
Pagi harinya Ai terbangun, kali ini di sampingnya masih terdapat Axton. Jarang sekali suaminya masih tertidur, biasanya bahkan pagi sekali sudah bersiap pergi atau sudah di ruang kerjanya. Tak ingin mengganggu suaminya, perlahan Ai turun dari ranjang dan segera membersihkan diri.
“ nyonya,” ucap seorang pelayan saat Ai berada di ruang makan. Suaminya masih tertidur bahkan sampai Ai sudah selesai dengan rutinitasnya. Sebentar lagi waktunya sarapan Ai memilih untuk lebih dulu turun. Dia tak tau harus melakukan apa di kamar.
“ paman akan pergi kemana?” tanya Ai saat melihat Allard turun dengan membawa tas. Keningn AI berkerut melihat penampilan rapi pamannya.
“ paman akan kembali ke desa, bibimu pasti cemas menunggu kabar tentangmu” Allard menjawab pelan.
“ ah, maafkan Ai paman. Kalau begitu paman sarapan terlebih dahulu agar selama perjalanan tidak kelaparan” Ai merasa bersalah dengan tindakannya kemudian menarik tangan Allard pelan menuju meja makan.
“ pelayan segera hidangkan menunya” teriak Ai, yang segera dipatuhi pelayan.
“ dimana Duke ?” tanya Allard yang tidak melihat Axton di meja makan. Menurut etika seharusnya sarapan dimulai harus dengan kehadiran tuan rumah.
“ Axton semalam mabuk berat jadi masih tertidur, sudahlah tak apa jika kita sarapan dulu” Ai menarik beberapa menu yang sudah tersaji untuk mendekat ke posisi duduk pamannya. Allard masih terdiam merasa tidak enak hati jika harus mendahului tuan rumah.
“ makanlah paman, bukankah paman juga terburu waktu. Axton pasti mengerti” akhirnya dengan sedikit paksaan akhirnya Allard beserta Ai menyantap sarapannya.
Di pertengahan makan terdengar suara dari arah tangga.
Tap tap suara langkah kaki semakin mendekat. Ai sedikit kehilangan selera makan saat atau siapa yang datang. Sedangkan Allard yang sudah mengetahui lebih dulu merasa canggung dengan situasinya.
“ dimana Duke ?” tanya Grace kepada pelayan. Namun pelayan hanya diam tentu saja mereka tidak tau, hanya Ai yang tau.
“ paman cobalah ini, “ Ai tak menghiraukan kehadiran Grace. Dia asyik menamani pamannya sarapan.
Karena merasa diacuhkan Grace tanpa permisi ikut duduk dan mengambil piring. Tak di pungkiri dia juga sudah merasa lapar. Suasana hening seketika, di meja makan itu tak ada percakapan selain dari Ai ke pamannya. Grace hanya cuek dan meneruskan makannya.
“ pelayan segera bereskan meja, sarapan untuk Duke biar aku yang antar” pelayan segera mematuhi perintah nyonyanya. Grace yang belum selesai makan mulai terpancing emosi.
“ heii.. aku belum selesai” teriaknya kepada Ai. Namun Ai tak memperdulikannya bahkan menganggap tak ada siapapun.
“ segera bersihkan” ulang Ai, mau tak mau Grace hanya bisa menelan kemarahannya. Meja makan itu dengan cepat langsung bersih hanya menyisakan satu piring milik Grace seorang. Dengan hati dongkol Grace duduk dan melanjutkan sarapan mininya.
Di depan pintu masuk, Brian sudah menyiapkan kereta kuda milik Allard. Setelah melakukan salam perpisahan akhirnya Allard masuk dan meninggalkan kediaman Duke.
Setelah mengatar kepulangan pamannya Ai kedapur untuk mengambil nampan sarapan. kemudian berjalan menaiki tangga. Dia ingin melihat sang suami sekaligus membawakan sarapan untuknya.
Begitu membuka pintu, AI melihat jika ranjangnya sudah kosong, gemericik air terdengar samar-samar. Axton sedang mandi, Ai segera menata menu sarapan di atas meja. Sambil menunggu dia membaca beberapa berkas sang suami yang berada di nakas.
Berkas itu berisi tentang keadaan militer, beberapa surat dan pembukuan keuangan. Meski sedikit asing namun beberapa dari halaman Ai bisa mengerti isi dari berkas-berkas itu.
“ apa yang kau baca?” tanya Axton yang entah bagaimana sudah berada di depan Ai bertelanjang dada. Beberapa air menetes dari rambutnya yang basah.
