
“ tuan yakin, semua yang
tuan lakukan adalah untuk melindungi Duchess?”seakan menyentil perasaan
Hardwin, pertanyaan pelayan ini dipahami lain oleh Hardwin, seakan mencemooh
semua perbuatannya. Hardwin mendadak menjadi kesal.
Lelaki itu memalingkan
wajahnya, dia tidak berniat menjawab ataupun berbicara lagi. Lelaki itu terdiam
sendiri. Semuanya pada awalnya terlihat putih tapi seiring dengan waktu entah
kenapa berubah menjadi abu-abu. Semua rencananya kenapa masih dia pertanyaan.
Tak terasa mereka sudah
sampai di pelataran peradilan, Mily masuk dengan di kawal oleh Hardwin. Tanpa
mereka sadari didalam sudah ada seseorang yang sudah menunggu, ia sengaja tidak
menampakkan kehadirannya.
Hari semakin sore, Mily
masih tertahan di perdilan sesuai dengan prosedur yang ada sedangkan Hardwin
memilih kembali. Dalam perjalanan pulang lelaki seperti menyadaribahwa
peradilan tidak seketat biasanya, kemungkinan kesaksian Mily tadi di hadari
oleh beberapa orang penting. Mily memang pelayan pribadi Duchess jelas banyak
orang yang akan ingin tau bagaimana kejelasan kasus yang menimpa Duchess.
Sedangkan di kediaman Ai masih tetap melamun
dan masih terngiang dengan mimpinya semalam. Bagaimana Axton bertempur di medan
perang yang sengit, dan secara tiba-tiba sebuah ledakan membuatnya terpelanting
dan jatuh berdarah. Ai masih ingat bagaimana suaminya berusaha meraih pistol
namun tenaganya sudah melemah. Axton batuk darah dengan bersamaan tubuhnya jatuh
kembali dan tidak bergerak sama sekali.
Disana Ai melihatnya
dengan jelas, nafas terakhir yang Axton hembuskan lirih menyebut namanya. Semua
terasa nyata, hati Ai sangat takut jika memang mimpinya itu menjadi kenyataan. Dia
harus bisa keluar dari kediaman. Tidak boleh mengulur waktu, tapi bagaimana. Dia
sendiri tidak memiliki cara apapun.
Tok tok
Ai menoleh, dia
mengerutkan kening. Bukankah seharusnya Mily sudah berangkat dengan Hardwin. Kenapa
ada suara ketukan pintu, kemana para penjaga. Ai bergegas mendekati pintu, dia
memiliki firasat yang janggal.
“ kemana semuanya?” guman
Ai saat tau diluar penjaga sudah tidak ada. Detik itu juga Ai segera menjauhi
kamar, dia haru segera berlari menuju lantai bawah.
Dibawah penjaga masih
sangat lengkap, mereka tidak tau jika kondisi dalam kediaman telah di
lumpuhkan. Ai sudah berada di lantai bawah, suasana semakin ketat, dengan
langkah pelan dan mengendap-endap berjalan menuju pintu belakang. Pintu yang di
khususkan bagi para pelayan dapur dan petugas kebersihan.
Untung saja tidak ada
siapapun jadi membuat Ai semakin lancar. Entah ulah siapa yang sudah
membantunya, sepertinya ada malaikat baik yang menolongnya. Ai segera berganti
pakaian seperti layaknya pelayan. Dia yakin jika prajuriit diluar tidak
menyadari bahwa yang mereka temui nanti adalah Duchess.
Ai mengambil sebuah
keranjang dan mulai berjalan keluar. Sebisa mungkin menampilan gesture yang
santai jangan sampai membuat para penjaga curiga.
“ kau, tunggu” seorang
penjaga berteriak pada Ai. jantungnya tiba-tiba berdegup kencang, namun Ai
mencoba untuk menormalkan nafasnya.
“ kau mau kemana?” tanya
“ saya akan pergi
menyiapkan keperluan makan malam” jawab Ai sambil terus menyembunyikan wajahnya
dengan menunduk.
“ bukankah pelayan disini
sedang masa pemeriksaan?” penjaga itu mulai mengkhawatirkan Ai sudah tidak mau
berlama-lama.
“ saya ditugaskan untuk
menggantikan pelayan Duchess yang sedang diperiksa” Ai terus berguman dalam
hati agar penjaga ini tidak curiga.
“ pergilah” ucap penjaga
itu akhirnya, setelah menimbang-nimbang begitu lama, dan tidak ada hal
mencurigakan dari pelayan yang dia lihat.
Ai bernafas lega, dia
segera menuju pintu gerbang. Entah kebetulan atau bagaimana sebuah kereta kuda juga terlihat berjalan mendekati kediaman. Ai
segera mempercepat langkahnya untuk keluar.
Wanita itu sempat dilanda
kecemasan begitu kereta semakin mendekat, dia seakan yakin jika kereta kuda
adalah milik Hardwin. Ai tidak mau tertangkap oleh lelaki itu. Ai semakin menunduk agar tidak terkenali. Begitu
kereta kuda itu berpas-pasan dengannya, kereta itu berhenti.
Ai menatap kearah kursir
yang sedang menunggunya. Jendela kereta juga tidak terbuka. Ai berniat pergi
ketika dengan jelas dia melihat Hardwin sedang membawa kereta kuda dari
kejauhan. Tanpa pikir panjang, Ai segera masuk dan menyembunyikan diri.
Tiba-tiba kereta kuda itu
berjalan, Ai awalnya kaget. Namun wanita itu berfikir ini pasti ada hubungannya
dengan perginya penjaga yang berada di depan pintu kamarnya. Tak bisa
dipungkiri dia juga merasa lega akhirnya bisa keluar dari kediaman.
Waktu berganti malam,
kereta itu tak kunjung berhenti. Ai yang sedari tadi tak sadar jika ketiduran
membuka tirai jendela kereta. semuanya tampak gelap diluar. Wanita itu tidak
tau jika hari sudah sangatlah larut.
“ dimana ini?” Ai
berguman, tak ada petunjuk apapun yang bisa membuatnya tau dimana sebenarnya
dia dibawa. Kereta masih terus berjalan, samar-samar Ai melihat ada sebuah
penerangan. Kemungkinan itu sebuah hunian kecil.
Dan benarlah dugaanya,
setelahnya mendekat kereta itu berhenti. Ai keluar dengan hati-hati.
“ dimana ini?” kembali Ai
bertanya, kali ini dia berbicara pada kusir kereta. namun sayang kusir itu hanya
menoleh kemudian mengemudikan kereta meninggalkannya. Ai semakin dibuat bingung
dengan keadaan. Perlahan wanita itu membuka pintu gerbang kayu, ternyata yang
dia lihat tadi adalah sebuah lampu yang tergatung di depan gerbang.
Suasana tampak sepi dari
luar, bagian dalam hunian ini sangatlah terawat meskipun tidak terlalu mewah.
Ai terus berjalan kedalam melewati
halaman depan dan sampailah Ai pada ruangan pertama.
Ai tampak ragu-ragu untuk
membuka pintu, orang jahat atau orang baik yang sudah membawanya kemari Ai
terus menimbangnya. Belum juga pintu terbuka sebuah panggilan membuat wanita
itu terkejut.
“ Lady Grifton” Ai
melebarkan maniknya, panggilan itu sudah sangat lama tidak terdengar.