The New Duchess

The New Duchess
Bab 58 : menyelinap



Di barrack milik Axton


terlihat pemandanan baru, resmi hari ini Hardwin menjadi penanggung jawab baru.


Sesuai dengan surat mandate sekaligus surat tugas dari Duke sendiri. Setelah


menimbang cukup lama akhirnya Hardwin memiliki firasat yang baik tentang posisi


ini. Surat yang dia terima waktu itu adalah surat keputusan dari Axton. tentu


saja salah satu tugasnya adalah menjaga kediaman Duke, yang artinya dirinya


akan sering bertemu dengan Ai. Kesempatan yang bagus.


Pesta pertama di kediaman


Duchess sedang berlangsung, beberapa bangsawan cukup tertarik dengan undangan


kali ini. Sangat jarang sekali kediaman Duke mengadakan pesta meriah seperti


ini.


Namun jangan terkecoh,


pesta ini adalah kamuflase yang baik untuk Ai dalam memperlancar aksiya.


“ nyonya, beberapa tamu


sudah hadir dan memenuhi lantai bawah” ucap Mily dengan menggandeng tangan Ai


menuruni tangga.


“ bisa setengah dari


undangan?” tanya Ai.


“ saya rasa iya, setengah


dari undangan sudah hadir” jawan pelayan itu. Ai menarik sudut bibirnya.


“ selamat malam semua”


sapa Ai begitu sampai di lantai dasar. Semua mata tertuju pada sang Duchess


yang tampil mempesona dengan gaun pich yang begitu aggun.


“ malam Duchess” satu


persatu bangsawan mendekat untuk mengobrol dengan nyonya kediaman.


“ silahhkan menikmati


pestanya” ucap Ai yang sedikit mengambil jarak dari para tuan-tuan yang


terlihat sedikit genit padanya.


Para pelayan sibuk


menyiapkan minuman serta makanan mewah. Para tamu begitu dimanjakan dengan


sajian mahal nan enak. Ai begitu ketat dalam hal ini, tak ingin ada sedikitpun


kesalahan.


Pesta semakin ramai, ini


wkatu yang tepat bagi Ai untuk meyelinap pergi. Dia yakin sahabatnya Masy pasti


sudah menunggunya di tempat pertemuan. Dirasa tak ada yang memperhatikannya Ai


langsung berjalan menuju pelataran samping dan menaiki kereta. Para tamu tidak


mengetahui jika nyonya kediaman telah pergi, bahkan Millypun tak tahu menahu


dengan rencana nyonyanya itu.


Didalam kereta Ai sudah


berganti pakaian yang sudah dia siapakan sebelumnya. Setelah beberapa saat,


keretanya berhenti. Kereta sewaanya memang sangat membantu dalam hal ini.


“ pergilah” Ai tidak mau


beresiko jika dirinya akan diketahui seseorang.


“ Ai” seorang wanita


menepuk pudaknya. Tentu saja Masy.


“ ayo” Ai segera masuk.


Ini adalah barrack milik


Axton, Ai mengetahui jika Hardwin bertugas. Hal ini memancing kecurigaan dari


Ai.


Sepasang sahabat itu


memasuki Bracak tidak melewati pintu utama, Ai sudah perbah kemari sebelumnya.


Ingatannya masih jelas letak jalan-jalan  alternatife penghubung bangunan utama.


“ untuk apa kita kemari?”


meskipun Masy menemani Ai, nyatanya dia juga tidak tau apa rencana sahabatnya


itu.


“ aku perlu menemui


seseorang” jawab Ai singkat. Mereka sudah sampai di depan sebuah ruangan yang


tertutup. Dengan pelan Ai mengetuk pintu.


Tok tok tok.. tak lama


suara langkah kaki mendekat.


Cekel pitu terbuka, seseorang


yang sudah menunggu sedari tadi langsung membukakan pintu. Tanpa menungu lama


keduanya langsung melangkah masuk.


“ kau?” Masy terlihat


kaget saat melihat Hardwin yang berada di dalam ruangan.


“ apa yang membuatmu


kemari?” bukannya menanggapi kekagetan Masy, lelaki itu tanpa basa-basi


langsung menanyai Ai.


“ mengenai Duke, apa


mengetahui sesuatu terkait keberangkatan Duke?” tanya Ai. Mereka bertiga masih


berdiri seperti membentu lingkaran.


