My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/14



Dilla merasa seperti sulit bernafas mendengar perkataan Riza. Kaget?, sudah pasti.


Dilla kemudian bersuara, "Kenapa tiba-tiba sekali mas?"


"Ikutlah denganku, nanti aku ceritakan setelah kita sampai di rumah!" pinta Riza.


Dilla mengerutkan keningnya, merasa ada yang aneh.


"Aku tidak bisa bercerita disini, ini tentang kesepakatan kita." Riza sedikit berbisik.


Niko langsung saja menyambar, "Loe langsung siap-siap aja deh Dill, buruan!"


"Tolong!" ucapan singkat Riza itupun berhasil mengubah pikiran Dilla. Ia langsung bangkit dari duduknya lalu beranjak menuju kamar.


Selang beberapa menit, Dilla telah selesai mengepak barang-barangnya ke dalam tas ransel miliknya.


Dilla mengelilingi rumah, mencari-cari keberadaan Laras.


"Oh, iya mas. Mbak Laras kemana ya?, kok tidak ada."


"Katanya tadi mau ke warung, ngambil barang yang ketinggalan," jawab Niko.


"Oh."


Akhirnya Dilla pun menunggu Laras kembali dari warung, untuk berpamitan.


"Ngomong-ngomong, mas udah makan?" tanya Dilla kepada suaminya,Riza


"Sudah!" jawab Riza singkat.


"Duh, enaknya punya istri. Makan aja ditanyain." Niko menggoda Riza.


Dilla tersenyum cerah menanggapi kata-kata Niko barusan.


Tidak lama Laras pun datang, Dilla menyatakan maksudnya untuk tinggal bersama Riza. Laras mengangguk mengerti.


Mereka bertiga pun berpamitan kepada Laras.


"Mbak, saya pamit ya mbak. Nanti sesekali saya pasti mampir mbak ke sini. Terima kasih ya mbak, sudah mau memberi saya tempat untuk berteduh."


"Iya, sama-sama Dilla. Mbak juga sudah menganggap kamu seperti adik mbak sendiri. Jadi kamu jangan pernah sungkan untuk datang kemari. Pintu rumah mbak selalu terbuka untuk kamu."


Dilla memeluk Laras penuh haru, air mata mengalir di pipi keduanya. Laras mengusap punggung Dilla lembut.


Dilla menyudahi pelukannya.


"Mbak, jaga kesehatan ya!" pesan Dilla.


"Insya Allah!" jawab Laras.


"Kamu rukun-rukun ya sama Riza, jangan berantem."


Dilla mengangguk mengiyakan.


"Riza, mbak titip Dilla sama kamu. Tolong jaga dia baik-baik ya!" sambung Laras lagi.


Riza mengiyakan.


Selanjutnya mereka masuk ke dalam mobil dan mobil pun kemudian melaju kencang meninggalkan rumah Laras.


Satu jam kemudian, mereka telah sampai di rumah Riza. Setelah mengantar Riza dan Dilla, Niko langsung bergegas pulang ke rumahnya.


Riza dan Dilla sudah di depan pintu, Riza mempersilakan Dilla untuk masuk. Dilla memutar matanya menyapu rumah berlantai dua didepannya, rumah dengan cat putih yang mendominasi dan terlihat sangat nyaman meskipun tidak terlalu banyak perabot didalamnya. Rumah dengan desain interior yang mencerminkan si empunya rumah.


"Dilla sayaaang." Terdengar suara sapaan mami.


Dilla langsung memeluk mami dan mencium punggung tangannya.


Wanita paruh baya itu pun tersenyum menatap Dilla.


"Bagaimana kabar mami?"


"Mami baik, kamu sendiri gimana kabarnya?"


"Baik, Mi."


"Kok kamu pulang tidak kabari mami?"


"Riza yang minta Dilla pulang hari ini, Mi!" sambar Riza.


"Oh, begitu. Ayo sayang ikut sama mami, kita duduk dulu sambil ngobrol-ngobrol!" ajak mami.


"Nanti saja mi, Dilla pasti capek. Biar Dilla istirahat dulu," jelas Riza.


"Ayo, Dilla!" sambungnya lagi.


Riza membawa Dilla menuju ke kamarnya. Saat memasuki kamar, Dilla mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar Riza.


Kamar bercat hitam-putih dan bergaya modern dengan tampilan yang maskulin dan sederhana. Ditambah dengan beberapa perabot berdesain minimalis, tertata rapi di setiap sudut ruangan. Benar-benar mencerminkan kepribadian Riza.


Riza mempersilakan Dilla duduk di sofa panjang yang biasa digunakan Riza untuk bersantai sambil menonton televisi.


"Oke, sekarang mas sudah bisa bicara tentang kesepakatan kita," suruh Dilla sambil menatap Riza yang sedang duduk di pinggiran ranjang.


"Hm. Begini, besok aku akan mulai mengerjakan naskah novelku. Jadi aku minta mulai besok kamu duduk di sampingku saat aku sedang mengerjakan novel."


Dilla sedikit berpikir.


