
"Kenapa pakaian kamu kotor begini?. Jawab?!" bentak seorang wanita pada anak remaja lelaki yang baru saja memasuki rumah dengan langkah cepat.
Remaja lelaki berseragam SMP itu hanya tertunduk seraya menggenggam erat tali tas sandang yang melekat di pundaknya saat wanita itu menatapnya tajam.
"A-a-anu Mi, Riza tadi kepeleset di jalan," jawabnya tergagap sangking takutnya.
"Kamu jangan berani-berani bohong sama mami. Kamu mau mami kurung di kamar mandi kayak kemarin?. Mau?!"
Mata remaja itu membulat. Ia pun menggeleng cepat kemudian bersuara, "Ja-jangan, Mi. Riza takut," ucapnya singkat dengan tubuh yang sudah gemetar. Ia menelan ludahnya berat, " A-a-anu, Mi. Tadi, Ri-Ri-Riza habis berantem di sekolah."
"Apa?!. Berantem?"
Remaja lelaki itu mengangguk pelan. "Ha-ha-habisnya mereka duluan yang gangguin Riza, Mi. Mereka ngata-ngatain Riza itu cupu, kutu buku, nggak punya temen. Jadinya--"
"Jadi, kamu mukulin temen kamu?. Iya?!" bentak wanita itu sambil berkacak pinggang.
Remaja lelaki itu mengangguk kembali dengan kepala yang masih tertunduk, tak berani menatap lawan bicaranya. Berulangkali ia menelan ludahnya berat.
Wanita itu mendengus kesal, "Dasar anak nakal. Sini kamu!"
Wanita itu menarik lengan remaja lelaki itu dengan kasar, hingga membuat remaja itu tersentak akibat tarikan tangan wanita itu yang tiba-tiba.
Raut ketakutan tercetak jelas di wajah remaja itu saat memperhatikan siluet wajah ibunya yang terlihat sangat marah. Hal buruk akan menimpanya lagi kali ini.
"Dasar anak nakal. Kamu ini kenapa sih, nggak pernah nurut apa kata mami?. Selalu bikin mami marah. Di sekolah bukannya belajar tapi malah berantem. Mau jadi jagoan kamu, iya?"
Wanita itu terus mengomel sambil mencengkeram erat lengan puteranya menuju ke sebuah ruangan gelap dan pengap.
Wanita itu langsung menghempaskan tubuh remaja itu dengan kasar hingga menghantam dinding sesaat setelah mereka tiba di dalam ruangan tersebut.
"Ampun, Mi."
"Ampun?!. Ampun kamu bilang?" tatapnya tajam.
Remaja itu menangkup kedua tangannya memohon saat matanya melihat sebilah rotan sudah berada di tangan wanita itu.
"Ampun, Mi. Ampun." Remaja itu kembali menghiba dengan rasa takut yang teramat besar.
"Sini kamu!"
Wanita itu melayangkan benda yang ada ditangannya mengarah tepat di betis puteranya. Dengan membabi buta, ia terus menghajar remaja lelaki itu tanpa mempedulikan bagaimana rasa sakit yang dirasakan oleh tubuh kecil didepannya.
Remaja berusia 12 tahun itu, hanya mampu menangis sesenggukan sambil sesekali mengemis, meminta belas kasihan dari ibunya tersebut.
"Kelakuan kamu itu selalu buat mami dan papi malu. Mau jadi apa kamu ini?. Kapan sih kamu itu bisa dewasa?"
Pukulan bertubi-tubi mendarat di sekujur tubuh remaja lelaki itu. Wajahnya pun telah basah karena air mata.
"Malam ini kamu tidur disini!" tutur wanita itu dengan bentakan keras sambil mendorong tubuh remaja itu hingga terjerembab ke lantai.
Dengan terseok-seok, remaja itu menghampiri ibunya.
"Ja-jangan, Mi. Riza takut. Gudang ini kan banyak kecoanya. Ampun, Mi. Riza janji nggak bakalan nakal lagi. Riza akan jadi anak baik. Ampun, Mi. Ampun." Isaknya sambil terus menerus memohon pada ibunya.
"Renungkan kesalahan kamu disini. Dengar itu."
Braak!!!
Suara pintu yang menutup rapat seketika membangunkan Riza dari tidurnya. Jejak air mata tampak masih membekas di ujung matanya. Mimpi buruk itu tak pernah hilang dari ingatannya.
Ia selalu berharap kalau itu hanya sekedar mimpi buruk yang menghiasi tidurnya saja, sayangnya itu bukanlah mimpi. Gambaran kehidupan masa kecil Riza tergambar jelas disana. Masa kecil yang memilukan dan menyakitkan untuk ia ingat.
Sosok ibu yang seharusnya melindungi dan menjaganya dengan penuh kasih sayang tak pernah Riza rasakan semasa ia kecil.
Entah apa yang membuat ibunya menjadi seperti itu. Yang ia tahu, sejak kecil ia hanya mendapatkan amukan dan pukulan dari ibunya. Amukan dan pukulan yang selalu meninggalkan jejak di hati dan sekujur tubuhnya.