“ kemarikan” ucap Ai tegas, dirinya masih belum bisa menerima jika istrinya ini pandai membuka rahasia. Takutnya Ai lagi-lagi bisa mengetahui rencananya.
Ai mengikuti perintah Axton, tak ingin memulai pertengkaran di pagi hari seperti ini.
“ makanlah” ucap Ai riang. Setelah meletakkan kembali berkas itu Axton langsung duduk di samping Ai, dengan masih bertelanjang dada.
Ai terdiam melihat aktivitas makan sang suami. Axton merasa aneh dengan tingkah istrinya yang mengamatinya jadi sesekali membalas tatapan sang istri.
“ kau selingkuh?” tanya Ai tiba-tiba. Hal ini sukses membuat Axton tersedak dan langsung mengambil minum.
“ apa maksudmu?” Axton balas bertanya.
“ kenapa kau membawa Grace kemari? Kau berselingkuh dengannya?“ tanya Ai tanpa basa-basi. Dirinya sudah tak mau main lembut. Axton menghembuskan nafas kasar tak tau harus bagaimana mengatakannya. Entah darimana pemikiran buruk itu berada di kepala istrinya.
“ semalam kau hampir di perkosanya” ucap Ai enteng sambil menopang dagunya. Axton berkedip cepat beberapa kali lalu mengerutkan keningnya mencoba mengingat kejadiaan semalam.
“ aku tak ingat” jawab Axton.
“ aku tak menyuruhmu mengingatnya, aku tanya kenapa kau membawa wanita yang ingin menyelakaiku ke dalam kediaman? “ tanya Ai semakin mengintimidasi.
“ Sea mengurungnya di kerajaan, aku kasihan mengetahui kondisinya” jawab Axton sedikit menyederhanakan alasannya.
“ aku tak ingin dia di sini. Aku akan menyuruhnya pergi darisini” ucap Ai final.
“ aku tau kau pasti membencinya, namun beberapa minggu ini Sea mengurungnya di kamarnya. Memaksanya untuk melayani ***** lelaki itu. Aku hanya merasa tidak enak hati dengan mendiang tuan Bart jadi membawanya kemari sebagai cara melindunginya” ucap Axton hati-hati. Istrinya sekarang jauh lebih sensitif daripada dulu. Ai awalnya terkejut dengan fakta yang barua saja dia dengar, ternyata Grace mengalami hal buruk seperti itu.
“ pindahkan dia di kediaman lain, aku tak bisa tinggal satu atap dengannya. Kalau tidak biarkan aku kembali kedesa saja” Axton tau benar maksud dari ucapan sang istri tentu saja langsung menggeleng cepat.
“ aku akan menyuruh Brian untuk mengurusnya” ucap Axton sambil memeluk istrinya pelan.
“ aku juga ingin mulai sekarang kita bisa saling terbuka, rahasia terbesar sudah aku ketahui dari orang lain. Untuk selanjutnya aku ingin kau sendiri yang mengatakannya” Ai menatap dalam kedua mata sang suami. Axton menimbang keinginan sang istri. Tatapan sendu Ai membuat Axton tak tega merusaknya.
“ aku akan mencobanya” ucap Axton tenang. Lelaki ini sudah terbiasa menanggung semuana sendiri. Sejak kecil sudah ditinggal ibunya yang tak lain kini sudah menjadi ratu Bavaria. Lalu ayahnya yang meninggal terlalu cepat tentu menjadikan dirinya menjadi sosok yang mandiri dan mengandalkan dirinya sendiri. Axton tidak pernah berbagi beban kepada siapapun. Nyatanya tak ada yang bisa Axton percayai. Hidupnya selalu berada dalam ancaman.
Ai menangkap raut serius suaminya, matanya mengisyaratkan luka yang dalam. Sebenarnya Ai juga ingin mengetahui alasan bagaimana cerita masa lalu Axton. Bagaimana bisa ratu adalah ibu kandung suaminya. Kebenaran ini tak ada yang mengetahui bahkan mungkin seluruh kota tak ada yang mengetahuinya.
Ai mengelus pipi Axton lembut, kali ini cerita cintanya berubah sangat jauh. Dan AI begitu bersyukur akan hal itu.
“ jangan melakukan hal gila seperti sebelumnya. Kemanapun kau pergi kau harus mengatakanya padaku” Axton semakin mempererat pelukannya. Ai mengangguk pelan.