
Segera saja kedua wanita itu menaiki kereta dan meninggalkan kediaman Blackton. Semua benda yang Ai butuhkan sudah berada di tasnya, sebab kematian Kyliee kini sudah dia tau. Ai mulai menduga jika istri pertama Axton mungkin mengalami hal yang sama dengan Kyliee. Untuk saat ini Ai tidak bisa berkata banyak, sepanjang perjalanan hanya di habiskan dengan terdiam menatap jendela kereta. Masy sengaja membiarkan sahabatnya larut dalam lamunan, menunggu sampai siap untuk bercerita.
Hari ini di kediaman Bohmen terjadi keributan, tentu saja alasannya karena mereka tidak menemukan Ai di Barack. Bahkan kepala Barack mengatakan jika keponakannya itu tidak menginap satu malampun disana. Ai langsung pergi di hari yang sama dengan kedatangannya. Allard benara-benar di buat panik dan kebingungan dengan kebenaran ini. Sedangkan Amber hanya terdiam tak tau harus melakukan apa.
“ apa kita katakan saja pada Duke jika istrinya menghilang?” Amber bertanya dengan raut kepanikan. Wanita itu berada di ruang tengah kediaman di depannya Allard berjalan mondar-mandir karena kebingungan.
“ aku juga tak tau, hal ini pasti akan mengganggu fokus Duke dalam melakukan rencananya” jawab Allard.
“ kita tak punya pilihan lain Al” Amber tampak memaksa suamianya untuk segera memberitahukan kebenarannya kepada Axton.
“ anak itu sepertinya memang memiliki kecurigaan dengan suaminya, bahkan dia pernah menguping pembicaraanku dengan Duke. Aku yakin Ai pasti kembali ke kota” Allard berganti duduk di samping istrinya. Setelah mengambil kesimpulan atas hilangnya keponakannya itu.
“ maksud kamu Ai sudah tau semuanya?”
“ tidak, atau mungkin belum. Lebih baik aku pergi ke kota dan mencari Ai, kemungkinan besar dia pasti berada di sana” Allard yakin dengan keputusannya.
Sesuai dengan kesepakatan, Allard pergi ke kota sendirian, sedangkan Amber memutusakan untuk tinggal, jika sewaktu-waktu keponakannya itu kembali.
Hari masih sangat pagi ketika Allard menaiki kereta kudanya. Entah bagaimana caranya dia menyampaikan hal ini kepada Duke. Lelaki itu pasti meresa kecewa dengannya, karena tidak bisa menjaga istrinya dengan baik. Jika benar Ai berada di kota, kemungkinan rencana matangnya dengan Duke akan sedikit terganggu. Allard menghela nafas kasar, merasa bersalah atas kejadian ini.
Axton tampak kaget saat Brian mengatakan jika Allard datang. Seharusnya lelaki itu berada di desa untuk menjaga istrinya, namun kenapa hari ini kembali lagi ke kediaman.
“ Duke “ sapa Allard saat berada dia ruang tamu lantai bawah.
“ Baron, ada hal apa datang kemari?” Axton tanpa basa-basi langsung saja mempertanyakan kedatangan Allard.
Akhirnya Allard menceritakan semuanya, Axton terlihat cemas sekaligus marah saat mendengar kabar ini. Istrinya benar-benar susah sekali di tebak. Axton yakin jika saat pergi tak ada hal aneh ataupun kecurigaan dengan tingkah istrinya, nyatanya wanita itu sedang memainkan siasat.
“ kemungkinan besarnya memang Ai pasti kembali ke kota, tapi selama ini dimana dia tinggal?” Axton memijit keningnya. Mencoba berfikir kemungkinan keberadaan istrinya.
“ melihat Ai yang melakukan hal senekat ini, jadi mungkin dia sudah mempersiapkan tempat untuk tinggal. Di rumah kenalannya atau di penginapan tertentu” Allard ikut menimpali.
“ apa di tempat lelaki brengsek itu ( Hardwin)?” Axton mulai tidak bisa mengontrol amarahnya, dia cemas jika ketakutannya benar.
“ Brian !” teriak Axton. Dengan cepat lelaki itu berlari menuju asal suara.
“ iya tuan”
“ kau coba amati kediaman Kleiner, cari tau apakah Duchess ada disana” perintah Axton yang langsung di angguki oleh Brian.
“ ah ya, sekalian suruh yang lain untuk memantau kediaman Dempster dan Halbert, keduanya merupakan teman wanita Ai mungkin salah satu dari mereka menjadi tempat tinggal Duchess” Brian mengerutkan keningnya, dia bingung kenapa tuannya mencari Duchess di tempat-tempat itu, sepengetahuannya Duchess pergi ke desa. Namun dengan terpaksa Brian hanya bisa mengikuti perintah tanpa perlu banyak bertanya alasannya. Setelah berbincang, kedua lelaki itu sibuk dengan urusannya masing-masing.
Siang hari di kediaman Wellington Brian sedang belaporakn keadaan masing-masing kediaman sesuai dengan yang di perintahkan Axton. Sejak kemarin sore sampai pagi ini Brian beserta beberapa orang memantau ke tiga kediaman itu.
