
Sedangkan Ai mengerutkan
keningnya, dia tidak akan keluar dari kota
ini seperti yang lelaki berseragam itu inginkan.
“ tidak” ucap Ai,
seketika lelaki berseragam terdiam. Bagaimana bisa sesosok laki-laki bisa
mengeluarkan suara wanita.
“ siapa kamu?” lelaki
berseragam menampilkan raut wajah yang marah. Selama ini mereka tertipu.
Membuat lelaki itu berfikir jika Ai dan Hardwin memiliki niat buruk.
Ai dia tidak menjawab,
dia menatap lelaki berseragam itu dengan tajam. Dirinya harus menampilkan raut wajah
yang kuat agar nanti ketika dia mengatakan identitasnya lelaki itu tidak
meragukannya.
Hardwin menyentuh tangan
Ai agar wanita ini tidak mengatakan identitas
sebenarnya. Lelaki ini takut jika dia harus terpisah dan meninggalkan Ai
sendirian di kota.
“ kenapa diam? kalian
mata-mata?” lelaki berseragam itu semakin memiliki penilaian yang buruk pada
Ai. dengan menyamar sebagai lelaki dan memasuki kota jelas ada hal yang
disembunyikan oleh Ai.
“ kau berani menjamin
keselamatanku, jika aku mengatakan kebenarannya?” Ai bukannya takut dengan
tatapan intimidasi lelaki berseragam, tapi dia tidak mau di pandang rendah
disini.
“ apa maksudmu?” ucap
lelaki berseragam, suaranya sedikit meninggi. Bagaimana bisa seorang tamu
berbicara seakan menakutinya.
Hardwin semakin gelisah,
dari gelagatnya Ai sudah bertekad akan mengatakan kebenaran identitasnya.
“ pengawal!” melihat Ai
yang masih diam dengan pandangan tajam seolah menantangnya. Lelaki berseragam
semakin naik pitam dan membuatnya memilih untuk segera memberikan tindakan.
“ hey, tenanglah dulu”
Hardwin mencoba mencairkan suasana saat melihat pengawal di depan pintu berniat
masuk ke ruangan.
Tak menghiraukan ucapan
Hardwin, pengawal itu tetap masuk dan menghadap lelaki berseragam. Mereka menunggu
perintah selanjutnya mereka sudah siap siaga. Hal ini dimaksudkan agar wanita
di depannya ini bisa sedikit takut.
Hardwin mencoba memperingati lelaki berseragam agar tidak mencelakai Ai. dia
sudah bersiap mengeluarkan senjata untuk membela diri jika terjadi hal-hal yang
tidak diinginkan.
Ai masih saja tidak
terpengaruh dengan suasana yang semakin panas, padahal semua ini berasal dari
dirinya.
“ kau akan menyesal jika
sampai aku terluka sedikit saja” Ai semakin membuat suasana semakin runyam. Lelaki
berseragam seakan di lawan, jelas dia tidak akan tinggal.
“ bawa wanita ini”
kalimat itu sedikit tidak di mengerti oleh pengawalnya. Mereka juga begitu
kaget saat mengetahui jika salah satu lelaki ini adalah samara. Setelah mendengar
perintah atasannya kedua pengawal itu berjalan mendekati Ai bermaksud untuk
segera menangkap Ai.
“ berani selangkah saja
kalian akan mati” Hardwin segera menarik Ai agar berada di belakangnya, tak
lupa tangannya sudah mengacungkan senjata.
Jelas situasi ini semakin
menguatkan bahwa Ai dan Hardwin memiliki niat buruk di dalam kota. Penilaian mata-mata
untuk mereka juga tak bisa terhindarkan. Tak mau kalah kedua pengawal itu juga
mengeluarkan senjata sebagai balasan attas tindakan Hardwin.
Hal berbeda malah terjadi
pada Ai dan lelaki berseragam. Pandangan mereka saling bertemu dan tidak
terlepas sejak perintahnya untuk menangkap Ai. mereka semacam sedang berperang
menggunakan telepati. Masing-masing mengeluarkan padangan tajam, tidak mau mengalah.
“ aku sudah
memperingatkanmu” Ai semakin berani. Seperti menyiram minyak dalam kobaran api.
Emosi lelaki berseragam semakin meluap-luap. Dia merasa jika harga dirinya di
remehkan oleh seorang pendatang baru.
“ katakan atau aku akan
segera memberikan hukuman” lelaki berseragam itu semakin tertantang.
“ Ai hentikan” Hardwin
menghentikan ucapan Ai, dia tidak mau jika dengan mudahnya Ai mengatakan
identitasnya.
“ aku adalah..”
“ Ai” Hardwin memiliki
ketakutan jika akan berpisah dengan wanita ini jika semua orang mengetahui
identitasnya.