
Setelah berkendara cukup lama tibalah Aldrich dan Thomas di sebuah rumah bergaya khas Eropa yang terletak di pinggiran kota.
Aldrich melihat ke sekeliling nya karena merasa asing dengan tempat ia berpijak saat ini.
"Rumah siapa ini?" herannya.
"Ini rumah peninggalan orang tua saya. Mari masuk, Tuan."
"Jadi kau menyekap Joe disini?"
Thomas mengangguk.
"Good Job!" seru Aldrich sambil menepuk bahu Thomas yang disambut dengan senyuman manis di bibir pemuda itu.
Aldrich berjalan didepan Thomas yang masih sibuk dengan barang-barang bawaan Aldrich.
"Oh,iya apa kabar adikmu yang menyebalkan itu?"
"Dia baik-baik saja Tuan."
"Baguslah, tapi tunggu jangan bilang dia juga ikut tinggal disini," cecar Aldrich menatap Thomas tajam.
Thomas menanggapi, "Tidak. Tuan tenang saja. Henzhie tinggal di rumah saya."
Aldrich menghembuskan nafas lega. Ia amat tidak mau berurusan dengan adik Thomas yg satu itu. Menurutnya Henzhie sangatlah menyebalkan karena gadis itu terlalu pintar dan sulit untuk ditangani.
Setelah selesai menyusun semua barang-barang, kini Thomas dan Aldrich sudah sampai didepan sebuah kamar tempat dimana Joe disekap.
Thomas membuka pintu perlahan. Decitan suara pergerakan pintu membuat Joe menoleh ke sumber suara. Joe tampak ketakutan saat melihat siapa orang yang berdiri disamping Thomas.
"Tuan Aldrich. Saya mohon lepaskan saya Tuan. Saya minta maaf."
"Kau pikir aku sebaik itu, mau melepaskan orang yang berusaha membunuhku. Hah?!" bentak Aldrich seraya memegang dadanya.
"Tenang Tuan. Tenangkan diri Tuan," ucap Thomas saat mendekat ke arah Aldrich yang kini sudah berdiri tepat dihadapan Joe.
Joe berlutut memohon pada Aldrich untuk mau melepaskannya sebab saat ini Joe sangat takut kalau sampai Adam tau apa yang telah diperbuatnya pada anak semata wayangnya ini.
"Hei, brengsek. Cepat katakan siapa yang membebaskan kau dari penjara?. Dan bagaimana caranya kau bisa ada di Belanda?. Hah?!"
Joe menelan ludahnya kasar.
"Oke. Kalau kau tidak mau bicara, aku akan menyuruh ayahku untuk berbicara padamu."
Thomas menyerahkan ponsel kepada Aldrich. Dengan gayanya Aldrich berpura-pura berniat menelepon ayahnya. Padahal ia sendiri tidak mau berurusan dengan ayahnya itu. Ia hanya berniat menakut-nakuti Joe agar mau mengaku.
"Tunggu!!" teriak Joe.
Aldrich menoleh padanya.
"Saya akan menceritakan semuanya, Tuan."
Beberapa bulan lalu
Joe berjalan ditemani seorang sipir penjara disebelahnya. Didepannya tampak punggung seorang pria berjas hitam dengan postur tubuh yang sama tinggi dengannya.
Joe menatap orang itu bingung. Tidak biasanya ada orang berpakaian rapi yang datang ke penjara untuk mengunjunginya.
Joe kemudian duduk dengan ujung mata yang masih melihat ke arah pria tersebut. Ia tersentak kaget seketika saat pria didepannya berbalik dan menampakkan wajahnya.
"Dirwan?!"
Wajah Joe masih terlihat kaget ketika melihat papi berdiri didepannya. Ternyata Joe mengenal papi nya Riza dengan baik, sebab papi lah yang memperkenalkan Raja kepada Joe.
"Apa kabarmu Joe?" tanya papi basa basi.
"Aku tidak akan berbasa basi, aku mau memberikan penawaran baik yang sulit untuk kamu tolak."
"Apa itu?. Kau ingin menyuruhku membunuh orang lagi?. Maaf, aku tidak bisa melakukan itu. Kamu tidak lihat, kalau sekarang aku sedang dipenjara," ujar Joe.
