
Keramaian kini beralih, yang
semula berada didalam ruangan lelang menjadi di sekitar tangga.
“ Duchess” Leyna yang
mengetahui jika Ai terluka langsung berlari memecah kerumunan.
“ siapa kamu?” Aric tidak
mengenal Leyna, dia yang menunggu pengawal serta tuan rumah langsung bertanya
saat ada seseorang yang mendekati Duchess.
“ saya dokter pribadinya”
jawab Leyna dan mulai memeriksa denyut nadi Ai.
Tak lama pengawal
kerajaan dengan ditemani madam Jolly langsung mengangkat tubuh Ai dan
memindahkannya kedalam ruangan yang tak jauh darisana.
Semua tamu di biarkan
pulang, acara lelang dihentikan secara mendadak. Pangeran Aric yang sejatinya
saksi kunci tetap memilih tinggal sampai memastikan jika kondisi Duchess
baik-baik saja.
Leyna dengan ditemani
Milly kini sibuk membersihkan luka dan memasang perban.
“ nyonya, kenapa bisa
seperti ini” Milly yang baru di beritahu jika Duchess terjatuh terlihat begitu cemas dan ketakutan.
Sedari tadi Milly berjaga di sekitaran kereta hingga tidak mengetahui kondisi
di dalam.
“ Duchess tidak mengalami
luka yang serius, kau bisa sedikit tenang” jawab dokter Leyna yang sedikit
terganggu dengan kekhawatiran Milly.
Beberapa saat setelah
semua luka terbalut, Ai menggerakkan kelopak mata.
“ emm, dimana aku?” Ai
berkata namun karena suaranya yang terlalu rendah hanya terdengar seperti
gumanan, untung saja Mily tak lepas memandangi nyonyanya sehingga dengan cepat
mengetahui jika Ai telah siuman.
“ dokter Leyna, Duchess
sudah sadar” ucap Milly antusias. Leyna yang sedang membereskan peralatan
segera mendekati Ai.
“ bagaimana Duchess,
apakah ada yang anda keluhkan?”
“ kepalaku sakit” jawab
Ai lemah
“ kepala anda terluka dan
untungnya tidak perlu jahitan. Coba gerakkan tangan dan kaki anda” Leyna sedang
mengdiagnosis bila ada luka lainnya.
Ai mengikuti perintah
Leyna dengan baik.
“ entah darimana besi ini
tapi untungnya hal ini membuat tubuh anda sedikit aman dari benturan “ Leyna
menujukkan sebuah besi yang terbalut kain. Ai hanya tersenyum tipis, untung
persiapannya membuahkan hasil.
“ bisakah kau mengatakan
jika kondisiku sedikit serius dan meminta untuk segera kembali “ Ai menatap
Leyna dalam begitupun dengan Milly. Leyna yang tidak tau apa alasannya hanya
mengangguk yang menuruti keinginan Duchess.
Diluar ruangan pangeran
Aric serta madam Jolly langsung menyambut Leyna, mereka yang sedari khawatir
kini meminta jawaban.
“ kondisi Duchess cukup
serius. Terdapat beberapa luka di tubuhnya, semua peralatan dokteku berada di
kediaman Duke, jadi sebaiknya Duchess harus kembali. Namun kalian tidak perlu
khawatir luka ini hanya butuh beberapa hari juga akan sembuh” semua mendengakan
dengan seksama penjelasan dari dokter Leyna.
“ baiklah jika memang
seperti itu, tapi jika perlu sesuatu kediamanku akan bertanggung jawab” madan Jolly menimpali perkataan Leyna.
“ bila butuh sesuatu
jangan sungkan, apalagi aku yang membuat Duchess terjatuh” pangeran Aric
mengutarakan penyesalannya.
“ jangan khawatir, dan
terimaksih atas semuanya. Kami langsung pamit” Leyna masuk ke dalam ruangan,
Disana Milly beserta pengawal Aric memindahkan tubuh Ai kedalam kereta.
Keesokan harinya, berita
terkait kecelakaan yang dialami oleh
Duchess Wellington sudah menyebar di ibu kota. Semua orang yang hadir ikut
memberikan kesaksian saat bercerita.
Kediaman Duke Wellington
terlihat tidak sesibuk biasanya, nyonya mereka sedang terbaring lemah dengan
ditemani Milly. Sedangkan Leyna berada di dapur menjelaskan sedikit aturan
makan Duchess pada para pelayan.
Didalam kamar Ai yang
sudah sadar sedang duduk bersandar pada kepala ranjang, sedang Milly duduk
didekatnya menemani untuk menjaga nyonyanya.
yang terjadi malam itu?” Milly begitu penasaran siapa yang membuat nyonyanya
terluka.
