The New Duchess

The New Duchess
Bab 68 : Pengalihan



 Malam hari di kerajaan Bavaria tampak begitu


sepi. Bagaimana tidak, waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Sebuah


kereta kuda keluar dari pelataran kediaman Duke suaranya membelah kesunyian


malam kelam. Siapa saja yang sedang mengawasi kediaman pasti akan terpacing


untuk mengikuti guna mengetahui siapa yang akan di temui oleh tuan rumah.


Hal ini sudah difikirkan


matang-matang, beberapa saat setelah kereta kuda itu menjauhi gerbang, seorang


wanita yang entah dari mana, berjalan melewati dinding kediaman Duke. Wanita


itu keluar  dari gerbang dan masuk


kedalam sebuah kereta komersil. Pakaiannya hampir setara dengan para bangsawan


tanpa gelar, sederhana dan tidak mencolok.


Setelah memberikan alamat


yang dituju, kereta itu bergerak berlawanan arah dengan kereta sebelumnya. Tak


ada yang curiga ataupun mengenali siapa wanita yang bertopi lebar. Topi membuat


siapa saja yang melihat akan kesusahan untuk mengenali wajah sang pemilik.


“ tunggu, aku segera kembali”


ucap wanita itu begitu sampai tujuan. Sang kusir hanya mengangguk. Dia sedikit


kebingungan karena tujuan sang penumpang adalah tempat kumpulan para parjurit,


ya Barack tentara.


Wanita itu berjalan


cepat, memasuki bangunan. Para penjaga tidak ada yang berani melarang. Topi itu


sudah dia lepas begitu memasuki Barack.


“ Ai, ada yang bisa ku bantu?”


Hardwin tampak kaget dengan kedatangn Ai yang tiba-tiba. Baru saja dia bersiap


pulang, untung saja mereka masih bisa ketemu.


“ kita bahas di dalam”


Hardwin kembali masuk kedalam ruangannya. Mereka langsung menuju sofa dan duduk


berdampingan.


“ apa mengenai Duke?”


Hardwin langsung  memulai pembicaraan.


“ tidak, tapi Grace”


lelaki itu langsung megerutkan keningnya begitu mendengar nama yang di ucapkan


Ai.


“ Grace? Kenapa dia?” Ai


memaklumi ketidaktahuan Hardwin, pasalnya hanya kediaman Duke yang mengetahui


insiden serta keadaan terbaru dari mantan asisten Duke.


“ dia sedang mengandung


anak Sea” Hardwin semakin melebarkan matanya, semuanya terlalu mendadak,


membuatnya tidak bisa mencerna dengan baik.


“ ini berkaitan dengan


waktu pesta ulang tahun kerajaan dimana akukau temukan pingsan. Tak ada yang


tau jadi dia tinggal di kediaman Duke di desa, kami sepakat menyembunyikan


kabar ini agar anak itu selamat” lelaki itu kini mulai sedikit paham, dia


mengangguk pelan sambil terus mendengarkan cerita Ai.


“ tampaknya Sea sudah


mengetahui kebenaran itu, dia pergi menemui Grace. Aku memiliki firasat jika


saat ini Grace dan Sea sudah membuat rencana untukku” Ai sudah sampai pada


tujuannya kemari.


“ kau ingin aku melakukan


apa?” Hardwin mencoba membantu Ai.


“ kau pergilah menemui


Grace, tanyakan apa yang Sea ancamkan padanya. Karena aku yakin Grace sudah


berubah, dia tidak akan melakukan sesuatu jika tidak terpaksa” Ai memikirkan


ini dengan matang, entah apa yang sudah Grace lakukan dulu dan di kehidupan


sebelumnya, nayatanya dia masih kasihan dengan wanita itu. Ai bertekat untuk


menolong Grace.


“ baiklah akan aku coba”


“ apa kau mempunyai kabar


dari perbatasan?” Ai terlihat begitu berharap bisa mendapatkan informasi


mengenai kondisi Axton.


“ sayangnya tidak, namun


sepertinya pangeran Aric mempunyai rencana untuk menemui Axton” tidak masalah,


apapun informasi yang bersangkutan dengan Axton, Ai sungguh menantikannya.


“ dia mengatakannya


padamu?” Ai begitu antusias. Ternyata dari semua anggota kerajaan, masih ada


yang bisa di sebut manusia.


“ tidak, kemarin lusa


pengawalnya datang dia menanyakan kondisi kediaman Duke” Hardwin sudah


diberikan pesan untuk merahasiakan mengenai pasukan khusus. Hanya dia dan


pangeran Aric yang tau masalah ini.


“ sepertinya dia mulai


mencurigai keterlibatan Sea dengan masalah di perbatasan” Ai ikut menimpali,


wanita itu sedikit lega atas kesadaran Aric. Setidaknya ada yang bisa membantu


Axton di perbatasan sana.


