
Malam hari di kerajaan Bavaria tampak begitu
sepi. Bagaimana tidak, waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Sebuah
kereta kuda keluar dari pelataran kediaman Duke suaranya membelah kesunyian
malam kelam. Siapa saja yang sedang mengawasi kediaman pasti akan terpacing
untuk mengikuti guna mengetahui siapa yang akan di temui oleh tuan rumah.
Hal ini sudah difikirkan
matang-matang, beberapa saat setelah kereta kuda itu menjauhi gerbang, seorang
wanita yang entah dari mana, berjalan melewati dinding kediaman Duke. Wanita
itu keluar dari gerbang dan masuk
kedalam sebuah kereta komersil. Pakaiannya hampir setara dengan para bangsawan
tanpa gelar, sederhana dan tidak mencolok.
Setelah memberikan alamat
yang dituju, kereta itu bergerak berlawanan arah dengan kereta sebelumnya. Tak
ada yang curiga ataupun mengenali siapa wanita yang bertopi lebar. Topi membuat
siapa saja yang melihat akan kesusahan untuk mengenali wajah sang pemilik.
“ tunggu, aku segera kembali”
ucap wanita itu begitu sampai tujuan. Sang kusir hanya mengangguk. Dia sedikit
kebingungan karena tujuan sang penumpang adalah tempat kumpulan para parjurit,
ya Barack tentara.
Wanita itu berjalan
cepat, memasuki bangunan. Para penjaga tidak ada yang berani melarang. Topi itu
sudah dia lepas begitu memasuki Barack.
“ Ai, ada yang bisa ku bantu?”
Hardwin tampak kaget dengan kedatangn Ai yang tiba-tiba. Baru saja dia bersiap
pulang, untung saja mereka masih bisa ketemu.
“ kita bahas di dalam”
Hardwin kembali masuk kedalam ruangannya. Mereka langsung menuju sofa dan duduk
berdampingan.
“ apa mengenai Duke?”
Hardwin langsung memulai pembicaraan.
“ tidak, tapi Grace”
lelaki itu langsung megerutkan keningnya begitu mendengar nama yang di ucapkan
Ai.
“ Grace? Kenapa dia?” Ai
memaklumi ketidaktahuan Hardwin, pasalnya hanya kediaman Duke yang mengetahui
insiden serta keadaan terbaru dari mantan asisten Duke.
“ dia sedang mengandung
anak Sea” Hardwin semakin melebarkan matanya, semuanya terlalu mendadak,
membuatnya tidak bisa mencerna dengan baik.
“ ini berkaitan dengan
waktu pesta ulang tahun kerajaan dimana akukau temukan pingsan. Tak ada yang
tau jadi dia tinggal di kediaman Duke di desa, kami sepakat menyembunyikan
kabar ini agar anak itu selamat” lelaki itu kini mulai sedikit paham, dia
mengangguk pelan sambil terus mendengarkan cerita Ai.
“ tampaknya Sea sudah
mengetahui kebenaran itu, dia pergi menemui Grace. Aku memiliki firasat jika
saat ini Grace dan Sea sudah membuat rencana untukku” Ai sudah sampai pada
tujuannya kemari.
“ kau ingin aku melakukan
apa?” Hardwin mencoba membantu Ai.
“ kau pergilah menemui
Grace, tanyakan apa yang Sea ancamkan padanya. Karena aku yakin Grace sudah
berubah, dia tidak akan melakukan sesuatu jika tidak terpaksa” Ai memikirkan
ini dengan matang, entah apa yang sudah Grace lakukan dulu dan di kehidupan
sebelumnya, nayatanya dia masih kasihan dengan wanita itu. Ai bertekat untuk
menolong Grace.
“ baiklah akan aku coba”
“ apa kau mempunyai kabar
dari perbatasan?” Ai terlihat begitu berharap bisa mendapatkan informasi
mengenai kondisi Axton.
“ sayangnya tidak, namun
sepertinya pangeran Aric mempunyai rencana untuk menemui Axton” tidak masalah,
apapun informasi yang bersangkutan dengan Axton, Ai sungguh menantikannya.
“ dia mengatakannya
padamu?” Ai begitu antusias. Ternyata dari semua anggota kerajaan, masih ada
yang bisa di sebut manusia.
“ tidak, kemarin lusa
pengawalnya datang dia menanyakan kondisi kediaman Duke” Hardwin sudah
diberikan pesan untuk merahasiakan mengenai pasukan khusus. Hanya dia dan
pangeran Aric yang tau masalah ini.
“ sepertinya dia mulai
mencurigai keterlibatan Sea dengan masalah di perbatasan” Ai ikut menimpali,
wanita itu sedikit lega atas kesadaran Aric. Setidaknya ada yang bisa membantu
Axton di perbatasan sana.
“ sepertinya begitu”
Pertemuan itu berlangsung
cukup singkat. Setelah mengatakan tujuannya, Ai segera berpamitan. Dia merasa
pengalihan Mily dengan kereta kuda kediaman pasti sudah ketahuan.
