
“ bagaimana jika kita
tinggal sana disini?, tempat ini begitu tenang dan damai, tidak seperti
ibukota” mereka sudah meninggalkan sungai dan kini telah berganti pakaian.
Mereka duduk di tenda sambil mengawasi air terjun.
“ ide bagus, kita tinggal
disini dan Bavaria akan hancur seiring waktu” jawab Axton tenang, dia bukannya
tidak mau hidup damai, namun semuanya sudah terlanjur seperti ini.
“ kenapa kau sebegitunya
dengan Bavaria, itu bukan tanggung jawabmu” Ai menatap Axton penuh tanya.
“ memang bukan, namun
sebagai kakak, aku harus bisa mengatur adikku dengan baik. Aku akan turun
tangan mau bagaimanapun resikonya” suasana yang damai membuat Axton berterus
terang kepada Ai soal identitas keluarganya.
“ kakak? “ Ai mengerutkan
keningnya, dia semakin bertanya-tanya maksud dari ucapan sang suami.
“Sea tidak memiliki darah
kerajaan, dia anak Granduke, Adik kandungku” jawab Axton gamblang, rahasia yang
hanya dirinya saja yang mengetahuinya saja. Dan Axton berniat akan
mengatakannya kepada Aric nanti. Lelaki itu harus diberitahu agar dia tidak
merasa bersalah setelah nanti menaiki tahta. Aric masih begitu polos, dia tidak
akan melakukan sesuatu jika tidak ada alasan yang kuat. Dan inilah yang akan
dijadikan Axton sebagai alasan agar Aric berlaku tegas dan keras kepada Sea.
Ai tidak bisa
berkata-kata, matanya melebar tak percaya. Jadi selama ini publik sudah di
bohongi dengan skandal yang salah.
“ bagaimana kau bisa
yakin?” bukannya meragukan perkataan suaminya, namun bisa saja ada kesalapaham
atau hal yang tidak terbukti lainnya.
“ Briana sendiri yang
mengatakannya” Axton menjawabnya dengan mudah. Sumbernya tidak lain adalah
ibunya sendiri.
Pantas saja kedua orang
itu begitu ambisius untuk menyingkirkan Axton, ternyata rahasia terbesar mereka
sudah ada di tangan suaminya.
“ jadi masih tetap ingin
tinggal disini dan melihat seorang seperti Sea mengambil tahta yang bukan
miliknya?” Axton membuat pemikiran Ai menjadi berubah, wanita itu jadi merasa
egois jika ingin bersama dengan Axton disini.
“ tapi kau akan dalam,,”
“ sstt, itu semua sudah
menjadi tanggung jawabku. Dan aku sangat bersyukur tuhan sudah memberikan aku
wanita yang luar biasa untuk mendampingiku selama ini” Axton langsung memotong
kalimat Ai yang menyedihkan baginya.
Ai yang mendengar kalimat
itu bukannya tersipu tapi menjadi sedikit kesal. Dia menangkap kejanggalan dari
kalimat terakhir suaminya.
“ bukannya kau menikah 3
kali, jadi maksud kamu, 3 wanita ini sama-sama luar biasa begitu? Mereka kan
juga mendampingimu selama ini” Ai cemberut, dia kesal karena dirinya tidak di
spesialkan.
“ bukan seperti itu.
Hanya kau, Aisnley. Hanya kamu wanita yang luar biasa yang sanggup
mendampingiku dan mengambil hatiku” Axton merayu, dia tidak mau momen ini
berubah menjadi ajang pertengkaran. Dia tidak habis fikir kenapa bisa Ai
menyangkut pautkan dengan masalah pernikahanya.
“ tidak, kau tadi tidak
bilang begitu” Ai suda terlanjur kesal, dia bersiap beranjak dari tenda.
“aakk” dengan cepat Axton
menarik tangan istrinya dan membuatnya terlentang di bawahnya.
“ kau cemburu?” Axton
malah menggoda istrinya. Ai syok kerena dengan begitu cepatnya Axton melancarkan
aksinya.
“ tidak” jawab Ai cepat,
dia juga mendorong tubuh Axton untuk menyingkir. Wanita itu malu dengan posisi
mereka yang begitu intim.
“ benar?” bukannya
menjauh Axton semakin merapatkan tubuhnya. Lelaki itu memang berniat ingin
melakukan ‘sesuatu’ pada istrinya disini.
“ Ax,, Axton “ entah
kenapa tiba-tiba Ai malah panic, dia tau kemana arah suaminya bertindak.
“ diamlah” Axton
mengatakannya penuh dengan kelembutan. Sedetik kemudian benda kenyal menubruk
bibir Ai dengan cepat, bahkan ciuman dari Axton sangat menuntut dan dalam. Ai
kesulitan bernafas beberapa kali, tangan lelaki itu juga tidak mau diam. dia
menyentuh apa saja yang ada di tubuh Ai.
“ engh, Axton hentikan”
Ai mendorong kuat dada suaminya sambil masih terengah-engah. Jika dilanjutkan
mereka benar-benar akan polosan disini.
“ kenapa?”
“ hari semakin malam, disini
menakutkan ” Ai masih ingat bagaimana sulitnya dia berjalan menyusuri jalan
dan setelah mereka ‘beraktifitas’ itu. Akan sangat tidak nyaman pastinya.
