The New Duchess

The New Duchess
BAB 56: LACI



“ kau darimana?” tanya Ai berpura-pura biasa saja.


“ barrack. Besok aku harus pergi jadi perlu mempersiapkan sesuatu” jawab Axton sambil mencium


singkap pipi istrinya.


“ makan malam sudah siap, kau ingin makan dulu atau ..”


“ sepertinya aku perlu  membersihkan diri, kau turunlah dulu” jawab Axton kemudian masuk kedalam kamar.


Ai melihat kepergian Axton dengan tatapan nanar. Masih jelas fakta yang baru


saja Ai tau. Wanita itu menghembuskan nafas kasar, tak ingin berlama-lama Ai


kemudian turun.


Setelah menyelesaikan makan malam yang ternyata suaminya tak kunjung turun, kini ai sudah di kamar


dengan nampan makan malam suaminya.


“ lama sekali mandimu?” tanya Ai begitu suaminya baru selesai.


“  begitu? aku tak sadar melakukannya” jawab lelaki itu cuek. Axton yang masih bertelanjang dada mendekat ke sofa, dan langsung memakan makan malamnya.


Gantian kini Ai yang masuk kedalam kamar mandi, selain untuk membersihkan diri, wanita itu perlu


mentsabilkan emosinya.


“ kau lama sekali” Axton duduk di Rajang dengan raut kesal.


“ begitu? aku tak sadar melakukannya” Ai menjawab sama persis dengan Axton. lelaki itu tersenyum kecil


mendengar jawaban cerdik sang istri.


“ kemarilah” Axton menepuk ranjang. Ai berjalan mendekat dan duduk di samping suaminya.


Begitu sampai Axton langsung memeluk Ai dengan erat. Begitu terasa hangat dan meyesakkan di dada


Ai. Wanita itu membalas pelukan Axton.


“ rasanya aku ingin menghentikan waktu, memelukmu terus seperti ini.” Lirih Axton.


“ benarkah? “tanya Ai sambil melepaskan pelukan Axton.


Axton menatap kedua mata istirnya begitu dalam. Sorot mata sang istri mengisyaratkan kesedihan.


“ ku harap kau adalah cinta terakhirku” mengelus lembut pipi Ai.


Ai membalas elusan itu dengan ikut mendekatkan pipinya edalam elusan suaminya. Wanita itu tak membalas


apapun dari perkataan Axton.


Selesai sarapan Ai di kagetan dengan kedatangan para prajurit kerajaan. Axton langsung kelaur dan


menemui keributan di depan. Hatinya ikut bergetar memikirkan istrinya.


“ Duke kerajaan mengirimkan pengawal untuk mengantar keberangkatan anda” Brian langsung menemui


Axton begitu tuannya keluar.


“minta surat tugasya”jawab Axton singkat.  Brian mendekati pimpinan prajurit menyampaikan perintah Duke. Secarik kertas sudah berada di tangan Axton. sudut bibirnya tertarik begitu melihat siapa penanggung jawab


dari keributan ini.


“ ada apa?” Ai baru menyusul ke depan setelah menyelesaikan sesuatu dulu.


“ kerajaan mengirimkanbeberapa prajurit untuk mengawal kepergianku” jawab Axton menenangkan istrinya.


Lelaki itu mengelus pelan lengan Ai agar istrinya tidak cemas. Ini adalah kali pertama kerajaan begitu menekannya dengan kepastian keberangkatan. Jelas semua dugaan Axton semakin benar, akan ada sesuatu yang besar dalam kepergiannya kali ini.


“ tak perlu cemas, ayo ke atas” padahal Axton sendiri sejak kemarin tidak bisa mengontrol kecemasannya


sendiri. Setelah mengatakan pesan agar menunggu  kepada komandan pengawal. Axton menggandeng


tangan Ai menaiki tangga. Semua keperluan Axton masih diatas, sengaja Axton tidak meyuruh Brian membantunya.


“ setahuku, selama ini pihak kerajaan tidak pernah mengirim pengawal?” Ai mencoba memancing agar Axton


mau menjelaskan situasi yang Ai sendiri sudah tau.


kerja Axton. lelaki itu mengisyaratkan agar Ai duduk.  Meski bingung dengan tingkah suaminya, Ai dengan tatapan penuh tanya menuruti perintah Axton. suaminya berdiri tegap


dihadapannya.


