
Pagi harinya semua sudah
siap. Pasukan terbagi menjadi 2, satu pasukan bersama Axton dan pangeran Aric.
Sedang pasukan lainnya bersama dengan tuan Kleiner beserta Hardwin dan Ai. mereka
akan melalui jalur yang berbeda, satu pasukan pengalihan yakni pasukan tua
Kleiner akan mlewati jalur umum dan pasukan utama miliki Duke akan melewai
jalur sembunyi.
Beberapa dari mereka
bertanya-tanya karena Duchess tidak ikut serta dalam pasukan utama, namun
segera di tenangkan oleh Axton. pasukan bayangan harus mengantar Duchess ke
kampung halamannya dengan selamat selanjutnya mereka berpura-pura mengantar
pangeran ke ibu kota. Semua sudah terencana dengan baik.
Tanpa berlama-lama
perjalananpun di mulai. Ai tetap menggunakan pakaian lelaki, sehingga
tersamarkan kehadirannya didalam pasukan.
“ aku menitipkan
keselamatan Duchess pada kalian” ucap Axton kepada Aidyn dan Hardwin. Dia
menatap tajam di akhir kalimatnya ke arah Hardwin. Dia tidak mau lelaki itu kembali berfikir
diluar batas seperti sebelumnya.
“ baik Duke” jawab ayah
dan anak dengan kompak.
Ai dan Axton saling
mengucapkan perpisahan. Axton mengecup lama kening sang istri, kemudian pergi
menaiki kuda dan mendekati pasukannya. Ai menahan tangisnya entah kenapa
firasatnya mengatakan seakan mereka akan menghadapi hal besar setelah ini.
Setelah berhasil
menenangkan diri, Ai menaiki kuda dan pasukan bayangan berangkat. Mereka
melewati jalur yang berbeda. Ai berada di urutann kedua setelah posisi tuan
Kleiner. Wanita itu di samping Hardwin yang memang bertugas menjaga Duchess.
Tak lupa dengan pengawal pangeran Aric yang ikut dalam pasukan bayangan, seakan
menegaskan keberadan pangeran Aric disana.
Beberapa hari
berlangsung, mereka semakin jauh dengan perbatasan. Hardwin dan pasukannya
berjalan tanpa kendala. Bekat surat mandat dan pengawal pangeran beberapa kota
dengan mudah mereka lewati.
Saat ini hari sudah malam
mereka sedang beristrirahat di sebuah kawasan di samping hutan. Beberapa hari
lagi Ai sudah akan sampai di rumah kediaman pamannya. Dia seakan sedang
gelisah, memilih benar-benar tinggal disana atau tetap ikur pasukan sampai di
ibukota.
“ ini makanlah” Hadwin
menghampiri Ai yang sedang duduk sendirian di bawah sebuah pohon. Wanita itu
termenung tidak menyadari kehadiran Hardwin.
“ ah , ya” jawab Ai
sedikit kaget. Hardwin kemudian duduk di samping wanita itu.
“ kau
merindukannya?”tanya Hardwin, jelas sekali Ai paham siapa orang yang lelaki itu
maksud.
“ tentu saja” jawab Ai
santai.
“ dia lelaki yang hebat”
saut Hardwin. Dan hal itu membuat Ai mengerutkan keningnya. Sejak kapan
temannya ini terlihat menyukai suaminya.
“ kenapa kau menatapku
seperti itu?” Hardwin menoleh dan mendapati Ai menatapnya sinis.
“ aku akui sebelumnya aku
memang kehilangan pikiranku. Namun kali ini berkat ucapan Duke aku sudah
berubah. Duke benar-benar mengembalikan kewarasanku” jelas Hardwin. Dia sudah
bisa mengendalikan perasaanya dan mulai bisa menerima kenyataan.
Ai tersenyum tipis sambil
menyenggol bahu temannya. Dia merasakan perubahan yang Hardwin maksudkan.
“ kau tidak percaya?”
