My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/16



Pukul 02.00 dini hari, Riza terbangun dari tidurnya karena tenggorokannya terasa begitu kering. Dalam remang cahaya kamarnya, Riza melihat siluet Dilla yang sedang tertidur pulas di sofa sambil meringkuk memeluk tubuhnya.


Melihat posisi Dilla tertidur seperti itu, Riza pun langsung menarik selimut dari ranjang, kemudian perlahan mendekati Dilla. Riza menutupi tubuh Dilla dengan selimut hingga sebatas dada. Dilla sedikit menggerakkan tubuhnya, menggenggam erat selimut yang menutupinya.


Selanjutnya Riza pun beranjak ke luar kamar menuju ke arah dapur. Riza mengambil botol berisi air dari dalam lemari es, kemudian meminum air itu seteguk demi seteguk.


Setelah dahaganya terpuaskan, Riza bergegas kembali masuk ke dalam kamarnya. Saat memasuki kamar, Riza melihat ke arah Dilla yang tampak masih tertidur dengan pulas di sofa.


Riza berjalan memasuki kamar mandi, mengambil air wudhu lalu membentangkan sajadah panjangnya menghadap kiblat, ia melaksanakan shalat malam.


Di akhir shalatnya, terlihat Riza kembali terisak dalam tangisnya. Air mata kembali mengalir di pipinya, ia mengadu kepada Tuhan malam itu dalam untaian doa-doanya.


Setelah selesai melaksanakan shalat malam, Riza tidur kembali di ranjangnya.


Beberapa jam kemudian, Dilla membuka matanya perlahan. Saat membuka mata, Dilla merasakan selimut tebal membalut tubuhnya.


"Inikan selimut mas Riza." Dilla melirik ke arah Riza yang sedang tertidur dengan bed cover menutupi tubuhnya.


Dilla bangkit dari sofa dan melipat selimutnya, kemudian langsung beranjak menuju kamar mandi untuk bersiap-siap melaksanakan shalat subuh.


Setelah selesai melaksanakan shalat, Dilla menghampiri Riza. Dilla ingin membangunkan Riza, namun ia terlihat ragu.


"Bangunkan tidak ya?" gumam Dilla sambil menggigiti kuku jarinya.


Dilla memajukan tangannya ragu, "Mas.." menepuk pelan bahu Riza.


"Ehmmm," racau Riza.


Riza tampak membuka matanya perlahan, ia melihat Dilla yang masih mengenakan mukena, tengah berdiri memandangi dirinya. Seketika Riza bangkit dari tidurnya, lalu beranjak menuju kamar mandi tanpa berkata apapun.


Dilla hanya menautkan alisnya menatap Riza dari belakang. Ia langsung membuka mukenanya lalu keluar dari kamar.


Hari ini Dilla tidak ada mata kuliah. Jadi seharian ini ia memutuskan akan berdiam diri di rumah saja.


Dilla bermaksud memasak sarapan pagi. Ia membuka kulkas dan lemari yang ada di dapur, mencari bahan-bahan untuk memasak. Dilla terlihat kaget melihat bahan-bahan yang ada di kulkas dan lemari tersebut ternyata sangat lengkap dan tertata rapi.


Riza memang selalu memasak makanannya sehari-hari seorang diri, terbukti dengan bahan-bahan yang tersimpan rapi di dalam kulkas dan lemari dapur.


Dilla terlihat memakai celemeknya, kemudian mulai memasak. Pagi ini Dilla berencana memasak nasi goreng kampung dan kwetiaw goreng telur.


Sesi memasak Dilla pun akhirnya selesai. Dilla menyajikan hasil masakannya di atas meja makan. Lalu ia beranjak menuju kamar untuk mengajak Riza sarapan pagi, namun ternyata Riza tidak ada di kamarnya.


"Mas Riza mana ya?" tanyanya dalam hati.


"Kamu cari siapa sayang?" sapa mami dari belakang.


"Eh, mami. Selamat pagi, Mi!"


"Pagi sayang!"


"Ayo mi, kita sarapan pagi dulu. Dilla udah siapkan sarapan di meja makan." Dilla menarik tangan mami.


"Kamu turun saja duluan, mami mau menunggu papi selesai mandi dulu."


Dilla mengangguk mengiyakan.


"Ngomong-ngomong mami ada lihat mas Riza tidak?"


Mami menggeleng pelan.


"Tapi, coba deh kamu cari di dalam ruang kerjanya, ruangannya ada di ujung sana. Siapa tahu Riza ada disitu!" ucap mami.


Dilla pun langsung beranjak menuju kamar kerja Riza.


Didalam kamar kerjanya, Riza terlihat sedang membolak-balikkan lembar demi lembar sebuah album foto. Ia langsung cepat-cepat memasukkan album itu ke dalam laci saat mendengar Dilla mengetuk pintu.


"Mas, mas ada di dalam?"


Riza membuka pintu kemudian berkata singkat, "Kenapa?"


"Ayo sarapan dulu mas, saya sudah masak," ajak Dilla.


"Duluan saja, aku belum lapar!" Riza langsung menutup pintu tepat di depan wajah Dilla.


Dilla mendengus kesal dan menggertakkan giginya. Kemudian meluapkan kemarahannya,


"Ya sudah, kalau tidak mau makan. Tidak usah makan saja selamanya!" teriak Dilla dari balik pintu.


