The New Duchess

The New Duchess
Bab 140: Negosiasi



Beberapa lama setelah Dalbert dapat menenangkan dirinya, baru tuan Kleiner akhirnya berangkat menuju Gerbang ibukota. meskipun begitu Dalbert masih terus memikirkan bagaimana kondisi Ai di sana.


Jika benar bahwa putra mahkota Sea telah menculiknya. Maka besar kemungkinan wanita itu berada dalam bahaya, yang tidak bisa dia lupakan adalah bahwa sejak pertama putra mahkota sudah memiliki niat yang sangat buruk kepada Ai dan hari ini tanpa sepengetahuan Axton, istrinya berada dalam tangan yang salah.


" Sebentar lagi kita akan sampai di depan para penjaga kau lebih baik tidak usah mengatakan sesuatu jika tidak ditanya, biarkan aku saja yang menjelaskan alasan kita masuk ke ibukota" ucap Tuan kleiner sambil berbisik.


Antrian untuk masuk ibukota semakin hari semakin sedikit karena proses pengamanan yang terbilang cukup ketat. Banyak sekali masyarakat Bavaria yang tidak ingin terlibat dan mencari masalah saat keadaan seperti ini.


" Baiklah ikuti saranmu saja" jawab Dalbert dengan nada datar.


Rombongan mereka akhirnya sampai di depan para penjaga. Seperti rencana awal, tuan Kleiner masuk masih menggunakan alasan pengobatan penyakit dari orang-orang sakit yang mereka bawa. Hal itu cukup efektif beberapa dari mereka bahkan tidak perlu menunjukkan kartu pengenal karena memang Tuan kleiner memiliki nama yang cukup terkenal diibukota. Seperti saat ini mereka juga tidak menemukan kendala yang serius ketika berhadapan dengan para penjaga.


" Lalu Apa rencana tuan, agar kita bisa menemukan Duchess? " tanya Dalbert, begitu mereka melewati gerbang masuk kota.


" jika memang Duchess ada di tangan Sea, kemungkinan lelaki itu tidak akan membawa Duchess ke istana" Jawab tuan Kleiner.


" jadi dimana kemungkinan mereka akan membawatanya?" Dalbet terus meminta penjelasan dengan kening saling bertautan, lelaki itu sama sekali tidak memiliki perkiraan dimana lelaki itu menyembunyikan Ai.


" mungkin mereka akan membawanya ke sebuah tempat yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya" tuan Kleiner masih terus berpikir kemungkinan kemungkinan di mana mereka bisa menemukan Duchess.


" apa kita perlu masuk istana dan menemui Duke?" Dalbert sudah begitu putus asa tidak bisa berfikir lagi.


"aku rasa kita tidak perlu melibatkan Duke, lelaki itu sudah memikul beban yang berat. Aku bahkan tidak yakin diamau meninggalkan istana jika Sea masih berfikir untuk mengambil tahta" tuan Kleiner mengingat misi bunuh diri Axton.


" Kita lebih baik berpencar mungkin saja kita bisa menemukan hardwin atau pengawal Pangeran. kita bisa saling berkomunikasi pesan rahasia" Dalbert memberikan saran. Mereka mungkin bisa lebih cepat menemukan Duchess jika berpisah, akan lebih banyak peluangnya.


" kau yakin? "tanya tuan Kleiner serius.


" aku sendiri juga tidak tahu, sekarang yang perlu kita pikirkan adalah menemukan Duchess" Dalbert menjawab.


" Baiklah aku akan memberikan pengawal untukmu" akhirnya Tuan Kleiner menyetujui saran dari Dalbert Kedua lelaki itu berpisah di persimpangan jalan dengan pengawal penjaga masing-masing.


Situasi istana masih belum terkendali. Axton yang memimpin proses negosiasi masih berada di tenda pasukan kerajaan. Dia dengan pemimpin pasukan yang notabennya adalah temannya sendiri belum menemukan titik temu.


" Apa benar isi dari surat ini?" tanya pemimpin pasukan.


" apa yang tertulis di sana masih sangat sedikit dari fakta yang ingin aku sampaikan padamu " Axton menatapnya dengan tatapan tajam.


" apa yang kamu maksud? " pemimpin pasukan bertanya dengan kening berkerut.


" fakta mengenai siapa sebenarnya seseorang yang saat ini kau bela mati-matian" Axton tidak langsung memberikan jawaban. Lelaki itu lewat matanya memberikan kode pemimpin pasukan agar pasukan lainnya yang ada di tanda itu untuk pergi. Untung saja pemimpin pasukan mengetahui isyarat tersebut. Lelaki itu segera menyuruh anak buahnya yang berada di dalam tenda untuk meninggalkan mereka.


