
Jakarta
Kia sudah berada di taman menunggu kedatangan Joe. Sesuai dengan perjanjian mereka kemarin, Kia pun sudah datang dengan membawa amplop berisikan sejumlah uang yang sudah ia kuras habis dari tabungan miliknya.
Setengah jam sudah ia menunggu, tapi Joe belum juga menampakkan batang hidungnya hingga membuat Kia mulai gusar.
Namun, tanpa Kia sadari, sebenarnya Joe sudah sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Kia dari kejauhan.
Joe ingin memastikan bahwa Kia tidak melakukan hal-hal yang bisa membuatnya kembali masuk kedalam penjara.
Setelah memastikan situasi dan kondisi disekitarnya terlihat aman, Joe pun bergegas menghampiri Kia.
"Hai." Joe menyapa Kia dari belakang.
Kia menoleh dan mendapati sosok Joe disana.
Joe duduk di bangku taman, tepat bersebelahan dengan Kia.
"Dimana Raja?" tanya Kia tanpa basa-basi.
"Aku akan menjawab tergantung seberapa banyak uang yang mampu kau tawarkan padaku."
Kia menunjukkan amplop yang berisi uang tadi kearah Joe. Saat Joe ingin meraih amplop, dengan cepat Kia menarik amplop itu dari hadapan Joe.
"Ceritakan semuanya sekarang!" ujar Kia dengan tegas.
"Berikan uangnya dulu, baru kita bicara!" tawar Joe.
Joe segera menarik amplop dari tangan Kia lalu menghitungnya. Ia tampak menyeringai puas saat memasukkan amplop tebal itu kedalam saku celana miliknya.
"Aku ini memang penjahat tapi aku bukan penipu."
Alis Kia bertaut. Ia tampak terkejut dengan pernyataan Joe barusan.
Joe pun memulai ceritanya.
*Flashback
Lima tahun lalu*
Raja datang bersama salah seorang temannya untuk menemui Joe di sebuah klub malam yang berada di ibukota.
Raja bermaksud melamar pekerjaan pada Joe. Kebetulan Joe saat itu memerlukan seorang bartender di sana.
Wajah dan perawakan Raja yang tampan dan gagah membuat Joe langsung tertarik untuk mempekerjakan Raja di klub malam miliknya.
Suatu malam, Adam mendatangi Joe. Adam memerintahkan pada Joe untuk mencarikan beberapa pemuda untuk ia pekerjakan sebagai bodyguard Aldrich di Belanda dengan syarat orang tersebut harus menjalani serangkaian tes kesehatan sebelum dipekerjakan oleh Adam.
Joe pun menawarkan pekerjaan itu pada Raja. Namun, Raja menolak dengan alasan bahwa ia memiliki orang-orang yang tidak bisa ia tinggalkan begitu saja.
Raja pun bercerita pada Joe, ia memiliki seorang saudara kembar yang sangat ia sayangi dan seorang gadis yang sangat ia cintai. Kedua orang itulah yang menjadi alasan kuat baginya untuk memutuskan mengadu nasib di ibukota.
"Maafkan saya, Mas. Bagi saya bekerja disini sudah cukup. Asalkan saya tidak jauh dari mereka."
"Ayolah, Raja. Tawaran ini tidak akan datang dua kali. Bayangkan kalau kau punya banyak uang, gadis yang kau cintai itu pasti akan berubah pikiran dan menerima cintamu. Bagaimana menurutmu?"
"Mas tidak kenal dengan gadis itu. Gadis itu bukanlah gadis biasa yang bisa dengan mudah tergiur pada uang. Dia gadis yang istimewa."
Joe tertawa, "Tidak ada wanita seperti itu. Semua wanita itu menyukai bau uang. Mungkin kau belum mengenalnya dengan baik."
Raja diam.
Joe melanjutkan, " Pikirkan hal ini baik-baik. Ingat, kesempatan ini tidak akan datang dua kali."
Joe meninggalkan Raja yang tampak memikirkan perkataan Joe barusan.
Beberapa malam setelahnya, Raja datang menemui Joe.
"Saya terima tawaran, Mas."
