The New Duchess

The New Duchess
Bab. 146 : Bukan Akhir



Hardwin yang mendengar kabar istana segera saja pergi ke kediaman Wellington. Dia sangat terlambat untuk datang. Kini semua orang sedang dalam penanganan.


" Dimana Duchess?" tanya Hardwin kepada para penjaga.


" di dalam" jawab mereka yang sebenarnya tidak tau posisi Duchess.


Hardwin segera berlari dia melihat banyak sekali tenang medis yang mondar mandir. Hardwin menuju salah satu kamar.


" ayah" panggil Hardwin saat melihat ayahnya di dalam.


" kau cepat kemari, bantu ayah melakukan pembedahan" ucap Tuan Kleiner dengan wajah panik. Hardwin mendekat.


" Grace, apa yang terjadi padanya?" Hardwin tampak kaget dengan pasien yang ayahnya tangani.


" di mulai kehabisan darah, sedangkan bayinya tidak bisa keluar" jelas Tuan Kleiner singkat.


" kau buat dia jangan sampai kehilangan kesadarannya" ucap Tuan Kleiner yang masih mencoba dengan pisau bedah.


" Grace, kau pasti bisa. Aku akan menemani. Kau harus sadar untuk merawat anakmu" ucap Hardwin dengan mengusap keringat yang membanjiri wajah Grace.


Tuan Kleiner sudah hampir bisa membawa bayi Grace.


" aakkk" Grace menahan sakit, dia mencekram lengan Hardwin kuat. Bahkan baju lelaki itu sedikit sobek.


" tahan Grace, jangan mengejan. Darahmu akan semakin banyak yang keluar" pesan Harwdin dengan tenang. Dia menatap Grace dengan wajah kasihan, wanita di depannya selalu berjuang sendirian. Terlepas bagaimana sikapnya yang jahat dulu. Hardwin mendadak kasihan dengan wanita ini.


" kau pasti bisa bertahan" Hardwin terus memberikan semangat pada Grace, lelaki itu bisa melihat wajah pucat yang mungkin hampir berada di ambang kematian. Darah terus keluar dari luka tembak serta proses pembedahan.


oek oek suara tangisan bayi memecah keheningan.


Grace tersenyum, Tuan Segera memotong tali pusar dan menyelimuti bayi itu.


" lihatlah, dia begitu cantik" ucap Tuan Kleiner memberikan kepada Grace, sedang dia menjahit luka-luka Grace.


Hardwin tersenyum haru, dia ikut memegangi bayi cantik itu.


" dia sepertimu" ucap Hardwin. Bayi itu menggenggam jari Hardwin dan menatapnya dengan senyum.


" ja...ga dia. ak..ak..u ti...tipkan .. dia.. Lu..na" ucap Grace putus-putus. Tubuhnya terus kejang dan semakin kencang.


" Grace!" Hardwin mengambil bayi itu. dia menggendong dengan wajah panik.


oek oek oek. Bayi itu menangis, seolah tau apa yang ibunya alami.


" Grace, ayah. ada apa dengan Grace?" Hardwin melihat ayahnya yang sibuk menangani luka.


" tubuhnya mengalami syok, aku sudah memperingatkannya. tapi dia tetap memaksa" Tuan Kleiner gementar, hal ini membuat ingatannya tertarik lagi saat dia melakukan hal yang pada istrinya.


" Grace!" Hardwin semakin panik tak kala Grace terdiam. kejangnya berhenti begitu juga dengan detak jantungnya.


" maafkan ayah, dia tidak selamat" Tuan Kleiner sangat sedih dan meninggalkan ruangan.


Hardwin tak tau haru bagaimana, dia melihat bayi kecil dalam gendongannya dengan penuh kesedihan. Ibunya baru saja meninggal.


" Luna, ibumu memberimu nama Luna" ucap hardwin dengan air mata menetes. Bayi itu mendadak terdiam, dia mencari kehangatan dalam pelukan Hardwin.


" kau menyukai nama itu?" Hardwin entah kenapa sangat menyukai bayi cantik ini. Dia tersenyum dalam kesedihan.


Di ruangan lainnya, Dalbert memegang tangan Ai.


" sepertinya Duchess mengalami keguguran, kami akan memberinya ramuan agar sisanya bisa keluar" ucap dokter kerajaan.


" keguguran? aku? jadi aku hamil? hiks hiks" ucap Ai sedih. Dia tidak percaya, kenapa dia mengetahui kehamilannya saat dia sudah tidak ada lagi.


" maafkan kami Duchess. tapi rahim anda memang harus di bersihkan. ini semua agar anda tidak terkena penyakit lainnya" jelas dokter dengan lemah lembut.


" hiks hiks, " Ai menangis seakan tidak terima. Namun Dalbert segera menenangkan nya.


" Ai, kau pasti akan mendapatkannya lagi, yang terpenting sekarang adalah keselamatanmu" hibur Dalbert.


Namun Ai tetap sedih, dia menangis penuh kekecewaan pada dirinya sendiri. bagaimana bisa dia sebodoh ini sampai tidak tau jika dirinya hamil.


Di ruangan lainnya Axton masih berjuang dalam tidak sadarannya. Dokter kerajaan begitu hati-hati da serius dalam menangani Duke Wellington. Apalagi di sampingnya ada pangeran Aric yang menunggu dengan setia.