The New Duchess

The New Duchess
Bab 127 : Perjalanan



Pagi harinya semua sudah


siap. Pasukan terbagi menjadi 2, satu pasukan bersama Axton dan pangeran Aric.


Sedang pasukan lainnya bersama dengan tuan Kleiner beserta Hardwin dan Ai. mereka


akan melalui jalur yang berbeda, satu pasukan pengalihan yakni pasukan tua


Kleiner akan mlewati jalur umum dan pasukan utama miliki Duke akan melewai


jalur sembunyi.


Beberapa dari mereka


bertanya-tanya karena Duchess tidak ikut serta dalam pasukan utama, namun


segera di tenangkan oleh Axton. pasukan bayangan harus mengantar Duchess ke


kampung halamannya dengan selamat selanjutnya mereka berpura-pura mengantar


pangeran ke ibu kota. Semua sudah terencana dengan  baik.


Tanpa berlama-lama


perjalananpun di mulai. Ai tetap menggunakan pakaian lelaki, sehingga


tersamarkan kehadirannya didalam pasukan.


“ aku menitipkan


keselamatan Duchess pada kalian” ucap Axton kepada Aidyn dan Hardwin. Dia


menatap tajam di akhir kalimatnya ke arah Hardwin.  Dia tidak mau lelaki itu kembali berfikir


diluar batas seperti sebelumnya.


“ baik Duke” jawab ayah


dan anak dengan kompak.


Ai dan Axton saling


mengucapkan perpisahan. Axton mengecup lama kening sang istri, kemudian pergi


menaiki kuda dan mendekati pasukannya. Ai menahan tangisnya entah kenapa


firasatnya mengatakan seakan mereka akan menghadapi hal besar setelah ini.


Setelah berhasil


menenangkan diri, Ai menaiki kuda dan pasukan bayangan berangkat. Mereka


melewati jalur yang berbeda. Ai berada di urutann kedua setelah posisi tuan


Kleiner. Wanita itu di samping Hardwin yang memang bertugas menjaga Duchess.


Tak lupa dengan pengawal pangeran Aric yang ikut dalam pasukan bayangan, seakan


menegaskan keberadan pangeran Aric disana.


Beberapa hari


berlangsung, mereka semakin jauh dengan perbatasan. Hardwin dan pasukannya


berjalan tanpa kendala. Bekat surat mandat dan pengawal pangeran beberapa kota


dengan mudah mereka lewati.


Saat ini hari sudah malam


mereka sedang beristrirahat di sebuah kawasan di samping hutan. Beberapa hari


lagi Ai sudah akan sampai di rumah kediaman pamannya. Dia seakan sedang


gelisah, memilih benar-benar tinggal disana atau tetap ikur pasukan sampai di


ibukota.


“ ini makanlah” Hadwin


menghampiri Ai yang sedang duduk sendirian di bawah sebuah pohon. Wanita itu


termenung tidak menyadari kehadiran Hardwin.


“ ah , ya” jawab Ai


sedikit kaget. Hardwin kemudian duduk di samping wanita itu.


“ kau


merindukannya?”tanya Hardwin, jelas sekali Ai paham siapa orang yang lelaki itu


maksud.


“ tentu saja” jawab Ai


santai.


“ dia lelaki yang hebat”


saut Hardwin. Dan hal itu membuat Ai mengerutkan keningnya. Sejak kapan


temannya ini terlihat menyukai suaminya.


“ kenapa kau menatapku


seperti itu?” Hardwin menoleh dan mendapati Ai menatapnya sinis.


“ aku akui sebelumnya aku


memang kehilangan pikiranku. Namun kali ini berkat ucapan Duke aku sudah


berubah. Duke benar-benar mengembalikan kewarasanku” jelas Hardwin. Dia sudah


bisa mengendalikan perasaanya dan mulai bisa menerima kenyataan.


Ai tersenyum tipis sambil


menyenggol bahu temannya. Dia merasakan perubahan yang Hardwin maksudkan.


“ kau tidak percaya?”