Joe tersenyum senang sebab dengan setujunya Raja kali ini maka tentu saja ia akan mendapatkan uang yang banyak dari Adam.
Flashback End
"Lalu dimana Raja sekarang?"
Joe menjawab, "Sebulan setelahnya, Adam kembali menemuiku dan mengatakan kalau Raja sudah tewas tertembak sewaktu berusaha mengawal Aldrich puteranya."
"Apa?!" Kia melotot tidak percaya.
Air mata Kia menetes saat mendengar bahwa saudara kembarnya itu kini sudah tiada. Sesaat kalimat Joe barusan sungguh membuat dada Kia serasa perih bagai tersayat sembilu.
"Baiklah, aku sudah menceritakan semuanya." Joe berdiri dari duduknya.
"Aku tidak percaya dengan semua ini."
Joe berdecak, "Kau mau percaya atau tidak, itu bukan urusanku."
Joe melangkah.
"Dimana aku bisa menemui Adam?!" teriak Kia dengan lantang.
"Belanda."
Joe kembali melangkah meninggalkan Kia yang masih duduk mematung di taman.
-------
Belanda
Papi tengah berada di kantor polisi untuk menanyakan perihal perkembangan laporan hilangnya Riza yang sudah ia laporkan sejak tadi malam.
Meskipun sebelum pembuatan laporan tersebut polisi sempat bersitegang dengan papi dikarenakan sikap polisi yang seolah menolak laporan papi dengan berbagai macam alasan yang tidak masuk akal.
Namun, akhirnya polisi pun melunak setelah mendengar pernyataan papi yang menjelaskan mengenai bagaimana kondisi psikis puteranya saat ini yang mengharuskan polisi untuk segera melakukan pencarian malam itu juga.
Tak ayal, hal itu membuat papi bertambah cemas dan khawatir. Terlebih lagi mami yang tak henti-hentinya menangis dan terus memaksa papi untuk segera menemukan keberadaan putera mereka saat ini semakin membuat perasaan papi bertambah bingung tak menentu.
Di tempat lain, Dilla tampak sedang berbincang dengan Thomas dan Henzhie. Di sela-sela perbincangan mereka, Dilla menanyakan pasal Aldrich pada dua bersaudara itu.
Pertanyaan Dilla membuat Thomas sedikit terperanjat. Namun, Thomas yang memang berencana menjauhkan Dilla dari Aldrich tampak sengaja menghindari setiap pertanyaan Dilla dengan jawaban yang teramat dibuat-buat hingga membuat Henzhie yang mendengarnya pun menjadi heran.
Meskipun Henzhie kurang mahir dalam berbahasa Indonesia, akan tetapi ia lumayan memahami tiap kata dalam obrolan Dilla dan Thomas.
Setengah jam kemudian, Dilla pun berpamitan untuk kembali ke kamar meninggalkan Thomas dan Henzhie di ruang tamu.
Didalam kamar, Dilla tampak mengemas barang-barang miliknya. Sudah saatnya ia pergi dari rumah Thomas sebab ia tidak mau merepotkan Thomas dan Henzhie lebih lama lagi.
Kembali ke ruang tamu. Henzhie terlihat masih belum menggeser duduknya, bersebelahan dengan Thomas di sana.
"Ada apa ini sebenarnya, Thom?. Kenapa kau berbohong pada gadis itu?"
Henzhie membidik Thomas dengan tatapan rasa ingin tahu yang sedari kemarin memang sudah menggunung pada saudaranya itu.
Thomas membuang mukanya, menghindari tatapan Henzhie, kemudian berjalan cepat menuju pintu utama dengan diikuti oleh Henzhie dari belakang.
"Apa sebenarnya yang kau sembunyikan dariku?. Jawab aku, Thom!" seru Henzhie sedikit berteriak.
Thomas tidak menggubris teriakan Henzhie. Ia terus saja berjalan hingga tepat saat ia tiba didepan pintu utama, ia memutar tubuhnya ke arah Henzhie.
"Hentikan rasa penasaranmu itu karena aku terlalu malas untuk menjelaskan apapun. Saat ini aku harus segera kembali ke rumah sakit. Tuan Aldrich membutuhkanku disana," tukas Aldrich.
"Kau sungguh menyebalkan!" kesal Henzhie kemudian.