"Dasar aneh!" batinnya


Sambil mengomel, Dilla melangkahkan kakinya ke meja makan. Tampak mami dan papi telah duduk di meja makan sedang menyantap masakan buatan Dilla.


Dilla langsung duduk di tempat duduknya.


"Loh, Riza nya mana sayang?" tanya mami.


"Mas Riza katanya belum lapar, Mi" jawab Dilla.


Dilla pun langsung melahap makanannya tanpa berkata apapun. Di sela-sela makan mereka, mami dan papi berdecak kagum memuji masakan Dilla.


Dilla mengangguk mengerti.


Setelah kepergian mami dan papi, Dilla langsung mencuci piring kotor bekas makan mereka tadi lalu beranjak masuk ke dalam kamar.


Di dalam kamar, Dilla terlihat sedang asik menulis sesuatu di atas selembar kertas.


Tidak berselang lama, terdengar suara seseorang memencet bel.


tingtong....


tingtong....


Dilla terlihat keluar dari kamar.


"Sebentar!" teriaknya saat menuruni anak tangga.


Dilla membukakan pintu. Ia kaget bukan kepalang saat melihat Kiki dan Fahmi sudah berdiri di depan pintu rumahnya.


Kiki dan Fahmi menyapa Dilla. Dilla hanya tersenyum canggung menyambut kedatangan mereka. Ternyata tanpa Dilla sadari, Riza telah berdiri di dekat tangga memperhatikan mereka bertiga dari kejauhan.


Dilla mempersilakan mereka masuk.


"Kamu kenapa datang ke sini, Ki?"


"Oh. Nggak ada apa-apa. Aku cuma lagi bosen aja di rumah. Tadi aku ke rumah mbak Laras, katanya kamu udah pindah ke sini. Jadi aku sama Fahmi langsung kesini," jelas Kiki.


"Kamu apa kabar Dilla?", tanya Fahmi.


"Baik, Mas!" sahut Dilla singkat.


Fahmi tersenyum menatap Dilla. Dilla yang sadar di tatap oleh Fahmi buru-buru memalingkan wajahnya.


"Kalian mau minum apa?"


"Orange jus. Kamu mau minum apa, Mi?" tanya Kiki pada Fahmi.


"Aku kopi."


"Tunggu sebentar ya, aku buatin minum dulu buat kalian."


Dilla beranjak pergi ke dapur. Saat tiba di dapur, Dilla terkejut melihat Riza yang sedang berdiri di dekat tangga. Namun, Dilla diam saja tidak mengacuhkan keberadaan Riza disana.


Riza menautkan alisnya saat melihat Dilla yang tidak menyapanya sama sekali. Dilla pun terlihat sibuk berkutat di dapur menyiapkan minuman untuk tamunya tanpa mempedulikan Riza.


Minuman pun selesai, Dilla menghidangkan minuman itu di atas meja. Fahmi memandangi Dilla tanpa berkedip sedikitpun. Dilla mempersilakan mereka untuk minum.


Kiki dan Fahmi menyeruput minuman mereka. Fahmi memuji kopi buatan Dilla yang rasanya sangat enak. Dilla hanya tersenyum singkat menanggapi pujian Fahmi.


"Ngomong-ngomong mas Riza mana Dill?, kok nggak kelihatan?" tanya Kiki.


"Mas Riza di kamar, lagi istirahat."


"Duh, mentang-mentang pengantin baru. Jam segini masih di kamar aja. Ha..ha..ha." canda Kiki sambil meminum orange jusnya.


"Apanya yang pengantin baru?" batin Dilla.


Mereka bertiga pun mengobrol dengan sangat asik, sambil sesekali bercanda dan tertawa bersama.


Riza sedari tadi memperhatikan Dilla dari kejauhan. Dilla terlihat tertawa lepas saat mendengar candaan-candaan yang terlontar dari mulut Fahmi, hingga Riza dapat melihat dengan jelas deretan gigi putih kelinci milik Dilla yang tertata rapi.


"Mereka berdua terlihat akrab sekali!" bisik Riza di dalam hati.


Karena hari telah menjelang siang, Kiki dan Fahmi pun berpamitan pulang pada Dilla.


"Kita pulang dulu ya Dilla, entar kapan-kapan kita main lagi ke sini. Bye!" ucap Kiki


"Bye, Dilla!" ucap Fahmi seraya tersenyum.


Dilla menatap kepergian mereka hingga menghilang di kejauhan. Terlihat Dilla masih menyisakan senyuman di wajahnya.


Setelah Dilla menutup pintu, Riza menghampiri Dilla.


"Jangan pernah membawa orang asing ke rumah ini!" ucap Riza datar.


"Kenapa mas?, mereka itukan teman saya." Dilla memberanikan diri bertanya kali ini.


Riza menatap Dilla kemudian berkata singkat tanpa ekspresi,


"Be-ri-sik!"


Dilla menatap Riza tajam, ingin rasanya ia melahap Riza hidup-hidup saat itu.


Ia kemudian menarik nafas panjang lalu menghembuskannya sembari mengusap dadanya, "Sabar Dilla, sabar!" batinnya


Dilla kemudian pergi meninggalkan suaminya yang sangat menyebalkan itu.