Hardwin mulai kesal dengan respon Ai yang biasa saja.


terlihat lebih bertanggung jawab”Ai memberikan respon agar Hardwin bisa sedikit


tenang.


“ aku benar- benar


menyesali perbuatanku waktu itu, aku tidak bisa..”


“ aku sudah memaafkanmu,


biarlah semua terkubur bersama waktu. Kita hanya fokus ke masa depan” Ai tidak


ingin berlarut-larut, hubungannya dengan Hardwin mulai membaik dan dia tidak


ingin merenggang kembali.


“ kau sama hebatnya


dengan Duke” jawab Hardwin kemudian. Hubungan mereka seakan kembali seperti


semula. Pertemanan mereka kembali utuh kecuali perasaan Hardwin yang sudah


stabil. Lelaki itu tidak lagi terobsesi dengan Ai, dia sekedar menyanyangi


wanita itu semestinya. Dia sudah menerima kekalahannya dan takdir cintanya.


“terimakasih, kau juga


akan menemukan wanita yang tulus kau cintai dan mencintaimu “ jawab Ai sambil


tersenyum tipis. Dia akan berdoa untuk itu, temannya ini pasti akan menemukan


wanita yang baik, seperti dia yang telah menemukan lelaki yang baik juga.


Beberapa hari sudah


terlewati, Ai sudah sampai di kediaman pamannya. Pasukan tuan Kleiner baru saja


memulai perjalanan kembali menuju ibu kota. Begitu sampai di sana nampak paman


Al dan Dalbet terlihat kaget.


“ kau datang sendirian?”


tanya paman Al yang menyambut kedatangan keponakannya di teras kediaman.


“ tidak aku di antar


Hardwin sampai depan, tapi dia sudah pergi. Pasukan mereka melajutkan


perjalanan ke ibukota” jawab Ai kepada pamanya.


“ mereka sudah akan menuju


ibukota ternyata” pama Al berguman sendiri namun dengan jelas Ai bisa


mendengarnya.


“ ada apa paman?” Ai


mencurigi sesuatu.


“ tidak ada apa-apa”


jawab paman Al yang terlihat sedikit gugup. Lelaki itu dengan segera membawa


keponakannya masuk, tak lupa bibinya langsung menyambut dengan senang.


“ Ai sudah lama sekali


bibi tidak bertemu dengamu” Amber memeluk Ai dengan sangat erat. sudah beberapa


bulan tidak melihat keponakannya membuat Amber terlihat begitu emosional.


Wanita sampai mengeluarkan air matanya karena terharu.


“ bibi, Ai juga rindu


sekali “ Ai juga membalas pelukan bibinya dengan tak kala eratya.  Kedua wanita itu saling melepas rindu.


“ bagaimana kabarmu?”


Amber melepas pelukannya, dia meneliti kondisi Ai dari atas sampai bawah.


“ Ai baik-baik saja, bibi


sendiri bagaimana?”


“ seperti yang kau


lihat,,,”


“ biarkan Ai beristirahat


dulu, dia pasti lelah akibat perjalanan” paman Al segera mengingatkan istrinya


yang terlalu senang dengan  kehadiran Ai.


“ ah ya, kau


beristrihatlah, bibi akan menyiapkan makanan kesukaanmu dulu” Amber mengantar


Ai sampai di depan kamar. Ai memang butuh sedikit istirahat, tubuhnya rasanya


begitu lelah dan sangat mengantuk.


 Ai mulai membersihkan diri baru setelahnya dia


membaringkan tubuhnya diatas ranjang yang empuk. Sudah lama sekali dia tidak


merasaka empuknya ranjang dan berbagai fasilitas mewah. Wanita itu langsung


tertidur tanpa menunggu waktu lama. Perjalanan kali ini begitu terasa berat di


tubuhnya. Kondisinya mudah lelah dan mengatuk. Bahkan Ai harus menggunakan


kereta begitu sampai di kota. Biasanya dia kuatsaja jika menunggang kuda, namun


tidak kali ini. Ada sesuatu yang salah dengan tubuhnya.