Mily ditugaskan untuk
keluar dan mengulur waktu. Semakin hari Ai semakin teliti dalam melaksanakan aksinya.
Kereta kuda pesananya
masih menunggu dengan setia, sang kusir tetap tidak mengetahui siapa sebenarnya
penumpangnya itu.
“ kembali ke tempat
semula”Ai tidak menyebutkan alamatnya, dia akan kembali ke tempat dimana dia
menyewa kereta ini. Keretapun berjalan dan Ai kembali dalam lamunan sepanjang
perjalan.
Di di tempat yang jauh,
seorang lelaki tempak gusar menunggu waktu tengah malam. Disana tertulis agar
dia menunggu sampai ada pelayan yang membawakanya air hangat.
Ya, sesuai dengan
intruksi. Aric harus berpura-pura sakit dan meminta pelayan menyiapkan air
untuk mengompresnya. Aric hanya tau mengenai itu, selebihnya dia hanya bisa
menunggu siapa yang akan datang.
“ permisi yang mulia”
seorang pelayan wanita datang, dia pelayan yang sama yang sudah memberinya
kode.
“ taruh disana” Aric
memberikan intruksi agar airnya di taruh dinakas samping ranjang.
Pelayan itu berjalan
dengan tenang, seolah tidak menunggu apapun. Aric mengamati dalam diam. dia
sedikit ragu dengan fikirannya, apa
mungkin wanita ini bisa membuatnya
bebas.
Tak lama terdengar suara
gaduh dari luar. Aric beserta pelayan
itu keluar untuk mencari tahu.
“ mari yang mulia” belum
juga sampai di pintu, pelayan itu menyuruh Aric untuk berjalan mengikutinya.
Begitu sampai di depan, ternyata para penjaga itu sudah tergeletak. Kemungkinan
mereka di bius.
Pelayan itu membawa Aric
mamasuki lorong dan tembus di sebuah tembok besar. Disana sudah ada tali untuk
memanjat. Aric menarik tali itu, bersamaan dengan pelayan tadi pergi
meninggalkannya.
“ yang mulia” pengawal
pribadinya ternyata sudah menunggu dibalik tembok. Aric meloncat turun dan
segera menaiki kuda. Dia mengikuti arah yang di pimpin oleh pengawalnya. Hanya
mereka berdua, yang lain sedang menunggu disuatu tempat.
Belum jauh perjalanan
mereka, suara genderang terdengar dari tempat yang baru mereka tinggalkan.
“ mereka sudah menyadari
jika anda melarikan diri “ saut pengawal itu. Mereka semakin mengencangkan tali
dan melaju dengan cepat.
Suasana camp menjadi
kacau, mereka segera berpencar untuk mencari keberadaan pangeran Aric. Pemimpin disana wajahnya terlihat pucat
karena takut jika Aric tidak bisa ditemukan.
Dia sudah diberikan tugas
oleh putra mahkota untuk menjaga Aric, jika sampai gagal entah hukuman apa yang
akan dia dapatkan.
“ segera cari sampai
ketemu” teriaknya menggelegar begitu marahnya.
“ cari di segala tempat,
tugaskan yang lain untuk pergi ke hutan terdekat” pasukan itu segera memecah
diri, satu mencari di dalam Camp sedang lainnya di luar. Pemimpin itu akan
berusaha menahan semua jalur, dia tidak boleh kehilangan pangeran Aric.
Aric beserta pengawalnya
terus melaju mereka menuju hutan. Disana sudah ada yang menunggu. Mereka sudah
merencakan hal lain.
“ yang mulia sepertinya
kita harus berpisah, saya akan mengalihkan mereka, anda segera pergi menuju
hutan. Disana sudah ada orang-orang kita” Aric tidak menyetujui rencana
tersebut. Dia tidak akan meninggalkan pengawalnya.
“ tidak, kita pergi
bersama. Mereka masih jauh tertinggal” ucap Aric
“ mereka pasti akan
menuju hutan, lebih baik saya mengulur waktu sampai anda benar-benar aman”
kembali adu argument antara pangeran dan pengawal terus berlanjut.
“ tidak, aku katakan
tidak” akhirnya pengawal itu mengalah. Dia sedikit khawatir dengan sifat baik
hati pangeran yang terkadang menjadi kelemahan bagi pangeran itu sendiri.
Sejak menjadi pengawal
pangeran Aric lelaki itu sangat berterimakasih, mengikuti segala perjalananya
dia yakin jika tuannya menjadi seorang raja, pastilah rakyat makmur. Namun
sayangnya tuannya itu begitu baik hati, melawan seseorang seperti putra mahkota
terkadan memang membuat lelaki itu sedikit gentar. Pangeran Aric tidak terbiasa
berfikir jahat dengan mengorban sesuatu untuk menggapai keinginannya.