The New Duchess

The New Duchess
Bab 123: Pelajaran



 Axton mengangguk ringan, dia menyaksikan


bagaimana istrinya dengan cepat dan lahab mulai menghabisan semua makanan.


“ makanlah sebanyak


mungkin, hujan membuatmu terlihat begitu menarik” Axton terus mengeluarkan


masukan tidak bermutu, Ai sudah kepalang kesal hanya bisa mengacuhkan semua


perkataan Axton. lelaki itu menopang kepalanya karena berhenti makan, dia


sangat menginginkan Ai lagi. Kali ini dia harus berhasil menghamili istrinya.


“ hentikan tatapan


mesummu” guman Ai dengan mulut penuh dengan makanan. Bukannya terganggu, Axton


tersenyum senang akibat respon Ai yang benar itu. Lelaki itu memang sedang


berfikiran mesum mengenai istrinya. Apalagi membayangkan bagian perut Ai nanti


besar karena ulahnya.


“ cepat habiskan dan kita


kembali ke kamar” Axton kali ini sangat berbeda, lelaki itu terlihat begitu


manja dan kekanak-kanakan. Dia bukanlah Axton yang dinginseperti awal mereka


bertemu.


“ kau serius?” Ai


melotot, makanan bahkan belum habis dan suaminya sudah kambuh.


Axton melihat tatapan


kaget sang istri, wanita itu malah tampak menggemaskan di matanya.


“ waktu habis” Axton


segera bangkit. Dan tak lupa membawa serta Ai yang dengan mudahnya lelaki itu


angkat masuk ke kamar.


“ kau gila?!, turunkan


aku” Ai berteriak, namun suaranya kalah denga suara guyuran hujan yang semakin


turun dengan deras. Suasana semakin mendukung keinginan Axton. mereka kembali


mengulang kejadian semalam sepanjang hari.


Hari berikutnya sesuai


dengan kesepakatan ayahnya, Hardwin diajak ikut bertemu dengan Duke. Mereka


berdua datang lebih lambat karena Hardwin harus meminum ramuan terakhirnya,


sedangkan pangeran Aric kesana lebih dulu.


Aidyn sebenarnya yang


meminta seperti itu agar pembahasan Duke dengan pangeran Aric lebih terjaga.


Belum lagi setelah ini pangeran akan kembali ke ibu kota bersama dengan


anaknya. Duke pasti membahas masalah serius dengannya.


“ kenapa ayah tidak


pernah mengatakan mengenai pondok khusus itu?” tanya Hardwin ketika dalam


perjalanan melewati hutan. Lelaki itu masih sedikit dongkol karena dirinya sudah


dibohongi sebelumnya.


“ itu kawasan rahasia”


jawab tuan Kleiner singkat.


“ lalu kenapa ayah tidak


mengatakan bahwa kondisi Duke sudah membaik, bahkan sudah tidak memerlukan


darahku lagi?” seperti anak kecil, Hardwin terus saja menuntut semua perlakuan


ayahnya kepadanya. Dia merasa tidak terima dengan kebohongan ini.


“ memangnya kau ada


urusan apa? Sejak kemarin masalah ini saja yang kau keluhkan” Aidyn semakin


lelah dibuatnya, dia merasa ada yang janggal jadi dia menanyakan kebenarannya


kepada anaknya.


“ ya, ya aku cumin ingin


tau saja” Hardwin kembali menutupi alasan yang sebenarnya atas semua kemarahannya.


Perjalanan itu mulai


berakhir, kedua lelaki itu sudah melihat bangunan pondok dengan latar danau


yang indah. Hardwi merasa takjub sejenak, dia tidak pernah melihat pemandangan


ini sebelumnya.


Lelaki itu berjalan cepat


menyusul ayahnya yang sudah berada jauh di depan. Begitu terkesimanya sampai dia


tanpa sadar menghentikan langkahnya.


Kini mereka sudah berada


dihalaman depan, disana sudah ada Axton dan pangeran yang sedang berbicara serius.


Begitu menapaki teras, kedatangan Hardwin langsung di sambut dengan tatapan


tajam nan menyeramkan dari Axton. membuat Hardwin menelan ludahnya kasar,


sedangkan tuan Kleiner merasa jika firasatnya benar mengenai anaknya yang


menyembunyikan sesuatu.


“ pengeran Aric, Duke”


ucap kedua lelaki itu bersamaan sebagai bentuk penghormatan. Lalu keduanya


duduk dimeja yang sama. Hawa tempat itu seketika berubah menjadi dingin. Tuan


Kleiner lupa jika dia dilarang membawa Hardwin kemari oleh Axton. lelaki itu


melupakan hal penting.


Karena jika sampai


Hardwin terlihat oleh Axton, lelaki ini tidak akan menahan amarahnya atas semua


yang Hardwin lakukan kepada istrinya.