"fakta apa yang ingin kau sampaikan padaku ?" tanya pemimpin pasukan.


"orang yang selama ini kau bela mati-matian itu bukanlah penerus Tahta yang asli" sontak saja kalimat ini benar-benar mencengangkan. Pemimpin pasukan itu bahkan tidak percaya dengan ucapan Axton.


"Mana mungkin bisa seperti itu putra mahkota Sea adalah penerus tahta yang sah di mata


hukum" pemimpin pasukan masih pada keyakinannya.


"itu yang orang lain ketahui nyatanya lelaki itu memiliki darah yang sama denganku " jawab Axton dengan nada datar. Lelaki itu memaklumi kekagetan dan rasa tidak percaya dari temannya.


" apa yang kau maksud memiliki darah yang sama?" tanya pemimpin pasukan.


" dia dan aku berasal dari ayah yang sama. pasti sudah mendengar desas- desus siapa ibu kandungku" Axtonl mulai menggoyahkan keyakinan pemimpin pasukan.


" maksudmu dia adalah adik kandungmu? " tanya pemimpin pasukan. Lelaki itu akhirnya mengetahui faksa sebenarnya.


Axton diam dengan tatapan aneh. Seakan mengisyaratkan bahwa apa yang memimpin pasukan itu ucapkan adalah benar. Tenda menjadi sunyi mendadak. Kedua lelaki itu sibuk dengan pikirannya sendiri.


"jangan katakan apapun mengenai hal ini kepada pasukanmu. Aku tidak mau masyarakat Bavaria menjadi curiga dengan anggota kerajaan lainnya. rahasia ini berhenti di kamu. sekarang terserah apa yang ingin kau lakukan" Axton hanya bisa memberikan pilihan.


Lelaki itu tidak memaksa, mereka sama- sama tau konsekuensi jika terjadi saling lawan di istana. Pemimpin pasukan tidak bisa berkata-kata. Lidahnya kelu setelah mendengar rahasia besar ini. Lelaki itu tidak bisa berpikir tubuhnya seakan beku. tak bisa bergerak.


Setelah lama berpikir akhirnya pemimpin pasukan itu mendapatkan sebuah keputusan. Dia yakin betul bahwa temannya ini tidak mungkin mengatakan sesuatu yang tidak bersumber. Pemimpin pasukan sangat mengenal betul bagaimana karakter Axton, seorang Duke Wellington.


Meskipun kenyataan ini begitu pahit untuk dia ketahui, namun mau tidak mau dia harus tetap mengambil keputusan. Dia adalah pemimpin pasukan kerajaan jika sampai dia mengangkat pedang maka seluruh kerajaan ini akan memusuhi Axton menjadikan lelaki itu seorang penghianat.


" apa sekarang Pangeran Aric berada di istana raja?" tanya pemimpin pasukan memastikan. Axton mengangguk sebagai jawabannya.


"apa sekarang Pangeran Aric dalam kondisi yang baik?" tanya pemimpin pasukan itu lagi. Kali ini Axton menggeleng, dia tahu benar jika Pangeran dalam kondisi mental yang labil.


"apa raja dalam keadaan baik?" tanya pemimpin pasukan sekali lagi. Dan Axton hanya menundukkan kepalanya sebagai jawaban. Pemimpin pasukan menangkap isyarat itu dengan baik lelaki itu mengambil nafas dengan kasar, dia tidak berfikir jika keadaan istana akan jauh lebih buruk daripada yang dia perkirakan. Semua isyarat dari Axton membuat keputusannya semakin matang.


"kau bisa pergi dan aku akan menangani pasukan kerajaan ini. Terima kasih sudah percaya Padaku. Semoga kita bisa bertemu lagi" . Ucap pemimpin pasukan.


Lelaki itu akan berhadapan dengan pengikut setia Sean. Dia akan menangani kerusuhan ini. Dan membiarkan Axton untuk menjaga pangeran Aric. Axton hanya bisa menatap dalam. Temannya ini masih sama seperti dulu, sangat beintegritas dan loyal.


Kemungkinan mereka bisa memenangkan pertarungan ini dan Akton tidak akan meninggalkan temannya. Lelaki itu terus memantau dan akan memberikan bantuan semampunya jika terjadi sesuatu di dalam pasukan kerajaan. Dan semua itu tidak perlu di ucapkan hanya rasa persahabatan yang menjadi alasannya.