.


Hardwin hanya tersenyum meremehkan, sambil menyentuh sudut bibirnya yang berdarah akibat pukulan. Lucu sekali jika mendengar kalimat itu dari mulut Axton.


“ kau naif sekali” balas Hardwin mencoba untuk berdiri.


“ setidaknya aku tidak mengemis pada cinta orang lain” Axton kemudian menggendong Ai. Istrinya begitu nyenyak terlelap, membuat Axton sedikit lega karena kehawatiran mendasarnya tidak terjadi.


“ The Prince, jangan pernah bawa Ai masuk kerajaan lagi” ucap Hardwin yang mengetahui sesuatu. Axton berhentai sejenak, mengerti maksud ucapan Hardwin namun karena tak ingin menanggapi segera saja keluar dari kamar.


Di ruang tamu sudah ada Marquess Aidyn serta istrinya, menatap kaget Axton yang turun menggendong seorang wanita.


“ Duke “ sapa Aidyn membuat Axton terdiam sejenak, kesempatan itu digunakan Daesy untuk melihat siapa wanita yang berada dalam gendongan Duke Wellington.


“ ku harap ini menjadi terkahir kalinya putra kalian berurusan denganku” ucap Axton dan segera keluar dari kediaman Kleiner. Brian mengekor di belakang tuannya memberikan salam terakhir pada pasangan suami istri yang merasa bersalah atas tingkah lancang putranya.


Di kereta Axton memangku istrinya, nafasnya mulai teratur seiring dengan kekhawatirannya yang menghilang. Ketakutannya tidak terjadi, dan itu membuat Axton bersyukur.


“ aku tidak akan bisa memaafkan diriku jika terjadi sesuatu yang buruk padamu” ucap Axton mengeratkan pelukannya. Sungguh Axton benar-benar takut kehilangan istrinya ini. Rasa yang sebelumnya tidak pernah sebesar ini pada istri-istri sebelumnya.


Mentari sudah mulai terik, Axton sudah membaringkan Ai di ranjang miliknya. Keputusan Axton kali ini benar-benar bulat. Kali ini saja dia ingin mendapatkan sesuatu yang seharusnya dia miliki. wanita yang terlelap inilah, yang menjadi keinginan terbesar Axton.


Milly hanya bisa menjaga dari luar kamar, semenjak datang Axton sama sekali tidak mau meninggalkan kamar. Khususnya meninggalkan tempat duduk disana, tak bosan memandangi wajah istrinya itu. Mengelus pipinya perlahan, kulit putih nan halus itu samar-samar membuat sudut bibir Axton terangkat. Dia bukan lelaki muda yang baru merasakan cinta, tapi saat ini perasaannya begitu senang dengan hanya menemani dan memandangi wajah tenang istrinya.


Perlahan kelopak mata itu bergerak, dan membuka. Axton semakin mendekat dan menggenggam tangan Ai. Membuat Ai langsung menatap Axton. Ingatannya mulai berputar saat Grace meninggalkannya di kamar tamu pesta. Begitupun dengan ketakutannya, Ai langsung menggenggam erat tangan Axton dan beranjak duduk.


“ Axton, dimana ini?” tanya Ai yang memang tidak mengenali kamar Axton. Ini menjadi tempat yang asing bagi Ainsley.


“ sstt, kita sudah di rumah” Axton mengelus kepala Ai lembut, membawanya dalam pelukan. Menenangkan istrinya setelah mengalami hal yang buruk.


“ syukurlah, aku sangat takut, Grace dia mencoba,,”


“ kita sudah aman, tenanglah. Jangan takut ada aku” kini tangan Axton berganti mengelus pelan punggung istrinya. Untung saja Ai segera membaik dan tenang. Pelukan itu berlangsung beberapa lama, Axton benar-benar memastikan jika istrinya sudah lebih baik.


“ aku akan menyuruh Mily kemari untuk membawakan makanan, kau tetaplah disini” Axton berpamitan keluar, Ai mengangguk pelan sebagai jawabannya.


