
Jantung Masy berdetak kencang akibat tatapan tajam dari Duke, membuat nyalinya menciut. Akhirnya membiarkan Axton membuka pintu kamarnya. Masy bahkan mundur beberapa langkah tidak ingin mendapat amukan lelaki di depannya jika mengetahui siapa yang ada di kamar.
Axton masuk kamar kemudian menutup pintu, lelaki itu sudah sangat yakin jika wanitanya berada disini. Dari aromanya saja Axton sudah bisa mengenali. Dan tak salah, sesaat kemudian Axton dapat melihat istirnya terbaring nyenyak di sebuah sofa. Melihat ketenangan Ai membuat amarah Axton surut seketika. Wajah istrinya begitu mudah membuat hati Axton menjadi menghangat.
Axton berjalan mendekati istrinya, kemudian berjongkok untuk menatapnya lebih dekat. Ai tertidur sangat nyenyak, semalam dia tidak tidur. Kini setelah makan siang membuatnya ngantuk berat. Bahkan elusan pelan Axton di pipinya tidak mampu mengusik lelapnya.
Mengetahui jika Ai tidak terganggu sama sekali, Axton segera menggendong istirnya keluar kamar. Meski sedikit kesusaahan saat membuka pintu, namun akhirnya dia bisa membopong istrinya menuju kereta.
Ingin sekali Axton memberikan sedikit peringatan kepada Masy, namun terpaksa diurungkan karena ingin segera membawa istrinya pulang. Beberapa tas istrinya sudah menyuruh Brian untuk membawanya.
Meski berat hati Masy hanya terdiam melihat kejadian itu. Sahabatnya di bawa oleh suaminya dalam keadaan tak sadar. Andai saja Ai terbangun, dia pasti sudah memberontak dan menolak untuk kembali ke kediaman Wellington.
Entah apa yang terjadi dengan Ai, sepanjang perjalanan dalam pelukan Axton semakin membuatnya nyaman. Meski beberapa kali terganggu dengan goncangan kereta, nyatanya mata cantiknya tetap tak ingin membuka. Aroma Axton seakan menghipnotisnya agar terus terlelap. Hingga sampai dikediaman dan Axton membawanya ke kamar.
Allard setengah lega dan was-was saat menantunya membopong keponakannya ke lantai atas. Dia bertanya-tanya apa yang terjadi sampai Axton menggendong Ai seperti itu. Takut jika ada hal buruk yanga menimpa keponakannya. Untung saja Brian yang mengekori tuannya segera memberikan kode bahwa semuanya baik-baik saja kepada Allard. Brian tau betul jika lelaki tua itu begitu terlihat khawatir.
Makan malam sudah selesai beberapa jam yang lalu, Axton sengaja menemani istrinya dengan ikut duduk bersandar di ranjang, tentu saja dengan beberapa berkas yang dia bawa.
Beberapa saat kemudian Ai terlihat menggeliat dalam tidurnya. Aroma kamar yang terasa familiar sedikit mengundang kesadarannya. Perlahan membuka mata, AI begitu terkejut saat melihat suaminya berada di disebelahnya yang dengan santainya melihat dirinya tanpa merasa bersalah.
Langsung saja Ai bangkit dan berniat untuk pergi. Axton yang sudah mengantisipasi tentu terlihat tenang. Menaruh berkas dan ikut turun dari ranjang. Ai membola ketika tau jika pintu kamarnya terkunci. Membalikkan badan menatap Axton yang ternyata sudah duduk di sofa.
“ buka pintunya” ucap Ai datar. Axton tetap diam tak terganggu dengan ucapan istrinya.
“ aku bilang buka pintunya” suara Ai semakin meninggi. Axton menoleh kearah Ai.
“ tidak” jawabnya singkat. Ai semakin emosi dengan tingkah suaminya yang seenaknya sendiri.
“ kenapa kau kembali ke kota diam-diam?” tanya Axton kemudian. Lelaki itu sudah tak ingin berbasa-basi lagi.
“ kenapa kau berbohong tentang bertugas?” tanya balik Ai. Dia kini duduk di pinggir ranjang. Axton menyeringai mendengar balasan dari istrinya.
“ kau semakin pintar sekarang” lirih Axton kemudian beranjak mendekati istrinya. Ai berniat menghindar tapi langkahnya terhadang.
