
Beberapa pelayan sudah menyesaikan kebutuhan nyonyanya untuk bermalam. Bahkan makan malam sudah trsaji di meja. Meski pelayan mengatakan bahwa ini hanya sajian sederhana namun bagi Ai menu disana sudah cukup bervariasi.
Grace masih tertidur didalam kamar. Ai tak ingin menganggu, sepertinya dia akan mengajak berbincang wanita itu besok paginya. Perlu memberinya waktu sejenak untuk mencerna keadaan.
“ apa sudah dapatkan resep dari dokter Leyna?” tanya Ai setelah menyelesaikan makan malamnya.
“ sudah nyonya, pelayan sedang membuat ramuannya” jawab salah satu pelayan.
“ apa dia juga menyampaikan pesanku?” lanjut Ai.
“ sudah nyonya” Ai mengangguk singkat.
“ jangan lupa untuk mengantarkan makan malam pada Lady Bart terlebih dahulu sebelum memberinya obat” pesan AI kepada pelayan. Para pelayan mengangguk.
Setelah perbincangan itu Ai bersiap tidur. Kamar disini memang tidaklah sebagus di kediaman utama. Namun cukup nyaman dan terjaga. Beberapa perabitan yang terbuat dari kayu juga terawat dengan baik. Segera saja Ai berbaring.
Tengah malam Ai di kagetkan dengan kehadiran Axton yang menganggu tidurnya. Ai tidak mendapatkan pesan jika axton akan menyusulnya kemari.
“ emm, kau kemari ?” tanya Ai dengan kesadaran yang masih menipis.
“ bagaimana lagi kau ada disini” jawab Axton sambil berbaring memeluk istrinya.
“ Grace mengalami pendarahan, Leyna mengatakan jika Grace sedang hamil” Ai mengatakan keadaan Grace, meski Axton tidak menanyakannya setidaknya suaminya perlu tau. Mereka perlu memikirkan masalah kehamilan Grace, nama Wellington secara tidak langsung pasti akan terseret. Bagaimanapun Grace sudah lama dikenal sebagai asisten Duke Wellington.
Axton terdiam sejenak, dia semakin khawatir dengan istrinya. Minggu depan mereka diharuskan untuk berpisah, entah sampai kapan akan kembali. Situasi semakin rumit dan istrinya hanya seorang diri.
“ kita perlu berbicara langsung dengannya” jawab Axton.
“ apa masalah ini akan berdampak buruk padamu?”
“ bisa iya, bisa tidak. Kita sembunyikan dulu masalah kehamilan ini. Entah kenapa kali ini aku merasa begitu berat meninggalkanmu” Axton menghembuskan nafas kasar. Menyentuh pipi istrinya.
“ aku benar-benar takut kehilangamu” lirih Axton. Andai saja Ai bisa menurut mungkin saat ini istrinya sudah pasti aman berada didesa. Tidak tahu menahu dengan masalah besar yang sedan dihadapi Axton.
Dengan adanya Ai disini rasa ketakutan Axton semakin besar, apalagi dengan surat perintah kerajaan yang tiba-tiba menujuknya sebagai kepala penanganan perang perebutan wilayah di perbatasan. Axton tak bisa menolak meskipun dirinya enggan menyetujuinya. Beberapa petinggi militer seakan diatur untuk tidak terjun membantu Axton. Tugas-tugas yang tidak masuk akal membuat Axton sedikit curiga. Entah menolak ataupun menyutujuinya Axton tetap berada dalam posisi berbahaya.
Ai tersenyum ringan sambil menatap dalam manik sang suami. Seakan berusaha untuk bisa menenangkan perasaan Axton.
“ kau takut ratu akan menyakitiku seperti istrimu sebelumnya?” tanya Ai.
“ hem, aku takut mereka akan berbuat buruk padamu. Baik ratu ataupun putra mahkota tidak akan tinggal diam dengan kehidupanku” perkataan Axton begitu menyentuh hati Ai. Baru kali ini Axton berbicara tentang perasaannya. Ternyata suaminya juga bisa romantis.
“ kenapa kau tak pernah mengatakan alasan kematian istrimu kepada orang-orang. Mereka berfikir kau yang membunuh mereka”
“ apa raja juga tau bahwa kau adalah anak ratu?” Axton mengangguk singkat.
“ jadi memang kerajaan menutupi kebenaran ini dengan sengaja” guman Ai setelah melihat jawaban suaminya.
“ waktu itu antara ratu dan ayah saling mencintai, diusia mereka yang masih muda ternyata meraka melakukan hal diluar batas sehingga membuatku hadir. Diwaktu yang sama ketika ayah mendapatkan tugas pertamanya di kemiliteran. Akhirnya kedua keluarga sepakat untuk menyembunyikan kabar kelahiranku ini, dengan kesepakatan setelah menyelesaikan tugas militer, pesta pernikahan harus segera di gelar. Beberapa tahun setelahnya pesta pertunangan di rayakan, seakan membuat habungan ini seperti sebagaimana umunya. Namun entah bagaimana, sebelum pesta pernikahan berlangsung keluarga wanita itu memutuskan hubungan. Dan ternyata ini berkaitan dengan raja yang saat itu menyandang sebagai putra mahkota.” Ai mendengarkan semua cerita itu dengan seksama. Dia tidak menyangka jika suaminya mengalami hal yang begitu berat seperti dirinya.
