
Hari ini Axton dengan setelan lengkap sudah bersiap pergi, selepas sarapan kereta kuda bahkan sudah menunggu di luar.
“ biarkan aku ikut ya” Ai masih merengek dengan keinginannya.
“ tidak Ai” tegas Axton yang sama sekali tidak terpengaruh dengan rengekan istrinya.
“ tapi kenapa tiba-tiba kau di undang ke kerajaan? Apa ratu berniat melakukan sesuatu padamu?” Ai menghalangi jalan Axton.
“ tidak Ai, ini tentang keadaan militer. Sudah ya. Jangan membuatku menyesal sudah bercerita padamu. Jika kau masih merengek terus seperti ini lain kali aku tidak akan mengatakan apapun padamu” Axton tak memiliki pilihan lain selain mengancam Ai. Istrinya begitu membuatnya repot dengan tingkahnya ini.
“ hem,, baiklah” akhinya Ai terpaksa mengikuti kemauan suaminya. Dari pintu masuk memandang kereta kuda suaminya yang sudah meninggalkan kediaman.
Setelah itu Ai naik ke atas dan masuk ke ruang kerja Axton. Suaminya sudah memberikan izinnya untuk membaca beberapa berkas disana.
Malam sudah begitu larut namun suaminya belum juga kembali, Ai dengan sabar menunggunya di lantai bawah. Duduk di sofa yang menghadap pintu, dengan di temani sebuah buku. Tanpa sadar Ai yang sudah mengantuk itu akhirnya tertidur disana.
Diluar sana Axton sudah dalam perjalanan pulang, dengan wajah lelahnya. Tak lama kemudian kereta berhenti tanda sudah sampai. Dengan segera berjalan masuk. Dan ketika melihat istrinya terlelap di sofa hati Axton menjadi menghangat. Ai kelelahan menunggunya pulang. Dengan pelan Axton menggendong istrinya menuju kamar.
Setelah membaringkannya di ranjang, Axton segera masuk ke pemandian. Kemudian ikut berbaring bersama Ai, dan terlelap.
Samar-samar Axton merasakan tubuhnya terguncang pelan. Membuat kesadarannya hadir. Ternyata itu ulah sang istri, Ai membangunkannya. Dilihatnya hari memang sudah pagi.
“ selama kau pulang pukul berapa?” tanya Ai setelah meletakkan nampan sarapan di meja kemudian mendekati suaminya.
“ hem,, entahlah” Axton beranjak menjadi duduk. Ai semakin mendekat.
“ apa yang terjadi di kerajaan?” Ai dilingkupi rasa penasaran.
“ minggu depan aku harus kembali ke perbatasan, situasi militer begitu rumit. Kemarin saja diadakan pertemuan untuk membahas masalah ini” jawab Axton. Ai mendengar jawaban Axton merasa sedikit khawatir. Takut saja jika hal ini sudah di rencanakan pihak kerajaan.
“ em, ada yang ingin aku tanyakan padamu terkait dengan ratu” Ai berusaha sehati-hati mungkin ketika bertanya.
“ apa yang ingin kau tau?” Axton begitu tenang mendengar pertanyaan Ai. Hatinya sudah mati rasa untuk ibunya itu.
“ apa ratu yang merencanakan pembunuhan pada istri-istrimu terdahulu?” Axton terdiam beberapa saat.
“ aku juga tak tau, namun besar kemungkinanya, antara aku dan dia hanya ada kebencian dan dendam”
“ kalaupun iya, kenapa ratu melakukan itu?”
“ akupun tak tau. Wanita itu selalu menginginkan aku menderita. Yang jelas kau jangan sampai berususan dengannya apalagi dengan Sea Brengseek itu. Di kerajaan tak ada yang bisa di percaya” Axton mengelus pelan surai hitam milik Ai.
“ saat ini hanya pamanmu dan beberapa anggota keluarga dari mendiang istriku” suara Axton begitu lemah, seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Namun Ai tidak mempersoalkannya, dia mengira bahwa suaminya itu pasti merasa sedih jika mengingat masa lalu.
