The New Duchess

The New Duchess
Bab 80 : Keluar



“ tuan yakin, semua yang


tuan lakukan adalah untuk melindungi Duchess?”seakan menyentil perasaan


Hardwin, pertanyaan pelayan ini dipahami lain oleh Hardwin, seakan mencemooh


semua perbuatannya. Hardwin mendadak menjadi kesal.


Lelaki itu memalingkan


wajahnya, dia tidak berniat menjawab ataupun berbicara lagi. Lelaki itu terdiam


sendiri. Semuanya pada awalnya terlihat putih tapi seiring dengan waktu entah


kenapa berubah menjadi abu-abu. Semua rencananya kenapa masih dia pertanyaan.


Tak terasa mereka sudah


sampai di pelataran peradilan, Mily masuk dengan di kawal oleh Hardwin. Tanpa


mereka sadari didalam sudah ada seseorang yang sudah menunggu, ia sengaja tidak


menampakkan kehadirannya.


Hari semakin sore, Mily


masih tertahan di perdilan sesuai dengan prosedur yang ada sedangkan Hardwin


memilih kembali. Dalam perjalanan pulang lelaki seperti menyadaribahwa


peradilan tidak seketat biasanya, kemungkinan kesaksian Mily tadi di hadari


oleh beberapa orang penting. Mily memang pelayan pribadi Duchess jelas banyak


orang yang akan ingin tau bagaimana kejelasan kasus yang menimpa Duchess.


 Sedangkan di kediaman Ai masih tetap melamun


dan masih terngiang dengan mimpinya semalam. Bagaimana Axton bertempur di medan


perang yang sengit, dan secara tiba-tiba sebuah ledakan membuatnya terpelanting


dan jatuh berdarah. Ai masih ingat bagaimana suaminya berusaha meraih pistol


namun tenaganya sudah melemah. Axton batuk darah dengan bersamaan tubuhnya jatuh


kembali dan tidak bergerak sama sekali.


Disana Ai melihatnya


dengan jelas, nafas terakhir yang Axton hembuskan lirih menyebut namanya. Semua


terasa nyata, hati Ai sangat takut jika memang mimpinya itu menjadi kenyataan. Dia


harus bisa keluar dari kediaman. Tidak boleh mengulur waktu, tapi bagaimana. Dia


sendiri tidak memiliki cara apapun.


Tok tok


Ai menoleh, dia


mengerutkan kening. Bukankah seharusnya Mily sudah berangkat dengan Hardwin. Kenapa


ada suara ketukan pintu, kemana para penjaga. Ai bergegas mendekati pintu, dia


memiliki firasat yang janggal.


“ kemana semuanya?” guman


Ai saat tau diluar penjaga sudah tidak ada. Detik itu juga Ai segera menjauhi


kamar, dia haru segera berlari menuju lantai bawah.


Dibawah penjaga masih


sangat lengkap, mereka tidak tau jika kondisi dalam kediaman telah di


lumpuhkan. Ai sudah berada di lantai bawah, suasana semakin ketat, dengan


langkah pelan dan mengendap-endap berjalan menuju pintu belakang. Pintu yang di


khususkan bagi para pelayan dapur dan petugas kebersihan.


Untung saja tidak ada


siapapun jadi membuat Ai semakin lancar. Entah ulah siapa yang sudah


membantunya, sepertinya ada malaikat baik yang menolongnya. Ai segera berganti


pakaian seperti layaknya pelayan. Dia yakin jika prajuriit diluar tidak


menyadari bahwa yang mereka temui nanti adalah Duchess.


Ai mengambil sebuah


keranjang dan mulai berjalan keluar. Sebisa mungkin menampilan gesture yang


santai jangan sampai membuat para penjaga curiga.


“ kau, tunggu” seorang


penjaga berteriak pada Ai. jantungnya tiba-tiba berdegup kencang, namun Ai


mencoba untuk menormalkan nafasnya.


“ kau mau kemana?” tanya


“ saya akan pergi


menyiapkan keperluan makan malam” jawab Ai sambil terus menyembunyikan wajahnya


dengan menunduk.


“ bukankah pelayan disini


sedang masa pemeriksaan?” penjaga itu mulai mengkhawatirkan Ai sudah tidak mau


berlama-lama.


“ saya ditugaskan untuk


menggantikan pelayan Duchess yang sedang diperiksa” Ai terus berguman dalam


hati agar penjaga ini tidak curiga.


“ pergilah” ucap penjaga


itu akhirnya, setelah menimbang-nimbang begitu lama, dan tidak ada hal


mencurigakan dari pelayan yang dia lihat.


Ai bernafas lega, dia


segera menuju pintu gerbang. Entah kebetulan atau bagaimana sebuah kereta kuda  juga terlihat berjalan mendekati kediaman. Ai


segera mempercepat langkahnya untuk keluar.


Wanita itu sempat dilanda


kecemasan begitu kereta semakin mendekat, dia seakan yakin jika kereta kuda


adalah milik Hardwin. Ai tidak mau tertangkap oleh lelaki itu.  Ai semakin menunduk agar tidak terkenali. Begitu


kereta kuda itu berpas-pasan dengannya, kereta itu berhenti.


Ai menatap kearah kursir


yang sedang menunggunya. Jendela kereta juga tidak terbuka. Ai berniat pergi


ketika dengan jelas dia melihat Hardwin sedang membawa kereta kuda dari


kejauhan. Tanpa pikir panjang, Ai segera masuk dan menyembunyikan diri.


Tiba-tiba kereta kuda itu


berjalan, Ai awalnya kaget. Namun wanita itu berfikir ini pasti ada hubungannya


dengan perginya penjaga yang berada di depan pintu kamarnya. Tak bisa


dipungkiri dia juga merasa lega akhirnya bisa keluar dari kediaman.


Waktu berganti malam,


kereta itu tak kunjung berhenti. Ai yang sedari tadi tak sadar jika ketiduran


membuka tirai jendela kereta. semuanya tampak gelap diluar. Wanita itu tidak


tau jika hari sudah sangatlah larut.


“ dimana ini?” Ai


berguman, tak ada petunjuk apapun yang bisa membuatnya tau dimana sebenarnya


dia dibawa. Kereta masih terus berjalan, samar-samar Ai melihat ada sebuah


penerangan. Kemungkinan itu sebuah hunian kecil.


Dan benarlah dugaanya,


setelahnya mendekat kereta itu berhenti. Ai keluar dengan hati-hati.


“ dimana ini?” kembali Ai


bertanya, kali ini dia berbicara pada kusir kereta. namun sayang kusir itu hanya


menoleh kemudian mengemudikan kereta meninggalkannya. Ai semakin dibuat bingung


dengan keadaan. Perlahan wanita itu membuka pintu gerbang kayu, ternyata yang


dia lihat tadi adalah sebuah lampu yang tergatung di depan gerbang.


Suasana tampak sepi dari


luar, bagian dalam hunian ini sangatlah terawat meskipun tidak terlalu mewah.


Ai terus  berjalan kedalam melewati


halaman depan dan sampailah Ai pada ruangan pertama.


Ai tampak ragu-ragu untuk


membuka pintu, orang jahat atau orang baik yang sudah membawanya kemari Ai


terus menimbangnya. Belum juga pintu terbuka sebuah panggilan membuat wanita


itu terkejut.


“ Lady Grifton” Ai


melebarkan maniknya, panggilan itu sudah sangat lama tidak terdengar.