The New Duchess

The New Duchess
Bab 97 B: Tahanan Kota



Sedangkan Ai mengerutkan


keningnya, dia tidak akan keluar dari  kota


ini seperti yang lelaki berseragam itu  inginkan.


“ tidak” ucap Ai,


seketika lelaki berseragam terdiam. Bagaimana bisa sesosok laki-laki bisa


mengeluarkan suara wanita.


“ siapa kamu?” lelaki


berseragam menampilkan raut wajah yang marah. Selama ini mereka tertipu.


Membuat lelaki itu berfikir jika Ai dan Hardwin memiliki niat buruk.


Ai dia tidak menjawab,


dia menatap lelaki berseragam itu dengan tajam. Dirinya harus menampilkan raut wajah


yang kuat agar nanti ketika dia mengatakan identitasnya lelaki itu tidak


meragukannya.


Hardwin menyentuh tangan


Ai agar wanita ini tidak mengatakan  identitas


sebenarnya. Lelaki ini takut jika dia harus terpisah dan meninggalkan Ai


sendirian di kota.


“ kenapa diam? kalian


mata-mata?” lelaki berseragam itu semakin memiliki penilaian yang buruk pada


Ai. dengan menyamar sebagai lelaki dan memasuki kota jelas ada hal yang


disembunyikan oleh Ai.


“ kau berani menjamin


keselamatanku, jika aku mengatakan kebenarannya?” Ai bukannya takut dengan


tatapan intimidasi lelaki berseragam, tapi dia tidak mau di pandang rendah


disini.


“ apa maksudmu?” ucap


lelaki berseragam, suaranya sedikit meninggi. Bagaimana bisa seorang tamu


berbicara seakan menakutinya.


Hardwin semakin gelisah,


dari gelagatnya Ai sudah bertekad akan mengatakan kebenaran identitasnya.


“ pengawal!” melihat Ai


yang masih diam dengan pandangan tajam seolah menantangnya. Lelaki berseragam


semakin naik pitam dan membuatnya memilih untuk segera memberikan tindakan.


“ hey, tenanglah dulu”


Hardwin mencoba mencairkan suasana saat melihat pengawal di depan pintu berniat


masuk ke ruangan.


Tak menghiraukan ucapan


Hardwin, pengawal itu tetap masuk dan menghadap lelaki berseragam. Mereka menunggu


perintah selanjutnya mereka sudah siap siaga. Hal ini dimaksudkan agar wanita


di depannya ini bisa sedikit takut.


Hardwin mencoba memperingati lelaki berseragam agar tidak mencelakai Ai. dia


sudah bersiap mengeluarkan senjata untuk membela diri jika terjadi hal-hal yang


tidak diinginkan.


Ai masih saja tidak


terpengaruh dengan suasana yang semakin panas, padahal semua ini berasal dari


dirinya.


“ kau akan menyesal jika


sampai aku terluka sedikit saja” Ai semakin membuat suasana semakin runyam. Lelaki


berseragam seakan di lawan, jelas dia tidak akan tinggal.


“ bawa wanita ini”


kalimat itu sedikit tidak di mengerti oleh pengawalnya. Mereka juga begitu


kaget saat mengetahui jika salah satu lelaki ini adalah samara. Setelah mendengar


perintah atasannya kedua pengawal itu berjalan mendekati Ai bermaksud untuk


segera menangkap Ai.


“ berani selangkah saja


kalian akan mati” Hardwin segera menarik Ai agar berada di belakangnya, tak


lupa tangannya sudah mengacungkan senjata.


Jelas situasi ini semakin


menguatkan bahwa Ai dan Hardwin memiliki niat buruk di dalam kota. Penilaian mata-mata


untuk mereka juga tak bisa terhindarkan. Tak mau kalah kedua pengawal itu juga


mengeluarkan senjata sebagai balasan attas tindakan Hardwin.


Hal berbeda malah terjadi


pada Ai dan lelaki berseragam. Pandangan mereka saling bertemu dan tidak


terlepas sejak perintahnya untuk menangkap Ai. mereka semacam sedang berperang


menggunakan telepati. Masing-masing  mengeluarkan padangan tajam, tidak mau mengalah.


“ aku sudah


memperingatkanmu” Ai semakin berani. Seperti menyiram minyak dalam kobaran api.


Emosi lelaki berseragam semakin meluap-luap. Dia merasa jika harga dirinya di


remehkan oleh seorang pendatang baru.


“ katakan atau aku akan


segera memberikan hukuman” lelaki berseragam itu semakin tertantang.


“ Ai hentikan” Hardwin


menghentikan ucapan Ai, dia tidak mau jika dengan mudahnya Ai mengatakan


identitasnya.


“ aku adalah..”


“ Ai” Hardwin memiliki


ketakutan jika akan berpisah dengan wanita ini jika semua orang mengetahui


identitasnya.