
Jakarta - Rumah Sakit
Riza terus memikirkan kata-kata Andyra. Rangkaian kata yang berhasil membuat perasaan Riza carut marut tak menentu. Ia mengingat kata-kata bodohnya pada Dilla.
"Arrgghhh.... , dasar bodoh!" Riza mengacak rambutnya kasar.
Riza kemudian meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Ia menghubungi Dilla.
[Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi.]
Ponsel Dilla tidak dapat terhubung karena jaringan seluler di desa yang sangat buruk.
Riza mencoba menghubungi Dilla berkali-kali. Namun, hasilnya tetap sama.
Akhirnya, Riza pun menghubungi nomor telepon yang di pakai oleh Dilla saat menghubungi Riza tadi. Nomor telepon rumah Bu Kades.
tut...
tut...
tut...
[tersambung]
"Assalamu'alaikum!" sapa Bu Kades.
Riza terlihat bingung. Sebab, ia tidak mengenal suara wanita yang mengangkat panggilannya.
"Wa'alaikumsalam!" sapa Riza.
"Maaf, saya mau berbicara dengan Dilla. Dilla nya ada?" tanya Riza.
"Kamu siapa ya?" Bu Kades bertanya kembali.
"Saya suaminya bu."
"Oh, suami Dilla. Dilla nya sudah pulang nak. Ibu perhatikan tadi dia kelihatan marah sekali. Sampai-sampai gagang telepon ibu dibanting sama dia!" Bu Kades mulai berbicara panjang lebar.
Riza diam mendengarkan.
"Memangnya ada apa ya nak?" Bu Kades mulai kepo.
"Tidak ada apa-apa, Bu!" jawab Riza cepat.
"Saya titip pesan saja buat Dilla, bu. Saya minta tolong sampaikan kepada Dilla agar menghubungi saya kembali."
"Terima kasih, bu. Assalamu'alaikum!" sambung Riza.
"Wa'alaikumsalam!"
Setelah Riza menyudahi panggilannya, ia mencoba menenangkan pikirannya. Ia berharap Dilla akan menghubunginya setelah menerima pesannya tadi.
Ia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi. Membasuh wajahnya. Dengan harapan kepalanya dapat mendingin, sedingin hempasan air yang membilas wajah tampannya.
Ia mendongak. Terlihat butir-butir air menggenang di wajahnya. Riza memejamkan mata. Bayangan wajah Dilla muncul dibenaknya.
-------
Desa
Bu Kades pun langsung beranjak menuju rumah Dilla untuk menyampaikan pesan Riza. Sesampainya di rumah Dilla, Bu Kades menghampiri Dilla yang kebetulan tengah duduk di teras rumahnya. Dilla tampak melamun.
Bu Kades memanggil namanya. Seketika lamunan Dilla pun buyar.
"Ada apa ya bu?" tanya Dilla kemudian.
"Tadi suami kamu telepon menanyakan kamu. Suami kamu pesan agar kamu menelepon dia balik."
Dilla diam.
Bu Kades langsung bergegas pulang setelah menyampaikan pesan Riza kepada Dilla.
Dilla hanya menjawab datar saat Bu Kades berpamitan padanya. Ia terlihat malas untuk berbicara.
---------
Jakarta - Rumah Sakit
Saat pulang bekerja, Riza berpapasan dengan Andyra di parkiran. Andyra berlalu tanpa menyapa. Ia terlihat canggung saat bertemu dengan Riza.
Riza berjalan menghampiri Andyra.
"Ayo kita bicara!" ajaknya.
Andyra sempat berusaha menolak ajakan Riza dengan berbagai alasan. Namun, saat Riza memandang Andyra lembut. Hati Andyra pun melunak.
"Ikut denganku!" sambung Riza.
Riza berbalik kemudian melangkahkan kakinya. Andyra mengikuti langkah kaki Riza dari belakang.
Kini mereka berdiri di rooftop rumah sakit. Terlihat di depan mereka gedung-gedung pencakar langit berdiri tegak menjulang. Dengan berada di tempat tinggi, Riza berharap pikirannya dapat menjadi ringan dan memudahkannya untuk berbicara.
Andyra berdiri mematung di samping Riza. Mereka berdua membisu, menikmati semilir angin yang berhembus dan menerpa wajah mereka.
"Maafkan aku, Andyra!" Riza memulai kalimatnya.
Andyra menoleh ke arah Riza.
Hening.
Riza memasukkan kedua tangannya ke dalam saku hoodie yang dikenakannya.
"Aku tidak menyadari hal ini sebelumnya."
"Selama tujuh tahun, aku hanya tahu rasa sakit ku tanpa tahu apa yang kamu rasakan."
Andyra menoleh ke arah Riza. Bulir air mata menggenangi kelopak matanya.
"Ya. Selama tujuh tahun ini, aku selalu merasa bahwa aku sangat menyedihkan. Apa kurangku padanya?, Aku sangat menyayangi gadis itu tapi dia justru menolakku." Riza menatap lurus ke depan.
"Pertanyaan itu seketika muncul di kepalaku. Sesaat setelah kamu menolak lamaranku dahulu." Riza melanjutkan.
"Setelah kepergianmu, aku kembali merasakan sepi dan kosong."
Riza menarik nafas dalam.
Andyra menatap Riza tajam, "Benarkah kamu tidak pernah menyayangiku selain sebagai sahabat?" tanyanya tiba-tiba.
Seketika Riza pun menoleh. Terlihat buliran bening mengalir di pipi Andyra.
