
Di barrack milik Axton
terlihat pemandanan baru, resmi hari ini Hardwin menjadi penanggung jawab baru.
Sesuai dengan surat mandate sekaligus surat tugas dari Duke sendiri. Setelah
menimbang cukup lama akhirnya Hardwin memiliki firasat yang baik tentang posisi
ini. Surat yang dia terima waktu itu adalah surat keputusan dari Axton. tentu
saja salah satu tugasnya adalah menjaga kediaman Duke, yang artinya dirinya
akan sering bertemu dengan Ai. Kesempatan yang bagus.
Pesta pertama di kediaman
Duchess sedang berlangsung, beberapa bangsawan cukup tertarik dengan undangan
kali ini. Sangat jarang sekali kediaman Duke mengadakan pesta meriah seperti
ini.
Namun jangan terkecoh,
pesta ini adalah kamuflase yang baik untuk Ai dalam memperlancar aksiya.
“ nyonya, beberapa tamu
sudah hadir dan memenuhi lantai bawah” ucap Mily dengan menggandeng tangan Ai
menuruni tangga.
“ bisa setengah dari
undangan?” tanya Ai.
“ saya rasa iya, setengah
dari undangan sudah hadir” jawan pelayan itu. Ai menarik sudut bibirnya.
“ selamat malam semua”
sapa Ai begitu sampai di lantai dasar. Semua mata tertuju pada sang Duchess
yang tampil mempesona dengan gaun pich yang begitu aggun.
“ malam Duchess” satu
persatu bangsawan mendekat untuk mengobrol dengan nyonya kediaman.
“ silahhkan menikmati
pestanya” ucap Ai yang sedikit mengambil jarak dari para tuan-tuan yang
terlihat sedikit genit padanya.
Para pelayan sibuk
menyiapkan minuman serta makanan mewah. Para tamu begitu dimanjakan dengan
sajian mahal nan enak. Ai begitu ketat dalam hal ini, tak ingin ada sedikitpun
kesalahan.
Pesta semakin ramai, ini
wkatu yang tepat bagi Ai untuk meyelinap pergi. Dia yakin sahabatnya Masy pasti
sudah menunggunya di tempat pertemuan. Dirasa tak ada yang memperhatikannya Ai
langsung berjalan menuju pelataran samping dan menaiki kereta. Para tamu tidak
mengetahui jika nyonya kediaman telah pergi, bahkan Millypun tak tahu menahu
dengan rencana nyonyanya itu.
Didalam kereta Ai sudah
berganti pakaian yang sudah dia siapakan sebelumnya. Setelah beberapa saat,
keretanya berhenti. Kereta sewaanya memang sangat membantu dalam hal ini.
“ pergilah” Ai tidak mau
beresiko jika dirinya akan diketahui seseorang.
“ Ai” seorang wanita
menepuk pudaknya. Tentu saja Masy.
“ ayo” Ai segera masuk.
Ini adalah barrack milik
Axton, Ai mengetahui jika Hardwin bertugas. Hal ini memancing kecurigaan dari
Ai.
Sepasang sahabat itu
memasuki Bracak tidak melewati pintu utama, Ai sudah perbah kemari sebelumnya.
Ingatannya masih jelas letak jalan-jalan alternatife penghubung bangunan utama.
“ untuk apa kita kemari?”
meskipun Masy menemani Ai, nyatanya dia juga tidak tau apa rencana sahabatnya
itu.
“ aku perlu menemui
seseorang” jawab Ai singkat. Mereka sudah sampai di depan sebuah ruangan yang
tertutup. Dengan pelan Ai mengetuk pintu.
Tok tok tok.. tak lama
suara langkah kaki mendekat.
Cekel pitu terbuka, seseorang
yang sudah menunggu sedari tadi langsung membukakan pintu. Tanpa menungu lama
keduanya langsung melangkah masuk.
“ kau?” Masy terlihat
kaget saat melihat Hardwin yang berada di dalam ruangan.
“ apa yang membuatmu
kemari?” bukannya menanggapi kekagetan Masy, lelaki itu tanpa basa-basi
langsung menanyai Ai.
“ mengenai Duke, apa
mengetahui sesuatu terkait keberangkatan Duke?” tanya Ai. Mereka bertiga masih
berdiri seperti membentu lingkaran.