"Aku akan membebaskan mu. Bagaimana?!"
"Baiklah. Kita akan bicarakan kesepakatan ini setelah kamu membebaskan ku."
"Baiklah. Seminggu lagi pengacaraku akan datang kesini untuk membebaskan kamu."
"Tidak. Aku mau bebas besok," tawar Joe.
"Oke. Tidak masalah."
Setelahnya Dirwan pergi meninggalkan Joe.
Tak lama setelahnya, Riza datang menemui Joe saat ia tahu apa yang Joe lakukan di rumah sakit. Saat itulah, Joe memprovokasi Riza dengan mengatakan kalau Dirwan sama buruknya dengan dirinya. Dan saat itu juga, Riza meninju Joe karena tidak rela Joe menghina ayahnya.
Flashback end
"Dirwan?!. Siapa Dirwan?" tanya Aldrich bingung sebab ia tidak pernah mengenal nama itu sebelumnya.
Joe kemudian menjelaskan bahwa Dirwan dulunya adalah partner kerja ayah Aldrich. Namun, karena suatu kejadian Dirwan dan Adam kemudian bertengkar hingga akhirnya kini mereka pun berubah menjadi musuh bebuyutan yang saling memangsa satu sama lain.
Tidak hanya sampai disitu, Joe kemudian memberitahu bahwa Dirwan merupakan saudara dekat dari Riza. Aldrich semakin bertambah bingung.
Joe lalu menjelaskan kembali dulunya Dirwan adalah om Riza, tapi sekarang Dirwan adalah ayahnya Riza.
Mendengar hal itu, sontak membuat Aldrich terkejut bukan main. Aldrich kemudian kembali teringat dengan kejadian pada saat pertama kali ia bertemu dengan Dirwan ketika ia berkunjung ke rumah Aldrich untuk menemui Riza.
Pantas saja saat itu Dirwan terlihat sangat tidak nyaman ketika berkenalan dengan Aldrich. Padahal mereka baru pertama kali ini bertemu.
Selanjutnya, Joe juga menceritakan kalau Dirwan lah yang memperkenalkan Raja pada ayah Aldrich dengan Joe sebagai perantaranya.
Jika bukan karena Dirwan, bagaimana mungkin Raja bisa menemui Joe begitu saja.
Aldrich dan Thomas mendengarkan cerita Joe dengan seksama.
"Dirwan itu sampah. Sampah yang rela melakukan apa saja untuk mendapat apa yang dia mau."
"Maksudmu?!"
"Setelah saya bebas dari penjara. Dirwan memperingatkan saya untuk menjauhi puteranya, Riza. Dia tahu kalau sebelumnya saya berkelahi dengan puteranya."
"Lalu kesepakatan apa yang kau lakukan dengan Dirwan?"
Joe bercerita kembali, kalau Dirwan menyuruhnya memberikan berkas yang ia curi dari rumah sakit padanya. Joe pun memberikan berkas yang diminta Dirwan.
Saat Aldrich bertanya berkas apa yang diminta Dirwan, betapa terkejutnya ia saat tahu kalau berkas itu adalah berkas rekam medis milik Aldrich. Berkas yang ingin dimusnahkan oleh Adam.
Awalnya Joe ditugaskan oleh Adam untuk mencuri berkas tersebut. Namun, tiba-tiba Joe berubah pikiran. Joe yang sangat tamak dan serakah justru meminta imbalan yang lebih pada Adam. Joe mengancam, jika Adam tidak memberikan apa yang ia mau, maka Joe akan mengirimkan sebuah video yang pastinya akan membuat jantung Aldrich berhenti berdetak.
"Video apa itu?" Aldrich bertanya kembali.
"Video rekaman yang tempo hari saya kirimkan Tuan."
Ya, video rekaman adegan pembunuhan ayah kandung Riza.
"Apa?!" tutur Aldrich. Akhirnya satu persatu teka teki terungkap.
Joe memberitahu Aldrich kalau Adam merupakan orang yang membunuh ayah Riza. Namun, yang menjadi otak dibalik insiden tersebut tak lain dan tak bukan ialah Dirwan sendiri.
Aldrich sekali lagi terkejut dengan pengakuan Joe.