“ sepertinya begitu”


Pertemuan itu berlangsung


cukup singkat. Setelah mengatakan tujuannya, Ai segera berpamitan. Dia merasa


pengalihan Mily dengan kereta kuda kediaman pasti sudah ketahuan.


Mily ditugaskan untuk


keluar dan mengulur waktu. Semakin hari  Ai semakin teliti dalam melaksanakan aksinya.


Kereta kuda pesananya


masih menunggu dengan setia, sang kusir tetap tidak mengetahui siapa sebenarnya


penumpangnya itu.


“ kembali ke tempat


semula”Ai tidak menyebutkan alamatnya, dia akan kembali ke tempat dimana dia


menyewa kereta ini. Keretapun berjalan dan Ai kembali dalam lamunan sepanjang


perjalan.


Di di tempat yang jauh,


seorang lelaki tempak gusar menunggu waktu tengah malam. Disana tertulis agar


dia menunggu sampai ada pelayan yang membawakanya air hangat.


Ya, sesuai dengan


intruksi. Aric harus berpura-pura sakit dan meminta pelayan menyiapkan air


untuk mengompresnya. Aric hanya tau mengenai itu, selebihnya dia hanya bisa


menunggu siapa yang akan datang.


“ permisi yang mulia”


seorang pelayan wanita datang, dia pelayan yang sama yang sudah memberinya


kode.


“ taruh disana” Aric


memberikan intruksi agar airnya di taruh dinakas samping ranjang.


Pelayan itu berjalan


dengan tenang, seolah tidak menunggu apapun. Aric mengamati dalam diam. dia


sedikit ragu dengan  fikirannya, apa


mungkin wanita ini  bisa membuatnya


bebas.


Tak lama terdengar suara


gaduh dari luar.  Aric beserta pelayan


itu keluar untuk mencari tahu.


“ mari yang mulia” belum


juga sampai di pintu, pelayan itu menyuruh Aric untuk berjalan mengikutinya.


Begitu sampai di depan, ternyata para penjaga itu sudah tergeletak. Kemungkinan


mereka di bius.


Pelayan itu membawa Aric


mamasuki lorong dan tembus di sebuah tembok besar. Disana sudah ada tali untuk


memanjat. Aric menarik tali itu, bersamaan dengan pelayan tadi pergi


meninggalkannya.


“ yang mulia” pengawal


pribadinya ternyata sudah menunggu dibalik tembok. Aric meloncat turun dan


segera menaiki kuda. Dia mengikuti arah yang di pimpin oleh pengawalnya. Hanya


mereka berdua, yang lain sedang menunggu disuatu tempat.


Belum jauh perjalanan


mereka, suara genderang terdengar dari tempat yang baru mereka tinggalkan.


“ mereka sudah menyadari


jika anda melarikan diri “ saut pengawal itu. Mereka semakin mengencangkan tali


dan melaju dengan cepat.


Suasana camp menjadi


kacau, mereka segera berpencar untuk mencari keberadaan pangeran Aric.  Pemimpin disana wajahnya terlihat pucat


karena takut jika Aric tidak bisa ditemukan.


Dia sudah diberikan tugas


oleh putra mahkota untuk menjaga Aric, jika sampai gagal entah hukuman apa yang


akan dia dapatkan.


“ segera cari sampai


ketemu” teriaknya menggelegar begitu marahnya.


“ cari di segala tempat,


tugaskan yang lain untuk pergi ke hutan terdekat” pasukan itu segera memecah


diri, satu mencari di dalam Camp sedang lainnya di luar. Pemimpin itu akan


berusaha menahan semua jalur, dia tidak boleh kehilangan pangeran Aric.


Aric beserta pengawalnya


terus melaju mereka menuju hutan. Disana sudah ada yang menunggu. Mereka sudah


merencakan hal lain.


“ yang mulia sepertinya


kita harus berpisah, saya akan mengalihkan mereka, anda segera pergi menuju


hutan. Disana sudah ada orang-orang kita” Aric tidak menyetujui rencana


tersebut. Dia tidak akan meninggalkan pengawalnya.


“ tidak, kita pergi


bersama. Mereka masih jauh tertinggal” ucap Aric


“ mereka pasti akan


menuju hutan, lebih baik saya mengulur waktu sampai anda benar-benar aman”


kembali adu argument antara pangeran dan pengawal terus berlanjut.


“ tidak, aku katakan


tidak” akhirnya pengawal itu mengalah. Dia sedikit khawatir dengan sifat baik


hati pangeran yang terkadang menjadi kelemahan bagi pangeran itu sendiri.


Sejak menjadi pengawal


pangeran Aric lelaki itu sangat berterimakasih, mengikuti segala perjalananya


dia yakin jika tuannya menjadi seorang raja, pastilah rakyat makmur. Namun


sayangnya tuannya itu begitu baik hati, melawan seseorang seperti putra mahkota


terkadan memang membuat lelaki itu sedikit gentar. Pangeran Aric tidak terbiasa


berfikir jahat dengan mengorban sesuatu untuk menggapai keinginannya.