The New Duchess

The New Duchess
Bab 78 : menunggu



“ bagus, percepat


rencana” ucapnya singkat. Mata-mata itu segera pergi menuju perbatasan. Dia


harus mengabarkan informasi ini dengan segera.


Sepeninggal mata-mata Sea


memanggil pengawalnya, lelaki itu mulai gusar  dengan ketakutannya sendiri.


“ kau sudah amankan dia?”


pengawalnya baru saja sampai setelah meyelesaikan sebuah misi dari tuannya.


“ sudah yang mulia” jawab


pengawal itu yakin.


“ bagus, bisa-bisanya dia


bertindak seenaknya” Sea menyerumput tehnya dengan agak kasar, dia harus


menyalurkan emosinya setelah ini. Lelaki itu tidak terima saat mengetahui jika


pengeran Aric bisa bebas semudah itu dari pengawasannya. Terkutuklah si


pemimpin kota, dia sudah tewas akibat ulahnya yang semena-mena. Tanpa


berkompromi dengannya main lepas tahanan dengan mudahnya.


Bahkan mereka sudah


kehilangan jejak kemana pangeran Aric pergi. Belum lagi kabar pasukan milik


pangeran Aric yang sudah berjalan menuju perbatasan. Semuanya yang dikira Sea


akan berjalan lancar dan aman tak disangka akhir-akhir ini  banyak sekali kendala dan hal tak terduga.


“yang masih  saya bingung kenapa raja dengan tegas


memberikan dekrit penjagaan keselamatan pangeran Aric, kira-kira dari siapa


raja mengetahui kabar ini?” pengawal itu menyatakan keresahan hatinya. Jika


raja hanya berfikir tentang perang sebagaimana biasanya, mana mungkin bisa


mengeluarkan dekrit itu, seakan memang mengetahui jika keselamatan anaknya akan


teracam selama perjalanan.


“ kau benar, apa mungkin


ini hanya perasaanku saja atau memang si tua itu sudah mengetahui jika anaknya


akan celaka” Sea memutar-mutar cangkir teh bermain-main dalam fikirannya. Dia


masih belum berniat untuk menyerang raja, ya meskipun belum terjadi saja. Sea


akan menangani Raja kerajaan itu nanti setelah Axton tewas.


“ apa saya harus


menyelidiki hal ini?” tawar pengawalnya. Dia memang sudah mencurigai jika di


ibukota ada hal yang tidak beres, ditakutkan malah akan menyerang balik kepada


tuannya.


“ tak perlu, sebentar


lagi si Axton itu tewas. Tunggu kabar kekalahan baru kita kembali ke ibukota”


ucap Sea final.


repot-repot mengirimkan pengawalnya ,toh sebentar lagi dia juga akan menghadap


raja. Kalau memang keadaan tidak terkendali masih banyak cara dan alasan yang


Sea punyai untuk menghindar dari semua keadaan buruk itu.


“ baik yang mulia”


pengawal itu kemudian terdiam, dia mengamati jika tuannya juga sedikit


terganggu dengan lambatnya rencana di medan perang. Dia juga mengesalkan kenapa


bisa pemimpin kota dengan mudahnya bisa memberikan kebebasan kepada pangeran


Aric. Bisa-bisa keselamatan lelaki itu ikut terancam. Melihat bagaimana


perangai tuannya, dia yakin sebelum Duke meninggal segala cara pasti akan di


lakuakan. Termasuk membiarkan Aric tewas dalam peperangan yang tuannya buat


sendiri.


“ ah ya, segera kirim


mata-mata untuk mengetahui bagaimana si Aric itu bertindak” Sea hampir saja


melupakan pemeran baru dalam konfliknya. Adik tirinya yang awalnya bisa


bersantai dalam kerajaan kenapa juga harus mengurusi hal semacam ini.


“ baik yang mulia”


pengawal kemudian pergi meninggalkan putra mahkota.


Pagi menjelang, kediaman


Duke tampak masih terjaga, tidak ada hentinya para penjaga memeriksa semua


kondisi dan situasi rumah. Pihak peradilan kerajaan masih mengumpulkan petunjuk


dari saksi-saksi pelayan kediaman, hari ini Mily akan dibawa Hardwin ke


peradialan. Semua pelayan sudah semua, tinggal pelayan pribadi dari Duchess mau


tak mau Mily harus menuruti prosedur.


“ bisa saya menemui


Duchess sebelum pergi?” Mily bertanya pada Hardwin selembut mungkin, wanita itu


berharap lelaki itu mengizinkannya. Mily masih ingat bagaimana dia mengatai


lelaki itu kemarin malam, semoga saja Hardwin tidak memendam kemarahan padanya.


“ jangan terlalu lama”


setelah lama menimbang Hardwin akhirnya menyetujui permintaan pelayan itu. Meskipun


dia sendiri masih dongkol dengan perilaku Mily. Tapi melihat bagaimana dekatnya


Mily dengan Ai, Hardwin harus memberikan ruang kepada mereka. Dia berharap jika


kesaksian Mily nanti juga akan meringankan tuduhan Duchess.


“ terimakasih tuan” Mily


berjalan kedalam kamar dengan perasaan bahagia. Dia perlu berkonsultasi pada


nyonyanya terkait dengan kesaksiannya di peradialan. Apa yang perlu dia


sampaikan dan apa  yang tidak.