“ saya melihat di kediaman Kleiner tidak ada hal yang aneh, bahkan Lord Hardwin tidak terlihat sama sekali. Kemungkinan sedang tidak berada di tempat” jelas Brian, dia diam sejenak menunggu reaksi tuannya.
“ lanjutkan” ucap Axton.
“ tidak, tidak. Ai pasti menghindari keramaian” lirih Axton.
“ di kediaman Halbert tampak sepi, namun terlihat ada beberapa wanita yang didalam kediaman. Pelayan juga tampak sibuk seperti sedang melayani seorang tamu” Axton langsung menyeringai mendengar laporan terakhir dari Brian. Sepertinya lelaki itu sudah menemukan jawabannya. Hatinya sedikit lega ternyata istrinya tidak pergi ke rumah lelaki lain. Dengan senyum jahatnya Axton segera menyuruh Brian menyiapkan kereta kuda.
Allard awalnya penasaran saat melihat raut senang Axton, namun kemudian mengerti jika Duke sudah menemuakan keberadaan keponakan nakalnya itu.
Segera saja kereta kuda Wellington melaju cepat menuju kediaman Halbert yang berada sedikit jauh dari tengah kota. Sepanjang perjalanan Axton berfikir hukuman apa yang cocok diberikan kepada istrinya itu.
Sejak acara melarikan diri yang sukses, Ai hanya berdiam diri di dalam kamar. Tak ada keinginan untuk melakukan hal lain, setelah mengetahui semuanya Ai malah semakin tidak mengerti dengan apa yang seharusnya dia lakukan.
Masy yang memang sudah mengetahui keseluruhan ceritanya tentu saja memaklumi keadaan yang dialami sahabatnya itu. Berusaha sebisanya menghibur atau mengalihkan perhatian Ai. Namun semuanya tidak banyak membantu.
“ Ai waktunya makan siang, mari kita makan di taman samping. Seharian kau hanya sibuk di kamar, kini lebih baik menghirup udara segar” Masy menarik tangan Ai agar mengikuti dirinya. Ai dengan terpaksa hanya pasrah, menuruti keinginan Masy.
“ lihatlah semua makanan lezat ini,” teriak Masy untuk menggugah selera makan Ai. Melihat kegigihan sahabatanya rasanya AI tidak bisa menolaknya. Akhirnya kedua wanita itu menikmati acara makan siang dengan riang. Tanpa tau jika kereta kuda Wellington tengah menuju kediaman itu.
Dan benar saja sore harinya ketika Ai sedang tertidur dikamar, kediaman Halbert sudah di datangi tamu kehormatan. Masy yang berada di ruangan kerja ayahnya bahkan tidak memiliki waktu untuk naik ke atas menemui Ai.
“ sore Lady Halbert” sapa Axton yang sudah berada di hadapan Masy.
“ du,,duke Wellington, ada urusan apa datang kemari? Apa ,,, anda ingin membeli kuda?” Masy tampak gugup diawal, kemudian sedikit bisa mengontrol dirinya kemudian.
“ Lady pasti tau betul alasan saya datang kemari” Axton berjalan mendekati Masy dengan tatapan tajam. Masy menyembunyikan remasan tangan ketakutannya di bawah meja.
“ emm,, apa anda memiliki keperluan dengan ayahku? Sayang sekali ayah dan ibu sedang berada di luar kota” Masy semakin menghindar dengan mundur perlahan.
“ tidak, saya tidak ada urusan sama sekali dengan keluarga anda” jawab Axton pelan sambil berjalan semakin masuk ke rumah. Menatap ke lantai atas kediaman. Melihat hal itu Masy hanya mengucap dalam hatinya agar Ai tidak keluar dari kamar atau turun ke bawah. Bisa-bisa keberadaannya akan ketahuan.
“ jadi?”
“ saya tertarik dengan lantai atas anda, bolehkan saya kesana?” Axton memang bertanya seakan meminta izin namun nyatanya kakinya sudah menaiki tangga sebelum Masy memberikan jawaban.
“ Duke, saya rasa anda tidak bisa kesana” kalimat itu seketika menghentikan langkah Axton yang suda separuh jalan.
“ kenapa?” Axton berbalik menatap Masy.
“ disini hanya ada saya, sebagaia wanita yang belum menikah rasanya tidak baik menyambut tamu lelaki terlalu lama. Jadi maaf mungkin anda bisa segera meninggalkan kediaman” Axton menaikkan sudut bibirnya melihat keberanian Masy menahan dirinya. Wanita ini benar-benar begitu membela istrinya.
“ oh begitu, anda wanita yang terhormat Lady” Axton malah melanjutkan langkahnya. hal ini membuat Masy dilanda kepanikan, segera saja berjalan menyusul Axton yang sudah menuyurusi lorong lantai 2.
“ Duke, tolong berhenti” bukanya takut, Axton semakin bersemangat membuka satu persatu pintu yang berada di lantai itu. Sampai langkah kakinya berhenti, matanya menangkap sebuah pintu kamar yang paling terlibat besar dan bagus.
“ hentikan basa-basi ini, aku sudah tau jika Duchess ada disini” Axton memperingati Masy yang menahannya untuk membuka pintu kamar. tatapan mereka saling beradu.