“ jawab pertanyaanku” Axton berdiri di depan Ai, dia terlihat begitu mengintimidasi istrinya dengan tubuh besar yang menjulang itu. Ai mendongak menatap wajah Axton, bahkan tubuhnya tertarik kebelakang karena Axton sedikit merendahkan tubuhnya.
“ aku tidak akan menjawab sebelum kau menjawab terlebih dahulu” Ai sedikit memberikan ancaman. Semua kebenaran yang dia ketahui membuat Ai menjadi tidak mudah takut dengan semua ulah suaminya.
“ masih tidak mau menjawab?” Axton semakin mendekatkan wajahnya, Ai panik dia tidak ingin Axton menyentuhnya malam ini. Namun dorongan tangannya di dada Axton sangat tidak membantu. Axton tidak bergerak sedikitpun.
“ ka,kau mau apa?” tetap saja akibat kepanikannya Ai malah gugup menerima perlakuan Axton.
“ menurutmu apa?” Axton semakin mendekatkan wajahnya, hidung mereka sudah saling bersentuhan. Ai melengos tak ingin bibirnya menjadi sasaran. Alhasil lehernya sudah terkena cumbuan dan gigitan pelan sang suami.
“ jangan memaksaku” tangan Ai masih menjangga tubuh Axton, agar tubuh suaminya tidak semakin menempel.
“ aku tidak akan memaksamu jika kau menjawabnya” giliran Axton yang mengancam. Nafas Ai mulai tidak beraturan akibat ulah suaminya di sepanjang lehernya. Ai tidak menggunakan gaun lengkap ketika tidur di kamar Masy. Penampilannya semakin mempermudah aksi Axton kepadanya.
“ hentikan, “ Ai terus berusaha mendorong tubuh suaminya, meski tau jika hal itu sia-sia.
“ kenapa kau diam-diam kembali?” lagi Axton memberikan pertanyaan yang sama. Ai tidak memiliki pilihan lain selain menjawab pertanyaan Axton.
“ kenapa? Jika aku mengatakan bahwa selama ini aku mencari tau kebenaran kematian mendiang istrimu bagaimana?” Ai tidak langsung menjawabnya. Axton berhenti mencumbu pundak sang istri. Perkataan Ai tentu saja mengusiknya.
“ dan apa yang kau dapatkan?” seakan menyembunyikan kekagetannya Axton kembali meneruskan aksinya.
“ sebuah rahasia besar terkait anggota kerajaan” Ai menoleh tak lagi menghindari wajah Axton. Kedua orang itu saling pandang. Ai mencoba membaca raut wajah suaminya, begitupun dengan Axton. Meneliti kebenaran dari ucapan sang istri.
Axton menarik tubuhnya menjauh begitu tau jika Ai serius dengan ucapannya. Axton yang tau kemana arah pembicaraan selanjutnya kini memilih pergi. Tak ingin mendengar kebenaran itu keluar dari mulut istrinya. Rahasia yang mati-matian dia sembunyikan untuk menjaga keselamatan sang istri, kini mulai terbongkar.
Mengambil kunci di saku bajunya dan segera berjalan mendekati pintu.
“ apa kau tak ingin tau rahasia apa itu?” Ai beranjak duduk saat menangkap tingkah panik sang suami.
“ jika kau ingin selamat, apapun itu jangan sampai orang lain ikut mengetahuinya” Axton bahkan tidak membalikkan badannya ketika mengatakannya. Dia memasukkan kunci dan memutarnya.
Ceklek,, kunci terbuka.
“ kau anak pertama ratu” manik Axton membola, semuanya sudah terbongkar. tubuhnya tak bisa digerakkan. Kebenaran ini mengalun indah memasuki telinganya, membuat jantungnya seakan berhenti sejenak.
Dibaliknya tubuhnya untuk menatap sang istri, disana Ai dengan wajah datarnya menatapnya dengan pandangan tak terbaca, begitu dalam dan sedikit mengisyaratkan rasa kekecewaan. Istrinya itu entah bagaimana lagi Axton harus menjaganya. Kebenaran ini bahkan mampu mengancam nyawanya jika kerajaan tau.
Axton begitu ketakutan jika hal yang sama terjadi lagi pada istrinya yang sekarang. Istrinya yang begitu dia cintai melebihi sebelumnya, bahkan ikatan antara Axton dan Ai sudah terjalin erat dari hubungan orang tua mereka yang tidak pernah Ai tau. Axton menghembuskan nafas kasar, tanpa berbicara apapun melangkah pergi dari kamar. Meninggalkan Ai dengan segudang kekecewaan.