Setelah percakapan itu Axton menyelesaikan sarapannya dengan di temani sang istri. Sampai saat ini masalah diary dan surat ratu masih belum sempat Ai katakan pada Axton. Situasinya masih belum tepat, apalagi dengan berita keberangkatan suaminya minggu depan.
Di tempat lain terdapat seorang lelaki yang sedang melakukan pertemuan dengan warga asing Bavaria. Dia adalah Sea. Putra mahkota kerajaan.
“ bagaimana dengan kesepakatannya?” tanya Sea kepada lawan bicaranya.
“ bagaimana jika keadaan berbalik, kau tau bukan, dia bukan lawan yang remeh” jawab lelaki itu.
“ tenang saja aku akan mengaturnya. Jika kau berhasil membunuhnya saat itu, aku pasti menepati janjiku” ucap Sea sambil menyeringai jahat.
“ 3 hektar tanah perbatasan kurasa masih kurang sebagai harga nyawanya” lelaki mulai menawar kesepakatan sebelumnya.
“ lalu?”
“ biji besi, aku ingin 5 peti biji besi” ucap lelaki itu mantap.
“ mudah sekali, minggu depan bisa kau mulai rencananya. Dia pasti sudah berada di perbatasan. Kerajaan sudah memberikan perintah padanya. Ingat buat kematiannya seakan dia terbunuh saat baku tembak” Sea menatap lawan bicaranya penuh penekanan.
Setelah menyelesaikan pertemuan rahasian itu, Sea terlihat begitu puas. Rencana ini pasti menjadi kabar gembira untuk ibunya. Tunggu saja keberhasilannya.
Siang harinya di kediaman Axton mendapatkan berita bahwa Grace mengalami kecelakan. Dia terjatuh dari tangga, dan yang lebih mengagetkan adalah Grace mengalami pendarahan aneh. Segera saja Ai pergi menuju kediaman Wellington yang berada di tepi kota. Axton tidak ikut karena memiliki tamu di kediaman, hal ini juga harus di sembunyikan dari masyarakat umum.
Begitu sampai Ai berpas-pasan dengan dokter Leyna yang juga baru datang. Kedua wanita itu masuk bersamaan dan menuju kamar Grace. Hati Ai begitu kasihan melihat keadaan Grace saat ini, terbaring lemas di ranjang. Dengan diam mengamati Leyna memeriksa dan menangani kesakitan Grace dari luar kamar.
Beberapa saat kemudian keadaan Grace terlihat lebih baik. Leyna berjalan keluar dari kamar.
“ bagaimana keadaannya?” tanya Ai
“ Duchess ini seakan kejadian yang aneh, sepertinya nona Grace sedang mengandung” Ai menutup mulutnya karena kaget dengan berita yang dia dengar.
“ kau yakin?” tanya Ai.
“ yakin sekali, nona Grace mengalami pendarahan akibat benturan, namun sepertinya tidak begitu fatal. Beberapa hari ke depan baru bisa mengetahui keadaan janinnya. Menurut saya janninya masih selamat” jelas Leyna.
“ iya benar, kau seringlah memeriksa keadaanya” ucap Ai. Dokter Leyna menuliskan resep dan pamit undur diri. Ai sudah menyuruh pelayan untuk membeli resep tadi.
Hari sudah sangat sore, Ai memutuskan untuk menginap disini. Dia juga perlu berbincang berdua dengan Grace mengenai kabar kehamilan ini. Ai merasa mungkin saja bayi yang di kandung Grace adalah bayi putra mahkota, jika benar entah bagaimana nasib yang akan Grace hadapi, baik atau buruk. Kerajaan begitu sulit untuk di tebak. Jika mereka ingin pihak kerajaan pasti akan menyambut bahagia kehamilan ini, namun jika tidak, mereka tidak segan-segan menutup kehamilan dengan kematian. Mengetahui bagaimana kejamnya mereka pada istri Axton, bisa jadi hal ini begitu mudah mereka hilangkan.