Hardwin yang baru saja


duduk, dia menghiraukan situasi yang sudah mulai dingin. Lelaki itu sibuk


mencari keberadaan Ai dengan menengok ke semua penjuru ruangan.


tanya Axton dengan nada keras. Raut wajahnya benar-benar menakutkan.


Hardwin sedikit tersentak


dengan suara Axton, lelaki itusegera  memandang lawan bicaranya. Dia baru menyadari jika tatapan yang Axton


berikan sungguh tajam.


“mencari istriku? “ tanya


Axton sarkas, dia memang sangat membenci lelaki yang ada depannya ini. Jika


bukan karena ayahnya mungkin saja dia sudah melubangi kepala lelaki ini dengan


peluru miliknya.


“ em, kami memiliki


urusan yang penting untuk dibahas” Hardwin tidak tau bahwa perjanjiannya dengan


Ai dan semua yang sudah dia perbuat saat di tenda Tordor, Axton sudah


mengetahuinya.  Dia mengira tatapan tajam


Axton adalah karena cemburu dengannya.


“ baiklah, aku juga


memiliki urusan yang penting juga denganmu. Berdirilah” Axton masih berusaha


menurunkan egonya karena ada pangeran Aric dan Aidyn disana.


Hardwin tidak berfikir


macam-macam, dia fikir Axton akan menunjukkan sesuatu saat menyuruhnya berdiri.


Namun dugaanya salah.


Brugh, satu pukulan


mendarat di pipi Hardwin, lelaki itu langsung tersungkur dengan darah yang


keluar dari tepi bibirnya.


Seketika pangeran Aric


beserta tuan Kleiner segera berdiri. Mereka tidak menyangka dengan kejadian


yang baru saja terjadi. Aidyn dengan cepat segera membantu anaknya yang


terjatuh, namun pengeran Aric menahannya. Dia percaya Duke pasti memiliki


alasan kuat kenapa melakukan hal ini kepada Hardwin.


Didalam pondok Ai yang


sudah dilarang keluar hanya bisa membekap mulutnya karena kaget. Dia


menyaksikan daridalam. Wanita itu akan mematuhi perintah suaminya untuk tetap


didalam.


“ sial !!” cerca Hardwin,


lelaki itu tidak ada rasa hormat lagi kepada Axton. dia berdiri dengan angkuh.


Aidyn yang menyaksikan semakin tidak mengerti dengan semuanya.


“ aku sudah memberikan


darahku, kenapa kau malah memukulku, hah?” Hardwin menatap Axton dengan mata


menyalang, melotot tak kenal takut.


Bukk.. satu tendangan


Axton mengenai perut Hardwin dan membuatnya terlampar ke lapangan depan.


“Duke!” Aidyn tidak bisa


diam saja menyasikan anaknya di pukul oleh Duke, kekuatan jujungannya ini tidak


bisa diremehkan. Dia takut terjadi hal yang fatal kepada anaknya. Lelaki itu


segera menghampiri dan membantu anaknya berdiri. Namun Hardwin malah menolak


pertolongan ayahnya.


“ aku sudah melarangmu


membawa dia kemari, jangan salahkan aku” desis Axton tegas. Kini Aidyn baru


mengingatnya dan dia menyesal harus melupakan larangan dari Duke.


“ kau benar-benar tidak


tau terimakasih” Hardwin masih saja tidak sadar dengan kesalahannya. Dia terus


mencerca Seorang Duke di depan Pangeran kerajaan.


“ Hardwin!” teriak Aidyn


atas ucapan lancang anaknya.


“ kau berhutang padaku”


bukannya berhenti, Hardwin malah maju. Berniat membalas serangan  Axton padanya.


Hardwin salah memilih


lawan, baru maju selangkah Axton langsung memberikan pukulan. Tubuh itu jatuh


begitu saja. Kali ini Aidyn tidak langsung menolong, karena anaknya terlihat


tidak mau mengalah juga.


Akhirnya terjadi


perkelahian, atau lebih tepatnya adegan pemukulan Axton. karena tidak ada satu


serangan milih Hardwin yang berhasil menyentuh tubuh Axton.


Padahal Axton tidak serta


merta mengeluarkan semua tenaganya, dia tidak tega melihat Aidyn dengan wajah


sedih melihat anaknya babak belur ditangannya. Axton hanya memberikan sedikit


pelajaran kepada Hardwin, nyatanya Hardwin sendiri yang tidak kunjung sadar dan


malah menantangnya.


“ kau yang harus tau,


siapa yang sedang berhutang disini”ucap Axton dengan masih membalas serangan


Hardwin. Mereka berdua bahkan sudah hampir mendekati danau karena perkelahian


tak imbang itu.


“ Bregsek” guman Hardwin


yang sudah tidak bisa berdiri dengan tegak, badannya terasa remuk redam. Semua


serangannya berhasil Axton hindari dan dengan mudahnya Axton memberikan


serangan yang sama.