“ ayah mendidikku dengan begitu keras, sampai di usiaku yang ke 15 aku sudah mampu memimpin satu kelompok wilayah militer. Ayah juga seakan tak kenal lelah terus memberikan keberhasilan pada kerajaan sehingga diberikan gelar Duke. Beberapa tahun setelahnya kesehatan ayah memburuk, dia menceritakan kisah ini kepadaku. Hatiku begitu sakit dan dendam kepada kerajaan. Tuan Bart seakan menjadi penasehatku agar tidak melakukan hal yang mengamcam hidupku. Tepat di usiaku yang ke 18 ayah meninggal. Tak ada penghormatan apapun dari kerajaan. Seakan menutup mata mereka bahkan langsung mengirimkan surat peralihan gelar. Saat itulah perang dingin antara aku dan kerajaan dimulai” Axton menghentikan ceritanya. Di pandangnya manik istrinya yang berkaca-kaca mendengar semuanya.
“ demi menutupi hal ini kerajaan melakukan banyak hal, termasuk membunuh Esme dan Kyliee” lanjut Axton
“ aku salut padamu” Ai memeluk erat suaminya. Berjuang sendiri bahkan disaat kerajaan menekannya.
Perbincangan sepasang suami istri itu terus berlanjut, mereka saling mengutarakan perasaan dan semua hal yang selama ini merea sembunyikan. Dan tak lupa mereka menutupnya dengan aktivitas panas.
Pagi harinya setelah menyesaikan sarapannya, Ai menemui Grace yang sedang duduk di kamarnya. Posisinya membelakangi pintu dan menghadap jendela kamar.
Tok tok Ai menyadarkan lamunan Grace. Membuatnya menoleh ke arah pintu.
Ai berjalan masuk dan duduk di sebelah Grace. Wanita itu begitu berbeda dengan sebelumnya.
“ kau senangkan melihatku seperti ini?” sinis Grace begitu Ai duduk disampingnya. Ai melihatnya berbeda, Grace terlihat begitu rapuh. Tak ada saudara hanya menyisakan ibunya yang ternyata berada di desa. Tidak tinggal bersama dengan Grace di ibu kota. Tak ada siapapun yang berada di sisi Grace saat ini.
“ kau berfikir seperti itu?” jawab Ai tak kalah sinisnya kepada Grace.
“ aku begitu kasihan melihat dirimu yang seperti ini. Bukankah kau ingin merebut Axton dariku? Bukankah kau ingin mengusirku dari kehidupan Axton bahkan merencanakan hal buruk padaku?. Jika kau ingin melakukan itu semua setidaknya jangan seperti ini. Aku tidak ingin menang karena kau terlihat semenyedihkan seperti ini” seakan menampar Grace, ucapan Ai membuat hati Grace mendadak menghangat.
“ pulihkan dirimu baru kita akan memulai lagi pertarungan” lanjut Ai.
Tak ingin berlama-lama Ai segera beranjak meninggalkan kamar itu. Grace hanya terdiam, dia tidak bisa menutupi jika memang selama ini wanita yang berada di sebelahnya tidak pernah berusaha menyakitinya. Dia sendiri yang memulai semua rencana jahat.
“ aku yang lebih dulu bertemu dengan Axton tapi kenapa dia tidak pernah melihatku?. Dan kau, orang yang baru saja dikenalnya begitu mudah mengisi hatinya. Kenapa dunia ini tak penah adil padaku?” ucap Grace saat Ai berada di ambang pintu. Grace tidak tau jika ternyata Axton sudah ada di luar kamar. Dan dengan jelas mendengar semua perkataannya.
Ai memberikan kode agar Axton tidak usah ikut campur dengan hal ini. Namun Axton tidak berfikiran sama. Dia berjalan masuk ke kamar, dia berniat mengatakan sesuatu pada Grace.
“ kau sudah seperti adik perempuan bagiku. Sejak awal berada disisiku, menemani semua kesepianku. Kita sama-sama memiliki takdir yang sama saat kau juga kehilangan ayahmu. Namun hanya sebatas itu, kau seperti keluarga bagiku tidak lebih. Perasaan ini tidak bisa di paksakan” Grace awalnya kaget saat mendengar suara Axton, namun kemudian dengan tenang mendengar semua penjelasan lelaki itu. Grace masih tak menolehkan wajahnya bahkan saat Axton dan Ai pergi dari kamarnya.
Ada rasa marah serta terenyuh dalam hati Grace. Ternyata lelaki yang dianggapnya berhati dingin itu sudah menganggapnya sebagai keluarga. Grace tidak terima dengan posisi itu awalnya, namun perlahan dia juga mengerti selama ini dia terlalu memaksakan keinginannya. Dan berakhir seperti ini.
Tidak bisa di pungkiri jika hal yang menimpanya juga karena ulahnya sendiri. Grace menekuk kakinya lalu memeluknya erat. Perlahan bahunya bergoyang, Grace menangis. Menangisi hidupnya.
“ pulihkan dirimu baru kita akan mulai pertarungan” perkataan Ai tiba-tiba melintas dalam benak Grace. Wanita itu begitu perhatian dengan dirinya, mungkin inilah alasannya Axton begitu mudah menyukai wanita itu. Dalam tangisnya Grace tersenyum tipis, berniat merubah hidupnya setelah ini.