Hardwin mulai kesal dengan respon Ai yang biasa saja.
terlihat lebih bertanggung jawab”Ai memberikan respon agar Hardwin bisa sedikit
tenang.
“ aku benar- benar
menyesali perbuatanku waktu itu, aku tidak bisa..”
“ aku sudah memaafkanmu,
biarlah semua terkubur bersama waktu. Kita hanya fokus ke masa depan” Ai tidak
ingin berlarut-larut, hubungannya dengan Hardwin mulai membaik dan dia tidak
ingin merenggang kembali.
“ kau sama hebatnya
dengan Duke” jawab Hardwin kemudian. Hubungan mereka seakan kembali seperti
semula. Pertemanan mereka kembali utuh kecuali perasaan Hardwin yang sudah
stabil. Lelaki itu tidak lagi terobsesi dengan Ai, dia sekedar menyanyangi
wanita itu semestinya. Dia sudah menerima kekalahannya dan takdir cintanya.
“terimakasih, kau juga
akan menemukan wanita yang tulus kau cintai dan mencintaimu “ jawab Ai sambil
tersenyum tipis. Dia akan berdoa untuk itu, temannya ini pasti akan menemukan
wanita yang baik, seperti dia yang telah menemukan lelaki yang baik juga.
Beberapa hari sudah
terlewati, Ai sudah sampai di kediaman pamannya. Pasukan tuan Kleiner baru saja
memulai perjalanan kembali menuju ibu kota. Begitu sampai di sana nampak paman
Al dan Dalbet terlihat kaget.
“ kau datang sendirian?”
tanya paman Al yang menyambut kedatangan keponakannya di teras kediaman.
“ tidak aku di antar
Hardwin sampai depan, tapi dia sudah pergi. Pasukan mereka melajutkan
perjalanan ke ibukota” jawab Ai kepada pamanya.
“ mereka sudah akan menuju
ibukota ternyata” pama Al berguman sendiri namun dengan jelas Ai bisa
mendengarnya.
“ ada apa paman?” Ai
mencurigi sesuatu.
“ tidak ada apa-apa”
jawab paman Al yang terlihat sedikit gugup. Lelaki itu dengan segera membawa
keponakannya masuk, tak lupa bibinya langsung menyambut dengan senang.
“ Ai sudah lama sekali
bibi tidak bertemu dengamu” Amber memeluk Ai dengan sangat erat. sudah beberapa
bulan tidak melihat keponakannya membuat Amber terlihat begitu emosional.
Wanita sampai mengeluarkan air matanya karena terharu.
“ bibi, Ai juga rindu
sekali “ Ai juga membalas pelukan bibinya dengan tak kala eratya. Kedua wanita itu saling melepas rindu.
“ bagaimana kabarmu?”
Amber melepas pelukannya, dia meneliti kondisi Ai dari atas sampai bawah.
“ Ai baik-baik saja, bibi
sendiri bagaimana?”
“ seperti yang kau
lihat,,,”
“ biarkan Ai beristirahat
dulu, dia pasti lelah akibat perjalanan” paman Al segera mengingatkan istrinya
yang terlalu senang dengan kehadiran Ai.
“ ah ya, kau
beristrihatlah, bibi akan menyiapkan makanan kesukaanmu dulu” Amber mengantar
Ai sampai di depan kamar. Ai memang butuh sedikit istirahat, tubuhnya rasanya
begitu lelah dan sangat mengantuk.
Ai mulai membersihkan diri baru setelahnya dia
membaringkan tubuhnya diatas ranjang yang empuk. Sudah lama sekali dia tidak
merasaka empuknya ranjang dan berbagai fasilitas mewah. Wanita itu langsung
tertidur tanpa menunggu waktu lama. Perjalanan kali ini begitu terasa berat di
tubuhnya. Kondisinya mudah lelah dan mengatuk. Bahkan Ai harus menggunakan
kereta begitu sampai di kota. Biasanya dia kuatsaja jika menunggang kuda, namun
tidak kali ini. Ada sesuatu yang salah dengan tubuhnya.