My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/32



Flashback


Setelah Dilla mengantarkan ibunya pulang ke rumah. Dilla tampak terburu-buru. Membuat Syifa menatapnya heran.


"Kakak mau kemana?" tanya Syifa.


"Kakak mau ke rumah Pak Kades sebentar. Mau pinjam telepon. Kakak mau telepon mas Riza, soal'e hape kakak tidak ada sinyalnya.", Dilla bergegas memakai sandalnya.


"Kamu jaga ibu baik-baik. Assalamualaikum!" Dilla berlalu pergi.


"Wa'alaikumsalam!" sahut Syifa.


Ternyata rumah Pak Kades tidak terlalu jauh dari rumah Dilla. Hanya melewati beberapa rumah saja, Dilla pun akhirnya tiba di rumah tersebut.


"Assalamualaikum!", Dilla mengucapkan salam.


"Wa'alaikumsalam. Loh, Dilla kan?" tanya seorang ibu paruh baya yang tak lain adalah istri Pak Kades - Bu Kades.


Dilla langsung mencium punggung tangan Bu Kades.


"Apa kabar?"


"Kapan kamu datang dari Jakarta?"


"Bagaimana kuliah kamu?"


"Kenapa kamu pulang ke desa?"


Bla..bla..bla..bla


Dilla tertegun.


Bu Kades terlihat melontarkan pertanyaan dengan menggebu-gebu. Membuat Dilla bingung harus menjawab pertanyaan yang mana.


Sesaat Bu Kades pun tersadar, ketika melihat ekspresi seringai aneh Dilla terlihat di wajahnya. Bu Kades seketika menghentikan runtutan pertanyaannya dan mempersilahkan Dilla masuk ke dalam rumah.


"Maaf ya. Ibu banyak bertanya tadi sama kamu. Ibu kelepasan." Bu Kades akhirnya sadar.


Dilla hanya tersenyum.


"Ada apa kamu kemari?" tanya Bu Kades lagi.


"Begini bu, Dilla boleh pakai telepon rumah ibu sebentar?" tanya Dilla.


"Tentu saja boleh. Semua warga disini boleh pakai telepon rumah ibu kapanpun mereka mau, termasuk kamu."


"Silahkan!" Bu Kades mempersilahkan Dilla dengan lembut.


Dilla pun mengangguk mengiyakan.


"Kamu mau minum apa?, biar ibu ambilkan."


"Tidak perlu repot-repot bu. Dilla hanya sebentar kok!" sahut Dilla.


"Oh. Baiklah. Ibu tinggal ke dapur dulu ya. Ibu mau mencuci piring."


Dilla mengangguk sopan. Ia menatap Bu Kades yang berlalu meninggalkannya sendirian di ruang tamu.


Sebelum menelepon Riza, Dilla menghubungi Niko terlebih dahulu untuk meminta nomor ponsel Riza darinya. Setelah mendapatkan nomor ponsel Riza barulah Dilla menelepon nomor Riza.


Flashback End


"Apa?!"


Riza membulatkan mata dan meninggikan suaranya, terlihat ia sangat kaget.


Dilla yang berada di ujung telepon sontak menjauhkan gagang telepon yang dipegangnya karena suara tinggi Riza nyaris memecahkan gendang telinganya.


Dilla mendekatkan gagang teleponnya kembali. Terdengar sahutan Riza.


"Tidak!" serunya.


Dilla mengusap-usap pelan telinganya yang hampir tuli karena Riza yang kembali memekik.


"Sebagai suami, aku tidak akan mengizinkan kamu tinggal di sana!" Riza berkacak pinggang dan mendengus kesal.


Andyra melihat Riza dari kejauhan. Ia memperhatikan setiap ekspresi Riza.


Dilla pun mencoba menjelaskan.


"Masalahnya mas...", sambung Dilla pelan.


"Aku tidak peduli. Pokoknya kamu harus segera kembali ke sini atau aku akan berhenti membiayai kuliahmu!" sambar Riza.


Dilla menghela nafas panjang kemudian melanjutkan kalimatnya.


"Mas tenang toh. Dengarkan saya selesai bicara dulu mas!"


"Begini. Saya tidak bisa kembali ke Jakarta karena..." Belum lagi Dilla selesai berbicara, Riza sudah memotong kembali kalimatnya.


"Karena kamu sudah tidak tahan hidup bersamaku kan?. Makanya kamu mau meninggalkan aku terus kamu tinggal bersama Fahmi di sana. Ya kan?" sambar Riza cepat.


Andyra dan Dilla terlihat sama-sama kaget mendengar kalimat Riza yang datang entah darimana itu.


"Mas, ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan mas Fahmi. Mas ini bicara opo toh?"


"Ini peringatan terakhir dariku. Kamu pulang lusa atau aku tidak akan membiayai kuliahmu!" ancam Riza.


"Ter-se-rah!" Dilla yang tersulut emosi langsung meletakkan gagang telepon yang dipegangnya dengan kasar.


tut


Padahal sedari tadi Dilla hanya ingin mengatakan pada Riza bahwa ia akan tinggal selama seminggu di desa karena ia ingin meluahkan rasa rindunya pada ibu dan adiknya. Namun, tak disangka Riza justru mengancamnya. Alhasil, Riza membuat Dilla kesal bukan main.


