
Di sebuah lapangan hijau terlihat beberapa orang sudah siap dengan setelan berkuda. Lapangan ini berada di samping peternakan kuda yang terkenal, hampir setengah kuda kerajaan berasal dari peternakan ini. Disana ada sekitar 4 wanita, 2 lady dan 2 madam. Sedangkan untuk pria ada sekitar 5 orang. 4 orang Lord dan 1 sir. Mereka sedang bersiap berbaris membentuk pola khusus yang sudah di berikan tanda. Hari ini akan diadakan perlombaan estafet kuda. Tentu mereka akan berpasangan. Tidak semua ikut dalam perlombaan ini hanya 6 orang, terbagi menjadi 3 pasang.
Setelah melakukan pemilihan acak ketiga pasangan lomba sudah mulai menyusun strategi. Pasangan pertama ada Lady Masy dan Lord Fredy, pasangan kedua ada Lady Lansoria dan Lord Baval dan pasangan terakhir Duchess Wellington dengan Lord Hardwin.
Salah satu Madam membawa sapu tangan untuk memulai acara lomba. Putaran pertama tentu lelaki dulu lalu untuk putaran kedua dari pihak wanita kemudian di susul dengan putaran ketiga atau yang menjadi putaran penentu akan di lakukan oleh pihak lelaki lagi. Pagi yang cerah ini sangat cocok dengan kegiatan bersemangat seperti ini.
Para lelaki sudah bersiap, mereka mulai fokus dan mengatur kenyamanan. Sapu tangan diangkat tinggi-tinggi tinggal menunggu tangan mungil itu melepaskan. Angin berhembus ringan dan inilah saatnya sapu tangan itu terjatuh menyentuh tanah, tanda lomba sudah mulai.
Dengan penuh semangat para lelaki itu memacu kudanya. Sorak teriakan menemani meskipun tidak sepanjang putaran. Putaran pertama hampir selesai, kini wanita mulai mempersiakan diri dengan kudanya. Menunggu di tempat yang sudah di atur sebelumnya.
“ ayo Hardwin, cepat!” terdengar teriakan Ai yang lantang. Wanita lainnya kini ikut meneriaki pasangan masing-masing. Lady Lansoria sudah memimpin. Lord Baval cukup ahli juga dalam berkuda. Tak lama Lady Mosy dan Ai mulai bersamaan. Hardwin tersenyum senang karena sudah mengerjai Ai. Raut cemas dan kesal Ai saat menunggunya tadi benar-benar lucu.
Putaran kedua selesai dimana Lady Lansoria dan Ai memimpin putaran kini tinggal putaran terakhir. Antara Lord Baval dan Hardwin bersaing cukup ketat.
“ ayo keluarakan kekuatanmu Baval” teriak Lady Lansoria yang terlihat percaya diri akan memenangkan lomba.
“ aku tidak akan memaafkanmu jika kita kalah. Hard” dari semua kata Ai lebih suka mengancam patnernya agar memenangkan lomba.
Perlombaan begitu sengit, kini ketiga lelaki saling sejajar. Tidak ada yang memimpin lomba. Semua wanita berdegup kencang siapa yang akan memenangkan lomba. Pasalnya hukumannya lumayan berat. Mereka tidak ingin malu mendapatkan hukumannya.
Detik-detik perlombaan akan selesai, semua mata sudah mengawasi tali pita yang menjadi gardu terakhir sudah siap di rentangkan. Masing-masing sisinya sudah dijaga oleh para pelayan. Tidak boleh ada kecurangan.
“ yeey,, menang” teriak Ai kegiarangan. Dia begitu senang dan langsung berlari menuju Hardwin, dan memeluknya.
“ kau benar-benar membuatku cemas” ucap AI sambil menepuk kencang punggung Hardwin.
“ mau bagaimana lagi, terakhir kali kita kalah lomba kau mengacuhkanku selama satu bulan. Kau masih ingat bukan?” jawab Hardwin yang membuat Ai menyengir merasa bersalah. Kini mereka mendekat ke meja minuman.
Disana sudah ada 10 botol anggur. Bagi yang kalah masing-masing harus menghabiskan 5 botol. Lady Masy dan Lady Lansoria terlihat kesal dengan melipat kedua tangan mereka. Sedangkan para Lord dengan sok beraninya sudah berdiri di depan botol-botol minuman.
