
“ kau bilang apa?” Sea
meneliti pemimpin kota yang bau saja melaporkan hasil kerjanya.
“pangeran Aric sudah
tertangkap semalam, saat ini sudah di tahan di pos penjaga terakhir” lelaki itu
mengatakan dengan lantang, dia yakin hal ini pasti akan meredam kemarahan putra
mahkota.
“ bagus, bagus” Sea
meminum tehnya pelan, dia merasa sedikit senang.
“ jadi bagaimana
kelanjutannya yang mulia?” pemimpin bertanya, dia tidak tau juga bagaimana
mengatasi pangeran itu.
“ hemm, perang baru
berlangsung 2 hari yang lalu. kita masih perlu berwaspada, tahan dulu. Jika
memberontak tinggal eksekusi saja” jawab Sea enteng, dia tidak merasa perlu
memikirkan keselamatan adiknya itu. Toh tak ada yang tau jika dia menahan Aric,
mengatakan jika Aric tewas di medan perang juga bukan rencana yang buruk.
“ baik yang mulia”
pemimpin itu berpamitan dan pergi meninggalkan ruangan.
“ apa tidak terlalu
beresiko untuk membunuhnya yang mulia?” pengawal pribadinya yang semenjak tadi
memperhatikan kini mengatakan penilaiannya.
“ dia hanya anak kemarin
sore, aku yakin raja juga tidak mengetahui keberangkatannya. Kalaupun tau kita
tinggal bilang dia tewas di medan perang selesai” Sea tidak merasa terganggu
dengan perlawanan adiknya, dia bukan tandingannya.
Pengawal itu seakan masih
belum tenang dengan pilihan yang di ambil tuannya. Aric masihlah anggota
keluarga berstatus pangeran, gelar yang bukan main-main. Jika pangeran itu
tewas, garis keturunan kerajaan juga pasti akan berpengaruh. meskipun sebagai
bawahan dari putra mahkota yang kejam, lelaki ini juga sangat mengagumkan gelar
kebangsawanaa. Dia begitu mengkhusukan jika berkaitan dengan kerajaan, inilah
alasannya dia mau setia melindungi putra mahkota, baginya keturunan raja adalah
segalanya.
“ mohon izinkan saya
mengawasi pangeran Aric” pengawal pribadi itu meminta dengan hormat.
Sea yang mendengarnya
seakan kaget dan menilai ada hal yang tidak biasa dari pengawalnya. Sea bahkan
menoleh dan memperhatikan pengawalnya dengan seksama.
seperti ini, kau berniat menghianatiku?” Sea terbiasa berfikir tajam. Dia
terlalu sensitif akan perubahan seseorang.
“ tidak yang mulia, anda
adalah segalanya. Saya hanya tidak mempercayai pemimpin itu” jawab jujur sang
pengawal. Sea tau jika tak ada kebohongan serta berfikir dia juga sedikit
meragukan kinerja pemimpin itu. Baru kemarin Aric lepas dari penjagaanya da
kini dalam 1 hari sudah tertangkap. Ucapan pengawalnya memang ada benarnya.
“ baiklah, aku memberimu
izin” jawab Sea ringkas.
Pengawal itu kelaur dan
bersiap melakukan perjalanan menuju pos terakhir. Ini adalah tempat terakhir
sebelum pergi menuju perbatasan. Disanalah wilayah terakhir dari kerajaan
Bavaria. Hanya orang-orang Sea yang tau tempat itu, bahkan pihak kerajaan tidak
berani mengotak atik tempat putra mahkota.
Sesuai dengan intruksi
dari Aric, kini pengawal pribadinya sudah berunding dengan bawahannya mengenai
proses penjemputan pangeran. Mereka mengerahkan segalanya untuk bisa menyelamatkan
pangeran.
“ ketua, mata-mata kita
di ibukota mengatakan jika perwakilan raja sedang menuju ke perbatasan”
pengawal itu mengerutkan keningnya. Perwakilan raja sejauh ini tidak pernah
terlibat apapun selain masalah birokrasi di ibu kota.
“ apa mereka tau apa yang
perwakilan itu inginkan?”
“ tidak ada, tapi dari
yang mereka tau jarak kepergian mereka cukup dekat dengan waktu keberangkatan
kita” pengawal itu dibuat bingung, hanya raja yang mengetahui masalah
keberangkatan ini. Jika ada perwakilan yang menuju perbatasan kemungkinan dia
mengejar pengeran Aric atau Axton.
“lebih baik kita temui
mereka, pasti sebentar lagi mereka akan melewati kota” ucap pengawal itu yakin.
Pagi hari yang sama di
ibukota kediaman Duke kembali kedatangan tamu, kali ini berasal dari penegak
hukum kerajaan. Sesuai dengan apa yang Grace katakana. Setelah menyusun laporan
dia beserta satu pelayannya mendatangi kantor peradilan sesuai dengan intruksi
pangeran Sea. Wanita itu hanya perlu membuat laporan lalu biarkan pengadilan
kerajaan yang mengurus sisanya.