The New Duchess

The New Duchess
Bab 50: Anggur



Lelaki itu berjalan menuju ruang bawah tanah, dimana tempat anggur-anggur kediaman di simpan. Fikirannya sedang kacau dan butuh penenang. Sedangkan Ai, dia terdiam mematung. Tak memikirkan apapun. Sampai beberapa saat kemudian kekhawatiran menyerangnya tak kala mengingat barang penting yang dia temukan sebelumya. Segera saja mencari tas miliknya dan mencari apakah barang itu berada disana atau tidak.


“ huh, sepertinya memang tertinggal” lirih Ai tenang, setelah tau tas kecil yang berisi diary dan surat penting tak ada disana. Sangat bagus karena jika terbawa Ai juga bingung harus menyembunyikannya dimana.


“ semoga disana aman” lanjutnya berharap Masy bisa menjaga bukti penting miliknya.


Tok tok


Ai menoleh ke arah pintu, ada celah karena pintu tak tertutup rapat. Lelaki tua yang begitu Ai kenal berada di ambang pintu


“ paman? Kenapa ada disini?” Ai membuka pintu dan menyuruh pamannya masuk ke dalam. Namun Allard malah berjalan melewati kamar, seolah mengajak Ai untuk berganti tempat.


Ternyata Allard membawanya di ruang santai lantai 3, hanya ada sofa dan meja. Letakknya berada di pojok ruangan, dekat dengan kamar pertama Ai.


“ paman baru tiba beberapa hari yang lalu, setelah mengetahui bahwa kau tak ada di Barack” ucap Allard membuka pembicaraan. Ai kini mengerti alasan kenapa pamannya disini dan Axton berhasil menyadari keberadaanya.


“ Ai minta maaf, tidak bermaksud membuat paman khawatir” ucap Ai menyesal.


“ boleh paman tau apa alasanmu pergi secara diam-diam seperti ini?” paman Al menatap Ai dalam, nadanya tak ada kesan menuntut. Justru penuh kelembutan yang memang bermaksud agar Ai merasa nyaman dengan pertanyaanya.


Ai terdiam, bingung harus berkata darimana. Rasanya Ai takut mengatakan kebenaran ini, ada keraguan apakah pamannya akan mendukungnya atau tidak. Serta apakah pamannya ikut menyembunyikan hal ini atau tidak. Entahlah Ai seperti  sulit mempercayai seseorang sekarang.


“ beritahu paman, Ai” Allard kembali memancing keponakannya. Tangannya menyentuh tangan Ai pelan, seolah memberikan dukungan.


“ Ai akan mengatakan semuanya asal, paman juga jujur kepada Ai” sorot mata Ai penuh pengharapan menatap Allard. Malam ini Ai ingin semunya jelas tak ada yang di sembunyikan lagi darinya. Allard merasa jika keponakannya ini sudah mengetahui hal penting itu, membuat lelaki tua itu berfikir bahwa sekarang adalah waktunya membuka semuanya. Dengan pelan Allard mengangguk menjawab ucapan Ai.


“ apakah paman tau kebenaran dari kematian mendiang istri-istri Axton?” Ai mulai memberikan pertanyaan pertamanya. Allard mengangguk pelan.


“ apa itu alasanmu pergi diam-diam ke kota, mencari tahu penyebab kematian mereka?” gantian Allard yang bertanya. Ai mengangguk sebagai jawabannya. Allard sudah menduga, keponakannya benar mencurigai suaminya. Meski disayangkan kenapa Axton tak mengatakan sejujurnya, namun Allard hanya bisa menghormati keputusan Axton. Bagaimanapun Axton adalah lelaki yang penuh perhitungan, pasti ada alasan di balik sikapnya ini. Rumah tangga mereka tak bisa dicampuri sembarang orang.


“ kalau begitu kenapa paman begitu ingin Ai menikah dengan Axton?” pertanyaan ini sejak lama sudah mengganggu pikiran Ai, sekarang di waktu yang tepat Ai ingin mendengar alasannya secara langsung. Allard menarik diri menjadi bersandar. Tak lama menghembuskan nafas kasar sembari menoleh kearah jendela.


“  paman hanya ingin kau aman” jawab Allard yang sama sekali tidak dimengerti oleh Ai.


“ justru Ai malah masuk dalam bahaya, hanya menunggu waktu sampai kematian datang” ucap Ai sedikit terbawa emosi. Masih saja pamannya membicarakan hal yang sulit di mengerti seperti ini.


“ satu-satunya orang yang memiliki peluang terbanyak dalam menyelamatkanmu hanya Axton” lanjut Allard mencoba menjelaskan.


“ memangnya seberapa bahayanya hidup Ai paman? Sampai harus masuk dalam permasalahan ini” Ai tak mengerti, dirinya harus diselamatkan dari apa. Setahunya selama ini hidupnya baik-baik saja. Justru ketika menikah dengan Axton hidupnya malah menderita, bahkan sempat bunuh diri di masa lalu. Darimananya Axton menyelamatkan hidupnya. Ai tidak terima dengan perkataan pamannya yang dirasa sulit di buktikan.


