
Axton mengangguk ringan, dia menyaksikan
bagaimana istrinya dengan cepat dan lahab mulai menghabisan semua makanan.
“ makanlah sebanyak
mungkin, hujan membuatmu terlihat begitu menarik” Axton terus mengeluarkan
masukan tidak bermutu, Ai sudah kepalang kesal hanya bisa mengacuhkan semua
perkataan Axton. lelaki itu menopang kepalanya karena berhenti makan, dia
sangat menginginkan Ai lagi. Kali ini dia harus berhasil menghamili istrinya.
“ hentikan tatapan
mesummu” guman Ai dengan mulut penuh dengan makanan. Bukannya terganggu, Axton
tersenyum senang akibat respon Ai yang benar itu. Lelaki itu memang sedang
berfikiran mesum mengenai istrinya. Apalagi membayangkan bagian perut Ai nanti
besar karena ulahnya.
“ cepat habiskan dan kita
kembali ke kamar” Axton kali ini sangat berbeda, lelaki itu terlihat begitu
manja dan kekanak-kanakan. Dia bukanlah Axton yang dinginseperti awal mereka
bertemu.
“ kau serius?” Ai
melotot, makanan bahkan belum habis dan suaminya sudah kambuh.
Axton melihat tatapan
kaget sang istri, wanita itu malah tampak menggemaskan di matanya.
“ waktu habis” Axton
segera bangkit. Dan tak lupa membawa serta Ai yang dengan mudahnya lelaki itu
angkat masuk ke kamar.
“ kau gila?!, turunkan
aku” Ai berteriak, namun suaranya kalah denga suara guyuran hujan yang semakin
turun dengan deras. Suasana semakin mendukung keinginan Axton. mereka kembali
mengulang kejadian semalam sepanjang hari.
Hari berikutnya sesuai
dengan kesepakatan ayahnya, Hardwin diajak ikut bertemu dengan Duke. Mereka
berdua datang lebih lambat karena Hardwin harus meminum ramuan terakhirnya,
sedangkan pangeran Aric kesana lebih dulu.
Aidyn sebenarnya yang
meminta seperti itu agar pembahasan Duke dengan pangeran Aric lebih terjaga.
Belum lagi setelah ini pangeran akan kembali ke ibu kota bersama dengan
anaknya. Duke pasti membahas masalah serius dengannya.
“ kenapa ayah tidak
pernah mengatakan mengenai pondok khusus itu?” tanya Hardwin ketika dalam
perjalanan melewati hutan. Lelaki itu masih sedikit dongkol karena dirinya sudah
dibohongi sebelumnya.
“ itu kawasan rahasia”
jawab tuan Kleiner singkat.
“ lalu kenapa ayah tidak
mengatakan bahwa kondisi Duke sudah membaik, bahkan sudah tidak memerlukan
darahku lagi?” seperti anak kecil, Hardwin terus saja menuntut semua perlakuan
ayahnya kepadanya. Dia merasa tidak terima dengan kebohongan ini.
“ memangnya kau ada
urusan apa? Sejak kemarin masalah ini saja yang kau keluhkan” Aidyn semakin
lelah dibuatnya, dia merasa ada yang janggal jadi dia menanyakan kebenarannya
kepada anaknya.
“ ya, ya aku cumin ingin
tau saja” Hardwin kembali menutupi alasan yang sebenarnya atas semua kemarahannya.
Perjalanan itu mulai
berakhir, kedua lelaki itu sudah melihat bangunan pondok dengan latar danau
yang indah. Hardwi merasa takjub sejenak, dia tidak pernah melihat pemandangan
ini sebelumnya.
Lelaki itu berjalan cepat
menyusul ayahnya yang sudah berada jauh di depan. Begitu terkesimanya sampai dia
tanpa sadar menghentikan langkahnya.
Kini mereka sudah berada
dihalaman depan, disana sudah ada Axton dan pangeran yang sedang berbicara serius.
Begitu menapaki teras, kedatangan Hardwin langsung di sambut dengan tatapan
tajam nan menyeramkan dari Axton. membuat Hardwin menelan ludahnya kasar,
sedangkan tuan Kleiner merasa jika firasatnya benar mengenai anaknya yang
menyembunyikan sesuatu.
“ pengeran Aric, Duke”
ucap kedua lelaki itu bersamaan sebagai bentuk penghormatan. Lalu keduanya
duduk dimeja yang sama. Hawa tempat itu seketika berubah menjadi dingin. Tuan
Kleiner lupa jika dia dilarang membawa Hardwin kemari oleh Axton. lelaki itu
melupakan hal penting.
Karena jika sampai
Hardwin terlihat oleh Axton, lelaki ini tidak akan menahan amarahnya atas semua
yang Hardwin lakukan kepada istrinya.