Setelah memastikan Ai makan dan kini sudah tertidur kembali, Axton keluar menuju ruang kerjanya. Dia akan menuliskan surat, sepertinya keadaan akan sedikit terasa sulit. Axton membutuhkan bantuan seseorang. Kalimat Hardwin benar-benar mengganggu pikirannya, membangkitkan ketakutan jika kejadian yang sama terjadi pada istrinya yang sekarang.


“ semoga tidak terjadi lagi” guman Brian menuruni tangga.


Hari semakin siang, Grace yang sudah memakai gaun pemberian pelayan kerajaan berdiri di depan cermin, berniat segera meninggalkan kerajaan. Dia ingin segera pulang dan melupakan semua kejadian buruk yang menimpanya semalam. Dengan langkah mantap berjalan menuju pintu.


Srakk.. begitu pintu terbuka dua tombak silang menghalangi jalannya.


“ buka, saya sudah tidak ada urusan lagi disini” ucap Grace datar. Namun kedua penjaga itu tak bergeming. Pasalnya mereka sudah menerima perintah yang lebih tinggi.


“ cepat singkirkan senjata kalian” Grace mulai terpancing, amarah kembali mengambil alih dirinya.


“ anda tidak dizinkan keluar dari sini” jawab seorang penjaga datar bahkan tak menoleh ataupun melirik Grace.


“ tidak, aku ingin pergi darisini” Grae mendorong kedua tombak itu. Namun dengan cepat penjaga itu menahannya. Karena tingkah Grace yang mulai kasar, membuat penjaga itu tak punya pilihan selain mengangkat dan memasukkannya kembali ke dalam kamar. Segera menutup dan mengunci pintu.


“ tidakk” lirih Grace segera bangkit. Bukan ini yang  dia rencananya. Sea berhasil menipunya, Grace benar-benar tidak terima dengan kenyataan yang baru saja dia ketahui.


“ aakk,, brengseeekkk!” teriak Grace. Dia benar-benar sangat membenci lelaki kerajaan itu. Tak henti-hentinya menggedor pintu, berharap seseorang akan membawanya keluar.


“ kau bukan lagi orangnya, mulai sekarang kau menjadi milikku” ucapan itu tiba-tiba saja teringat oleh Grace, kalimat yang sebenarnya dia tidak yakin Sea mengatakanya. Semalam dirinya sudah terlalu fokus memberontak, tak peduli apapun yang lelaki itu ucapkan. Ternyata Sea benar-benar menjadikan dirinya sebagai mainan barunya.


Malam telah datang, Axton sedang membawakan makan malam untuk istrinya.


“ kenapa kau repot-repot membawanya kemari. Aku sudah baik-baik saja” ucap Ai yang melihat Axton masuk kamar dengan sedikit kerepotan dengan nampan makanan.


“ tak apa, lebih baik kita makan di sini” Axton sedang menata semua makanan di meja. Membuat Ai tertawa dan segera duduk di sofa.


“ kau terlalu berlebihan, sini aku akan makan di kamarku saja” mengambil nampan yang kosong dari tangan Axton.


“ mulai sekarang kita tidur di satu kamar. Tidak terpisah lagi” ucap Axton menatap Ai dalam. Istrinya terdiam tidak yakin dengan keputusan yang di ambil suaminya.


“ kenapa?” tanya Ai polos.


“ kita suami istri, lagi pula aku tidak mau terbangun dengan rasa khawatir. Jangan membantah, Mily sedang membereskan barang-barangmu” Axton mendekati Ai dan duduk di sebelahnya. Sedang Ai masih belum bisa mencerna ucapan suaminya, antara percaya dan tidak. Ini sangat mengagetkan.


“ disini? Kita tidur satu ranjang?” Ai sedang menyakinkan diri.


“ iya, sudah mari makan” entah Ai harus bagaimana, antara senang dan takut. Ini benar-benar tak pernah terlintas dalam pikirannya. Kehidupannya yang sekarang jauh lebih menyenangkan, apa tidak ada ganti dari perubahan yang terjadi. Itu yang Ai takutkan.