Tangan Andyra mengepal. Ia benar-benar memberanikan dirinya kali ini.
Pertanyaan yang selalu ada di benaknya.
Riza menatap manik mata Andyra dalam. Sorot mata Riza menafsirkan sesuatu. Mereka saling beradu pandang tanpa berbicara sepatah katapun.
Andyra menyelami sorot mata Riza. Ia mencoba kembali menguak isi hati pria yang ada didepannya.
Beberapa detik kemudian Andyra memalingkan wajahnya. Ia tersenyum dan mengangguk pelan seolah membenarkan apa yang tersirat di balik sorot mata Riza.
"Aku sudah menduga." Andyra menarik nafas dalam dan menyeka jejak air matanya.
"Maafkan aku!" ucap Riza kembali.
"Aku mengira rasa sayangku padamu sebagai sahabat sudah cukup."
"Aku baru sadar, ternyata dalam diam aku telah melukai perasaanmu!" sambung Riza.
Andyra terkekeh pelan, "Aku selalu bisa menebak isi hatimu dengan benar!".
Riza membisu.
Tiba-tiba Andyra mendekat.
Bukk!!
Andyra meninju perut Riza. Membuat Riza mengaduh kesakitan. Ia meringis lirih.
"Dasar brengsek!. Itu pembalasanku karena kamu sudah membuat wanita cantik sepertiku menangis!." Andyra tertawa.
Riza memandang wajah Andyra sekilas. Terlihat sebuah senyum yang dipaksakan terlukis di wajah sahabatnya itu.
"Kamu pasti merasa beruntung mempunyai sahabat sepertiku. Ya kan?" Andyra menepuk pelan bahu Riza.
Riza tersenyum membenarkan.
Mereka kemudian sama-sama tertawa.
Riza membatin dalam hatinya, "Kamu benar-benar wanita yang baik."
Ya...
Andyra memang wanita yang baik tetapi ia tidak cukup baik untuk dapat menaklukkan hati Riza.
Riza tiba-tiba kembali mengingat istrinya. Ia menghela nafas. Pandangannya menatap lurus ke arah gedung-gedung tinggi yang ada didepannya.
------
Di waktu yang sama dan tempat yang berbeda.
Dilla tampak melamun saat menyiapkan makan malam untuk keluarganya. Beberapa potong ikan yang sedang digorengnya kini tampak telah menghitam. Bau gosong pun menyeruak ke seisi rumah.
Syifa yang mencium aroma gosong pun bergegas menuju dapur. Ia segera mematikan kompor.
Syifa menggeleng saat melihat Dilla sedang duduk melamun di kursi sederhana yang ada di dapurnya.
"Kak!" Syifa menepuk bahu Dilla.
Dilla terperanjat kaget.
"Kakak kenapa?" tanya Syifa.
"Kakak ndak apa-apa toh dik!"
"Ndak apa-apa bagaimana toh?, wong ikan sampai gosong begitu."
Seketika Dilla berdiri, "Astaghfirullah... Ikanku!" Dilla menutup mulutnya kaget.
Dilla melirik ke arah Syifa.
Syifa menjawab lirikan Dilla dengan menggelengkan kepalanya pelan.
------
Jakarta - Rumah Riza
Malam harinya, Riza terlihat tidak selera saat menyantap makan malamnya. Ia hanya mengaduk-aduk makanan yang tersaji di atas piring. Pikirannya berada di tempat lain.
Riza terlihat uring-uringan memikirkan istrinya. Ia terus menerus menggumam.
"Kenapa sampai sekarang dia belum menghubungiku?"
"Aku harus bagaimana sekarang?"
Riza terlihat benar-benar bingung. Karena ia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya.
Bahkan saat malam sudah semakin larut, Riza tidak kunjung tertidur. Sudah satu jam ia berusaha untuk memejamkan matanya. Namun, matanya tetap saja terjaga. Tubuhnya terus menerus menggeliat ke kiri dan kanan. Ia gelisah memikirkan Dilla yang tidak kunjung menghubunginya.
--------
Tiga hari kemudian.
Dilla yang tidak kunjung pulang membuat Riza cemas tidak menentu. Ia pun akhirnya memutuskan pergi menjemput Dilla di desa. Pagi itu juga, ia langsung bergerak menuju bandara.
Sesampainya Riza di desa.
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam!" Ibu dan Syifa serempak menjawab salam.
"Siapa itu nak?" tanya ibu Dilla.
Syifa menggeleng.
Syifa pun melangkahkan kaki keluar dari kamar ibunya.
"Mas Riza?" Syifa terlihat kaget.
Syifa langsung menghampiri Riza kemudian mencium punggung tangan abang iparnya itu.
"Kakak kamu mana, dik?" tanya Riza.
"Kakak kan sudah pulang kemarin siang, mas!" jawab Syifa dengan tampang polosnya.
"Hah?!" Riza kaget bukan kepalang.
"Ayo, masuk dulu mas!." ajak Syifa.
"Oh. Tidak usah. Mas langsung pulang saja!"
"Titip salam sama ibu ya. Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam!"
Riza langsung bergegas pulang. Ia memasuki mobil rental yang di sewanya saat di bandara. Sepanjang perjalanan, Riza terus bertanya-tanya kemana perginya Dilla. Pasalnya, jika Dilla berangkat sejak kemarin seharusnya Dilla sudah berada di Jakarta sekarang. Riza terlihat cemas dan bingung.