“ tidak, Duke tidak


mengatakan apapun selain memberikan surat ini” Ai segera mengambil lembaran itu


dari tangan Hardwin. Sekilas tidak ada yang aneh dengan surat tugas dari Axton,


namun dalam perincian tugas ada 2 point yang seakan membuat Ai semakain faham


“ kau juga bertugas atas


nama keamanan kediaman?” tanya Ai terus terang.


“ ya, sudah jelas tertera


dalam surat tugas itu.”


“ apa Axton tak mengatakan


hal apapun saat dia mengudangmu?”


“ kurasa tidak, hanya


saja Duke seakan yakin bahwa kali ini perang akan pecah” Hardwin yakin dengan


perkataanya.


“ sebenarnya ada masalah


apa?” Masy yang sedari diam mulai mengeluarkan suara.


“ aku tak tau pastinya,


namun keselamatan Axton kali ini sangat terancam. Dan aku yakin kerajaan adalah


dalang dari semua ini” Ai duduk di sofa sambil menundukkan kepalanya.


“ aku harus melakukan


sesuatu untuk membantunya” Ai mendongak seakan meminta bantuan kepada para


temannya.


“ jadi ini alasannya kau


diam-diam menemui seseorang, seperti ini” Masy mendekati Ai. Dia ikut duduk di


sebelah Ai.


“ aku takut bila kerajaan


mengawasiku” suara Ai mulai melemah. Getaran kecemasan terdengar jelas dari


sana. Ketiga orang di ruangan itu terdiam dalam pikirannya masing-masing.


“ ini, kirimkan surat ini


kepada pamanku” Ai segera beranjak dia dikejar waktu. Hardwin menerima surat


dan mengangguk pelan.


“ jika ada balsan, suruh


orang lain yang mengantarkannya kepadaku”Ai sudah bersiap untuk pergi.


“ jika kau perlu bantuan,


jangan sungkan padaku” Hardwin tak pernah melihat Ai sekalut ini, bisa di


pastikan bahwa masalah yang dihadapi temannya itu begitu besar. Ai tersenyum


tipis sebelum akhirnya pergi bersama Masy.


“ kau pergi bersamaku”


ucap Ai kepada Masy. Masy yang tau alasannya ikut menurut saja.


 Sesuai dengan arahan Ai, keretanya sudah


berada di tempat. Dengan cepatAi mengganti pakainnya kembali, tentu saja dengan


Masy. Mereka tidak lupa dengan pesta yang menanti mereka di kediaman.


Beberapa saat mereka


sudah sampai, tanpa meninggalkan kecurigaan kedua wanita itu masuk pesta.


“ nyonya, sedari tadi


saya mencari anda” begitu sampai di ruangan Mily langsung mendekati nyonyanya


yang tidak terliat beberapa saat lalu.


“ aku menghabiskan waktu


dengan Lady Halbert” jawab Ai acuh. Tak ada kecurigaan yang dapat Mily tangkap.


Akhirnya terdiam.


“ bagaimana dengan


pestanya?” tanya Ai.


“ tidak ada masalah


nyonya, hanya saja beberapa bangsawan mencari anda untuk mengajak berbicang”


jawab Mily.


“ baiklah aku akan


menemui mereka” Ai meninggalkan Masy dan mengikuti arahan Mily.


Setelahnya berjalan sebagaimana


mestinya. Ai terus menjamu tamu agar tidka ada kecurigaan. Malam mulai larut


beberapa tamu sudah pergi beberapa saat yang lalu. Tinggal beberapa saja yang


masih setia di meja makan.


Ai menemui Masy yang


terlihat berbincang dengan orang lain. Begitu sampai, orang tersebut segera


meninggalkan Masy dan berpamitan pergi.


“ bagaimana sajiannya?”


tanya Ai yang tau jika sedari tadi wanita di hadapannya ini tak berhenti


mengunyah.


“ ini enak sekali, kau


pasti tau alasan dari kelaparanku” Masy sedikit menyidir aksi mereka beberapa


saat yang lalu. Memang begitu melelahkan.


“ tentu Lady, jadi saya


persilahkan anda untuk menginap disini agar anda puas menikmati makanannya”


mereka tertawa renyah.


Tak ada yang tau maksud


dari percakapan itu selain mereka berdua. Ai menikmati pemandangan dari candela


ruangan. Menemani Masy yang masih makan, dengan melamun sendiri. Benar jika


dirinya disini terlihat baik-baik saja, namun tak seditikpun pikirannya beralih


pada sosok Axton, suaminya. Jauh disana entah bagaimana keadaannya.