"Halo!, halo!" Riza melihat ponselnya kesal.


Dilla langsung berpamitan pulang pada Bu Kades. Ia terlihat berjalan dengan cepat menuju rumahnya sambil bersungut-sungut.


------


Setelah Riza mematikan ponselnya, Riza langsung menarik nafasnya panjang. Ia terlihat kesal sekali. Seketika ia melupakan kehadiran Andyra di sana.


Andyra berdiri dari duduknya kemudian menepuk bahu Riza pelan. Membuat Riza seketika menoleh ke arahnya.


"Sudah. Ayo habiskan makan siangnya!" ajak Andyra.


"Aku sudah kenyang." sahutnya.


Riza berjalan menuju kursinya lalu menyandarkan tubuhnya di sana. Ia mendesah pelan.


"Kamu pasti sayang banget ya sama istri kamu?" tanya Andyra.


Riza tidak menjawab. Ia hanya menangkup tangannya di depan wajahnya dan menatap lurus ke depan.


"Kamu takut dia pergi meninggalkan kamu kan?" Andyra memulai kalimatnya.


Riza tertegun.


"Aku juga pernah merasa seperti itu. Perasaan takut. Takut ditinggalkan dan takut kehilangan." Andyra menatap wajah Riza dengan tatapan bergetar.


"Karena aku sangat mencintai dan menyayangi seseorang." Andyra melihat setiap inci wajah Riza.


"Namun, saat aku tahu tidak ada cinta untukku di matanya, aku berlalu pergi meninggalkannya."


"Meskipun dia tidak pernah mengucapkan kata cinta tapi aku tahu ia menyayangi ku dengan tulus."


"Kenapa aku meninggalkannya?"


"Saat itu aku ragu. Jika aku bertahan, mungkinkah cintaku ini berakhir bahagia?"


"Mungkinkah cinta itu sungguh bisa tumbuh perlahan karena terbiasa seiring berjalannya waktu?" Andyra menatap Riza lama.


"Adakah pujangga yang bisa menafsirkan arti cinta yang sesungguhnya?"


"Seketika aku berpikir, Tuhan benar-benar menuliskan takdirku dengan sempurna. Membuatku belajar sesuatu. Meskipun aku kehilangan tetapi aku percaya Tuhan akan menghadirkan sesuatu yang lebih baik di luar sana sebagai pengganti untuk melengkapi takdirku."


"Aku percaya dengan yang namanya jodoh. Bukankah jodoh, rezeki dan maut itu sudah ditentukan di Lauhul Mahfudz?"


"Aku anggap saja dia dan diriku tidak berjodoh!"


"Jadi, aku harap kamu bisa terus memperjuangkan istrimu. Dia jodohmu, Insya Allah." Andyra kembali menepuk bahu Riza, menguatkannya.


Kemudian Andyra pun berlalu pergi meninggalkan Riza.


Meskipun Riza sedari tadi diam. Namun, dalam diamnya ia menyadari siapa "seseorang" yang sedari tadi dibicarakan oleh Andyra.


Riza menatap sedih punggung kecil Andyra dari belakang. Ia ingin mengucapkan sesuatu tetapi mulutnya masih enggan berbicara.


Andyra menutup pintu perlahan. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding. Air mata yang sedari tadi ditahannya, kini tak terbendung lagi. Ia menangis sesenggukan sembari menyeka air matanya.


Ia kemudian berlalu pergi menaiki lift menuju ke rooftop. Andyra menumpahkan kembali air mata yang sedari tadi di tahannya. Butuh waktu tujuh tahun baginya untuk mengucapkan kata-kata tadi pada Riza.


Namun, kini ia lega. Setidaknya ia sudah meluapkan rasanya yang terpendam itu.


---------


Di tempat lain, Dilla memasuki rumah tanpa mengucapkan salam. Ia terlihat masih bersungut-sungut kesal bercampur sedih.


Bahkan Dilla hanya berlalu pergi dan tidak menyapa ibunya. Ibu yang sedang berada di ruang tamu pun di buat heran oleh sikap Dilla.


"Dilla!", panggil ibunya.


Dilla menghentikan langkahnya. Ia diam sejenak kemudian berbalik dan memeluk ibunya sambil menangis mengharu biru.


"Bu, apa menjadi miskin itu sebuah kesalahan?, Apa karena Dilla miskin makanya orang-orang selalu bersikap seenaknya pada Dilla, bu?, kenapa Dilla miskin, bu?"


"Kenapa?"


Entah mengapa Dilla merasa sangat sakit hati dengan perkataan Riza. Hatinya bagai tertusuk ribuan duri tajam.


Bahunya berguncang. Air mata terus menerus membanjiri pipi Dilla. Membuat matanya berubah menjadi sembab.


Ibu Dilla tidak bertanya apapun ia hanya mengusap-usap punggung putrinya pelan. Ibu menitikkan air mata, ikut merasakan kesedihan putrinya.


Dalam sehari Riza sukses membuat dua orang wanita yang ia sayangi dalam hidupnya menangis karena dirinya. Riza benar-benar luar biasa.