The New Duchess

The New Duchess
Bab 121: Kesal



“ bagaimana jika kita


tinggal sana disini?, tempat ini begitu tenang dan damai, tidak seperti


ibukota” mereka sudah meninggalkan sungai dan kini telah berganti pakaian.


Mereka duduk di tenda sambil mengawasi air terjun.


“ ide bagus, kita tinggal


disini dan Bavaria akan hancur seiring waktu” jawab Axton tenang, dia bukannya


tidak mau hidup damai, namun semuanya sudah terlanjur seperti ini.


“ kenapa kau sebegitunya


dengan Bavaria, itu bukan tanggung jawabmu” Ai menatap Axton penuh tanya.


“ memang bukan, namun


sebagai kakak, aku harus bisa mengatur adikku dengan baik. Aku akan turun


tangan mau bagaimanapun resikonya” suasana yang damai membuat Axton berterus


terang kepada Ai soal identitas keluarganya.


“ kakak? “ Ai mengerutkan


keningnya, dia semakin bertanya-tanya maksud dari ucapan sang suami.


“Sea tidak memiliki darah


kerajaan, dia anak Granduke, Adik kandungku” jawab Axton gamblang, rahasia yang


hanya dirinya saja yang mengetahuinya saja. Dan Axton berniat akan


mengatakannya kepada Aric nanti. Lelaki itu harus diberitahu agar dia tidak


merasa bersalah setelah nanti menaiki tahta. Aric masih begitu polos, dia tidak


akan melakukan sesuatu jika tidak ada alasan yang kuat. Dan inilah yang akan


dijadikan Axton sebagai alasan agar Aric berlaku tegas dan keras kepada Sea.


Ai tidak bisa


berkata-kata, matanya melebar tak percaya. Jadi selama ini publik sudah di


bohongi dengan skandal yang salah.


“ bagaimana kau bisa


yakin?” bukannya meragukan perkataan suaminya, namun bisa saja ada kesalapaham


atau hal yang tidak terbukti lainnya.


“ Briana sendiri yang


mengatakannya” Axton menjawabnya dengan mudah. Sumbernya tidak lain adalah


ibunya sendiri.


Pantas saja kedua orang


itu begitu ambisius untuk menyingkirkan Axton, ternyata rahasia terbesar mereka


sudah ada di tangan suaminya.


“ jadi masih tetap ingin


tinggal disini dan melihat seorang seperti Sea mengambil tahta yang bukan


miliknya?” Axton membuat pemikiran Ai menjadi berubah, wanita itu jadi merasa


egois jika ingin bersama dengan Axton disini.


“ tapi kau akan dalam,,”


“ sstt, itu semua sudah


menjadi tanggung jawabku. Dan aku sangat bersyukur tuhan sudah memberikan aku


wanita yang luar biasa untuk mendampingiku selama ini” Axton langsung memotong


kalimat Ai yang menyedihkan baginya.


Ai yang mendengar kalimat


itu bukannya tersipu tapi menjadi sedikit kesal. Dia menangkap kejanggalan dari


kalimat terakhir suaminya.


“ bukannya kau menikah 3


kali, jadi maksud kamu, 3 wanita ini sama-sama luar biasa begitu? Mereka kan


juga mendampingimu selama ini” Ai cemberut, dia kesal karena dirinya tidak di


spesialkan.


“ bukan seperti itu.


Hanya kau, Aisnley. Hanya kamu wanita yang luar biasa yang sanggup


mendampingiku dan mengambil hatiku” Axton merayu, dia tidak mau momen ini


berubah menjadi ajang pertengkaran. Dia tidak habis fikir kenapa bisa Ai


menyangkut pautkan dengan masalah pernikahanya.


“ tidak, kau tadi tidak


bilang begitu” Ai suda terlanjur kesal, dia bersiap beranjak dari tenda.


“aakk” dengan cepat Axton


menarik tangan istrinya dan membuatnya terlentang di bawahnya.


“ kau cemburu?” Axton


malah menggoda istrinya.  Ai syok kerena  dengan begitu cepatnya Axton melancarkan


aksinya.


“ tidak” jawab Ai cepat,


dia juga mendorong tubuh Axton untuk menyingkir. Wanita itu malu dengan posisi


mereka yang begitu intim.


“ benar?” bukannya


menjauh Axton semakin merapatkan tubuhnya. Lelaki itu memang berniat ingin


melakukan ‘sesuatu’ pada istrinya disini.


“ Ax,, Axton “ entah


kenapa tiba-tiba Ai malah panic, dia tau kemana arah suaminya bertindak.


“ diamlah” Axton


mengatakannya penuh dengan kelembutan. Sedetik kemudian benda kenyal menubruk


bibir Ai dengan cepat, bahkan ciuman dari Axton sangat menuntut dan dalam. Ai


kesulitan bernafas beberapa kali, tangan lelaki itu juga tidak mau diam. dia


menyentuh apa saja yang ada di tubuh Ai.


“ engh, Axton hentikan”


Ai mendorong kuat dada suaminya sambil masih terengah-engah. Jika dilanjutkan


mereka benar-benar akan polosan disini.


“ kenapa?”


“ hari semakin malam, disini


menakutkan ” Ai masih ingat bagaimana sulitnya dia berjalan menyusuri jalan


dan setelah mereka ‘beraktifitas’ itu. Akan sangat tidak nyaman pastinya.