Meskipun Thomas tahu kalau adik perempuannya itu sedang kesal, tapi ia tetap tak bergeming.
Dengan cepat, ia justru berbalik kemudian menarik gagang pintu dan melangkah pergi meninggalkan Henzhie yang masih menahan kekesalannya pada Thomas.
Dahi Henzhie berkerut saat ia berbalik dan melihat Dilla sedang berjalan ke arahnya dengan memikul sebuah tas ransel yang sudah siap di pundak gadis itu.
"Kamu mau kemana?"
"Aku mau mencari suamiku Henzhie. Aku tidak bisa duduk diam seperti ini dan merepotkan semua orang."
Henzhie diam, tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Aku pergi sekarang. Aku sangat berterima kasih atas bantuan kalian. Titip salam ya sama Mas Thomas," ujar Dilla panjang lebar.
Henzhie masih diam membisu, lebih tepatnya bingung saat mengartikan setiap kalimat yang keluar dari mulut Dilla.
Dilla pun melangkah tapi dengan cepat Henzhie menahan lengan Dilla.
"Tunggulah sampai Thomas pulang. Kalau tidak, Thomas nanti marah sama aku. Please," ucap Henzhie dengan sedikit memelas untuk mencegah kepergian Dilla.
-----
Jakarta
"Bagaimana?" Niko tampak berbicara serius dengan seseorang dari balik ponselnya.
"..."
"Oke. Good job. Cepat lo kirim alamat dan nomornya ke gue. Thanks."
Niko segera memutus sambungan teleponnya.
Tak lama notifikasi pesan muncul di layar ponsel Niko. Sebuah alamat lengkap dengan nomor telepon terpampang jelas di sana.
"Lo pasti bakalan berhutang budi banget sama gue, bro." Niko menggumam sambil tersenyum tipis.
Niko menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku lalu melangkah keluar dari dalam mobil dan berjalan santai menuju ke arah sebuah pemakaman.
Langkah tegapnya terhenti saat ia melihat sosok seorang wanita sedang menangis tersedu didepan pusara makam yang ingin Niko kunjungi siang itu.
Niko memperhatikan wanita itu dari belakang hingga tak lama wanita itu pun berdiri lalu berbalik hingga membuat Niko terperanjat.
"Elo?!" tunjuknya ke arah wanita itu.
Wanita itu pun tak kalah kagetnya dengan Niko.
Niko tampak mendekat kearah wanita itu.
"Ngapain lo disini?" tanya Nana kemudian saat melihat Niko sudah berdiri didepannya.
"Harusnya gue yang tanya sama lo. Lo ngapain disini?. Lo kenal sama Bayu?" tanya Niko lagi.
Nana melirik sekilas kearah batu nisan yang ada disebelahnya kemudian mengangguk, "Lo sendiri?" tanyanya kembali pada Niko.
"Ya, kenal lah. Bayu itu kan sepupu gue. Dia itu adiknya Riza."
"What?!" Nana tampak kaget. "Setahu gue Bayu itu nggak punya sodara. Dia itu anak satu-satunya."
"Sok tau lo. Lo sendiri ada hubungan apa sama Bayu?. Kok lo bisa disini?" tanya Niko penasaran.
"Bukan urusan lo!" ketus Nana dengan mata mulai berkaca-kaca.
Niko mengernyit aneh.
"Minggir!. Gue mau balik," ketus Nana lagi lalu melangkah pergi meninggalkan Niko.
Niko mengumpat kesal, "Dasar cewek sinting."
Nana menoleh sekilas kearah Niko kemudian kembali melangkah.
Sesaat kemudian Niko mendekat dan berlutut di samping makam sepupunya, "Hai, bro. Gue dateng. Sorry, gue nggak bisa dateng bareng Riza kali ini. Gue tau lo pasti sedih. Gue juga sedih banget, bro. Gue kangen sama kalian berdua."
Niko menyeka air matanya, "Mata gue pake acara kelilipan lagi. Lo pasti lagi ngetawain gue nih disana." Niko tertawa getir.
Niko melanjutkan, "Gue bener-bener nggak bisa, bro. Gue nggak bisa tanpa kalian."