“ malam itu putra mahkota
berada disana” singkat namun membuat Milly melebarkan kelopak matanya. Lelaki
itu adalah musuh utama kediaman Duke, bagaimana bisa bertemu dengan Duchess.
“ kita harus meminta tuan
Hardwin untuk berjaga” Milly sudah akan melangkah namun Ai dengan sigap
langsung menahannya.
“ tidak, kita belum
saatnya melibatkan Hardwin” Ai menggeleng pelan. Dia sudah memiliki rencana
lain.
Tok tok, suara pintu dan
kemudian dokter Leyna masuk.
“ anda sudah bangun
Duchess?” Leyna membawa nampan berisi soup dan makanan sehat lainnya.
“ Milly tinggalkan kami”
ucap Ai.
Milly berjalan keluar dan
Leyna mendekat untuk menyuapi Ai.
“ Leyna, sudah berapa
lama kau bekerja pada kediaman Duke?”
“ em.. sepertinya sudah
sejak lama, ayah saya sudah melayani kediaman lord Duke kini saya melayani
Duke, benar-benar sudah sangat lama Duchess” jawab Leyna sambil tersenyum
ringan. Dia jadi teringan dengan mendiang ayahnya.
“ kalian begitu setia,
apa mungkin memiliki hutang budi pada Duke?” sambil memakan sup yang diberikan
Leyna.
“ ya, sepertinya begitu.
Duke sudah sangat membantu keluarga kami” Leyna mengangguk kecil, pertolongan
Duke tidak akan mampu dibayar dengan harta atau sejenisnya.
“ jika aku meminta
sesuatu, anggap saja ini bisa membalaskan sedikit hutang budi itu, apa kau
bersedia?” Ai mulai melancarkan rencananya.
“ maksud anda ?” Leyna
sedikit kebingungan dengan perkatakaan Ai.
“ begini…” Ai mulai
menjelaskan semua rencananya saja. Tidak mengatakan apapun tentang kerajaan,
hanya seperlunya saja. Akan sangat bahaya untuk keselamatan Leyna sendiri jika
mengetahui terlalu banyak.
“ bagaimana?” tanya Ai
setelah mengatakan secara panjang lebar semua hal yang harus dilakukan oleh
Leyna.
“ tapi apakah anda yakin,
kondisi anda masih begitu lemah. “
“ kau tidak perlu
khawatir. Hanya 5 hari, jangan biarkan siapapun mengetahui hal ini. Hanya Milly
yang bisa kau mintai pertolongan, dia sudah mengetahui situasinya” ucap Ai
menyakinkan.
Semua sudah siapkan sesuai dengan rencana, waktu
sudah sangat sore, hampir menjelang malam, sebuah kereta kuda keluar dari
kediaman Duke Wellington. Tak ada yang tau jika kereta itu berisikan Duchess,
semuanya mengira itu ada dokter Leyna yang sudah selesai mengobati Duchess.
Jalur yang di lewati kereta itupun menuju kediaman Leyna. Sesuai dengan
perintah, tak ada yang boleh mengetahui rencana ini.
Didalam Ai sudah berganti
dengan pakaian berkuda yang sudah disiapkan sebelumnya. Untung saja dokter
Leyna hanya tinggal seorang diri dengan begini situasi semakin tak menyulitkan
Ai. setelah memastikan kereta itu pergi, Ai segera menuju ke suatu tempat.
Disana sudah ada kuda dan berbagai hal lainnya. Dinaikinya kuda itu dan
bergegas menariknya keluar dari ibu kota. Tubuhnya yang lemah terkadang
membuatnya memelankan laju kuda. Hal ini tidak membuatnya berhenti, hanya
beberapa hari yang Ai punya untuk bisa menemui pamannya.
Fajar masih belum hilang
di langit Bavaria, kediaman Baron sudah dikejutkan dengan suara derap kuda yang
memasuki pelataran. Pelayan yang mengetahui siapa yang datang langsung
mengabarkan tuan rumah.
“ astaga Ainsley, ada apa
kau datang pagi-pagi begini? Tunggu keningmu kenapa? Kau bahkan tidak membawa
kereta. “ Amber begitu kaget dan khawatir dengan kondisi keponakan
tersayangnya. Biasanya jika melihat keponakannya Amber terlihat begitu senang,
kini situasinya sangat berbeda. Bukan malah memberikan kelegaan tapi malah
kekhawatiran. Wajah pucat dengan balutan luka di kening pada pagi-pagi menaiki
kuda sendiri sangat membuat hati Amber ketakutan. Sebenarnya apa yang terjadi
dengan Ai.
“ bibi, paman dimana?” Ai
tak ingin membuang waktu.