“ ayolah Masy, Lansy inikan hanya lomba apa kalian tidak ingin mambantu pasangan kalian ?” Ai yang sudah akrab dengan mereka mencoba menggoda kedua temannya itu.
“ aduh Duchess, sepertinya kali ini kami akan mengalah, biar mereka yang menikmati lombanya” jawab Lansy beralasan. Kedua Lady itu cukup memperhatikan image. Tidak ingin pulang-pulang dalam keadaan mabuk di siang hari pula. Tidak. Martabat mereka yang akan dipertaruhkan.
Alhasil kedua Ladya itu pun ikut maju dan berdiri di samping pasangannya, baik Ai maupun Hardwin saling melirik puas sudah mengerjai teman-temannya.
“ oke aku hitung, satu dua tiga” ucap madam pembawa sapu tangan.
Kedua pasangan itu langsung mengambil satu botol dan meminumnya. Jelas sekali kedua Lady itu hanya bisa menghabiskan 1 dan 1 setengah botol. Sisanya bagian Lord yang menghabiskan.
Acara jamuan kali ini memang beda dengan yang lainnya. Lady Masy selaku tuan rumah mengundang teman dekatnya untuk melihat perternakan kuda milik ayahnya. Berbekal dari acara rutin mingguan mereka kini sudah saling akrab dan sering menghabiskan waktu bersama. Seperti ini contohnya, mengadakan lomba kuda yang sudah mereka rencanakan sebelumnya. Inilah salah satu alasan kelekatan pertemanan mereka. Baik wanita dan prianya mahir menunggang kuda.
Acara jamuan itu di tutup dengan makan siang bersama di bawah sebuah pohon besar nan rindang. Mereka sangat menikmati jamuan. Setelah dirasa cukup kini waktunya mereka undur diri, Milly sudah siap membantu Ai menaiki kereta.
“ Ai, apa kau sudah bisa memutuskan?” tiba-tiba Hardwin menahan Ai dengan pertanyaanya.
“ Duke belum kembali, nanti aku kirim surat jika sudah memutuskan” jawab Ai sedikit tak enak hati.
“ ku harap kau bisa ikut bisnis ini” Hardwin sedikit terbawa emosi. Sungguh dia ingin sekali berdekatan dengan Ai seperti dulu saat di Barack. Kini karena status jelas memberikan mereka jarak.
“ oh iya, kuharap juga begitu” Ai langsung masuk ke dalam kereta.
Melihat raut sedih Hardwin tadi sungguh mengganggu hati Ai. Selama ini Ai sudah sering melihat raut itu, tapi entah kenapa saat ini lebih masuk kedalam hatinya. Di kota ini Hardwin adalah satu-satunya teman lelakinya. Hampir semuanya teman di Barack dulu sudah melanjutkan karir masuk kedalam pengawal atau tentara kerajaan. Hal ini pula yang membuat Ai lebih menghargai keberadaan Hardwin disini.
“ nyonya anda kenapa?” tanya Mily yang melihat nyonyanya termenung melihat pintu kereta.
“ em, tidak aku hanya lelah “ jawab Ai setengah berbohong. Iya dia sedikit lelah tapi mentalnya yang lelah, fisiknya tidak ada masalah khusus. Ai benar-benar ingin masalah ini segera selesai. Menjalani rumah tangga yang bahagia dan di cintai oleh suaminya. Hanya itu, dia sudah rindu kasih sayang.
“ nyonya pasti kuat “ seakan nasehat itu memacu Ai untuk tidak bersedih lagi. Sudah cukup rasa sedihnya di masa lalu. Dia harus kuat. Mengingat Hardwin selalu membuat Ai mengingat keluarganya.
“ terimaksih Milly” Mily menggenggam kedua tangan Ai untuk memberikan dukungan.
Perjalanan sudah hampir selesai kediaman Duke sudah ada di depan. Waktu sudah sore ketika Ai menginjak pelataran kediaman. AI langsung naik, ketika sedang melewati lantai 2 Ai berhenti sejenak, ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Dia melihat pintu kamar yang di tempati Grace sedikit terbuka. Dengan langkah pelan dia mendekati pintu dan mulai mengintip apa yang ada di dalam.