Hardwin yang baru saja
duduk, dia menghiraukan situasi yang sudah mulai dingin. Lelaki itu sibuk
mencari keberadaan Ai dengan menengok ke semua penjuru ruangan.
tanya Axton dengan nada keras. Raut wajahnya benar-benar menakutkan.
Hardwin sedikit tersentak
dengan suara Axton, lelaki itusegera memandang lawan bicaranya. Dia baru menyadari jika tatapan yang Axton
berikan sungguh tajam.
“mencari istriku? “ tanya
Axton sarkas, dia memang sangat membenci lelaki yang ada depannya ini. Jika
bukan karena ayahnya mungkin saja dia sudah melubangi kepala lelaki ini dengan
peluru miliknya.
“ em, kami memiliki
urusan yang penting untuk dibahas” Hardwin tidak tau bahwa perjanjiannya dengan
Ai dan semua yang sudah dia perbuat saat di tenda Tordor, Axton sudah
mengetahuinya. Dia mengira tatapan tajam
Axton adalah karena cemburu dengannya.
“ baiklah, aku juga
memiliki urusan yang penting juga denganmu. Berdirilah” Axton masih berusaha
menurunkan egonya karena ada pangeran Aric dan Aidyn disana.
Hardwin tidak berfikir
macam-macam, dia fikir Axton akan menunjukkan sesuatu saat menyuruhnya berdiri.
Namun dugaanya salah.
Brugh, satu pukulan
mendarat di pipi Hardwin, lelaki itu langsung tersungkur dengan darah yang
keluar dari tepi bibirnya.
Seketika pangeran Aric
beserta tuan Kleiner segera berdiri. Mereka tidak menyangka dengan kejadian
yang baru saja terjadi. Aidyn dengan cepat segera membantu anaknya yang
terjatuh, namun pengeran Aric menahannya. Dia percaya Duke pasti memiliki
alasan kuat kenapa melakukan hal ini kepada Hardwin.
Didalam pondok Ai yang
sudah dilarang keluar hanya bisa membekap mulutnya karena kaget. Dia
menyaksikan daridalam. Wanita itu akan mematuhi perintah suaminya untuk tetap
didalam.
“ sial !!” cerca Hardwin,
lelaki itu tidak ada rasa hormat lagi kepada Axton. dia berdiri dengan angkuh.
Aidyn yang menyaksikan semakin tidak mengerti dengan semuanya.
“ aku sudah memberikan
darahku, kenapa kau malah memukulku, hah?” Hardwin menatap Axton dengan mata
menyalang, melotot tak kenal takut.
Bukk.. satu tendangan
Axton mengenai perut Hardwin dan membuatnya terlampar ke lapangan depan.
“Duke!” Aidyn tidak bisa
diam saja menyasikan anaknya di pukul oleh Duke, kekuatan jujungannya ini tidak
bisa diremehkan. Dia takut terjadi hal yang fatal kepada anaknya. Lelaki itu
segera menghampiri dan membantu anaknya berdiri. Namun Hardwin malah menolak
pertolongan ayahnya.
“ aku sudah melarangmu
membawa dia kemari, jangan salahkan aku” desis Axton tegas. Kini Aidyn baru
mengingatnya dan dia menyesal harus melupakan larangan dari Duke.
“ kau benar-benar tidak
tau terimakasih” Hardwin masih saja tidak sadar dengan kesalahannya. Dia terus
mencerca Seorang Duke di depan Pangeran kerajaan.
“ Hardwin!” teriak Aidyn
atas ucapan lancang anaknya.
“ kau berhutang padaku”
bukannya berhenti, Hardwin malah maju. Berniat membalas serangan Axton padanya.
Hardwin salah memilih
lawan, baru maju selangkah Axton langsung memberikan pukulan. Tubuh itu jatuh
begitu saja. Kali ini Aidyn tidak langsung menolong, karena anaknya terlihat
tidak mau mengalah juga.
Akhirnya terjadi
perkelahian, atau lebih tepatnya adegan pemukulan Axton. karena tidak ada satu
serangan milih Hardwin yang berhasil menyentuh tubuh Axton.
Padahal Axton tidak serta
merta mengeluarkan semua tenaganya, dia tidak tega melihat Aidyn dengan wajah
sedih melihat anaknya babak belur ditangannya. Axton hanya memberikan sedikit
pelajaran kepada Hardwin, nyatanya Hardwin sendiri yang tidak kunjung sadar dan
malah menantangnya.
“ kau yang harus tau,
siapa yang sedang berhutang disini”ucap Axton dengan masih membalas serangan
Hardwin. Mereka berdua bahkan sudah hampir mendekati danau karena perkelahian
tak imbang itu.
“ Bregsek” guman Hardwin
yang sudah tidak bisa berdiri dengan tegak, badannya terasa remuk redam. Semua
serangannya berhasil Axton hindari dan dengan mudahnya Axton memberikan
serangan yang sama.