“ hem, baiklah” Axton


mengerti kekhawatiran Ai. karena dirinya sendiri pasti akan melakukannya sampai


puas. Hari masih sore namun hutan sudah tampak mulai gelap.


“ kita akan melakukannya


di pondok” imbuh Axton yang tidak mau ‘aktifitas’ itu gagal. Ai menggelengkan


kepalanya, tak habis pikir. Dia menjadi berfikir apa jangan-jangan Axton


membawanya kemari memang ada niat ‘seperti itu’.


Axton hanya membawa


pakaian basah saja, untuk tenda dia sengaja membiarkannya disana. Kali ini


perjalanan pulang terasa lebih mudah dan cepat daripada saat mereka datang. Ai


bahkan tidak sampai mengeluh capek ataupun pegal.


Dan sesuai dengan


perhitungan mereka, begitu keluar dari hutan mereka disambut dengan senja yang


sudah mau berakhir. Matahari sudah tenggelam hanya rona merah yang mereka


lihat.


Pasangan itu kemudian


masuk kedalam pondok, di teras ada 2 buah keranjang makanan. Pasti pelayan


pondok yang mengirimi mereka.


“ dia sangat pengertian”


ucap Ai yang menaruh semua makanan itu diatas meja dan langsung melahabnya. Dia


sangat kelaparan sejak selesai berenang.


Tanpa menunggu lama,


makanan yang tersaji sudahhabis, baik Axton dan Ai sangat lahab menikmati


makanan itu. Terbawa lelahnya tubuh yang sejak siang mereka tidak makan. Paket


komplit.


“ aku akan membersihkan


diri” Ai menuju ke kamar mandi yang ada dikamar. Dia membersihkan diri karena


merasa  air sungai masih terasa lengket


karena perjalanan pulang.


Axton membereskan


peralatan makanan dan menaruhnya di dapur pondok. lelaki itu juga menyalakan


api untuk merebus air dalam kuali. Mungkin saja mereka membutuhkan air hangat


nanti. Setelahnya dia mambasuh kaki dan tangan serta mengelap wajahnya. Lelaki


itu hanya membersihkan tubuhnya karena noda saat perjalanan pulang.


Kemudian Axton masuk ke


dalam kamar, disana Ai masih mandi. Lelaki akhirnya hanya mengganti baju dan


menunggu Ai di atas ranjang. Beberapa saat kemudian rasa ngantuk mulai terasa,


membuat lelaki itu akhirnya terlelap melupakan niat awalnya menyusul Ai ke


dalam kamar.


Sementtara Ai di kamar


mandi terlihat begitu sibuk. Dia menyiapkan tubuhnya untuk sesuatu yang


semenjak tadi diinginkan oleh sang suami. Membuatnya sebersih dan seharum


mungkin. Tidak ada bagian tubuhnya yang terlewat.


Setelah cukup wanita itu


mengambil handuk, kain penutup tubuh. Lalu keluar dari kamar mandi. Seketika


senyum yang sedari tadi merekah langsung layu begitu saja. Suaminya dengan


nyeyaknya sudah terlelap di ranjang. Segala khayalannya sirna begitu saja.


Dengan langkah kesal Ai mendekati ranjang, dia memastikan bahwa suaminya


benar-benar tidur atau hanya pura-pura.


Ai menggerakkan tangannya


di depan mata Axton yang tertutup, menggoyang sedikit bahunya dan kakinya.


Semuanya tidak ada respon, suaminya positif sudah tidak sadarkan diri. Ai


menghembuskan nafas kesal, dia sudah bersusah payah ternyata hasilnya sia-sia.


Alhasil Ai langsung


berbalik badan, dia mengeringkan rambutnya yang sudah setengah basah itu.


Mematikan semua lampu minyak dan dengan kasar menaiki ranjang. Ai tidak peduli


jika suara ranjang akan mengganggu tidurnya Axton. dia berbaring memunggungi


sang suami dan setelahnya memaksa matanya tertutup.


“aakk” Ai lansung


berbalik badan saat merasakan ada sesuatu yang bergerak di kakinya.


 “ Axton!” Ai semakin kesal, suaminya ternyata


yang membuat ulah.


“ kau lama sekali” Axton


merambat menaiki tubuh Ai.


“ bukannya kau sudah


tidur?” Ai ikut menggeser tubuhnya menjauh, dia masih dalam mode kesal.


“ memang iya, kau lupa


tubuhku ini selalu siaga. Begitu merasakan sentuhan pasti akan terbangun” tubuh


Axton sudah berada di atas tubuh Ai hanya di sangga oleh kedua lengannya.


“ aku sudah mengantuk,


mau tidur” tolak Ai keras, dia akan sedikit jual mahal. Memberikan pelajaran


kepada Axton karena sudah membuatnya kesal.


“ sayang sekali, malam ini


kita tidak akan tidur” jawab Axton dengan seringai licik. Lelaki itu langsung


memulai aksinya dengan melahab rakus kedua bibir yang sedari tadi mengeluh dan


begitu cerewat. Lelaki itu begitu menuntut, sudah lama sekali dia menahannya. Kali


ini dia pastikan akan menghamili sang istri. Axton akan membuat versi kecil


dirinya sebagai hadiah atas semua pengorbanan Ai lakukan selama ini.