Allard semakin kesulitan menjelaskannya kepada Ai, keponakanya masih berusia remaja yang terkadang labil dan impulsif. Takutnya dia akan bertindak gegabah jika mengetahui keseluruhan ceritanya. Allard tidak menyangka jika pembicaraanya dengan Ai akan sedalam ini.


“ Ai dengarkan paman, yang terpenting jangan ragukan suamimu lagi. Dia hanya berniat melindungimu. Saat ini hanya itu yang terbaik” paman Allard berniat pergi dengan dirinya yang beranjak berdiri.


“ apa paman lupa, dibalik kematian ayah dan ibuku juga ada keterlibatan kerajaan” tanya Ai dengan pandangan sinis kepada Allard.


“ dan sampai saat ini Axton tidak pernah menjadi anggota kerajaan” jawab Allard kemudian berlalu pergi. Perkataan pamannya memang ada benarnya. Kini dilema dalam diri Ai sedikit demi sedikit mulai surut. Suaminya memanglah anak dari anggota kerajaan, namun tak ada satupun yang tau. Axton hanya seorang bangsawan kota dengan status dibawah kerajaan.  


Di lantai 2 Ai kembali teringat dengan isi diary Kyliee, di lantai ini ada sebuah kamar lama, dimana kemungkinan milik mendiang ayah Axton. Ai memutuskan untuk melihatnya, mungkin disana ada sesuatu yang berguna.


Setelaha melewati lorong bagian kamar-kamar tamu Ai berhenti disalah satu kamar terbesar disana. Letaknya memang berada di bagian dalam yang tak mudah melihatnya dari luar. Ai membuka pintu kamar pelan. Sayang sekali terkunci, Ai hanya bisa mendesah pelan sebelum kemudian memutuskan untuk kembali.


“ lepaskan aku,, tidak,, aku ingin ke atas” teriak suara lelaki. Ai tahu betul siapa pemiliknya, yang membuat Ai bingung adalah kenapa Axton berteriak, suara itu terasa begitu dekat.


“ iya, kita akan keatas. Mari” suara wanita membuat Ai semakin mempercepat laju langkahnya.


“ tidak,, tidak kemari” terdengar lagi.


“ ini kamar anda tuan,,”


Akhirnya ketemu, Axton yang membawa botol anggur di papah seorang wanita yang entah bagaimana berada disini, Ai tidak tau jika selama ini Grace memang tinggal di kediaman. Sontak saja hatinya langsung panas saat melihat bagaimana Grace memeluk kencang perut suamainya.


“ apa yang kau lakukan?!” suara Ai langsung meninggi, tentu saja membuat kaget 2 orang yang sedang rangkulan. Grace terdiam tak bisa menjelaskan. Dirinya memang berniat memasukkan Axton ke dalam kamarnya. Sedikit saja akan berhasil malah bertemu dengan Ai.


“ istriku…kemarilah” Axton melepakan rangkulan Grace dan berjalan sempoyongan ke arah Ai. Dengan sigap Ai segera maju dan menahan tubuh suaminya agar tidak terjatuh.


“ kenapa kau ada disini?” Ai bertanya lagi.


“ Axton yang membawaku kemari” Grace berniat membuat Ai salah paham.


“ kau memang murahan” balas Ai tak kalah tajam.


“ istriku, kau darimana saja?” Axton terus berceloteh, bahkan bukan mulutnya saja, tanganya tak bisa diam menyentuh tubuh Ai, botol yang semula dipegang sudah terlepas.


“ jangan banyak bicara, kita ke atas” AI segera meninggalkan Grace, dia tak ingin berlama -lama meladeni wanita jahat yang sudah menjebaknya.


Grace yanga dongkol menghentakkan kakinya masuk ke kamar. Ai sedikit kesusahan menaiki tangga. Axton tak bisa diam, tubuhnya sudah kehilangan kesadaran. Membuat langkah Ai semakin berat.


Akhirnya setelah bersusah payah, Ai berhasil melemparkan tubuh suaminya ke atas ranjang. Axton hanya tertawa tak jelas, saat merasakan goncangan keras tubuhnya saat menerjang ranjang. Ai membantu Axton melepaskan sepatu dan ikat pinggang. Kemudian menutup pintu kamar.


“ istriku, kemarilah” Axton masih saja tak mau diam.


“ berhenti mengoceh dan segera tidur” ucap Ai tegas, axton sangat berbeda jika sedang mabuk, tingkahnya seperti anak kecil. Begitu manja.


Ai menaiki ranjang setelah mematikan beberapa lampu.


“ apa kau marah ?” Axton memeluknya dari belakang. Dia lagi-lagi tak mau diam.


Ai tak ingin mengurusi suaminya, segera menutup mata tanpa menghiraukan Axton yang masih menunggu jawaban.


“ maafkan aku” lirih Axton. Ai membalikkan tubuhnya, memandang wajah suaminya. Mengelus pelan pipi Axton, suaminya pasti mabuk karena dirinya. Ai jadi merasa bersalah.


“ tidurlah” lirih Ai dan mencium singkat pipi Axton.