“ hem, baiklah” Axton
mengerti kekhawatiran Ai. karena dirinya sendiri pasti akan melakukannya sampai
puas. Hari masih sore namun hutan sudah tampak mulai gelap.
“ kita akan melakukannya
di pondok” imbuh Axton yang tidak mau ‘aktifitas’ itu gagal. Ai menggelengkan
kepalanya, tak habis pikir. Dia menjadi berfikir apa jangan-jangan Axton
membawanya kemari memang ada niat ‘seperti itu’.
Axton hanya membawa
pakaian basah saja, untuk tenda dia sengaja membiarkannya disana. Kali ini
perjalanan pulang terasa lebih mudah dan cepat daripada saat mereka datang. Ai
bahkan tidak sampai mengeluh capek ataupun pegal.
Dan sesuai dengan
perhitungan mereka, begitu keluar dari hutan mereka disambut dengan senja yang
sudah mau berakhir. Matahari sudah tenggelam hanya rona merah yang mereka
lihat.
Pasangan itu kemudian
masuk kedalam pondok, di teras ada 2 buah keranjang makanan. Pasti pelayan
pondok yang mengirimi mereka.
“ dia sangat pengertian”
ucap Ai yang menaruh semua makanan itu diatas meja dan langsung melahabnya. Dia
sangat kelaparan sejak selesai berenang.
Tanpa menunggu lama,
makanan yang tersaji sudahhabis, baik Axton dan Ai sangat lahab menikmati
makanan itu. Terbawa lelahnya tubuh yang sejak siang mereka tidak makan. Paket
komplit.
“ aku akan membersihkan
diri” Ai menuju ke kamar mandi yang ada dikamar. Dia membersihkan diri karena
merasa air sungai masih terasa lengket
karena perjalanan pulang.
Axton membereskan
peralatan makanan dan menaruhnya di dapur pondok. lelaki itu juga menyalakan
api untuk merebus air dalam kuali. Mungkin saja mereka membutuhkan air hangat
nanti. Setelahnya dia mambasuh kaki dan tangan serta mengelap wajahnya. Lelaki
itu hanya membersihkan tubuhnya karena noda saat perjalanan pulang.
Kemudian Axton masuk ke
dalam kamar, disana Ai masih mandi. Lelaki akhirnya hanya mengganti baju dan
menunggu Ai di atas ranjang. Beberapa saat kemudian rasa ngantuk mulai terasa,
membuat lelaki itu akhirnya terlelap melupakan niat awalnya menyusul Ai ke
dalam kamar.
Sementtara Ai di kamar
mandi terlihat begitu sibuk. Dia menyiapkan tubuhnya untuk sesuatu yang
semenjak tadi diinginkan oleh sang suami. Membuatnya sebersih dan seharum
mungkin. Tidak ada bagian tubuhnya yang terlewat.
Setelah cukup wanita itu
mengambil handuk, kain penutup tubuh. Lalu keluar dari kamar mandi. Seketika
senyum yang sedari tadi merekah langsung layu begitu saja. Suaminya dengan
nyeyaknya sudah terlelap di ranjang. Segala khayalannya sirna begitu saja.
Dengan langkah kesal Ai mendekati ranjang, dia memastikan bahwa suaminya
benar-benar tidur atau hanya pura-pura.
Ai menggerakkan tangannya
di depan mata Axton yang tertutup, menggoyang sedikit bahunya dan kakinya.
Semuanya tidak ada respon, suaminya positif sudah tidak sadarkan diri. Ai
menghembuskan nafas kesal, dia sudah bersusah payah ternyata hasilnya sia-sia.
Alhasil Ai langsung
berbalik badan, dia mengeringkan rambutnya yang sudah setengah basah itu.
Mematikan semua lampu minyak dan dengan kasar menaiki ranjang. Ai tidak peduli
jika suara ranjang akan mengganggu tidurnya Axton. dia berbaring memunggungi
sang suami dan setelahnya memaksa matanya tertutup.
“aakk” Ai lansung
berbalik badan saat merasakan ada sesuatu yang bergerak di kakinya.
“ Axton!” Ai semakin kesal, suaminya ternyata
yang membuat ulah.
“ kau lama sekali” Axton
merambat menaiki tubuh Ai.
“ bukannya kau sudah
tidur?” Ai ikut menggeser tubuhnya menjauh, dia masih dalam mode kesal.
“ memang iya, kau lupa
tubuhku ini selalu siaga. Begitu merasakan sentuhan pasti akan terbangun” tubuh
Axton sudah berada di atas tubuh Ai hanya di sangga oleh kedua lengannya.
“ aku sudah mengantuk,
mau tidur” tolak Ai keras, dia akan sedikit jual mahal. Memberikan pelajaran
kepada Axton karena sudah membuatnya kesal.
“ sayang sekali, malam ini
kita tidak akan tidur” jawab Axton dengan seringai licik. Lelaki itu langsung
memulai aksinya dengan melahab rakus kedua bibir yang sedari tadi mengeluh dan
begitu cerewat. Lelaki itu begitu menuntut, sudah lama sekali dia menahannya. Kali
ini dia pastikan akan menghamili sang istri. Axton akan membuat versi kecil
dirinya sebagai hadiah atas semua pengorbanan Ai lakukan selama ini.