Sedangkan ayahnya, ayah Riza yang berprofesi sebagai seorang dokter bedah mengharuskan ayahnya untuk bekerja tiada henti. Ayah Riza bahkan tidak pernah punya waktu untuk Riza dan ibunya.
Dalam sebulan, Riza hanya bisa bertemu dengan ayahnya itu selama dua hari. Meskipun demikian, ayah Riza merupakan sosok ayah yang sangat penyayang dan perhatian. Sosok ayah yang sempurna bagi Riza. Bahkan ayahnya itu selalu marah setiap kali mengetahui bagaimana perlakuan buruk istrinya pada Riza.
Tak jarang hal itu selalu menyebabkan pertengkaran diantara mereka tiap kali mereka bertemu di rumah dan setiap hal itu terjadi, Riza hanya mampu duduk diam di sudut kamar sambil memeluk kedua kakinya dan terisak. Mendengarkan pertengkaran demi pertengkaran ayah dan ibunya yang memekakkan telinga.
Hingga suatu malam, Riza melihat dengan mata kepalanya sendiri saat ayahnya menampar dan memukul ibunya dengan membabi-buta hingga membuat ibunya terluka sangat parah. Kejadian itu membuat Riza semakin pilu.
Pemandangan didepannya sangat mengiris hatinya saat itu juga. Ia tidak pernah menyangka kalau ayah yang selama ini ia banggakan tega bersikap demikian pada ibunya. Dan anehnya, walaupun Riza mengetahui semua hal itu, ia selalu berpura-pura baik-baik saja dan seolah tidak mengetahui apapun, berharap lambat laun ayah dan ibunya dapat berbaikan dan rukun kembali.
Kasih sayang dari kedua orangtuanya, itulah satu-satunya hal yang sangat ia inginkan saat itu. Hal itu jugalah yang membuatnya menjadi sangat terobsesi dengan hari ulang tahun sebab hanya di hari itulah ia dapat berkumpul dan merasakan kasih sayang dari kedua orangtuanya.
Tiap tahun ia selalu menunggu momen spesial itu, dengan harapan agar satu hari saja dalam 365 hari yang dilaluinya menjadi hari bahagia dalam hidupnya. Hari dimana ia bisa melihat wajah kedua orangtuanya tersenyum saat menuturkan kalimat selamat ulang tahun untuknya. Tak ada pertengkaran maupun perselisihan diantara mereka.
Namun, suatu hari tepat dihari ulang tahunnya yang ke-15, sebuah kejadian mengerikan dialami oleh Riza. Kejadian yang merampas kebahagiaan sekaligus merenggut nyawa kedua orangtuanya dalam sekejap mata.
Hari bahagianya berubah menjadi hari paling menyedihkan dalam hidupnya. Hari yang secara otomatis mengukir sebuah kenangan buruk di benak Riza.
Isakan lirih terdengar saat ia kembali mengingat kenangannya. Kenangan masa kecil yang menyayat hatinya.
"Mami. Papi," ucapnya sambil sesenggukan lirih diatas ranjang.
"Kamu kenapa sayang?. Ini mami ada disini. Kamu tenang, ya," jawab mami yang sedari tadi menunggu Riza disisi ranjang hingga tak sadar ikut terlelap dalam tidurnya.
Mami mengusap lembut puncak kepala Riza. "Iya sayang, besok kita pulang, ya. Kamu ikut sama mami dan papi ke Belanda. Kita tinggal di sana seperti dulu."
"Tante nggak bohong, kan?. Tante janji, kan?"
"Iya, mami janji. Kamu tidur lagi ya, jangan takut, mami selalu ada buat kamu."
Riza tersenyum tipis kemudian kembali memejamkan matanya.
------
Keesokan paginya, Dilla sedang bersama dengan Kiki menuju ke arah ruang dosen. Dosen memberikan surat teguran pada Dilla dikarenakan selama lima hari belakangan Dilla tidak masuk kuliah.
"Dengar Dilla, kalau kamu masih mau kuliah disini. Kamu harus menuruti aturan yang ada di kampus ini. Jangan ulangi lagi sikap tidak disiplin kamu ini."
"Maafkan saya, Pak. Beberapa hari ini saya ada urusan pribadi. Suami saya sedang sakit, Pak."
"Saya tidak terima alasan apapun. Yang saya mau kamu mematuhi aturan yang ada di kampus ini. Mengerti?!"
Dilla mengangguk mengiyakan. Setelah itu, dosen pun menyuruh Dilla keluar dari ruangan. Dilla pun segera melangkah pergi dari sana.
-----
Sementara itu, di rumah sakit mami dan papi tampak sedang berbincang serius bersama dengan Dendi.
"Kita harus segera membawa Riza, Pi. Mami tidak bisa menunggu lebih lama lagi."
Terlihat Riza berteriak histeris saat lagi dan lagi ia akan mendapat suntikan penenang dari dokter.