"Ayo kita buat perjanjian!" tegas Dilla menatap Riza tajam.


"Walaupun mas Riza suamiku, tapi aku harus tetap berhati-hati dengan orang kota. Aku tidak mau percaya sepenuhnya. Siapa tahu mas Riza menipu aku nanti." Dilla membatin.


Riza sempat ingin membantah namun karena ia sangat butuh bantuan Dilla maka Riza pun mengiyakan.


"Perjanjian?, heh, ada-ada saja gadis ini. Aku turuti saja kemauan dia, mau bagaimana lagi!" batin Riza.


"Baik. Kamu tulis semua detail perjanjian yang kamu inginkan pada selembar kertas, besok berikan padaku!" jelasnya.


"Bukan hanya saya saja, mas juga silahkan tulis semua detail perjanjian yang mas inginkan. Biar adil, bagaimana mas?" Dilla menaikkan kedua alisnya.


Riza mengiyakan.


"Baiklah. Sekarang mas silahkan keluar dulu, soalnya saya mau mandi!" ucap Dilla.


Dilla tidak ingin kejadian tempo hari sewaktu di hotel terjadi lagi padanya. Dilla benar-benar memperhitungkan langkahnya kali ini.


Riza terdiam dan mengerutkan dahinya, tanpa banyak kata ia pun beranjak keluar dari kamarnya sendiri.


Kemudian Riza menuruni tangga rumahnya. Ia duduk di sofa putih yang ada di ruang tamu, menyalakan televisi.


Mami yang melihat Riza duduk sendirian di ruang tamu segera menghampiri putra semata wayangnya itu.


"Sayang, kok kamu sendirian?, Dilla-nya mana?" tanya mami.


"Di kamar, Mi. Lagi mandi."


"Oh. Mami sedang memasak makan malam di dapur. Sebentar lagi kamu panggil Dilla turun ya, kita makan malam bersama."


Riza mengiyakan kemudian melanjutkan kegiatannya menonton acara kartun kesukaannya di televisi.


Mami sempat melirik ke arah Riza yang sedang asik menonton acara kesukaannya itu. Ia tersenyum dan menggeleng pelan.


"Putra ku ini sudah menikah tapi masih saja menonton acara kartun seperti itu!" batin mami.


Makan malam masakan mami pun telah selesai, mami menghidangkan berbagai makanan yang menggugah selera di atas meja makan.


"Sayang, ayo kita makan malam. Kamu panggil Dilla turun ke bawah ya!" perintah mami kepada Riza yang terlihat sangat asik menonton acara kartun kesukaannya.


Riza kemudian beranjak menuju kamarnya. Ia membuka pintu kamar dengan sedikit terburu-buru sehingga ia tidak menyadari sesuatu.


Dilla yang mendengar suara pintu dibuka langsung mengarahkan pandangannya ke pintu, seketika Dilla berteriak kencang dan menyilangkan tangan di dada saat melihat Riza membuka pintu dengan lebar. Sementara Riza langsung membelalakkan matanya ketika melihat Dilla berdiri didepannya dengan hanya memakai dalaman saja.


Cepat-cepat Riza menutup pintu kembali.


Riza menarik nafas dalam, mencoba mengendalikan pikirannya. Setelah tenang, ia pun berteriak dari balik pintu,


"Mami menyuruh kamu turun untuk makan malam!" seru Riza dengan satu tarikan nafas.


Dilla yang masih terlihat kesal, menatap tajam ke arah pintu. Secepat kilat ia memakai pakaiannya.


Riza masih menunggu Dilla keluar dari kamar. Tak lama Dilla membuka pintu, ia melihat Riza sedang berdiri di dekat tangga.


Dilla menatap Riza penuh kekesalan, "Mas, kenapa tidak mengetuk pintu dulu tadi?" ucapnya sinis.


"Kenapa aku harus mengetuk?, itu kamarku, salahmu sendiri tidak mengunci pintu!" balas Riza meninggalkan Dilla yang mematung kesal.


"Mas Riza benar-benar buat aku naik darah, selalu menyalahkan aku padahal dia yang salah!" gerutunya.


Sembari berjalan Riza berkata, "Sudahi ocehanmu itu, telingaku sakit mendengarnya!"


Dilla mendengus kesal namun ia mencoba menahan emosi karena ia sadar bagaimana pun Riza adalah suaminya jadi dia tidak boleh marah ataupun membentaknya. Yang bisa ia lakukan hanya menggerutu kesal sembari menatap Riza.


Riza duduk di depan papi, sementara Dilla duduk bersebelahan dengan Riza. Meskipun Dilla tadi sangat kesal, Dilla tetap melayani Riza dengan baik selayaknya seorang istri saat di meja makan.


Dilla menghidangkan nasi dan lauk pauk ke atas piring Riza, Riza sempat tertegun melihat Dilla melayaninya.


Lalu Riza pun berbisik di telinga Dilla, "Sudah hentikan. Makan saja makananmu, tidak perlu melayaniku!"


Dilla menatap Riza tajam. Sementara Riza tampak menyantap masakan mami dalam diamnya.