“ masih ingat dengan pembicaraan kita semalam?” Ai mengangguk pelan sebagai jawabannya.


“ jangan mempercayai siapapun selain paman Al” Axton memberikan pesan.


Kemudian Axton menuju meja kerjanya, lebih tepatnya menuju laci terkunci. Ai sudah menduga jika Axton


akan kesana. Setelah membuka laci itu wajah Axton terlihat bingung. Sesuatu


yang dicarinya tak bisa ditemukan.


“ apa kau cari ini?” Ai menunjukkan sesuatu yang berasal dari laci.


Axton tampak tidak percaya dan sedikit kaget dengan apa yang dia lihat.


“ bagaimana bisa kau memilikinya?” tanya Axton datar sembari berjalan mendekati istrinya.


“ aku bahkan sudah membaca isinya” bukannya menjawab pertanyaan Axton, Ai malah memberikan kejutan


lagi. Axton semakin tak karuan. Padahal dia ingin menitipkan surat itu kepada Ai untuk mengirimkannya.


“ bagaimana bisa kau meninggalkan ini tepat disaat kau akan pergi? Jelaskan padaku apa kesalahanku


sampai kau menuliskan surat ini?” Ai beranjak dari sofa, kali ini dia tidak akan menggunakan bahasa yang halus. Sebelum kepergian suaminya dirinya akan meminta kejelasan.


“ kembalikan padaku” dari semua hal yang ingin Axton jelaskan kepada Ai, hanya kalimat itu yang keluar


dari bibirnya.


Srekk , Ai dengan cepat


langsung merobek surat yang dia pegang. Mata Axton bahkan melebar tak percaya,


satu-satunya cara yang mungkin bisa menolong istrinya sudah tak ada lagi.


“Ainsyle” suara Axton menggelegar. Lelaki itu meluapkan rasa kekhawatirannya.


“kita sudah berjanji untuk bersama-sama” jawab Ai dengan sorotan mata yang tajam.


“ ini satu-satunya cara agar kau bisa selamat” Axton langsung saja mengoreksi pernyataan Ai.


“ selamat dari apa? Sebenarnya apa yang sedang  kau hadapi? Anggota kerajaan lagi?” Ai mencoba melembutkan suaranya, agar suaminya mengerti dengan kekhawatirannya.


“ ini jauh lebih besar Ai, aku bahkan tidak bisa memastikan keselamatanku” Axton memalingkan wajah


ketakutannya, tak ingin wanita di depannya mengetahui sisi lemahnya.


“ jelaskan padaku,sekarang tak ada lagi jalan keluar untukku. Kita hadapi sama-sama, ya” Ai mendekat, menyentuh pipi Axton dan membawa wajah suaminya untuk memandangnya.


 Awalnya Axton enggan untuk mengatakannya, namun setelah maniknya menangkap sorot kesedihan milik istrinya membuat hati Axton merasa bersalah.


“ aku benar-benar tak ingin kehilanganmu” lirih Axton, waktu yang dia miliki semakin menipis, lelaki


itu terlihat begitu ketakutan. Namun ketika bibirnya ingin menjelaskan akar permasalahnya tapi lidahnya kelu, Axton tidak mungkin membuat Ai semakin cemas.


Axton benar-benar dilema, jika dia mengatakan yang sebenarnya tidak mungkin istrinya diam dan menjadi


penurut. Masalah kematian mendiang istrinya saja Ai berani bertindak nekat. Namun jika tidak mengatakannya takutya Ai semakin mencari tahu dan masuk dalam siasat seseorang. Tidak, Axton tak mau membahayakan istrinya.


“ baiklah jika kau tak ingin mengatakannya padaku, tapi berjanjilah untuk  menjawab pertanyaanku” dengan lugas Ai


mengatakannya. Axton pasrah dia mengangguka kepalanya.


“ malam saat kaumengatakan bahwa tulang rusuk ini akan menjadi identitasmu selepas kau pergi nanti, lalu kepada siapa aku harus mengatakan kebenarannya? “


“ pada dirimu sendiri”


“ lalu siapa yang bisa aku percayai orang yang meyakinkanku atau orang yang meragukanku padamu ?”


bibir Axton semakin rapat dia menduga istrinya pasti sudah bisa menebak alasan dibalik perkataanya.  Tentu ini berkaitan dengan kematian. Istrinya jelas-jelas tidak bisa dibodohi.


“ oran yang…..”