"Tapi, Mi. Mami lihat sendiri, kondisi Riza itu belum stabil. Kita tidak bisa sembarangan membawa Riza dari sini."
Mami diam.
"Kita harus bagaimana, Pi?. Mami tidak tega melihat Riza tersiksa seperti itu."
Papi melirik ke arah Dendi yang sedang berdiri tegak disisi ranjang Riza. Dendi memandang wajah keponakannya itu dengan tatapan sedih.
"Bagaimana menurut kamu, Dendi?" tanya papi.
Dendi menarik nafas dalam, "Aku rasa Anita benar. Lebih baik Riza mendapat penanganan dokter yang lebih baik. Aku akan merekomendasikan Riza pada dokter psikiater terbaik yang ada di sana."
"Baiklah, aku setuju. Aku akan mengurus kepulangan Riza sore ini."
Sore harinya, mami dan papi pun segera membawa Riza keluar dari rumah sakit. Riza berjalan dengan diapit oleh dua orang perawat yang juga ikut turut mengantarkan kepulangan Riza.
Ditengah-tengah tampak Riza berjalan dengan tatapan kosong menyamakan langkah kakinya dengan dua orang perawat disampingnya menuju ke arah lift.
Di lobi bawah, terlihat Dilla sedang melamun sambil menunggu pintu lift didepannya terbuka. Dilla tersentak saat Kiki menariknya masuk ke dalam lift yang sudah terbuka lebar.
Sementara itu, Dilla yang kembali melamun sesaat setelah masuk kedalam lift tidak memperhatikan sekitarnya, padahal saat itu juga Riza keluar dari lift yang tepat berhadapan dengan lift yang Dilla masuki.
Dilla segera melangkah menuju kamar Riza setelah lift mengantarkannya ke lantai tempat dimana kamar Riza berada.
Seorang perawat memanggil Dilla saat Dilla hendak membuka pintu kamar. Perawat memberitahu bahwa barusan Riza telah dibawa pulang oleh keluarganya.
"Dibawa kemana, Sus?"
"Saya dengar mereka akan membawa bapak Riza ke Belanda, Bu."
Mendengar hal itu, secepat kilat Dilla berlari tanpa mempedulikan Kiki yang juga ikut mengejar Dilla dari belakang. Untungnya lift sedang tidak ramai sehingga dengan cepat Dilla dapat masuk ke dalam lift hingga menuju lobi.
Sementara itu, Riza telah berada di parkiran bersama dengan mami dan papi. Bersiap untuk segera meluncur dengan mobil menuju ke bandara.
Tiba-tiba Dilla muncul dan menghadang mobil tepat saat supir baru akan menancapkan gasnya.
Mami kembali mengumpat dari dalam mobil, sementara Riza hanya diam dengan tatapan kosong. Dilla mengetuk jendela mobil dengan gusar, hingga akhirnya papi pun keluar dan menghampiri Dilla.
Papi berbincang dengan Dilla yang tampak sudah menangis sesenggukan di depan papi.
"Pi, Dilla mohon sama papi. Jangan bawa mas Riza ke Belanda, Pi. Dilla nggak bisa hidup tanpa mas Riza. Kasihani Dilla, Pi."
"Maafkan papi, Dilla. Lebih baik kamu lepaskan Riza. Riza yang sekarang bukanlah Riza suami kamu yang dulu. Dia bukan lagi Riza yang kamu kenal."
"Dilla nggak peduli. Untuk Dilla, dulu atau sekarang mas Riza itu tetap suami Dilla. Jangan pisahin Dilla sama mas Riza, Pi. Dilla mengemis sama papi."
Papi mendesah berat, kemudian meremas kedua bahu Dilla untuk menguatkannya, "Papi minta maaf." Kata-kata terakhir papi pada Dilla sebelum masuk kembali ke dalam mobil meninggalkan Dilla yang mematung di atas pijakan kakinya.
Hal yang paling ditakutkan olehnya benar-benar akan terjadi kali ini.
Menyadari hal itu, Dilla pun segera mengetuk kaca mobil belakang, tempat dimana Riza duduk. Memohon pada suaminya itu agar tidak meninggalkannya.
Berulangkali Dilla memanggil nama Riza, akan tetapi Riza hanya diam dan terus saja menatap lurus ke depan dengan pandangan mata kosong seperti orang bingung dan linglung.
Hingga akhirnya, mobil pun melaju kencang meninggalkan Dilla di belakang. Dilla berteriak histeris memanggil nama Riza berulang-ulang hingga suaranya pun berubah serak seiring dengan air mata yang terus jatuh membasahi pipinya.
Suaminya benar-benar meninggalkannya saat itu juga. Tanpa kata dan ucapan selamat tinggal untuk menguatkan hatinya yang rapuh. Seketika otak Dilla lumpuh, ia tidak tahu harus berbuat apa.
Dilla pun terus menangis seiring laju mobil yang kian cepat meninggalkannya di belakang, hingga mobil yang ditumpangi Riza itu berbelok dan menghilang dari pandangan Dilla.