“ tidak, Duke tidak
mengatakan apapun selain memberikan surat ini” Ai segera mengambil lembaran itu
dari tangan Hardwin. Sekilas tidak ada yang aneh dengan surat tugas dari Axton,
namun dalam perincian tugas ada 2 point yang seakan membuat Ai semakain faham
“ kau juga bertugas atas
nama keamanan kediaman?” tanya Ai terus terang.
“ ya, sudah jelas tertera
dalam surat tugas itu.”
“ apa Axton tak mengatakan
hal apapun saat dia mengudangmu?”
“ kurasa tidak, hanya
saja Duke seakan yakin bahwa kali ini perang akan pecah” Hardwin yakin dengan
perkataanya.
“ sebenarnya ada masalah
apa?” Masy yang sedari diam mulai mengeluarkan suara.
“ aku tak tau pastinya,
namun keselamatan Axton kali ini sangat terancam. Dan aku yakin kerajaan adalah
dalang dari semua ini” Ai duduk di sofa sambil menundukkan kepalanya.
“ aku harus melakukan
sesuatu untuk membantunya” Ai mendongak seakan meminta bantuan kepada para
temannya.
“ jadi ini alasannya kau
diam-diam menemui seseorang, seperti ini” Masy mendekati Ai. Dia ikut duduk di
sebelah Ai.
“ aku takut bila kerajaan
mengawasiku” suara Ai mulai melemah. Getaran kecemasan terdengar jelas dari
sana. Ketiga orang di ruangan itu terdiam dalam pikirannya masing-masing.
“ ini, kirimkan surat ini
kepada pamanku” Ai segera beranjak dia dikejar waktu. Hardwin menerima surat
dan mengangguk pelan.
“ jika ada balsan, suruh
orang lain yang mengantarkannya kepadaku”Ai sudah bersiap untuk pergi.
“ jika kau perlu bantuan,
jangan sungkan padaku” Hardwin tak pernah melihat Ai sekalut ini, bisa di
pastikan bahwa masalah yang dihadapi temannya itu begitu besar. Ai tersenyum
tipis sebelum akhirnya pergi bersama Masy.
“ kau pergi bersamaku”
ucap Ai kepada Masy. Masy yang tau alasannya ikut menurut saja.
Sesuai dengan arahan Ai, keretanya sudah
berada di tempat. Dengan cepatAi mengganti pakainnya kembali, tentu saja dengan
Masy. Mereka tidak lupa dengan pesta yang menanti mereka di kediaman.
Beberapa saat mereka
sudah sampai, tanpa meninggalkan kecurigaan kedua wanita itu masuk pesta.
“ nyonya, sedari tadi
saya mencari anda” begitu sampai di ruangan Mily langsung mendekati nyonyanya
yang tidak terliat beberapa saat lalu.
“ aku menghabiskan waktu
dengan Lady Halbert” jawab Ai acuh. Tak ada kecurigaan yang dapat Mily tangkap.
Akhirnya terdiam.
“ bagaimana dengan
pestanya?” tanya Ai.
“ tidak ada masalah
nyonya, hanya saja beberapa bangsawan mencari anda untuk mengajak berbicang”
jawab Mily.
“ baiklah aku akan
menemui mereka” Ai meninggalkan Masy dan mengikuti arahan Mily.
Setelahnya berjalan sebagaimana
mestinya. Ai terus menjamu tamu agar tidka ada kecurigaan. Malam mulai larut
beberapa tamu sudah pergi beberapa saat yang lalu. Tinggal beberapa saja yang
masih setia di meja makan.
Ai menemui Masy yang
terlihat berbincang dengan orang lain. Begitu sampai, orang tersebut segera
meninggalkan Masy dan berpamitan pergi.
“ bagaimana sajiannya?”
tanya Ai yang tau jika sedari tadi wanita di hadapannya ini tak berhenti
mengunyah.
“ ini enak sekali, kau
pasti tau alasan dari kelaparanku” Masy sedikit menyidir aksi mereka beberapa
saat yang lalu. Memang begitu melelahkan.
“ tentu Lady, jadi saya
persilahkan anda untuk menginap disini agar anda puas menikmati makanannya”
mereka tertawa renyah.
Tak ada yang tau maksud
dari percakapan itu selain mereka berdua. Ai menikmati pemandangan dari candela
ruangan. Menemani Masy yang masih makan, dengan melamun sendiri. Benar jika
dirinya disini terlihat baik-baik saja, namun tak seditikpun pikirannya beralih
pada sosok Axton, suaminya. Jauh disana entah bagaimana keadaannya.